Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 66


__ADS_3

Jenna menunggu dengan perasaan campur aduk di depan ruangan yang setengah jam lalu pria tampan kesayangannya masuki bersama dengan Abrisam juga ikut menemani.


Telefon dan pesan dari kedua orang tua angkatnya pun sampai tidak di respon karena fokusnya hanya pada Aksa.


Jenna belum merasa lega jika belum mengetahui hasil dari pemeriksaan calon suaminya tersebut.


"Abang pasti sembuh kan?" gumamnya pelan seraya menatap jam di pergelangan tangannya yang berputar sangat lambat.


Gadis itu merasa selama lima tahun ini tidak mengenal baik putra sewata wayang dari pasangan suami istri yang dulu menyelamatkannya, saking tingginya benteng pembatas yang sengaja dia bangun di antara mereka.


Dua tahun yang lalu Jenna masih ingat betul sebesar apa perjuangan Aksa hanya demi menarik perhatiannya yang terlampau cuek pada orang sekitar, terutama bagi kaum pria.


Masa lalu suram membuatnya lebih banyak menutup diri, sampai menjauhi banyak orang yang ingin mengajaknya untuk berteman baik.


Terkadang Jenna sendiri merasa tidak pantas berada di antara orang-orang yang kehidupannya sungguh beruntung termasuk Aksa sendiri. Tetapi, kembali lagi sekarang bukan waktunya untuk mengenang kejadian di masa lalu.


Dia tahu akan ada saat di mana perasaannya kembali di uji. Tetap melangkah maju atau menetap dengan bayang-bayang luka masa lalu, semua tergantung bagaimana cara gadis itu menyelesaikan setiap permasalahan dalam hidupnya.


Dan Jenna memilih untuk memulai awal yang baru bersama pria tampan yang kini tengah berjuang untuk sembuh.

__ADS_1


Hampir satu jam lamanya gadis itu menunggu dengan setia di depan ruangan yang masih tertutup rapat, berharap calon suaminya tidak sampai melewati proses operasi dalam masa penyembuhan yang kemungkinan besar akan memakan waktu lama.


Jenna tidak bisa membayangkan akan seperti apa dunianya tanpa Aksa, karena hanya pria itu lah satu-satunya tempat dia berlindung.


"Abang harus sembuh," ucapnya lirih.


"Perjalanan kita masih panjang, akan bagaimana hidupku nanti kalau Abang sampai kenapa napa."


Jenna baru saja merasakan kebahagiaan yang sempat dia paksa agar menjauh, tetapi sekarang kenyataan pahit membuatnya di liputi oleh rasa takut akan sebuah kehilangan.


.


.


Pintu ruangan terbuka, menampakkan dua sosok pria tampan yang satu di antaranya langsung berhambur ke dalam pelukan Jenna.


"Maaf ya, Abang lama di periksa Dokter." Bisik Aksa pelan di telinga gadis manis kesayangannya tersebut


Siapa sangka pemeriksaan yang pria itu lakukan kurang lebih memakan waktu hampir dua jam lamanya, membuat perasaannya tidak karuan membiarkan Jenna sendirian menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


Belum lagi, keberadaan wanita cantik beserta kedua anak kembar kesayangan Abrisam masih belum kelihatan batang hidung mereka.


"Bibi mu sepertinya ngga bisa masuk kemari, si kembar belum juga bangun."


Abrisam menghampiri pasangan kekasih tersebut usai menerima telefon dari sang istri tecinta.


"Sebaiknya kita langsung ke parkiran saja," tambahnya sembari berjalan lebih dulu dengan Aksa juga Jenna ikut mengekor di belakang.


Mereka masuk ke dalam lift yang tujuannya langsung ke area parkiran.


Tring


Sesampainya di bawah, ternyata sudah ada Shafia tengah menunggu kedatangan suami dan keponakannya tepat di luar mobil sembari memperhatikan area sekitar.


Abrisam tersenyum hangat melihat wanita halalnya tersebut sudah merentangkan kedua tangannya minta di peluk.


"Kangen Hubby," rengek Shafia di balik dada bidang suaminya yang tertawa geli.


"Tumben, biasanya aku yang duluan minta peluk sama kamu." Sahut Abrisam yang merasa istrinya sedikit berbeda dari biasanya

__ADS_1


Tidak sekalipun Shafia memperlihatkan sisi manjanya jika bukan karena ada sesuatu yang mengganjal hati wanita cantik itu. Terlebih posisi mereka sekarang tengah di saksikan oleh pasangan kekasih yang hanya bisa tersenyum di balik rasa canggung dan malu jadi perhatian beberapa orang.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2