Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 53 ~ Apa Bisa Tahan?


__ADS_3

Acara pertunangan akhirnya selesai juga, semua tamu undangan berpamitan untuk pulang usai mengucapkan selamat kepada Aksa dan Jenna.


Beberapa dari mereka ada yang masih tinggal guna membahas kerja sama dengan Abyan maupun Tuan besar Adhitama.


Sebagian anggota keluarga ikut membantu dalam membersihkan halaman yang dijadikan sebagai tempat acara, sedangkan yang lainnya masih sibuk mencicipi berbagai macam hidangan yang sengaja di atur terpisah dari meja tamu.


Di atas panggung masih ada Jenna duduk anggun sembari menahan rasa kantuk yang melandanya, sesekali menguap bahkan nyaris matanya ikut tertutup saking dahsyatnya godaan tidur siang.


Aksa datang dari arah samping membawa segelas jus jeruk beserta sepiring makanan kesukaan gadis manis itu, senyumnya mengembang kala mendapati kedua mata Jenna mulai tertutup.


CUP


Dikecupnya pipi kanan gadisnya tersebut karena gemas.


"Abang," rengek Jenna mengangkat kedua tanggannya minta di peluk.


Aksa menunduk sedikit langsung memeluk calon istrinya penuh kasih sayang, ia bahkan sudah melupakan keberadaan seorang gadis yang beberapa menit lalu sempat dilihatnya.

__ADS_1


Berada di dekat Jenna membuat pria tampan kesayangan seluruh anggota keluarga besar Adhitama tersebut merasakan kenyamanan dan ketenangan.


Rasa sakit di bagian kepalanya langsung hilang setelah mencium aroma wangi yang menyeruak dari ceruk leher Jenna, cukup lama Aksa menyembunyikan wajahnya dibagian tersebut sampai terdengar omelan dar Mama Lestari.


"Abang lepas ihh, anak Mama itu jangan kamu apa-apakan," wanita cantik itu menarik telinga sang putra lumayan kuat.


Terdengar jeritan kesakitan keluar dari bibir Aksa merasakan ngilu bercampur perih sepertinya kuku panjang sang Mama telah melukai telinganya.


"Lepas mMma! Sakit ..." ringis Aksa berusaha menyingkirkan jemari lentik MamanLestari yang masih bertengger indah tidak mau melepas jewerannya.


"Abang kebiasaan banget, ngga liat masih banyak orang melihat kalian. Haa?" omel wanita itu akhirnya menjauhkan tangannya dari sang putra.


"Apapun itu tetap saja ngga boleh apalagi ini banyak orang yang melihat kalian berdua, mau ditaru kemana muka Mama dan Papa?"


Aksa meringis takut merasakan hawa mencekam lewat sorot mata tajam Papa Abyan, jika sudah begini maka jalan satu-satunya adalah menghindar.


"Mau kemana, Bang?" tanya Papa Abyan dingin menatap datar ke arah putranya.

__ADS_1


"Bawa Adek masuk ke dalam, kasihan dia sepertinya mengantuk."


"Baik Pah," sahut Aksa.


Sebelum mengangkat tubuh mungil Jenna yang tertidur saking mengantuknya, Aksa meminta Bibi untuk membawa serta segelas jus dan makanan yang ia ambil untuk gadisnya.


Jenna sudah berada dalam gendongan Aksa dengan Bibi berjalan mengekor dibelakang, tidak sengaja ekor mata pria tampan itu melihat bayangan milik seorang gadis yang sama.


Tidak mau ambil pusing langkah kakinya semakin cepat memasuki rumah langsung menuju lift yang membawa mereka sampai ke lantai atas.


Tring


Bibi lebih dulu keluar dari kereta besi tersebut guna membukakan pintu kamar milik Jenna.


"Hati-hati Tuan muda," tegur wanita baya tersebut sembari mengawasi jangan sampai kepala Nona mudanya terbentur dinding.


Aksa langsung merebahkan tubuh terlelap gadis manis itu ke tengah ranjang, sedikit pun Jenna seakan tidak merasa terganggu padahal jelas-jelas pria itu sesekali mencuri ciuman di bagian kening, dahi, hidung dan kedua pipinya yang chubby.

__ADS_1


"Manis banget sih, calon istriku. Nunggu sudah halal rasanya lama, apa bisa tahan?"


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2