Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 7 ~ Tidak Jadi


__ADS_3

Tiba di kampus, Jenna berpamitan pada Lestari hendak keluar dari dalam mobil.


"Jenna kuliah dulu ya, Mah."


Sebelum benar-benar turun, gadis itu sempat mencium takzim punggung tangan sang Mama.


"Iya. Kabari Mama kalau ada apa-apa, Ok?" Lestari berpesan pada anak angkatnya tersebut sembari mengusap sayang pucuk kepalanya.


"Siap Mama."


Jenna keluar dari mobil, melambaikan tangannya sebentar kearah wanita cantik yang tampak menatapnya dengan teduh.


Sedetik kemudian. Gadis manis itu setengah berlari masuk ke dalam halaman kampus, karena bisa bahaya jika dia sampai telat lagi seperti kemarin.


Di rasa sang putri sudah menghilang dari pandangan, Lestari meminta sopir agar menjalankan kembali mobilnya menuju Butik.


.


.


#Ruangan Kelas


Di dalam ruangan terlihat Jenna sedang mengerjakan soal dadakan yang di berikan Dosen galak julukannya.


Selalu saja ada cara yang di lakukan sang Dosen bila melihat Jenna yang tampak biasa saja, padahal jelas-jelas dia tidak datang terlambat.


"Lama-lama bikin emosi juga ya, ini namanya bukan hukuman lagi. Tapi memang di sengaja biar aku ngga buat ulah terus." Gumam gadis itu kesal sembari menyelesaikan soal dadakan yang belum ada lima menit di berikan


Hanya butuh waktu lima belas menit, Jenna mampu menjawab lima puluh soal sekaligus.


Beruntung jawabannya dalam bentuk pilihan ganda, sehingga memudahkan Jenna mengerjakan dalam kurun waktu terbilang singkat.


"Kak, semuanya sudah selesai. Apa boleh Jenna keluar sekarang?" teriaknya dengan nada sedikit emosi.


Mata tajam sang Dosen menatap datar kearah Jenna, menurutnya percuma saja memberikan hukuman pada gadis itu. Karena ujung-ujungnya dia tetap mampu menyelesaikan semua soal yang di berikan tanpa bantuan dari siapa pun.


"Bawa kemari!" titah Dosen galak julukan Jenna dengan tatapan kedua matanya yang tajam.


Yang di perintahkan sesekali mengumpat kesal dengan mulut tidak hentinya mengomel, namun terlihat lucu dan menggemaskan untuk di perhatikan.


"Nih, ambil! Kalau perlu makan sekalian." Ucap Jenna ketus seraya menyerahkan lembaran soal lengkap dengan jawabannya


Kupingnya memanas setiap kali mendengar teman-teman sekelasnya mulai menggoda, bukan sekali dua kali melainkan hampir setiap hari Jenna menerima hukuman tanpa alasan.


"Kakak tahu ngga sih, Jenna tuh mulai kesal lama-lama dengan sikap Kakak yang semena-mena terhadap mahasiswi lemah seperti Jenna."


Gadis itu mulai mengeluarkan apa yang di pendamnya selama ini.

__ADS_1


"Tiap hari ketemu Kakak kalau bukan ngerjain soal, pasti Jenna di hukum menghapal Surah pendek. Ngga ada bosan-bosannya ganggu ketenangan Jenna."


"Bisa ngga sih sehari saja jangan mencari celah hanya untuk hukuman tidak penting?"


"Jenna tuh capek dan bosan selalu jadi objek kesenangan Kakak."


Dia benar-benar sudah di ambang batas ketenangannya, hari-harinya terus di usik tanpa jeda sama sekali.


Semua teman-temannya sampai tercengang tidak percaya menyaksikan seorang Jenna yang di ketahui sebagai sosok ceria, kalem dan humoris ternyata memiliki sisi lain yang baru pertama kali mereka lihat.


Ingin tahu siapa Dosen galak yang selalu memberi hukuman tanpa jeda pada Jenna? Jawabannya hanya satu.


Siapa lagi kalau bukan Aksa.


Bagi pria tampan itu, tiada hari tanpa mengganggu Jenna dengan berbagai macam cara di lakukan agar bisa melihat dan mendengar suara gadis kesayangannya tersebut.


"Sudah marah-marahnya?" sindir Aksa tanpa dosa.


Bahkan ia tersenyum begitu manis, membuat pipi Jenna mengeluarkan semburat merah.


Satu hal yang tidak bisa di pungkiri Jenna, kalau senyum pria tampan itu mampu menyejukan hatinya yang panas.


