Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Keluarga Galang berduka


__ADS_3

" Kenapa berisik sekali." Ucap Yumna setengah sadar, sambil melihat ke arah jendela.


" Apa apa?". Tanya Galang yang ikut terbangun dengan suara berisik.


" Sepertinya itu sekumpulan anak anak. Mungkin anak SMP/SMA yang sedang rekreasi." Terang Yumna sambil melihat banyak anak² yang berlarian.


" Pukul berapa sekarang?." Tanya Galang dengan mata tertutup.


" Pukul 03:00" Ucap Yumna melihat layar ponselnya.


" Hmm, kau tidurlah. Kita akan ke rumah sakit pukul 06:00." ucap Galang


" Kenapa pagi sekali?."


" Keluargaku akan berangkat pukul 04:00, jadi mereka akan tiba pukul 06:00 kan. Agar cepat mendapat nomer antrian." terang Galang masih dengan mata tertutup.


"Hmm, baiklah." Ucap Yumna, kemudian melanjutkan tidurnya.


Pukul 06:00. Setelah melakukan check out hotel, mereka menuju rumah sakit.


Setelah sampai, mereka menelusuri koridor rumah sakit, dan dilihatnya keluarga Galang sudah tiba disana. Menunggu antrian dibuka.


" Ayo kita kesana, antriannya ada di sebelah sana." Ucap laki², yang tak lain adalah paman Galang.


Galang mendorong Ayahnya yang duduk di kursi roda.


Sesampai nya di ruangan yang di tuju. Semua kaget karena antrian sudah panjang. Dan Ayah Galang mendapat nomer antrian 107.


Poli penyakit dalam.


" Kau duduk saja, biar aku yang mengantri, mana berkasnya" Ucap Yumna, sesaat setelah pamannya pamit untuk kembali ke kota mereka.


" Nduk, kau boleh mengambil nomer antrian ku, aku salah mengambil nomer antrian." Ucap seorang ibu² mendekati Yumna yang tengah mengantri.


" Benarkah?, terima kasih buk." Ucap Yumna senang, apalagi melihat nomer antrian 027. Tinggal 5 angka menuju angka 027.


" Buk, ayo. kita harus membawa bapak ke ruangan XX untuk di periksa. Sebaiknya kita cepat. kalau terlambat, bapak akan kehabisan ruang rawat." Ucap Yumna setelah lama mengantri.


Setelah bertanya pada satpam, mereka berjalan menelusuri kridor dan mencari ruangan XX.


" Pergilah sarapan dulu, Bapak biar Ibu yang jaga, kalian pasti belum sarapan." Ucap Ibu, saat mereka sudah sampai di ruangan yang di cari, dan mendapati antrian yang panjang lagi.


" Bagaimana nanti kalau nama bapak dipanggil. Bukankah berkas bapak sudah di ambil perawat itu." ucap Galang.


" Bagaimana kalau aku yang membeli makanan untuk kita sarapan." Tawar Yumna.


" Baiklah, pakai ini." Galang memberikan satu lembar uang seratus ribu, dan memberikan nya pada Yumna.


Yumna pun pergi mencari kantin.

__ADS_1


Karena takut tersesat mencari kantin. Nina memutuskan untuk membeli beberapa roti, dua botol air mineral ukuran sedang dan beberapa kue basah yang ada di toko dekat loket pendaftaran.


Saat Yumna kembali, dia mencari² keberadaan Ibu dan Galang.


Rupanya mereka sudah masuk, dan duduk di ruang tunggu.


Galang keluar ruangan, setelah melihat Yumna datang, dan mengkode untuk makan di luar


"Aku sangat lapar." Ucap Galang sambil memakan roti isi yang di berikan Yumna.


" Apa bapak sudah di panggil." Tanya Yumna


" Belum, berkasnya ada di paling bawah." Terang Galang.


Setelah serangkaian pemeriksaan, dan penantian yang melelahkan bagi semuanya.


Akhirnya Bapak mendapat ruang rawat.


Dengan di dorong 3 orang perawat laki², Ibu, Galang dan Yumna mengikuti langkah kaki perawat yang berjalan sangat cepat.


Setelah berjalan cukup jauh, sampailah mereka di ruangan, dengan kapasitas 8 orang, tanpa sekat. Dan terlihat ruangan itu sudah terisi 4 orang, lima dengan kedatangan bapak Galang.


" Aku pikir Bapak akan ada di ruangan sendiri." Kekeh Yumna sedikit berbisik pada Galang


" Tidak, Bapak kesini dengan JAMKESMAS. Ini mungkin kelas nomer 3." Terang Galang. Yumna kemudian keluar untuk melihat sekeliling.


