Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 22 ~ Cemburu Yang Berlebihan


__ADS_3

Tepat jam 11 malam, mobil yang di kendarai Aksa dalam kecepatan di atas rata-rata memasuki halaman rumah setelah pintu gerbang di buka oleh Satpam.


"Terima kasih, Pak." Ucap Aksa setelah mobil terparkir rapih di halaman depan rumah


Pria itu keluar dari mobil lebih dulu tanpa sepata kata pun terucap dari mulutnya melihat dua orang masih duduk diam di kursi penumpang.


Kedua bidadari kesayangannya itu masih berada dalam mobil tanpa berniat untuk turun.


Baik Lestari maupun Jenna saling pandang takut sekedar buka suara, apa yang terjadi di acara pesta malam ini bisa di pastikan akan ada berita yang tersebar besok pagi.


"Apa perlu minta Papa datang kemari baru kalian mau turun?" seru Aksa dengan nada terkesan dingin.


Masih ada sedikit kekesalan dalam hatinya ketika berada di pesta tadi justru malah bertemu dengan sosok pria yang pernah ia percaya tetapi justru malah berkhianat.


"Sabar napa sih, Bang. Ini juga Mama sama Adek mau turun," sahut Lestari kemudian turun dari mobil di ikuti Jenna yang mengekor di belakang.

__ADS_1


Di antara Ibu dan anak itu tidak ada yang berani menatap ke arah Aksa, terlalu bar-bar nyatanya menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri.


"Kenapa diam di situ?" teriak Aksa di depan pintu masuk rumah.


Pria tampan itu mengira jika kedua bidadari kesayangannya ikut melangkah masuk mengekor di belakangnya, ternyata dugaannya salah besar.


Dari arah tangga yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan pintu masuk utama terdengar Abyan memanggil sang putra.


Pria yang merupakan foto copy putranya itu melangkah pelan sampai di depan Aksa, matanya mencari sosok sang istri dan Jenna yang belum juga di lihatnya.


Bukannya menjawab, Aksa justru menunjuk ke arah luar dengan tangan kirinya.


"Pada buat rusuh mereka waktu di pesta, tegur sana! Jangan buat Abang yang harus turun tangan langsung," tanpa menunggu jawaban dari sang Papa dengan cepat Aksa melangkah pergi menaiki anak tangga setengah berlari pelan.


Abyan tentu tahu apa yang di katakan putra satu-satunya barusan, melihat wajah masam dan nada bicara tidak biasanya dapat ia pastikan ada sesuatu hal yang mengusik anaknya.

__ADS_1


Tidak ingin menerka-nerka, Abyan segera menuju ke arah depan rumah di mana ada istri dan putri angkatnya berada.


Rupanya Ibu dan anak itu sedang asyik mengobrol sambil sesekali tertawa lepas.


"Senang ya pulang-pulang bukannya langsung masuk ke rumah malah duduk santai di sini," seru Abyan dari arah pintu masuk yang terbuka lebar.


"Sudah buat Abang sampai marah gitu tetap saja tidak membuat kalian merasa takut dan bersalah, apa ini perilaku yang Papa ajarkan?"


Lestari menelan ludah susah payah, apa yang di katakan suaminya barusan berhasil membungkam rapat mulutnya.


Tidak menyangka bila malam ini sang suami justru meminta Lestari tidur di kamar tamu bersama Jenna.


"Papa tahu, cemburu yang berlebihan Aksa sedikit tidak nyaman. Tetapi kalian berdua seharusnya lebih paham dan mengerti bagaimana sikap Abang jika ada yang tidak ia sukai namun kalian masih saja melakukannya." Ucap Abyan tegas berharap kedua biddari kesayangan sang putra menyadari kesalahan mereka


Pria yang masih sangat tampan dan penuh kasih sayang itu berlalu pergi meninggalkan Lestari dan Jenna menuju ruang kerja yang terletak di samping ruang tangah

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2