Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 64 ~ Musuh Bebuyutan


__ADS_3

Abrisam sudah berdiri di depan pintu masuk rumah, untuk menyambut kedatangan istrinya dan si kembar yang pergi menjemput kedua anak kesayangan Lestari.


Lima belas menit yang lalu, pria tampan itu sengaja membatalkan pertemuan dengan klien. Hanya demi menunggu pasangan kekasih menuju halal tersebut.


"Si kembar pasti rewel karena bosan menunggu terlalu lama," kekeh Abrisam membayangkan bagaimana raut wajah kesal milik kedua putranya.


Yang pertama sudah jelas sangat membenci yang namanya menunggu, sikapnya begitu mirip dengan Abrisam. Sedangkan si bungsu masih bisa di ajak kerja sama.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya yang di tunggu-tunggu sampai juga.


Terlihat Aksa turun lebih dulu dari mobil sambil menggendong si kembar.


"Daddy ..." pekik girang keduanya meminta di turunkan dari gendongan.


Zahran berlari cepat di ikuti Zayyan yang mengekor di belakang.


Suara gelak tawa mereka terdengar menggemaskan, Abrisam langsung meraih tubuh si kembar untuk di peluk.


"Daddy nda telja?" Zayyan bertanya dengan raut wajah bingung.


Sewaktu di Bandara, anak tampan itu jelas masih ingat apa yang di katakan sang Mommy.


Itu sebabnya ia bingung melihat Daddy nya berada di rumah, apa mungkin salah satu dari kedua orang tuanya ada yang berbohong? Pikirnya

__ADS_1


Abrisam paham maksud dari pertanyaan si bungsu, sebelum anak itu berpikir yang tidak-tidak, lebih baik ia langsung memberi penjelasan.


"Daddy belum lama sampai rumah, Dek. Kalau tidak percaya boleh tanya Bibi pengasuh," jawabnya pelan sambil tersenyum hangat.


Zayyan mengangguk paham, tidak dengan Zahran yang memilih untuk diam saja tanpa berniat ikut menimpali.


Suara lembut Shafia mengalihkan fokus Abrisam dari si kembar, pandangannya tertuju pada Aksa dan Jenna yang berjalan pelan mengikuti sang istri.


"Assalamualaikum, Paman Abrisam." Sapa gadis manis kesayangan Aksa sembari tersenyum manis


"Waalaikumsalam, cantik." Balas Abrisam tertawa geli mendapati raut wajah masam Aksa yang menatap tajam ke arahnya


Sikap posesif cucu bungsu Adhitama tersebut semakin besar, terlebih sekarang mereka akan tinggal bersama pria tampan yang sedari dulu menjadi musuh bebuyutan Aksa.


Jenna yang terbilang sangat dekat dengan suami tampan Shafia itu, setiap kali bertemu Aksa tidak pernah akur.


"Napa, Bang? Liatinnya udah kayak mau nerkam ajah," kekeh Abrisam sengaja memprovokasi Aksa.


Shafia menggelengkan kepalanya pelan tidak mau ikut campur, dia mengajak si kembar bersama Jenna untuk masuk ke dalam rumah lebih dulu.


Menyaksikan kedua pria tampan itu yang selalu bertengkar setiap bertemu hanya akan membuang waktu.


Shafia membawa Jenna ke kamar, letaknya berada di lantai atas bersebelahan dengan kamar milik Aksa.

__ADS_1


"Adek langsung istirahat ya, ngga usah mikirin Abang," pesannya setelah Jenna sudah berada dalam kamar.


"Bibi Shafia mau ke bawah?" tanya gadis manis itu.


"Iya, si kembar sudah waktunya tidur siang." Jawab Shafia sembari tersenyum hangat


Wanita cantik itu langsung pamit turun ke lantai bawah sebelum kedua putranya mencari keberadaannya.


.


.


Tring


Ketika sampai di lantai bawah, ternyata si kembar sudah berada dalam kamar di temani Abrisam.


"Udah pada tidur, By?" tanya Shafia berbisik.


Senyumnya langsung mengembang kala tatapan matanya tertuju ke atas tempat tidur.


"Aku kira tadi ngga bisa nenangin mereka," adu Shafia pada suaminya.


"Maaf, aku pikir mereka akan lama sampai. Itu sebabnya aku maksain diri pergi ke kantor," sesal Abrisam langsung meraih tubuh langsing istrinya untuk di peluk.

__ADS_1


Mereka belum lama ini mengalami sebuah insiden yang hampir merenggut nyawa si kembar, tetapi sangat beruntung masih ada orang baik di luar sana yang menolong mereka.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2