Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Nostalgia


__ADS_3

" Ayah Ayo kita pergi ke taman. Kakak Adam pergi ke taman. Aku juga ingin pergi" Pinta Ilmi


" Kau tidak tahu jika ayah tidak punya uang. Apa itu jangan ikut-ikut mereka mereka itu orang kaya kau itu orang miskin." Ketus Galang.


Yumna yang mendengar ucapan Galang, langsung merasa seperti hatinya dihujani ribuan belati.


Jika memang tidak ingin mengajak Ilmi kesana tidak bisakah dia berkata yang baik.


" Jangan bicara seperti itu pada Ilmi, dia masih kecil. Dia masih belum mengerti." Ucap Yumna.


" Justru karena dia masih kecil, jadi harus diajarkan agar dia mengerti jika orang tua nya, adalah orang yang tidak punya apa-apa alias miskin." Ucap Galang.


Yumna terdiam tidak ada gunanya juga berdebat dengan Galang.


Galang pasti akan punya argumen sendiri. karena sejak dulu Galang tidak pernah mau kalah jika berdebat.


" Yuk Ilmi kita beli jajan di depan aja ini mau kan."


Ilmi cemberut.


" Ayo besok aja kalau ayah sudah punya uang kita ke taman." Rayu Yumna


" Tidak usah dijanjikan begitu agar dia tidak menjadi manja." Ucap Galang.


Yumna tetap merayu Ilmi agar mau membeli jajan di toko yang ada di depan, agar Ilmi tidak lagi bersedih karena ayahnya tidak mengajak ke taman.


Setelah susah payah membujuk akhirnya Ilmi mau.


Didalam perjalanan menuju warung depan, Yumna mencoba menahan air mata nya, agar tidak terjatuh.


Beberapa hari setelah kejadian itu,


" Ini uang 300ribu, dihemat sampai aku mendapat uang lagi. Aku lelah yang mencari uang jadi jangan boros-boros."


" Aku sudah berusaha hemat tapi mau gimana lagi, kadang harga sembako yang naik."


" Ya pintar pintar kamu mengaturnya lah."


Yumna terdiam, dia memilih untuk tidak berdebat.


" Ayo kita pergi ke taman." Ajak Galang pada Ilmi.


" Hore..."


Ilmi sangat antusias. mereka bertiga lalu berjalan menuju taman.


Malam hari nya, setelah Ilmi tidur, Galang mendekati Yumna. Dan meminta hak nya.


Dengan perasaan campur aduk Yumna melayani suaminya. Penyatuhan itu, tidak lagi membuat Yumna bersemangat.


..


" Kalau punya rezeki lebih belikan sprei, aku cuma punya sprei dua dan yang satu warnanya sudah pudar. Kan sprei yang dulu ditinggal di Jember " Ucap Yumna.


Galang hanya diam.


Hingga beberapa minggu kemudian Galang menyerahkan 5 lembar uang kepada Yumna.


" Apa uang ini boleh aku belanjakan sprei?"


" Terserah kau saja."


Yumna lalu mulai mencari sprei murah di aplikasi orange, setelah menemukan sprei yang murah Yumna membeli 2 pcs sprei di toko yang berbeda di aplikasi orange.


" Ilmi pasti suka jika aku membelikannya sprei bergambar hewan."


" Bunda.." Panggil Ilmi.


" Ya sayang?"


" Nanti ngaji?"


" Iya, nanti gadget nya dibawa saja ya, karena nanti bunda mau istighosah, jadi kita tidak usah pulang dan salat magrib di masjid saja. Nanti Ilmi bisa menemani Azriel bermain sebaring menunggu bunda dan tante Eka salat."


" Baik bunda."


" Aku mau lomba memancing dulu." Ucap Galang.


" Kunci nya nanti aku letakkan di atas meteran. Karena aku akan langsung istighosah, jadi aku tidak pulang ke rumah dulu."


" Iya."


Sore hari nya, seperti biasa Yumna selalu menyiapkan keperluan Ilmi untuk berangkat ngaji.


" Gimana suami?, ada perkembangan?" Tanya Eka pada saat jam istirahat.


" Ya masih saja lah, kadang baik kadang kambuh penyakitnya."


" Haha, kek nya suami kita minta di rukiyah ya." Kekeh Eka.


" Ya sepertinya begitu. Emang bisa ya di rukiyah?"


" Mungkin. Eh nanti ikut istighosah kan."


" Ikut. Kayaknya aku nunggu di sini nemenin kamu."


" Bagus dong Jadi kita bisa salat Maghrib berjamaah."


" Iya."


Malam hari nya, setelah bersama-sama melakukan salat Maghrib.


Yumna dan Eka bersiap untuk mengikuti istigosah mingguan yang diadakan di masjid tempat Ilmi mengaji.


