Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
baby blues kah ini?


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Yumna dan Galang mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan.


" Permisi apa ibunya sudah bisa bangun?, wah ternyata ibu sudah bisa bangun dan dapat jalan." Ucap bidan sambil tersenyum saat melihat Yumna sudah bisa berjalan, walau masih dengan langkah hati-hati dan pelan seperti siput.


" Iya sudah." Jawab Yumna.


" Kalau begitu Ayo kita pindah ke ruang yang di sebelah sana saja." Ucap Bidan dan langsung mengambil bayi Yumna yang tertidur di atas ranjang.


" Bapak dibantu memegangi ibu ya, barangnya bisa diambil setelah mengantarkan ibu." Ucap Bidan.


Galang mengangguk kemudian menuntun Yumna hingga mereka berada di ruangan khusus untuk ibu yang baru saja melahirkan.


" Pelan pelan ya.." Ucap bidan saat melihat Galang yang sedang berusaha memegang Yumna untuk duduk di atas ranjang.


" Saya ambil barang dulu." Ucap Galang kepada bidan.


" Oh iya silahkan. Bayinya apa sudah mendapatkan ASI?" Tanya bidan.


" Sudah."


" Kalau begitu, saya letakkan di sini ya Bu. Dan Ibu boleh istirahat sembari menunggu dokter untuk memeriksa ibu dan juga bayi."


" Iya terima kasih."


Tak beberapa lama kemudian setelah bidan itu pergi, Galang datang dengan membawa semua barang Yumna.


" Wah di sini ranjangnya ada dua, sepertinya memang yang satu untukku. Akhirnya aku bisa beristirahat."


Galang langsung berbaring di atas ranjang setelah dia meletakkan tas Yumna.


Yumna kemudian menghubungi Ilmi melalui panggilan video.


Ilmi terlihat sangat antusias saat mengetahui bahwa adiknya lahir.


Lalu setelah Yumna puas melakukan panggilan terhadap Ilmi dan juga ibunya. Giliran Galang yang mendapat telepon dari ibu dan juga adiknya.


Banyak celoteh yang diucapkan oleh ibu Galang, terutama karena Galang mengatakan bahwa Yumna terus saja menangis saat mengalami kontraksi.


" Pasti waktu hamil istrimu kebanyakan makan manis, makanya saat melahirkan jadi menangis saja."


" Gimana gak menangis orang sakitnya berkali-kali lipat, juga di jalan lahir ku selalu keluar bercak merah seperti saat haid." Ucap Yumna, walaupun Yumna tidak bicara langsung kepada sang mertua tapi sepertinya sang ibu mertua mendengarnya. Terbukti karena sang ibu mertua menjawab bahwa Yumna mengalami kontraksi yang yang biasa disebut dalam istilah Jawa 'Banyon Geteh' yang artinya, jalan lahir akan banyak bercak merah seperti saat haid. Dan itu yang membuat kontraksi terasa sakit berkali-kali lipat.


Karena tidak ingin terlalu menanggapi perkataan dari sang ibu mertua. Yumna mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyadari bahwa hari kelahiran putrinya itu bertepatan dengan hari Ibu sedunia.


" Aku berharap anak kedua kita adalah laki-laki, namun ternyata perempuan." Ucap Galang.


" Iya." Ucap Nina.


" Mungkin memang rezeki kita hanya diberikan anak perempuan ya?, kan ada keluarga yang hanya diberikan anak laki-laki saja."


" Iya, setiap orang pasti diberikan ujian. Entah ujian tidak memiliki anak, entah ujian diberi kekayaan yang melimpah tapi sangat susah mendapatkan anak. Atau dengan banyak anak tapi mereka tidak punya uang. Apapun ujiannya kita harus tetap bersyukur kan bahwa Tuhan masih mempercayakan kita untuk membesarkan seorang anak."


" Iya."


Belum selesai percakapan mereka berdua, Galang mendapat telepon dari temannya, yang mengatakan bahwa temannya akan datang berkunjung ke sana.


