Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Ketidakberdayaan Yumna


__ADS_3

" Hiks hiks hiks hiks.."


Yumna yang barusaja menidurkan Ilmi menjadi terkejut, karena Ilmi yang tadi pamit bermain tiba-tiba pulang dalam keadaan menangis dengan telinga yang di jewer Galang.


" Ada apa?" Tanya Yumna.


Brug !!


Gilang menjatuhkan Ilmi ke atas kasur.


" Kamu itu tidak becus jadi ibu, anak di biarkan main sampai ke kost atas. Bukan nya di ajarin membaca, kamu malah enak enakan tidur." Ketus Galang.


" Aku tidak tidur, aku barusaja nidurin Akifa."


" Alasan saja kamu. Awas kalau aku melihat Ilmi sampai main ke atas lagi." Ketus Galang, kemudian segera ke belakang untuk makan siang.


Ilmi masih menangis di pelukan Yumna.


Kenapa selalu saja menyalahkan ibu, apakah seorang ibu seperti ku memang tidak becus mengurus anak?


" Awas kamu sampai main ke atas lagi." Ucap Galang sambil menunjuk Ilmi sebelum akhirnya dia kembali bekerja.


" Belajar yuk." Ucap Yumna. Ilmi menggelengkan kepalanya.


" Ya udah, ayo tidur."


Yumna melihat ke arah jam, pukul 13.00. Yumna akhirnya memutuskan untuk tidur agar Ilmi juga tidur.


Sore harinya...


" Tolong jaga kan Akifa sebentar, aku mau meneruskan cuci piring dan memasak untuk makan malam." Ucap Yumna.


" Kamu itu tidak tahu ya jika aku baru saja pulang dan ingin beristirahat." Ketus Galang.


Karena tidak ingin berdebat, Yumna akhirnya melakukan pekerjaan sore itu sambil menggendong Akifa, padahal dia tahu betul bahwa Galang sudah pulang sejak 2 jam yang lalu. Bukan kah menjaga Akifa tidaklah sulit?.


Setelah selesai makan malam dan setelah Galang baru saja selesai mandi.


" Ayah, ayo ke senggol." Rengek Ilmi.


" Kamu tidak tahu jika aku sedang lelah. Aku ingin istirahat. Karena sebentar lagi harus kembali bekerja. Kamu itu terlalu banyak jajan."


Sungguh hati Yumna sangatlah sakit mendengar yang dikatakan Galang, bukankah dulu Galang sangat mendambakan seorang anak.


Tapi kenapa sekarang sikap Galang berubah?, apakah sikapnya berubah karena himpitan ekonomi, atau karena Yumna yang tidak bisa memberikan keturunan seorang anak laki-laki.


Yumna ingat betul, dulu Galang juga menyalahkan kan hari kelahiran Yumna.


Karena hari kelahiran Yumna dengan hari kelahiran Galang jika dipadukan dan dihitung menurut Jawa, menyebabkan mereka tidak bisa memiliki tabungan.


Dan Galang mempercayai hal itu karena pernikahan yang hampir menginjak usia 6 tahun tidak pernah bisa memiliki tabungan sepeserpun.


Beberapa hari terakhir Galang lebih sering marah karena rasa lelahnya.


Bekerja dengan temannya tidak membuat Galang menjadi lebih baik, justru semakin memperkeruh keadaan.


Setiap Malam, Galang selalu minta pijat Yumna, jika Yumna menolak Galang langsung marah dan berkata segala macam hal.


....


" Ayo ke pantai." Ucap Galang di suatu sore.


" Ayo." Ucap Ilmi dengan penuh semangat.


" Nanti jam 3 ya. Nunggu ayah menyelesaikan pekerjaan ayah."


" Siap bos." Ucap Ilmi.


Setelah menidurkan Akifa dan Ilmi. Yumna segera berkemas. Memasukkan pakaian ganti untuk Akifa dan Ilmi. Serta memasak lauk untuk bekal msksn mereka di pantai nanti.


Drrrttt drrrttt drrrttt


" Halo yah?" Ucap Yumna.


" Sudah siap?, anak anak masih tidur apa sudah bangun?"


" Masih tidur."


" Ya sudah, sebentar lagi aku akan pulang."


" Iya."


Tak lama setelah Yumna mematikan telepon nya. Ilmi terbangun.


" Bunda, ayah sudah datang?"


