
"Kamu cemburu, sayang?" Aksa justru menanyakan pertanyaan yang jelas bertentangan dengan apa yang nantinya di ucapkan Jenna.
Si gadis manis pengisi hatinya itu sudah pasti akan mengelak pada apa yang di rasakan oleh hatinya sendiri.
"Idih ... Abang ge'er," cebik Jenna tidak mau berkata jujur bahwa sebenarnya dia sangat cemburu bahkan rasanya ingin sekali mengumpat kesal pada pria tampan di hadapannya tersebut.
"Siapa juga yang cemburu, orang tadi itu Jenna cuma kesal ajah tiba-tiba ada wanita asing di ruangan Abang. Lebih kesal lagi pas mau masuk tiba-tiba Mama datang terus bawah Jenna keluar dari kampus," tambahnya.
Selama ini, Aksa yang Jenna kenal belum pernah sekalipun dekat dengan seorang wanita, baik itu di sengaja atau pun tidak di sengaja.
Pria tampan yang selalu mengutamakan Jenna dalam segala hal tersebut, bahkan enggan menghadiri setiap acara yang mengharuskan sekeluarga ikut hadir hanya karena tidak suka menjadi pusat perhatian.
Ketampanan yang di warisi Aksa dari sang Papa Abyan menjadi poin paling penting selain merupakan satu-satunya ahli waris kerajaan bisnis Adhitama Group.
Lalu apa yang Jenna lihat di ruangan milik Aksa tadi? Bukankah dia perlu mendengarkan penjelasan dari sang Abang?
Sekarang Jenna mulai ragu pada kejujuran yang di tanamkan Aksa yang selama ini setiap kali ada masalah apapun itu selalu terbuka padanya tanpa ada yang di tutupi.
Jenna menatap intens kedua bola mata pria tampan itu yang selalu berubah teduh setiap kali melihatnya dengan penuh selidik mencari kebohongan namun sepertinya tidak ada.
__ADS_1
Kalau Abang tidak punya wanita lain di luar sana, lalu siapa wanita cantik tadi.
Hati Jenna bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok asing yang baru pertama kali di lihatnya itu.
"Wanita itu siapa, Abang?" tanya Jenna pada akhirnya.
"Kenapa Jenna ngga tahu kalau Abang kenal wanita lain?" sosornya tidak sabaran.
"Widih, kayaknya ada aroma aroma cemburu ..." sahut Aksa bukannya menjawab pertanyaan melainkan kembali menjahili gadis kesayangannya itu.
Ia sangat senang melihat raut wajah masam penuh permusuhan Jenna sewaktu bertemu dengan wanita cantik merupakan adik dari sahabat Mama Lestari.
Jenna kesal selalu di katakan dirinya cemburu, walau sejujurnya memang itu lah yang sekarang dia rasakan.
"Ngga usah kepedean deh, Bang. Mana ada Jenna cemburu, tadi itu cuma ... cuma--," lidahnya mendadak kelu.
Ya ampun .... Kenapa malah jadi sulit buat ngomong sih. Jerit Jenna dalam hati
Sebisa mungkin gadis itu berusaha tenang di hadapan Aksa.
__ADS_1
"Gini ... Tadi itu sebenarnya Jenna cuma ... aduh ... kenapa susah banget sih," ulang Jenna kesal selalu saja gagal.
Sebelah alis Aksa terangkat ke atas dengan senyum tipis siap menunggu atau justru kembali menggoda Aira nya
"Iya sayang cuma apa, hmm? Terlalu cemburu atau cemburu banget?" goda pria tampan itu sangat jahil sampai kedua pipi Jenna memerah bak tomat.
"Abang jahat ..." pekiknya langsung berhambur ke dalam pelukan Aksa menyembunyikan wajahnya yang sudah merah di dada bidang pria tampan tersebut.
Aksa tertawa geli mendapat pelukan tiba-tiba dari putri kesayangan Mamanya.
"Nah, ini nih yang sulit, kalau kayak gini Abang justru makin penasaran kamu sebenarnya cemburu tapi malu mengatakannya. Benar kan?" kekehnya tanpa dosa namun sedetik kemudian ia langsung meringis kesakitan kala bagian dadanya menjadi sasaran empuk gigitan Jenna.
"Ya ampun ... Di tanyain bukannya jawab malah gigit sembarangan," adunya secepat kilat menjauhkan wajah Jenna.
Tampak jelas kedua pipi gadis itu memerah karena malu dan kesal bercampur jadi satu, terlihat menggemaskan di mata Aksa yang ingin sekali menciumnya.
"Cium sini boleh?"
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1