Hati Yumna begitu tenang, membaca ayat suci dan mendengarkan lantunan ayat suci. Membuat pikirannya terasa lebih jernih.


Di sela-sela, pembacaan ayat suci. Yumna menadahkan kedua tangannya seraya berdoa.


" Ya Allah berikanlah keluarga kami kecukupan rezeki. Bukakanlah pintu hati suamiku, buatlah hatinya menjadi lembut. Berilah aku kesabaran dan ketabahan yang tiada batasnya, kuatkan Aku dalam menghadapi setiap cobaan yang kau berikan."


Beberapa hari kemudian...


" Aku pinjam uangnya 200.000 untuk kirim ke kampung, nanti setelah pekerjaan selesai Aku akan segera menggantinya." Ucap Galang


" Bukannya aku tidak mau meminjamkan tapi uangku cuma tinggal 200.000. Jika kupinjamkan padamu maka uangku habis sama sekali dan aku tidak punya uang untuk berbelanja, dan juga untuk jajan Ilmi." jawab Yumna.


" Kamu itu gimana sih, perasaan baru kemarin aku memberimu 500.000 sekarang sudah habis. makanya kalau punya uang itu jangan selalu membeli sesuatu."


" Aku beli apa?, aku tidak beli apa-apa kan?"


" Itu yang kau beli seprei itu apa?"


" Bukankah sebelumnya aku sudah minta izin padamu, kenapa sekarang jadi marah?"


" Ah sudahlah tidak ada gunanya berdebat dengan mu. Kamu selalu saja boros tidak bisa menabung."


Galang kemudian pergi entah kemana.


Ya tuhan, salahku apa. bukankah aku sudah meminta izin apakah aku boleh membeli sprei atau tidak?, lagipula jika bukan karena sprei yang sudah usang, Aku tidak akan membeli lagi. Batin Yumna.


Setelah kejadian itu Yumna memulai kembali bisnis jualan online sebagai dropship yang dulu pernah ditinggalkannya.


Yumna mulai sibuk bermain sosial media, hingga suatu malam..


" Main HP aja terus tapi tidak menghasilkan uang buat apa."


" Ini aku juga sedang berusaha."

__ADS_1


" Cari kerja sana apa kek jualan kek yang menghasilkan uang. tadi pada kerjamu hanya tidur dan main HP saja."


" Jika aku bekerja diluar Lalu siapa yang akan menemani Ilmi?"


" Tentu saja aku memangnya siapa lagi?"


" Kamu saja sering memarahi ilmi, kok mau menjaga nya." Ucap Yumna.


" Huh, ngomong sama kamu selalu saja ribet. Orang ngomong kerja bisa bahas yang lain."


Galang lalu mulai sibuk dengan gawai nya sendiri.


Keesokan hari nya, saat Galang barusaja pulang dari memancing.


" Yah, berasnya habis." Ucap Yumna.


" Lo, apa lagi yang bisa dijual untuk beli beras. Kerjaan sedang sepi. Hutang ku pada kakak juga sudah banyak."


Yumna terdiam. Galang pergi ke kamar mandi, dan mandi.


Hingga tak beberapa lama kemudian, kakak Galang datang memberikan pekerjaan pada Galang.


Galang tinggalkan Yumna tanpa berbicara sedikitpun.


Drrtt drrttt drrrtt


Ponsel Yumna berdering, panggilan video dari ibu nya.


" Halo cucuku Ilmi?"


" Ilmi sedang bermain di rumah temannya.."


" kamu kenapa menangis?"


Yumna terdiam.


" Bertengkar lagi dengan suamimu?"


Yumna tidak pernah menceritakan permasalahannya dengan suami kepada ibunya, mungkin ibunya tahu dari kakek Yumna.


Kakek Yumna mungkin sering mendengar cekcok antara Yumna dan Galang, saat Yumna dan Galang menginap di rumah Jember.


" Katakan apa yang membuatmu menangis?" Tanya sang ibu.


Yumna yang tidak dapat menahan lagi air matanya, langsung menangis dan menceritakan apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya dan hari ini.


" Kamu itu disuruh pulang saja tidak mau, sudah kamu di rumah saja temanin adikmu itu biar aku yang bekerja untukmu dan Ilmi."


Yumna hanya terdiam, masih dalam kondisi menangis.


" Ya sudah besok aku akan kirim untuk membeli beras. Jangan menangis lagi. Aku tutup saja teleponnya, telepon lagi jika Ilmi sudah datang "


" Baiklah bu.."


Tut, panggilan video di matikan.


" Bukannya aku tidak mau pulang ke rumah Bu, tapi aku juga sangat ingin pulang. Tapi aku takut jika aku pulang Ilmi akan diambil dari ku. Sedangkan, aku tidak ada orang tua yang akan membelaku." Lirih Yumna.