"Permisi pak. Apa ada ruang atau teras yang bisa dipakai istirahat untuk keluarga pasien." Tanya Yumna pada satpam yang kebetulan melintas.


" Terima kasih pak.."


Naina menulusuri jalan untuk melihat apakah masih ada tempat kosong untuk nya dan Galang beristirahat nanti.


Setelah memastikan bahwa ada tempat kosong. Naina segera kembali untuk memberitahu Galang.


****************


Ayah Galang, menderita kanker darah. Atau yang biasa di sebut leukimia.


Penyakit yang di derita beliau, terbilang sudah cukup parah. Dimana setiap diambil sampel darah, untuk mengetahui golongan darah. Hasilnya selalu berubah², Sehingga, menyulitkan paramedis ketika akan melakukan transfusi darah. Hal itu dikarenakan sudah terlalu banyak darah putih dari pada darah merah didalam tubuh beliau.


Hingga, tak heran. Jika tangan dan kaki beliau cenderung bengkak namun lembek bila di tekan.


Karena tidak ingin mengambil resiko yang besar, dokter menyarankan agar diberi darah murni yang hanya ada di PMI Pusat, yang ada di kota Surabaya.


Karena Ayah Galang pernah mengalami kejang, saat paramedis mencoba memasukan darah B pada tubuh beliau.


Setelah dokter membuatkan surat pengantar, agar Galang bisa membeli darah murni dari PMI pusat. Mereka membutuhkan sedikitnya 8 kantong darah murni.


Galang mulai menghubungi semua rekan² nya, berharap salah satu dari mereka dapat membantu nya mencarikan kendaraan untuk PP dari Malang-Surabaya.

__ADS_1


Malam hari setelah diskusi panjang dengan dokter. Dokter menyarankan agar Galang pergi membeli darah di keesokan harinya.


Usaha Galang membuahkan hasil, salah satu teman sekolahnya dulu, bersedia membantu mengantarnya ke Surabaya dengan biaya sewa semampunya. Teman Galang pun sempat berkunjung dan menjenguk Ayah Galang.


Tiga hari sebelumnya, Ayah Galang selalu mengigau memanggil nama anak² nya yg lain, sesekali dia mengigau tentang beratnya meninggalkan putra mereka yang bungsu.


Setelah bujuk rayu Galang dan Ibu nya, agar tidak perlu mengkhawatirkan adik bungsunya. Beliau kembali tenang.


Galang juga berusaha membujuk kakak laki² nya, agar mau pulang dan datang menjenguk Ayahnya yang bisa dibilang sudah kritis, namun tidak mendapat respon yang baik.


Hingga malam itu, dimulai pukul 21:00. Setelah memastikan Ibu sudah tidur, Yumna kembali ke ruangan dimana Ayah Galang dirawat.


Malam itu malam yang tidak bisa dilupakan Yumna.


Ayah Galang terus mengalami kejang dan sesak nafas.


Berkali kali Yumna memanggil petugas jaga, petugas penyuntikan sesuatu ke dalam infus Ayah Galang.


Beliau mulai tenang.


Hingga puncaknya menjelang subuh, Ayah Galang terus merasa sesak nafas hebat.


Nina kembali berlari memanggil dokter jaga, dan dokter itu mengatakan bahwa dokter spesialis jantung akan segera datang.


Galang berkali² membacakan sholawat di telinga sang Ayah.


Hingga sesuatu yang tidak di inginkan pun terjadi, sesak nafas yang dialami Ayah Galang, sedikit demi sedikit mereda dan beliau mulai menutup mata, dokter jaga yang memeriksanya mencoba memacu jantung beliau dengan tangan, berkali² berusaha, namun takdir berkata lain.


Dokter spesialis jantung datang, dan menyatakan beliau sudah meninggal dunia.


Runtuh sudah air mata Galang dan Ibunya, beliau terlihat sangat terkejut.


Setelah mengurus segala administrasi, Galang, Nina dan Ibu nya kembali pulang ke kotanya dengan ikut menaiki mobil ambulans.


Dua jam perjalanan, Yumna berusaha menenangkan Ibu Galang yang hanya terdiam.


Sesampai nya di rumah duka, terlihat sudah ramai orang yang bersiap menyambut kepulangan jenazah.


Ibu Galang mengajak Yumna untuk masuk lewat pintu belakang.


Setelah Yumna meletakan barang bawaan mereka di salah satu kamar.


Yumna yang tidak tahu harus kemana dan berbuat apa, memilih berbaur dengan orang² yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2