
Akhir pekan ini Galang pulang karena sang kakak akan menjemput istri dan anaknya.
Yumna merasa senang. Dia pikir pertemuan nya ini bisa membuat hubungan nya dengan Galang membaik
Namun Yumna salah. Saat Yumna mencoba mengeluarkan isi hati nya selama tinggal disini. Galang justru marah.
" Maksud kamu apa?, menuduh ibu ku membicarakan mu yang tidak tidak." Ucap Galang penuh emosi.
" Memang kenyataan nya seperti itu." Bela Yumna.
" Aku tidak pernah menuduh Yumna yang tidak, tidak. Kau mengarang saja." Ucap ibu Galang yang mendengar perdebatan antara Yumna dan Galang.
" Aku kira, selama ini kalian bisa berdamai. Ternyata aku salah. Yumna, kau masih seperti dulu. Suka pendendam." Ucap Galang masih dengan emosi yang menyulut.
" Dendam kenapa?" Tanya ibu.
" Hal dulu, pertengkaran dulu."
" Oh, berarti kamu itu punya hati yang jelek. Hati mu busuk, penuh dendam. Suka iri. Iri itu tidak baik. Kau itu tidak mau berusaha mengambil hatiku" Omel ibu.
" Kau memang tidak bisa di pimpin." Ucap Galang lagi.
" Kau juga kenapa selalu marah jika aku pulang ke rumah ku." Ucap Yumna.
" Itu lagi, itu lagi yang di bahas. Sudah aku bilang jika kau pulang ke sana tanpa suami itu hukum nya dosa. Pamalik. Tanya sama ibu kalau tidak percaya. Kalau perempuan sudah menikah itu tidak boleh lagi pulang ke rumah nya sendiri, kecuali dengan suami nya" Ketus Galang
" Tapi kau tidak pernah mau tinggal lebih lama di sana. Semua saudara ku banyak yang menanyakan dirimu. Aku sudah bersuami, tapi mereka tidak pernah tau suamiku. Bahkan, jika aku mengajakmu ke rumah ibu tiri ataupun nenek dari ayahku. Kau tidak pernah mau kan." Ucap Yumna.
" Jelas, untuk apa aku berlama lama disana. Rumahmu masuk gang, terlalu sepi. Aku bosan. Dan ya, saudara mana yang kau maksud hah?, juga keluarga mana yang kau bicarakan. Aku bahkan tidak pernah merasakan uang dari keluarga mu. Pernikahan kita saja, semua keluargaku menyumbang. Sedang keluargamu??!!, apa menyumbang?!, satu rupiah pun tidak ada."
" Bukankah dulu saat kalian datang sudah di beri tahu bagaimana kondisi keluargaku." Yumna masih mencoba membela diri nya. Berharap sang suami mau mengerti dan memahami nya.
" Lagi pula, aku pulang karena aku merindukan adikku, aku juga ingin berkumpul bersama keluarga ku, sama seperti mu." Ucap Yumna lagi.
" Kalau kau masih berat dengan adikmu, kenapa kau menikah denganku. Hah!!!" Galang mengeprak meja.
" Sudah, memang wanita seperti mu tidak bisa di pimpin." Ucap Galang lagi.
" Aku tidak pernah mengatakan hal aneh tentang istri mu." Ucap ibu.
" Diam lah bu, aku tau sifatmu seperti apa. Sudah berapa tahun aku jadi anakmu, tentu aku sudah paham sifat mu, bu. Yumna saja orang nya pedendam, gampang sakit hati."
" Iya le, istri mu, sejak kau pergi, makan nya hanya sedikit. Aku berpikir mungkin tidak enak, karena tidak ikut memasak, aku tidak tau jika ternyata istrimu gampang sakit hati. Mangkannya aku tidak pernah menegurnya, nanti aku di katakan cerewet."
Tidak pernah menegurku, tapi membicarakan aku di belakang. Batin Yumna.
__ADS_1
Melihat Galang yang berkata lembut, membuat batin Yumna begitu sakit.
Bagaimana tidak, Yumna bahkan lupa. Kapan kali terakhir Galang berkata lembut pada nya.
Bahkan Yumna lupa, jika diri nya adalah seorang istri.
Yumna merasa seperti seorang pel*cur, yang diberi uang, setelah memberikan servis di ranjang.