" Nda kamu tidak papa aku tinggal sendirian selama beberapa jam?, karena aku harus pulang untuk mengubur ari-ari dari bayi kita. Aku akan pulang bersama dengan temanku, dan kembali dengan membawa sepeda jadi kita ada kendaraan jika kita butuh sesuatu."


" Iya,bawakan aku beberapa cemilan dan susu."


" Baiklah. Aku akan berpamitan sebentar kepada bidan."


" Baiklah."


Tak beberapa lama setelah kepulangan Galang. Dokter dan bidan datang dan langsung memeriksa Yumna serta sang Bayi.


" Ibu apa ada keluhan?"


" Iya, perut saya terkadang seperti mengalami kontraksi."


" Tidak apa apa bu, itu normal terjadi karena perut dalam tahap kembali ke bentuk semula. Jadi Ibu mungkin akan mengalami gejala seperti akan melahirkan beberapa kali dalam beberapa jam."


Setelah cukup lama melakukan pemeriksaan terhadap Yumna dan bayi.


Bidan serta dokter itu pun pamit. Yumna melihat dokter dan bidan itu masuk ke ruangan yang ada di sebelah kanan ruangan Yumna.


" Hmm, sepertinya bukan hanya aku yang melahirkan hari ini." Lirih Yumna.


" Lo, kok bawa makanan juga?" Tanya Yumna saat Galang datang dengan membawa sebungkus makanan.


" Iya, saat tadi aku berpamitan kepada bidan. Bidan itu mengatakan jika makan siang dan makan malam tidak disediakan jadi kita harus membelinya sendiri. Karena itu, Ibu membawakan kita makanan."


" Oh seperti itu, lalu apakah Ilmi menangis?"


" Menangis sebentar, lalu aku katakan jika Ilmi ikut maka adiknya tidak kan boleh pulang oleh dokter. Jadi dia diam."


" Oh..."


Galang dan Yumna memutuskan untuk kembali beristirahat karena Yumna juga masih tidak diperbolehkan terlalu banyak beraktivitas.


" Yah, ini sudah lebih dari 6 jam. Tapi kenapa aku dan bayinya tidak dimandikan?. Dulu setelah aku melahirkan Ilmi dan sudah 6 jam kami dimandikan."

__ADS_1


" Mungkin nanti, yang melahirkan di sini ada tiga orang denganmu. Dan saat aku kembali aku juga melihat wanita hamil yang sepertinya juga akan melahirkan."


" Oh, mungkin saja."


" Ya sudah ini makanlah aku akan merokok di luar sebentar."


" Iya."


Setelah makan, Yumna memilih kembali berbaring, sambil menunggu bidan datang kembali.


Namun, sudah hampir 2 jam Yumna menunggu, tidak ada tanda-tanda bidan itu akan datang kembali.


Lalu saat Galang masuk ke dalam ruangan.


Yumna meminta Galang untuk bertanya kepada bidan apakah bayi mereka akan dimandikan atau tidak.


Galang pun segera pergi ke pos jaga bidan.


" Kata bidan, bayinya akan dimandikan besok saat pulang. Dan ibunya boleh mandi."


" Astaga, Kenapa tidak bilang dari tadi. Kalau ternyata aku sudah boleh mandi dari tadi maka aku akan segera mandi. Karena badanku terasa sangat lengket."


" Mandilah, aku akan menjaga Putri kita."


Dengan perlahan Yumna masuk kedalam kamar mandi. Dan memulai ritual mandinya. Yumna merasa sangat segar, walau belum genap 1 hari dia melahirkan tapi rasanya Yumna sudah tidak mandi selama berhari-hari.


Setelah mandi, Galang membantu memasangkan sabuk ke perut Yumna.


Tak beberapa lama kemudian, bidan datang dan masuk untuk mengantarkan vitamin.


" Lo, Ibu sudah mandi?"


" Iya, saya tidak tahan gerah bu bidan."


" Iya sudah tidak apa apa kalau memang Ibu tidak ada keluhan seperti pusing. Dan ini saya membawakan Ibu obat dan vitamin diminum 2 kali sehari setelah makan ya. Saya letakkan disini ya."


Bidan meletakkan obat itu di atas meja yang ada di sebelah ranjang tidur Yumna.


" Terima kasih bu."