Lalu Yumna mencoba berkomunikasi dengan Rimba, dan teman teman yang lain. Bercanda tawa dengannya.


Hal itu yang biasa Yumna lakukan untuk menghilangkan rasa kecewanya. Dan menghilangkan mata merah akibat terlalu banyak menangis


Beberapa bulan sebelumnya...


" Yah.. apa sebaiknya kita pindah kos, disini sangat panas. kasihan Ilmi."


" Iya, pelan pelan kita cari kos baru, tapi harus sabar. Kau tau kan pekerjaanku sedang sepi. Untuk makan saja susah."


" Jual saja kalungku."


" Tapi nanti kau tidak punya perhiasan lagi."


" Hmm, baiklah."


Setelah Galang mengantar Yumna menjual perhiasannya, mereka memutuskan untuk mampir ke rumah kos Kakak Galang.


" Dari mana?" Ucap kakak ipar saat Yumna, sampai di rumah kos nya.


" Dari beli keperluan Ilmi."


Mereka pun berbincang bincang hingga...


" Nda katanya ada kos kosong, milik ibu kos ini juga, hanya di jalan xxx."


" Benarkah?"


" Iya, apa kau ingin melihatnya?"


" Ayo." Antusias Yumna.


" Sini, biarkan Ilmi ada disini, selagi kamu pergi melihat kamar kos." Ucap kakak ipar.


Galang dan Yumna pun, langsung menuju alamat yang di berikan Pak Wayan, kaki tangan, sekaligus orang kepercayaan ibu kos.


" Bagaimana, kau suka?" Tanya Galang saat mereka sudah sampai di rumah kos.


" Bagus, luas. Tempat nya juga dingin"


" Jadi?, apa mau pindah kesini?" Tanya Galang.


" Boleh."


"Nanti sore kita datang lagi untuk membersihkan nya."


****************


Hari ini adalah hari yang sibuk. Setelah mengemas barang² di tempat lama, dan menata nya di tempat yang baru.


Yumna dan Galang memutuskan untuk makan di luar, agar bisa cepat istirahat.


Tempat kos yang nyaman, dan tentu saja ada beberapa tetangga yang julid, dan suka berbuat onar. Tapi itu masalah bagi Yumna selagi mereka tidak berlebihan.


Hingga tak terasa usia baby Ilmi sudah berusia 13 bulan. Artinya sudah hampir 6 bulan mereka menempati rumah kos yang baru.


" Yah, beras nya habis, gas habis." Ucap Yumna.


" Terus apa lagi yang mau dijual?, Aku tidak mungkin berhutang lagi pada kakak ku, hutangku sudah 5 juta, hanya untuk biaya makan." Ketus Galang


" Ya sudah, kalung ini saja dijual. Untuk makan." Yumna na melepas satu satu nya perhiasan yang tersisa dan merelakan untuk dijual ke 2x nya.


" Ya sudah ayo, aku antarkan."


Setelah ke toko perhiasan, Yumna dan Galang pergi ke salah satu supermarket, untuk membeli kebutuhan pokok.


" Aku akan pergi memancing." Ucap Galang.


" kenapa kau selalu memancing."


" Tentu saja untuk menghilangkan jenuh." Ucap Galang yang kemudian berlalu meninggalkan rumah.


" Kemana Ayah Ilmi?, mancing lagi." Ucap Hepi, tetangga sebelah kamar Yumna.


" Iya, setiap hari selalu memancing." Ucap Yumna.


Hepi adalah tetangga sekaligus teman berbagi Yumna.


Anak hepi yang juga seumuran dengan Ilmi membuat ke dua nya menjadi dekat dengan cepat.

__ADS_1


" Apa tidak ada pekerjaan?" Tanya Hepi


" Aku tidak tahu, yang aku tau dia selalu menolak pekerjaan dengan alasan ongkosnya murah lah, bos nya cerewet lah, yang ini lah, itu lah."


" Sabar.."


" Hmm, iya mbak."


Tak lama kemudian, Eka, penghuni baru di rumah kos itu datang dan bergabung bersama Yumna dan Hepi.


" Hei, dimana Ilmi dan Akbar?" Ucap Eka menanyakan anak Yumna dan Hepi.


" Mereka sedang main di dalam." ucap Hepi menunjuk kamarnya.


Mereka pun berbicara, saling bertukar cerita membahas pasangan masing, membicarakan pengalaman hidup masih masih. Yang isi nya tidak jauh berbeda dengan kehidupan Yumna.


 


..........


" Nda, ayo main ke tempat kakak ku." Ucap Galang saat malam hari.


" Untuk apa?, kita baru dari sana 2 hari lalu."


" Tentu saja untuk menanyakan pekerjaan."