Ingin rasanya Jenna mencakar wajah tampan namun menjengkelkan Aksa, ketika dengan sengaja pria itu mengedipkan sebelah matanya.


Ya Allah, air mana air. Cicitnya dalam hati


"Aira," panggil Aksa dengan nada halus.


"Hmm." Sahut Jenna yang tidak berani menatap manik mata milik pria tampan di hadapannya itu


Kenapa harus pakai senyum segala sih, jantung aku ngga bisa di kontrol, Ooyyy. Teriaknya dalam hati


"Aira Jenna Mehrunissa." Panggil Aksa lagi dengan sengaja


Cukup! Jenna tidak sanggup mendengar suara pria itu yang begitu, entahlah.


Diq mendekatkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Aksa, posisi mereka bisa di bilang masih terlihat sopan sebab Jenna tengah berdiri sementara Aksa masih duduk di kursi.


"Abang kalau mau ngajak berantem, ayo!" geramnya dengan berbisik pelan tidak ingin semua teman sekelasnya ikut mendengarkan.


"Jangan marah bidadari ku, sayang." Goda Aksa sengaja memancing amarah Jenna


Alhasil terpampanglah pipi chubby kemerahan si cantik yang mungkin antara malu dan marah.


Hal biasa yang bukan hanya sekali atau dua kali di lakukan Aksa bila ingin menjahili gadis manis kesayangannya tersebut.


"ABANG!" tekan Jenna menatap nyalang kearah Aksa.

__ADS_1


Rasa kesalnya terhadap pria tampan yang selalu di panggil dengan sebutan Abang itu berusaha di redam.


"Tidak jadi."


Sungguh Jenna malas meladeni karena tidak ingin ada perdebatan di antara keduanya


Dia memilih keluar dari ruangan kelas dengan cepat dari pada harus menatap Aksa dalam waktu yang lama.


Adapun pihak kampus sudah mengetahui siapa Aksa dan apa hubungannya dengan gadis manis bernama lengkap Aira Jenna Mehrunissa tersebut.


Ada yang bilang keduanya merupakan pasangan kekasih atau lebih tepatnya calon istri pilihan dari kedua orang tua dari Aksa sendiri.


Rumor yang beredar di area kampus mulai tersebar luas, tetapi semua itu tidak dapat mempersulit pergerakan Aksa dalam mengawasi gadis kesayangan sang Mama dan Papa nya.


.


.


.


"Punya mulut itu perbiasakan untuk berbicara hal-hal positif juga bermanfaat bagi orang lain, terlalu sibuk mengomentari kehidupan orang hanya menambah masalah beban hidup yang dasarnya sudah kesulitan malah tambah di persulit."


Kalimat berupa sindiran halus dan mencekam terucap begitu saja oleh wanita cantik kesayangan Jenna.


Siapa lagi kalau bukan Lestari.


Niat awal ingin membeli hadiah untuk kedua anak kesayangannya di salah satu toko langganan, siapa sangka justru wanita cantik itu malah mendengar ada yang membicarakan putrinya yang paling manis dan menggemaskan kesayangannya.


"Senang sekali ya kalian, pagi-pagi bukannya berdiam diri di rumah malah ngumpul semua di sini hanya untuk membicarakan hidup orang lain."


"Kalian nggak capek tiap hari ngomongin anak-anak, saya?" hardik Lestari menggema.


Betapa kesalnya dia mendengar semua yang di katakan orang-orang itu.


Pihak toko kue yang sangat mengenal siapa Lestari dengan cepat meminta ibu-ibu yang sudah mengganggu ketenangan pelanggan mereka agar segera pergi dari sana.


"Belum apa-apa kamu udah kelihatan ingin sekali memaki habis-habisan pada mereka." Tegur seorang wanita berpakaian sopan dan tertutup kearah Lestari sembari tertawa geli


"Mereka sudah biasa gitu, jadi nggak usah di masukan ke hati ya." Tambahnya


Mata Lestari mendelik tidak suka.


"Biasa yang menjadi kebiasaan fatal maksud kamu?" balasnya masih dalam suasana hati yang buruk.


"Namanya juga masih punya mulut dan bisa bicara, Les. Jadi nggak usah heran kalau di dunia ini banyak yang kayak mereka tersebar luas dimana-mana."


Percakapan Lestari bersama pemilik toko berlangsung tidak lama, sebab wanita itu harus cepat kembali sebelum putri kesayangannya pulang dari kampus.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2