" Sama sama. Kalau begitu saya permisi, jika ada keluhan bapak bisa memanggil petugas yang ada di sebelah sana."


" Iya."


...


Malam harinya, bayi kecil itu sedikit rewel, karena pernapasannya berbunyi grok-grok.


" Mungkin karena tadi tidak mendapat sinar matahari." Ucap Galang.


" Iya, dan mungkin juga bunyi ini akibat dari kotoran yang menempel pada bayi kita. Tadi aku banyak membersihkan bercak merah pada badan bayi kita."


Malam itu, Galang membantu menidurkan dan menenangkan bayi mereka yang sedikit rewel karena pernapasannya.


Yumna yang khawatir, meminta Galang untuk memanggil bidan agar memeriksa bayi mereka apakah bayinya baik-baik saja.


" Tidak apa apa bu, ini normal terjadi di awal kelahiran bayi. Jika tidak air keluar yang dari hidung si bayi maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


" Syukurlah kalau begitu karena saya takut."


" Tidak apa apa Bu, jika bayi tiba-tiba menangis coba Ibu miringkan ke kiri. Atau sebaliknya cobalah untuk membuat bayi merasa nyaman."


" Iya, terima kasih bu."


" Sama sama."


Bidan keluar, dan Tak lama kemudian Galang masuk.


Galang meminta izin Yumna untuk menemui dan menemani temannya yang datang berkunjung lagi.


Keesokan paginya...,


Galang membawa bayi mereka dan menanyakan kepada bidan apakah bayi itu boleh berjemur atau tidak.


Dan setelah mengetahui bahwa bayi boleh berjemur. Galang langsung membawa bayi itu untuk berjemur dibelakang ruangan Yumna.


Yumna memilih untuk mandi sebelum akhirnya mereka pulang.


Setelah mandi, Yumna melihat sudah ada makanan di atas meja. Yumna lalu segera menghabiskan makanan itu dan meminum obat yang diberikan oleh bidan semalam.


Sesekali Yumna mengintip dari jendela, apakah Galang sudah kembali dari berjemur atau tidak.


Karena Galang belum kembali dan Yumna yang merasa sedikit bosan, akhirnya Yumna memilih untuk mengemasi pakaiannya dan milik bayi mereka.


Yumna hanya menyisakan satu stel pakaian yang akan dipakai untuk pulang nanti.


Tak beberapa lama kemudian Galang datang dan langsung menyerahkan bayi kepada Yumna, Yumna langsung memberi bayi itu ASI.


Tok


Tok


Tok


" Permisi pak bu, beberapa saat lagi bayinya akan dimandikan jadi tolong siapkan pakaiannya ya." Ucap Bidan


" Iya."

__ADS_1


Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, akhirnya bidan tadi kembali dengan membawa sebuah bak yang berisi air hangat. Lalu di mana hati-hati Yumna memberikan bayi itu kepada bidan untuk dimandikan.


Tak lupa juga, bidan itu mengajarkan kepada Yumna cara memandikan bayi yang benar.


" Ohya bu, kira-kira kapan ya kami bisa pulang karena saya harus menghubungi paman untuk menjemput kami." Ucap Galang.


" Tadi malam sudah diperiksa oleh dokter atau belum?"


" Belum." Jawap Yumna.


" Kalau belum berarti menunggu Ibu dan bayinya diperiksa oleh dokter, dokternya akan datang dalam 2 jam."


" Baiklah."


..


Yumna dan Galang sudah menunggu lebih dari 2 jam. Namun belum ada tanda-tanda dokter itu akan datang ke sini untuk memeriksa bayi dan Yumna.


Galang yang sudah bosan berada di klinik itu memilih untuk keluar dan bertanya kepada bidan apakah dokter nya sudah datang atau belum.


" Bagaimana?" Tanya Yumna saat melihat Galang kembali.


" Dokter nya sudah datang tapi masih memeriksa bayi yang lain."


" Hmm, kan tadi aku sudah bilang mungkin dokternya sudah datang tapi karena bukan hanya aku yang melahirkan di sini mungkin dokternya masih jalan-jalan ke ruangan lain tapi kamu tidak percaya padaku." Ketus Yumna.


