
Setiap ada waktu senggang, Jenna akan mengubungi Mama Lestari untuk menceritakan seperti apa kondisi Aksa selama berada di rumah sakit menjalani perawatan.
Anggota keluarga yang lainnya ikut mendoakan kesembuhan satu-satunya putra kesayangan Tuan dan Nyonya Adhitama tersebut.
Semua mengharapkan yang terbaik untuk pasangan kekasih itu, tidak berhenti memberikan dukungan serta semangat pada Jenna selaku pihak yang sangat berperan penting dalam proses pengobatan yang Aksa lakukan.
Dari Dokter yang khusus menangani pria tampan itu, mengatakan jika dalam waktu dekat akan di lakukan operasi. Setelah kondisi fisik Aksa mulai stabil dan kembali normal seperti semula, hanya sering mengalami mual dan pusing jika terlalu banyak bergerak.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Jenna, sebab hampir tidak mampu gadis manis itu menyembunyikan rasa takut dan khawatirnya di hadapan sang pemilik hati.
Hanya doa yang selalu Jenna panjatkan, berharap akan ada keajaiban yang menghampiri calon suaminya tersebut.
Jenna berusaha terlihat kuat dan tegar, meski hatinya selalu di hantui oleh perasaan campur aduk.
"Melamun lagi, Raa?" seru Aksa tidak sengaja pandangannya tertuju pada sosok gadis manis kesayangannya itu
Merasa namanya di panggil, sontak Jenna mengalihkan pandangannya ke arah brankar.
Tampak seulas senyum menghiasi wajah setengah pucat milik calon suaminya yang memintanya agar mendekat.
Jenna yang perasaannya tidak nyaman langsung menghampiri Aksa sembari merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Abang ngga ngerasain apa-apa gitu?" tanyanya setelah pelukan mereka terlepas.
Aksa hanya menjawab dengan gelengan kepala, pria itu masih ingin memeluk Jenna lebih lama lagi.
"Jangan tinggalkan Abang, apapun yang mungkin saja bisa terjadi nanti. Hmm?" bisiknya pelan di telinga gadis manis itu.
"Jenna akan tetap di sini, kecuali Abang yang meminta Jenna pergi."
"Sekalipun Abang memintamu pergi karena sebuah alasan yang bisa saja timbul, tetap di sini dan jangan biarkan orang lain merebut posisimu, sayang." Tegas Aksa meyakinkan Jenna agar tidak pernah pergi meninggalkannya
Jenna hanya mengangguk paham, karena dia pun sejujurnya tidak ingin kemana-mana.
"Jenna tahu, makanya Jenna akan buktikan kalau Jenna pasti bisa jadi wanita pilihan yang terbaik buat Abang."
"Gadis pintar," kekeh Aksa merasa gemas akan tingkah calon istrinya tersebut.
Hari yang mulai beranjak sore, membuat pasangan kekasih itu memutuskan untuk membersihkan diri secara bergantian.
.
.
__ADS_1
Di lain tempat, atau lebih tepatnya di kediaman Adhitama.
Semua anggota keluarga, termasuk Abyan juga Lestari berkumpul di ruang keluarga guna membahas masalah yang bersangkutan dengan Aksa dan Jenna.
Sudah ada Tuan besar Hansen beserta istrinya duduk berdampingan di sofa panjang, menatap satu persatu anggota keluarga yang baru berdatangan.
Di rasa sudah terkumpul, baru lah Tuan besar Hansen mengutarakan maksud dan tujuannya kenapa mereka sengaja di minta hadir.
Lestari dan Abyan begitu fokus mendengarkan, karena ini menyangkut anak-anak mereka.
"Semoga Abang sama Adek, jauh dari hal-hal buruk." Bisik sang istri di sela isak tangisnya yang mendadak pecah
"Tenang, Mah. Kalau Mama sedih bagaimana kita bisa menjaga Abang kedepannya, hmm?" sahut Abyan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang istrinya rasakan saat ini.
Tetapi pria itu mencoba untuk tenang, ia harus bisa mengendalikan dirinya agar sang istri tidak semakin merasakan kesedihan.
"Awas saja, kalau sampai gadis ngga ada urat malunya itu beranii mendekati Abang lagi. Mama pastikan dia hidup ngga tenang, Mama ngga akan ikhlas apapun alasannya." Geram Lestari tanpa sengaja kembali teringat pada sosok gadis dari masa lalu sang putra
Abyan yang mendengarnya pun, hanya bisa menghela nafas panjang. Ia paham betul kemarahan istrinya bukan lah sesuatu yang salah, mengingat apa yang pernah Aksa alami di masa lalu jelas masih membekas di ingatan mereka.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1