" Ya aku memang pendendam, aku tidak bisa di pimpin. Aku suka iri. Aku gampang sakit hati. Karena apa? aku tidak pernah mendapatkan perhatian dari keluarga, aku dari keluarga broken home. Kau bahkan tidak lagi memperlakukan ku dengan baik."
" lalu sekarang, mau kamu apa?, hah?" Galang dengan nada ketus.
" Aku ingin ikut denganmu, ke Bali, jika mau tidak mengijinkan aku pulang ke rumahku." Yumna sekuat tenaga menahan air mata nya.
" Kau pikir mudah membawa mu kesana, hah?. Butuh banyak uang. Kau pikir mudah aku mendapatkan uang." Ketus Galang.
Yumna memilih diam, di teruskan berdebat juga percuma, akan semakin membuat nya terluka.
Yumna memilih masuk ke kamar, membawa Ilmi bersama nya. Menutup pintu, dan mengunci nya.
" Nak, hanya kau penyemangat bunda. Bunda sudah bertekad, tidak akan membiarkan mu, menjadi seperti bunda. Yang kurang kasih sayang." Tangis Yumna sambil memeluk Ilmi yang mulai terlelap.
" Ya ALLAH, jika memang semua ini terjadi karena kesalahan ku sendiri, maka aku siap menerima segala sesuatu yang akan menimpa ku. Namun, jika ini memang bukan sepenuhnya salahku, buka kan lah pintu hati suami ku, KAU MAHA PEMBOLAK BALIK HATI.
----------------
----------------
Hari ini adalah, hari dimana galang akan kembali ke Bali..
" Ilmi, apa kau mau ikut?" Ucap kakak Galang pada Ilmi.
" Orang gak muat." Ucap Ilmi. Membuat semua nya terkekeh.
" Ya, ilmi menyusul dengan bunda ya, kapan kapan." Ucap sang Ayah.
" Kapan, kapan, kapan kapan terus. Ya lama. Ayah ini gimana sih." Ketus Ilmi.
" Ya kan ayah masih cari uang." Ucap Galang.
" Gak tau, aku marah sama ayah." Ucap Ilmi, kemudian pergi untuk bermain.
" Hei, mau kemana. Sebentar lagi ayah mau berangkat lo." Teriak Galang.
" Sudah, biarkan saja. Nanti malah menangis kalau tau, kau pergi." Ucap Yumna.
__ADS_1
" Dimana tasku?, apa sudah kau bereskan pakaianku?." Tanya Galang.
" Ada didalam." Ucap nina
" Ini, tolong masukan ini, Aku akan memakai celana pendek saja. Udara pasti panas. Perjalanan jauh, dan aku suka mabuk perjalanan." Ucap Galang, sambil memberikan celana panjang pada Yumna.
" Aku berangkat ya." Galang mencium kening Yumna.
" Iya, hati hati". Ucap Yumna.
" Lo, Ilmi kok gak ikut?." Ucap salah seorang tetangga, yang kebetulan melihat Galang dan kakak nya sudah kembali ke Bali.
" Looo, ya masih lama. Ayahnya masih cari uang. Ibu nya biar kerja juga di sini cari uang." Ucap ibu.
Yumna memilih masuk, daripada meladeni atau mendengar omongan dari ibu atau tetangga nya yang lain.
Kepergian Galang kali ini, terasa biasa saja.
Jika dulu Yumna akan menangis setelah mengantar kepergian Galang.
Kali ini, Yumna merasa biasa saja. Seolah tidak ada lagi getaran cinta ataupun rindu.
" Sudah berangkat, Ayah Ilmi dan kakak nya." Ucap Mbak Ratih, saat Yumna datang mengambil barang yang diperlukan untuk membuat sikat.
" Sudah. Barusaja, lalu aku segera kesini." Ucap Yumna, yang duduk melihat sikat yang sudah siap di kirim.
" Kamu gak ada rencana ikut ke Bali lagi." Tanya Ratih, sambil memberikan sekotak bahan kepada Yumna.
" Entahlah mbak, nanti aku bilang mau menyusul, tapi nyata nya tidak. Nanti, aku bilang tidak, ternyata menyusul." Ucap Yumna sambil berusaha tersenyum.
" Iya juga sih."
" Ya sudah mbak, aku mau pulang. Nanti keburu Ilmi mencari."
" Iya sudah, hati hati.."
----------------
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1