
"Dia milik ku!"
"Sebaiknya buang jauh-jauh pikiran kotor mu itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi."
Aksa sangat geram melihat tatapan penuh arti dari seorang pria tampan berdarah campuran Amerika dan indonesia tersebut.
Ia tahu betul siapa sosok angkuh yang kini menjadi pusat perhatian para tamu undangan di acara pesta.
Merasa di perhatikan membuat pria itu tertawa sumbang, tidak menyangka ia kembali bertemu lagi dengan mantan sahabatnya.
"Hallo, Aksa. Tidak aku duga akhirnya setelah dua tahun lamanya kita bertemu lagi," sapa Geren tersenyum sinis ke arah Aksa yang berdiri sekitar sepuluh meter dari posisinya berada.
Matanya beralih melirik ke arah sosok gadis manis yang berada dalam dekapan Aksa, ingatannya kembali berputar pada masa dua tahun yang lalu di mana terjadi perkelahian hebat antara dirinya dengan Aksa.
"Wahh, bertahan juga ya gadis manis ini di samping mu." Sindir Geren terkesan mengejek
Tangan Aksa mengepal kuat mendengar kalimat yang terucap dari mulut pria angkuh dengan jarak lumayan jauh di hadapannya itu.
Sedangkan Jenna yang paham langsung memeluk sayang tubuh tegap sang Abang, mengusap pelan punggung pria itu demi meredakan amarah.
Dalam hati gadis itu berdoa semoga tidak ada perkelahian lagi seperti dua tahun lalu, jangan sampai kejadian mengerikan itu kembali membuatnya trauma.
"Jaga mulut kotor mu itu, Geren!" tekan Aksa memberi peringatan.
Belum puaskah dulu hampir saja nyawa mantan sahabatnya itu hilang akibat terlalu angkuh dan suka ikut campur dalam masalah orang lain.
"Hey, hey. Santai Bro, apa perlu sampai marah seperti itu?" tawa Geren pecah menggema di sepanjang lorong.
__ADS_1
"Di mana letak kesalahan ku?" tambahnya pura-pura bingung.
Belum sempat Aksa buka suara, ucapan Jenna mampu membungkam mulut pria angkuh itu.
"Jika kehadiran mu di sini hanya untuk mengusik kehidupan orang lain, bukankah jauh lebih baik kamu pergi menemuinya di rumah sakit jiwa?" sarkas Jenna menatap nyalang ke arah Geren yang langsung terdiam seribu bahasa.
"Ingat! Jangan kamu lupakan perbuatan busuk mu di masa lalu Kak Geren, karena sampai detik ini setiap helaan nafasku tersimpan amarah dan benci atas kesalahan mu itu." Lanjutnya tanpa rasa takut sedikit pun
Jemari besar Aksa menjadi tumpuan gadis manis itu, dengan menggenggamnya erat mampu mengendalikan amarahnya yang siap meluap.
Sementara dari arah yang berbeda, Lestari datang bersama dua temannya dan juga Tuan rumah selaku pembuat acara pesta ulang tahun tersebut.
Plak
Bugh ... Bugh
"Aw, aww. Sakit Mama," adu Geren meringis kesakitan akibat pukulan lumayan kuat dari sang Mama.
Suara keributan di luar Aula membuat Arlin beserta teman-teman yang lain ikut di buat heboh.
Lestari yang kebetulan berada di tempat kejadian sudah pasti menyaksikan perdebatan kecil antara putra temannya dengan putranya sendiri.
Melihat sang Mama sudah berada tepat di hadapan mereka, tanpa menunggu lama Jenna berhambur ke dalam pelukan wanita kesayangannya itu.
"Mama," lirih Jenna memeluk erat Lestari.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. OK," bisik wanita itu menenangkan sang putri.
__ADS_1
Aksa tetap berdiri tegap di belakang kedua bidadarinya tanpa ada niat mengganggu.
"Anakmu benar-benar sudah kelewatan Arlin," kesal Lestari marah.
Wanita itu mengurai pelukannya pada Jenna yang kini sudah berpindah ke dalam pelukan Aksa.
"Mama mau ngapain?" tanya gadis manis itu sambil berbisik pelan di telinga Aksa.
"Lihat saja bagaimana singa betina marah," kekeh pria tampana itu ikut berbisik.
Di ciuminya penuh sayang pucuk kepala gadis manis kesayangannya tersebut, sesekali jemari besarnya mengusap lembut punggung Jenna yang kecil.
"Anak ku salah apa, Rii?" tanya Arlin keheranan, sebab dia sendiri pun tidak tahu apa-apa.
"Nih anak udah buat gadis manis kesayangan aku takut setengah mati, coba lihat! Belum apa-apa mata anak kamu udah kayak mau keluar dari tempatnya." Omsel Lestari setengah berteriak
"Loh, anak ku yang tampan dan baik hati ini mana mungkin nakutin anak gadis kamu." Selak Arlin tidak terima
"Baik hati dari mana coba, itu mukanya angkuh begitu di bilang baik. Pokoknya aku mau sekarang juga anak kamu itu minta maaf sama anak aku!" berang Lestari mulai timbul tanduk di kepalanya.
"Anak gadis mu itu yang harusnya di salahin, ngga mungkin anak ku yang ganteng begini gangguin anak kamu." Tuduh Arlin membela putranya
"Wah, hebat ya. Kamu sebagai seorang ibu tidak tahu bagaimana kelakuan anak mu itu malah nyalahin anak gadis ku." Sarkas Lestari mulai marah
"Jelas-jelas anak mu yang salah, jangan kamu pikir mata semua orang yang ada di sini sudah buta dan tidak melihat kelakuan anak mu sendiri." Geramnya marah dengan tangan berada di pinggang
Melihat amarah sang Mama mulai meluap keluar, dengan sigap Aksa membawa pergi kedua bidadarinya itu meninggalkan acara pesta yang heboh akibat ulah dari mantan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Dalam hati ia bersumpah akan membuat perhitungan dengan Geren apapun yang terjadi.
🍃🍃🍃🍃🍃