" Belum. Tapi ayah akan segera pulang."


" Jadi ke pantai?"


" Jadi dong. Sana cuci muka.," Perintah Yumna, karena Yumna sedang sibuk memasukkan kotak bekal kedalam tas.


" Lo, adik juga sudah bangun." Ucap Ilmi yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai mencuci muka.


Akifa tersenyum dan mulai merangkak menuruni kasur untuk menghampiri Yumna yang masih memasukkan barang terakhir ke dalam tas.


Yumna menggendong Akifa kemudian meletakkan kembali di atas kasur karena Yumna akan berganti pakaian.


" Temenin adiknya ya kak." Ucap Yumna pada Ilmi.


" Oke."


Dengan cepat Yumna segera berganti pakaian karena dia mendengar suara sepeda motor Galang.


Dan benar saja setelah Yumna baru saja selesai berganti pakaian, Galang masuk ke dalam kamar.


" Lo, anak Ayah sudah bangun semua nya." Ucap Galang yang langsung menggendong Akifa.

__ADS_1


" Bawakan juga aku baju ganti." Ucap Galang kepada Yumna


" Sudah, aku hanya membawakan Celana."


" Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat."


" Ayo."


Galang lebih dulu keluar sambil menggendong Akifa, sedangkan Yumna membawa tas dan meletakkannya di depan sepeda motor. Lalu mereka berjalan menuju pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Sesampainya di pantai, Yumna segera melepas popok yang dikenakan oleh Akifa. Dan membiarkan Akifa dibawa oleh Galang untuk bermain air.


Setelah memastikan tasnya aman. Yumna segera menghampiri Galang dan Ilmi yang terlihat bersenang-senang sambil bermain air pantai.


Yumna mulai menyuapi Ilmi dan Akifa secara bergantian.


Setelah makanan nya habis, Yumna segera mengembalikan kotak makan itu ke dalam tas. Lalu mengambil ponsel untuk mengabadikan momen itu.


Hmm, seandainya keluarga kami selalu terlihat sebahagia ini. Pasti hari-hariku akan jauh lebih berwarna. Anak anak sangat bahagia, sikap Galang manis, pastilah Aku tidak akan melampiaskan kekesalan ku kepada Ilmi. Maafkan bunda nak, bunda sungguh bukan ibu uang baik. Batin Yumna.


Namun, harapan tinggal harapan. Kebanyakan memang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.


Yumna yang berharap besar akan perubahan sikap Galang hanya bisa menelan pil pahit. Karena mereka selalu saja cekcok jika menyangkut soal uang.


" Baru kemarin aku memberimu uang. Masak sudah habis." Ucap Galang.


" Ayah ngasih aku 300ribu. Untuk beli keperluan mandi dan Akifa saja sudah 100ribu. Belanja ke pasar juga 100ribu. Belum untuk Ilmi, jika dia minta jajan."


" Ck." Galang mendengus kesal sambil memberikan selembar uang berwarna merah kepada Yumna.


" Hemat nda. Kalau begini terus bagaimana kita bisa menabung. Kamu tidak bisa ya menyisihkan sebagian dari uang belanja."


" Bisa, aku bisa menabung. Tapi uang itu selalu ku pakai lagi saat aku tidak memiliki uang untuk belanja ataupun uang jajan Ilmi."


" Ya di kontrol dong jajan nya Ilmi. Jangan di loss."


" Coba kamu kalau ngasih aku uang itu yang benar."


" Memangnya selama ini aku ngasih uang ke kamu tuh nggak bener?"


" Ya, maksud aku jangan setengah-setengah ngasihnya. Jangan nunggu aku minta lalu kamu baru memberikan aku uang."


" Kalau aku tidak ada uang dan belum dapatkan uang bagaimana bisa memberikanmu sebelum kamu minta."


Yumna memilih diam. Karena jika dilanjutkan juga percuma karena Galang tidak akan mau kalah dan tidak mau disalahkan.


Yumna paham betul berapa uang yang didapat Galang jika pekerjaannya selesai, Tapi Galang tidak pernah memberikan semua uang itu kepada Yumna.


Entah kenapa tapi selalu saja Yumna hanya mendapat bagian sepertiga dari hasil yang didapat Galang. Sungguh sangat tidak mencukupi kebutuhan hidupnya dengan dua anak.


Yumna mulai memutar otak, mencoba berselancar di dunia maya dan mencari tahu apa-apa saja yang bisa menghasilkan uang.