" Iya iya."


Tak beberapa lama kemudian, dokter yang ditunggu-tunggu pun akhirnya masuk ke ruangan Yumna dan langsung memeriksa Yumna dan juga bayinya.


Setelah Yumna dan bayinya selesai diperiksa dokter, bidan menyuruh Galang untuk mengambil buku KIA serta bingkisan yang diberikan klinik kepada si bayi.


Galang kembali bersama Ilmi dan juga ibunya yang datang untuk menjemput Yumna dan bayinya.


Rupanya Galang sudah menelpon 1 jam yang lalu dan mengatakan bahwa mereka akan pulang.


Lalu dengan hati-hati Galang menuntun Yumna berjalan masuk kedalam mobil, sedangkan bayinya digendong oleh ibu Yumna.


Sesampainya di tempat kos, para tetangga kost langsung berbondong-bondong untuk melihat anggota baru keluarga Galang.


Dengan perlahan Yumna duduk di ranjang, dan mulai menjawab pertanyaan para tetangga seputar kesan melahirkan.


Yumna juga menceritakan apa-apa saja yang dia lalui, mulai dari sakit. Hingga bayi yang ternyata hanya dimandikan ketika akan pulang ke rumah.


Malam harinya, Galang dapat tidur dengan tenang karena sang ibu yang menggendong bayi mereka saat terbangun.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Dan tidak terasa kini usia bayi yang diberi nama Akifa sekitar 40 hari.


Beberapa hari setelah acara selapanan bayi Akifa. Ibu pulang ke Jawa karena Arumi sudah menelponnya berulang kali dan menanyakan kapan ibu akan pulang.


Perasaan Yumna percampuran antara sedih dan juga bahagia.


Di sisi lain dia sedih karena sang ibu akan pulang.


Tapi di sisi lain dia juga bahagia, karena dia tidak perlu lagi melihat sang ibu yang terus melakukan pekerjaan rumah.


Yumna merasa tidak enak jika sang Ibu terus aja melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan oleh Yumna.


" Hati hati, jaga diri kamu baik-baik." Ucap ibu saat dirinya akan naik travel.


" Iya, dan maaf jika aku hanya bisa memberi ibu sedikit uang."


" Iya tidak apa apa."


" Besok kesini lagi ya bu." Ucap Ilmi.


" Iya..."


Ilmi pun melambaikan tangan saat mobil yang ditumpangi oleh Ibu berangkat meninggalkan halaman kost.


Lalu Yumna dengan hati-hati membawa Akifa dan juga Ilmi kembali masuk ke dalam kamar.


Bulan berlalu....


Entah kenapa tapi sejak kepulangan sang Ibu Akifa menjadi sangat rewel terutama di jam 1 atau 2 dini hari.


Hal itu membuat Yumna kesal.


Apalagi Galang tidak pernah mau membantunya untuk menggendong Akifa.


Pernah sesekali Yumna meminta bantuan Galang untuk menggantikannya menggendong Akifa sebentar.


Namun, Galang justru marah-marah dan mengatakan jika dirinya sangat lelah bekerja.


Sejak kejadian itu walaupun Akifa sangat rewel, Yumna tidak pernah lagi membangunkan Galang. Kecuali, jika Galang sendiri yang bangun dan menawarkan diri untuk menggendong Akifa.


Yumna sering menangis tak kalah Akifa yang masih saja rewel walaupun sudah digendong. Tak jarang Yumna memukul, walaupun dengan pelan kaki Akifa, sehingga membuat tangisan Akifa semakin kencang.


Apakah ini termasuk baby blues??


Yumna berusaha menahan amarahnya, namun terkadang dia tidak dapat menahan emosinya saat Akifa masih saja rewel setiap malam, sedangkan Yumna sangat lelah karena seharian melakukan pekerjaan rumah juga menemani Ilmi belajar.


Ditambah Galang yang seakan tidak mau tahu jika Akifa selalu rewel saat malam hari. Membuat Yumna sering menangis saat mengendong Akifa. Dan kadang melampiaskan kekesalannya dengan memukuli dirinya sendiri.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2