
" Sepeda siapa itu?." Tanya Galang saat Yumna pulang dengan Ilmi yang menaiki sepeda.
" Sepeda ilmi, dibelikan neneknya." Ucap Yumna kemudian berlalu meninggalkan Galang yang bersama teman nya.
" Ilmu sakit?." Tanya Galang saat melihat plaster demam menempel di dahi Ilmi.
" Seperti nya begitu."
Drtt drttt drrtt...
" halo." Ucap Galang.
" Halo, ini lo ibu menanyakan Ilmi terus, rindu katanya." Suara adik Galang melalui panggilan video.
Galang mengobrol dengan ibu nya, sambil menunjukan gambar Ilmi.
Sementara Yumna memilih pura pura sibuk dengan tugas IRT.
Beberapa hari kemudian...
" Nda, coba lah lakukan sesuatu, apa saja, yang menghasilkan uang. Daripada kerja mu hanya tidur saja."
" Aku sedang berusaha."
" Katanya jualan online, mana hasilnya, aku tidak pernah tau bentuk uang dari hasil jualanmu."
" Sudah habis untuk belanja, bahan makanan sekarang itu mahal."
" Mangkannya jangan boros boros."
" Aku sedang tidak enak badan. Tolong kerokan." Pinta Yumna.
" Manja, gak kerja kok sakit."
" Aku melakukan pekerjaan rumah, dari pagi hingga malam. Aku juga bisa lelah."
" Itu kan sudah tugas jadi istri. Kalau tidak mau lelah, kenapa dulu menikah." Galang dengan nada tinggi.
" Kau kan yang mengajak ku menikah."
" Kenapa kau mau?, sudahlah. Aku ada urusan" Ketus Galang, kemudian pergi meninggalkan Yumna.
...----------------...
...----------------...
" Kenapa Ilmi menangis?" Tanya Galang saat Yumna membawa Ilmi pulang dalam keadaan menangis.
" Biasa, gara gara hp." Ucap Yumna yang masuk ke dalam rumah, dan berusaha menenangkan Ilmi yang masih menangis.
" Sini sini biar ku gendong."Ucap Galang sambil mengambil Ilmi dari gendongan Yumna.
" Kenapa sayang kenapa?"
" Hwaaa hwaa hwaa.." Ilmi semakin menangis.
" Kenapa sih, dari tadi menangis terus, kau apakan dia?." Ketus Galang.
" Minta HP yah." Ucap Yumna.
" heh kalau ditanya jawap." Ucap Galang.
" Sudah ku bilang dia nangis karena minta hp Eka, tablet nya lelet jadi marah dan...."
Brug...
Belum selesai bicara, Yumna sudah merasakan sesuatu mengenai kepalanya. Kaki. Ya tadi itu kaki Galang, dia menendang kepala Yumna karena Yumna bicara dengan nada tinggi.
" Berani bicara tinggi kamu sekarang ya?. Dasar istri durhaka. Ini urus sendiri anakmu." Galang keluar kamar dengan membanting pintu.
Yumna memeluk ilmi, di timang timang nya gadis manis itu, sambil di beri asi, Hingga tertidur.
"Hiks hiks hiks.. apa salahku?.. hiks hiks hiks... beginikah yang aku terima?, kemana kasih sayang suami ku yanh dulu. Kenaapa ini terjadi padaku..
ma.. aku ingin pulang, ayah... kau dimana?, kenapa tidak ada salah satu dari kalian yang akan pulang..." Yumna menangis sambil memeluk Ilmi.
Yumna meraih ponselnya..
__ADS_1
" Halo paman." Yumna menelpon paman, berniat meminjam uang untuk biaya pulang ke Jawa.
" Iya nduk, ada apa? kamu menangis?"
Yumna pun menceritakan kronologi nya kepada paman.
" Sabar, jangan terburu buru mengambil tindakan. Bicarakan baik baik dengan suami mu. Kalau kau memang tetap ingin pulang, hubungi paman lagi."
Setelah telepon di matikan, Yumna memilih untuk tidur.
Hingga Yumna merasakan ada seseorang yang memeluk nya dari belakang. Galang. Ya orang itu adalah Galang.
Memeluk Yumna, dan mencium kepala Yumna.
Hanya itu.
Tidak ada kata maaf seperti yang di harapkan Yumna.
" Aku mancing." Ucap Galang sambil mencium kening Yumna.
Setelah menendangku, baru bersikap manis. Batin Yumna.
" Yumna.." Suara hepi.
" Masuk lah mbak.."
" Ini aku buat bolu... lo kamu kenapa?"
Hepi melihat mata Yumna yang bengkak.
Yumna kemudian menceritakan nya, dan kembali menangis.