Lalu, Yumna mulai tertarik dengan aplikasi yang menawarkan cuan kepada mereka yang bisa menulis atau membuat cerita yang menarik.


Yumna langsung menginstal aplikasi novel berwarna biru dan juga hijau. Namun ekspesita tidak sesuai dengan realita.


" Boleh gak aku minta uang, untuk beli bawang." Ucap Yumna dalam perjalanan ke rumah Novi, karena Galang akan lomba burung, jadi Yumna akan menemani Novi di rumahnya sambil menunggu Ilmi pulang mengaji.


" Loh, uangmu apa habis?"


" Ada, tapi aku gunakan untuk membeli sayur."


" Terus, kalau udah beli sayur berarti uangmu habis?" Ketus Galang


" Ya ada."


" Ck, jangan boros-boros kalau belanja, sebentar lagi akan bulan puasa masa kamu tidak bisa menabung. Jika begini terus maka kita tidak akan bisa pulang lebaran nanti."


" Aku sudah berusaha hemat tapi bagaimana denganmu?"


" Aku, kenapa dengan aku?"


" Kamu selalu saja lomba burung, dan kamu tidak pernah memberiku uang yang cukup untuk belanja. Bagaimana aku bisa menyisihkan uang belanja, jika untuk makan saja masih kurang."


" Ya diatur bagaimana caranya agar cukup. Masak baru tiga hari yang lalu aku memberimu 200, dan sekarang sudah habis."


" Waktu itu Aku membeli kebutuhan untuk mandi dan juga Pampers, belum cemilan untuk Akifa."


Galang terdiam karena saat itu mereka sudah sampai di tempat mengaji Ilmi, setelah menurunkan Ilmi mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Novi yang tidak jauh dari tempat mengaji Ilmi yang baru.


Ilmi tidak lagi mengaji di masjid, Karena guru yang biasa mengajar Ilmi sudah ganti. Dan Ilmi tidak cocok dengan guru baru yang mengajar karena terkesan tegas dan galak.


" Ini untuk beli bawang."


Dengan wajah jutek dan nada Ketus Galang memberikan selembar uang merah kepada Yumna.


" Jangan dihabiskan ingat dihemat." Ucap Galang lagi.


" Tidak usah bawa saja, beli bawang nya nanti saja bersamamu." Ucap Yumna sambil berusaha menahan tangisnya.


" Ini bawa saja dulu." Ucap Galang.


" Tidak."


Yumna lalu segera masuk ke dalam rumah Novi, setelah Galang dan suami Novi berangkat Yumna akhirnya tidak dapat lagi menahan air matanya.


" Kenapa-kenapa?" Tanya Novi.


Novi menikah dengan teman Galang, jadi Galang bekerja bersama dengan suami Novi di depan kos Novi.


Novi sendiri sudah memiliki seorang putri yang usianya 4 bulan lebih muda dari Akifa.


Yumna lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di antara dirinya dan Galang.


" Ah sama saja, Joko juga seperti itu, terkadang aku juga tidak mengerti apa yang ada dipikiran para lelaki. Mereka memberi uang tapi tidak memikirkan jumlah kebutuhan, dan juga tidak memikirkan kan harga kebutuhan yang harus dibeli." Terang Novi


" Iya, aku sebenarnya sudah tidak tahan. Dan kamu tahu seandainya saja salah satu dari kedua orang tuaku ada yang hidupnya benar. Mungkin Aku sudah pulang ke rumah orang tuaku. Sekarang, kamu bayangkan saja papaku sudah menikah lagi dan istri yang sekarang jauh lebih muda dari istri yang sebelumnya. Juga istri papaku mengatakan bahwa jika mereka pulang dari Malaysia tidak akan pulang ke rumah Papaku, tapi akan langsung pulang kerumah istrinya. Sedangkan Mama. Kamu tahu sendiri kan mamaku itu sangat bucin kepada suaminya, padahal jelas-jelas suaminya sudah tidak menghendaki mamaku lagi."

__ADS_1


" Daripada mana kamu tahu?" Tanya Novi.


" Sekarang saja ibuku sudah tidak pernah lagi dikirimin nafkah oleh suaminya, dan adikku bilang mungkin si suami itu merekayasa sebuah cerita di mana ibunya bertengkar dengan cucunya sendiri dan menyuruh ibu untuk mengambil koper yang ada di sana. Coba kita pikir mana ada seorang nenek akan bertengkar dengan cucunya sendiri. Dan ibuku masih percaya jika suaminya itu adalah pria yang baik."