"Baiklah."


Sepulang dari rumah kakak ipar, Yumna dan Galang berhenti di sebuah kafe di seberang jalan, karena ada seseorang yang memanggil Galang.


" Halo bos, apa kabar." Sapa Galang.


" Hei Galang. aku mencari kamu, ternyata kamu sudah pindah kos ya." Ucap laki laki itu.


" Iya, saya pindah di Jalan xxx"


" Oh ya deket dari sini."


" Ada apa bos?" Tanya Galang.


" Ini, saya mau bikin cincin ini, bisa?" Menunjukan gambar pada Galang.


" Maaf bos, kerjaan saya banyak."


" Ah, masak gak bisa di sempetin bikin itu." Pinta laki laki itu.


" Maaf bos, kalau kerjaan dari toko, saya gak berani nunda."


" Ya sudah kalau begitu."


" Oke oke. Saya permisi bos. Sekali lagi maaf." Ucap Galang kemudian berlalu meninggalkan orang itu.


" kenapa tidak di ambil?" Tanya Yumna saat perjalanan pulang.


" Huh, bikinnya susah, ongkos nya murah. gak seimbang sama capeknya." Keluh Galang.


" Tapi kan alhamdulilah ada pemasukan, daripada enggak."


" Sudah kamu diam saja. Kamu mana paham pekerjaanku, kamu paham nya cuma menghabiskan uangku."


Yumna memilih diam daripada terus berdebat, akan membuatnya semakin terluka.


Beberapa hari kemudian...


" Ini, uang untuk belanja." Galang memberikan tiga lembar uang merah kepada Yumna.


" Bolehkah aku membeli sprei?, kita hanya punya 2 sprei, yang satu warna nya juga sudah pudar.


" Terserah kau saja."


Setelah mendapat ijin menggunakan uang pemberian Galang, Yumna mulai mencari sprei murah lewat aplikasi oren.


Tiga hari kemudian....


" Yah pempes sama token listri nya habis, saat nya beli."


" Ya sudah sana beli."


" Uangnya."


" Bukankah kau sudah ku beri uang, kenapa minta lagi." Ketus Galang.


" Lo, kemaren kan buat beli sprei. Sisa nya untuk belanja"


" Huh, dasar. Mangkannya jangan boros. Kau selalu begitu. Baru punya uang sudah di belanjakan. Nih.. Di hemat, jangan di habiskan." Galang memberikan 2 lembar uang merah.


" Ini kirim kah kepada ibuku. Ilmi biar aku jaga, nomer rekening nya sudah aku kirim ke ponselmu." Ucap Galang sambil memberikan beberapa lembar uang lagi kepada Yumna.


Hiks hiks....


Yumna menangis diperjalanan, Galang bahkan dengan suka rela memberikan sejumlah uang kepada ibunya, namun sedikit ceramah bila memberi uang kepada nya.


Yumna ingat betul, bagaimana perubahan sikap Galang, saat Yumna hendak mengirimkan uang kepada adiknya. Padahal itu adalah uang Yumna sendiri dari hasil menabung saat jualan online. Galang pikir Yumna memakai uang nya untuk di kirim kepada adik nya.


" Ini.." Yumna memberikan struk bukti pengiriman kepada Galang.


" Ya sudah aku mau pergi memancing."


Sepeninggalan galang..


Drtt drtt drttt...


" Halo bu?"


" Apa kamu sudah membeli kan ilmi sepeda?, aku kan sudah mengirim sejumlah uang." Ucap suara yang tak lain adalah ibu Yumna.


" Iya bu, nanti aku beli."


" Jangan lama lama, nanti keburu uangnya ke pakai untuk belanja."


" Iya bu, setelah ini aku cari sepeda." Ucap Yumna kemudian mematikan sambungan telpon.


Flashback on


" Halo cucu nenek apa kabar?" Ucap ibu melalui panggilan video.


" Baik baik saja. ohya hari ini usia ku tepat 1 tahun lo." Ucap Yumna dengan menirukan suara anak kecil.


" Jadi, mau minta kado apa?"


" Apa saja." Kalau boleh belikan sepeda, jadi bisa aku mengajaknya jalan jalan, tanpa harus ku gendong."


" Berapa harga sepeda?"


" Mungkin 500ribu."


" Doakan nenek banyak rejeki ya, nanti nenek kirim uang untuk beli sepeda."


" Amin, terima kasih nek."


flashback off.


...


" Ilmi badannya panas sayang." Ucap Yumna saat menyentuh dahi Ilmi.


" Yuk kita beli kompres demam, lalu kita beli sepeda"

__ADS_1


Sambil mengendong Ilmi, Yumna berjalan menuju toko sepeda yang berjarak kurang lebih 700 meter dari rumah kos nya.


__ADS_2