" Sabar, aku juga sering bertengkar, ya walaupun tidak sampai main tangan, apalagi kaki."
Yumna terdiam. Dia tidak tahu lagi harus apa. Dalam pikirannya hanya ada keinginan untuk segera pulang.
Dalam tiga hari, sikap Galang menjadi manis. Dia bahkan sering mengajak Yumna berhubungan suami istri.
Namun luka tetaplah luka, apalagi sifat Yumna yang tidak bisa melupakan rasa kecewa nya.
...----------------...
" Lo satu travel dengan adik Ilmi." Ucap kakak ipar.
" Iya mbak." ucap Yumna.
" Langsung pulang ke rumah ibu?"
" Tidak mbak, ke rumahku dulu. bukan kah jika dari Bali akan melewati rumah ku dulu."
" oh gitu, jadi kapan pulang ke sana?" tanya ipar berbasa-basi
" Biasa nya sih, sehari sebelum ayah Ilmi pulang. Jadi aku ada kendaraan jika akan membeli kebutuhan Ilmi."
" Oh Gitu, aku kira pulang ke rumah Galang dulu."
" Enggak mbak, Galang kalau bermalam di rumah tidak pernah lama. Jadi aku kurang puas bertemu adikku."
" Kenapa?"
" Aku tidak tahu "
Percakapan berakhir.
Baru beberapa hari Yumna berada dirumahnya.
(Dasar kau memang istri tidak berguna). Pesan dari Galang.
(apa maksud mu). Balas Yumna
(kau bilang pada kakak ipar jika tidak mau pulang kerumahku, kau juga bilang jika aku tidak mau pulang ke rumahmu).
(Memang benar kan, kau seakan jijik jika menginap di rumahku.).
( kau itu sudah durhaka. Kau itu berdosa. Sudah tau jika pulang ke rumah sendiri tanpa suami itu pamalik, kau tetap saja membantah. Ibu ku itu sendirian tinggal disana).
(lalu apa beda nya dengan adikku yang juga tinggal sendiri, sebelum ada aku juga ibu mu tinggal sendiri).
__ADS_1
(Dasar kau memang tidak berguna. Jika bukan karena ilmi, aku sudah menceraikanmu.).
Lagi lagi kata cerai yang menjadi senjata andalan agar Yumna patuh dan menuruti perkataan galang.
Apa mungkin Galang tau, jika Yumna tidak punya siapa siapa yang akan membela nya?, tidak ada orang tua yang mendampingi Yumna, sehingga Galang bisa berbuat semau nya.
----------------
----------------
" le, tinggal di sini aja Ilmi. Istri mu biar bekerja, cari uang. Biar tidak menghabiskan uangmu terus." Ucap Ibu.
" Ilmi tidak bisa jauh dari ibu nya."
" Lo ya nanti aku carikan dukun, biar Ilmi di buat lupa dengan ibunya."
Hati Yumna yang sudah sembuh dan mulai mencoba memenangkan lagi hati suami nya, kembali terluka saat Yumna yang tak sengaja mendengar percakapan itu.
" Le, kamu sudah membelikan baju untuk keponakanmu."
" Belum"
" Belikan baju le, kasihan."
" Iya nanti aku belikan."
...
" Nda, Ayo kita ke plaza." Ajak Galang.
" Untuk apa?" Tanya Yumna.
" Membeli baju untuk Adit, keponakanku."
" Membeli baju untuk Adit saja? Ilmi?"
" Ilmi sudah banyak baju."
" Ilmi punya baju karena Ayah dan Ibu ku memberi uang, agar Ilmi punya baju baru di hari raya."
" Ah itu sama saja. Aku ini lo sudah lama tidak membelikan Adit baju." Ketus Galang kemudian pergi entah kemana.
Saat Yumna akan mencuci tangan Ilmi yang kotor, samar samar dia mendengar suara Ibu dan Suami nya.
" lo, katanya mau beli baju untuk Adit."
" Tidak jadi. Yumna ingin aku juga membelikan Ilmi baju."
" Kok gitu sih, istri mu."
" Biar lah buk, dia memang begitu suka iri."
Hati istri mana yang tidak kecewa mendengar suaminya berkata seperti itu.
Apa salah jika Yumna juga meminta agar Galang membelikan baju untuk putrinya sendiri.
Tuhan... bisa kah aku memutar waktu kembali ke masa saat kedekatanku dengan Galang?...
Tuhan.. bisa kah aku merubah jalan takdirku?,.
Bolehkah aku mengeluh tentang betapa kejam nya dunia, yang seakan tidak berpihak padaku...
Ini memang salahku, atau memang takdir ku yang seperti ini...
Salahkah aku yang ingin merasakan bahagia bersama orang yang ku pilih menjadi pendamping hidupku???...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...****************...
.
__ADS_1