" Susah ya, kamu jadi tidak tahu harus mengadu kepada siapa."


" Iya, asal kamu tahu aku sekarang ibarat sedang berlayar di tengah lautan, terombang-ambing terkena ombak. Tidak kau harus menyandarkan kapal di mana, karena aku tidak punya siapa-siapa. Walaupun Mama mengatakan jika aku sudah tidak tahan dengan sikap bilang aku suruh kembali ke rumahnya. Lalu, setelah aku kembali ke rumahnya aku akan makan dari siapa?, aku akan mencukupi kebutuhanku dan juga anak-anakku uang dari mana?. sedangkan sekarang yang jadi tulang punggung adalah adikku. Aku sendiri sebenarnya malu aku juga terkadang meminjam uang kepada adikku, padahal aku adalah kakaknya seharusnya aku yang memberinya uang bukan aku yang meminta kepada-nya." Ucap Yumna dengan air mata yang masih terus mengalir.


" Sabar, siapa tahu suatu saat nanti Galang akan berubah."


Yumna menggeleng.


" Aku tidak yakin, usia pernikahan kami hampir 7 tahun. Tapi sampai sekarang Galang masih belum berubah, dan selama itu pula aku yang selalu mengalah. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku merasakan bahagia sebagai seorang istri. Karena terkadang aku merasa bahwa diriku ini adalah seorang pelacvr, yang diberi uang setelah memberikan pelayanan. Tak jarang juga Galang mengataiku dengan kata-kata yang menyakitkan jika aku menolak melayaninya."


" Aku enggak sih, palingan nanti Joko akan marah padaku, jadi keesokan paginya aku tidak bertegur sapa dengannya."


" Hmm, dulu aku juga begitu. Tapi lama-kelamaan kata-kata menyakitkan keluar dari mulut Galang. Bukannya aku tidak dengan sepenuh hati memberikan pelayanan, hanya saja terkadang hatiku terlalu sakit walaupun itu sebenarnya sudah kewajiban dari seorang istri. Jujur Aku sangat lelah, Aku ingin menyerah. Aku berulang kali bertanya kepada hatiku sendiri, apalagi yang harus aku pertahankan dalam pernikahan ini selain karena anak."


" Sudah coba bicara baik-baik dengan Galang?"


" Galang itu tidak bisa diajak bicara, setiap kali kami dalam keadaan damai dan berbahagia dan saat aku mengajaknya bicara tentang sesuatu yang berkaitan dengan keuangan misalnya, atau dengan sikapnya dia. Selalu saja berujung dengan keributan, dan keesokan paginya Gilang tidak menyapa. Kami bahkan pernah Tidak bertegur sapa selama 2 hari karena hal sepele. Jadi Aku harus apa?, seandainya saja aku bisa memiliki penghasilan dari menulis. Mungkin Aku tidak akan mengandalkan uang pemberian dari Galang lagi."


" Tapi bukankah kamu sudah mulai menulis?"


" Ya, hanya saja cerita yang aku tulis tidak sekarang dan sehebat novel-novel yang lain, mungkin itu yang membuat novel ku minim pembaca. Tapi tidak apa-apa aku akan terus berusaha walaupun Galang tidak mendukung ku untuk menulis."


" Kenapa?"


" Karena dia mengatakan jika aku menulis Tidak membuat aku menjadi kaya dan menghasilkan uang."


" Kok gitu?"


" Iya, bahkan dia seringkali mengatakan bahwa karena aku terlalu fokus menulis aku jadi menelantarkan anak-anak. Padahal Aku menulis saat aku sudah merawat semua anak-anakku, Aku menulis di waktu santai. Terkadang aku tidur diatas jam 12 demi bisa menyelesaikan tulisanku. Ya, aku bisa memaklumi karena aku adalah penulis baru tidak mudah mendapatkan pembaca apalagi menghasilkan ide cerita yang cemerlang."


" Tidak apa apa, fokus saja pada menulis mu, dan jika suatu saat novelmu sudah menghasilkan uang jangan pernah memberitahu Galang."


" Tentu saja, untuk sekarang aku akan tetap semangat menulis dan akan terus menulis, karena aku percaya jika rezekiku ada ada dari aku menulis maka aku akan tetap menerimanya entah itu kapan." Ucap Yumna sambil tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri.


Lalu Yumna melihat ke arah jam, Tidak terasa sudah hampir pukul 6. Jadi Yumna pamit untuk menjemput Ilmi.


" Nanti apa kesini lagi?" Tanya Novi saat Yumna akan pergi.


" Iya, karena Galang kan naik sepeda Joko tentu saja aku akan kembali ke sini lagi."


" Baiklah kalau begitu."


Yumna kemudian segera melajukan motornya dengan menggendong Akifa, sesampainya di tempat mengaji ternyata Ilmi belum keluar karena pelajaran mengajinya belum selesai.


Jadi Yumna memutuskan untuk ke toko sembako membeli bawang dan juga kebutuhan yang lain. Untung saja Yumna masih punya beberapa uang untuk dapat membeli kebutuhan nya.


Dan setelah Yumna kembali dari membeli kebutuhan, Ilmi terlihat sudah menunggu Yumna di meja depan toko yang ada di rumah mengaji.


" Bunda, Ayah sudah pulang dari lomba burung?" Tanya Ilmi.


" Belum, jadi kita akan ke rumah bude Novi untuk menunggu ayah."


" Hore, jadi aku bisa bermain dengan Arumi."


Selang sepuluh menit, Galang dan Joko datang.


Galang langsung mengajak Ilmi dan juga Yumna untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Dan juga Galang harus memandikan semua burung peliharaannya.


Dirumah, Yumna mulai menyuapi Ilmi dan juga Akifa dengan bakso yang dibelinya tadi saat pulang dari mengaji.


Setelah itu Yumna memasakkan mie instan dan telur untuk makan malam Galang.


" Ini buat belanja." Ucap Galang sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah.


Yumna menerimanya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.


Dalam hati Yumna sangat bersyukur karena disaat uangnya sudah habis tidak bersisa sepeser pun akhirnya Galang memberikannya uang untuk belanja.


Yumna menyimpan uang itu dengan hati-hati, sambil merencanakan cara paling hemat yang dapat dilakukan untuk menghemat uang pemberian dari Galang.


...


" Ilmi, kamu kok tidak lagi mau belajar?, kamu kenapa jadi anak nakal?, kamu itu kenapa masih belum bisa baca. Nanti saat sekolah kamu sendiri yang paling bodoh di antara teman-temanmu." Ucap Galang.


" Kamu punya ibu tapi tidak mau mengajari mau belajar membaca." Imbuh Galang.


" Yah, jangan selalu mencoba aku yang tidak mengajar Ilmi belajar. Aku akan mengajari Ilmi belajar setelah Akifa tidur, karena jika tidak aktif akan mengajar dan membuat belajar mengajar menjadi tidak tenang."


" Alasan saja. Mulai besok Ilmi ikut Ayah kerja, bawa serta buku dan alat tulis karena kamu akan belajar bersama ayah di sana. Kamu ada di rumah juga tidak menjadi anak yang pintar justru menjadi anak yang semakin bodoh."


Yumna terdiam, ingin rasanya Dia meluapkan semua emosinya kepada Galang. Ingin rasanya Yumna mencaci-maki Galang.


Kenapa selalu saja menyalahkan dirinya atas ketidaklancaran Ilmi dalam membaca. Ingin rasanya Yumna berteriak keras kepada Galang dan mengatakan bahwa dirinya itu juga lelah merawat anak-anak dan juga melakukan pekerjaan rumah seorang diri.


Tapi apalah daya, Yumna belum berani melakukan semua itu. Dan entah apa yang membuatnya tidak berani.


Yumna hanya bisa menangis setelah kepergian Galang. Meratapi kebodohan nya yang tidak berdaya.


" Aku harus bagaimana, sebenarnya apa salahku. Apa memang aku adalah ibu yang yang buruk untuk kedua anakku, apakah aku memang tidak becus untuk mengajari anak-anakku? Apakah semua yang terjadi, pertengkaran ini perselisihan ini karena memang kesalahanku?"


Yumna terus saja berspekulasi dengan pemikirannya sendiri tanpa menemukan jawaban.


Terkadang Yumna juga berbicara dengan dirinya sendiri, apakah memang dia yang sangat boros dan tidak bisa mengatur keuangan. Atau memang Galang yang tidak benar dalam memberinya uang


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2