
" Jalan jalan ke taman yuk." Ucap Galang sesaat setelah Galang selesai mandi pada malam hari
" Ayo." Ucap Ilmi dengan penuh semangat.
" Ya ayo, lekas bersiap."
Ilmi segera meletakkan ponselnya, berjalan menuju lemari dan mengambil jaket serta kerudung yang biasa dia kenakan saat akan berpergian cukup jauh.
Sedangkan Yumna langsung memakaikan sepatu kepada Akifa dan juga jaket, tidak lupa kerudung agar Akifa terlihat sama seperti dirinya dan juga sang kakak yang juga memakai kerudung.
Sejak kecil Yumna selalu mengajarkan kepada Ilmi untuk berkerudung saat akan keluar dari rumah.
Hal itu Yumna lakukan agar kelak Ilmi terbiasa dengan kerudung dan juga baju panjang.
Hal seperti itu juga diterapkan Yumna kepada Akifa, jika dulu Ilmi diam saja saat dipakaikan kerudung lain halnya dengan Akifa. Baru dipakaikan kerudung, belum 1 detik kerudung itu sudah ditarik sehingga terlepas.
Drama yang selalu terjadi ketika mereka akan jalan-jalan, dimana Akifa selalu berlari saat akan di kenakan kerudung ataupun sepatu.
" Adek tinggal yuk kak." Ucap Galang sambil menyisir rambutnya.
" Da da...da...da.." Ucap Ilmi Ya mulai berjalan keluar.
Akifa?, tentu saja dia menangis ingin ikut.
" Mangkanya sini ayo pakai sepatu dan kerudung nya dulu lalu kita akan ikut." Ucap Yumna.
Akifa pun akhirnya mendatangi Yumna dan diam saat Yumna mengenakan sepatu dan juga kerudung.
Setelah memastikan bahwa kipas sudah dimatikan dan tidak ada kompor yang menyala, Yumna segera mengunci pintu dan berjalan menuju Galang dan juga Ilmi yang sudah menunggu mereka di depan pintu gerbang rumah kost.
" Sudah?" Tanya Galang saat mengetahui Yumna dan juga Akifa sudah naik ke atas sepeda motor.
" Sudah." Jawap Yumna.
Akhirnya Galang melajukan kendaraannya, sepanjang perjalanan Galang dan Yumna saling bercerita. Ada perasaan senang juga perasaan sedih saat Galang mengajak Yumna untuk keluar.
Bahagia? tentu saja Yumna bahagia karena jarang-jarang Galang akan mengajak mereka semua jalan-jalan. Namun, Yumna juga sedih karena nanti malam Galang pasti meminta kembali hak nya kepada Yumna.
Bukan Yumna menolak, hanya saja terkadang dia tidak ikhlas dalam melayani Galang mengingat bagaimana cara Galang memberinya uang belanja. Dan juga perlakuan Galang yang bisa dibilang kurang memuaskan Yumna saat bercinta.
Untuk sesaat Yumna tidak mau memikirkan hal itu, karena mereka sudah sampai dan Yumna mulai kerepotan menjaga Akifa yang sudah berlarian kesana-kesini.
" Ayo ambil makan dulu." Ucap Yumna pada Akifa.
Akifa tentu saja menggelengkan kepala dan mulai berjalan lagi. Tanpa pikir panjang Yumna langsung menggendong Akifa dan berjalan menuju Galang yang tengah duduk bersantai menjaga barang bawaan mereka.
" Kok sudah kalau bermain?" Tanya Galang.
" Mau makan." Ucap Yumna yang mengeluarkan kotak bekal yang dia bawa untuk Akifa.
" Lo, bawa bekal ya.." Ucap Galang sambil menatap Akifa.
Akifa justru menunjuk kearah Ilmi yang tengah bermain bersama teman barunya.
" Lihat Kakak mu itu sudah dapat teman saja." Ucap Galang sambil melihat kearah Ilmi yang tengah berlari bersama temannya.
" Iya, sejak dulu setiap kita bermain kemanapun Ilmi selalu cepat mendapatkan teman." Ucap Yumna.
Setelah membuka kotak bekal yang isinya puding untuk Akifa, Yumna segera kembali mengajak Akifa untuk berjalan dan bermain di taman bermain yang ada di pusat kota Gianyar. Jaraknya lumayan jauh sekitar 30 menit dari rumah kost Yumna.
" Huft, sana gantian. Aku sudah capek mengikuti Akifa yang tidak mau berhenti." Ucap Yumna kepada Galang setelah Akifa menghabiskan puding.
" Baiklah, ini ponsel ku tolong simpan kan." Ucap Galang.
Galang lalu segera menghampiri Akifa yang tengah berlari karena tahu jika Galang berjalan ke arahnya. Yumna menggunakan kesempatan itu untuk bersantai. Dan mencicil tulisan nya di aplikasi yang sudah Yumna gunakan untuk menulis.
Belum selesai Yumna menulis Galang sudah kembali dengan menggendong Akifa.
" Ini, kamu saja yang menemani Akifa." Ucap Galang sambil menyerahkan Akifa
" Kenapa?" Tanya Yumna.
" Jika aku yang menemani Akifa maka Akifa selalu saja minta gendong dan tidak mau berjalan."
__ADS_1
" Ya tidak apa apa." Ucap Yumna.
" Ya aku capek."
" Ayah lihat aku bertemu dengan kakak keke." Ucap Ilmi.
" Lo, Kakak Keke sama siapa mamanya di mana?." Tanya Yumna.
" Mama tidak ikut karena Mama sibuk membuat terang bulan sedangkan aku kesini bersama ayah. Itu ayahku sedang duduk di sana."
" Dimana kosnya?" Tanya Galang.
" Deket kok, bla bla bla bla bla .." Keke menjelaskan panjang lebar, namun tidak ada di antara Galang dan juga Yumna mengerti apa yang dikatakan oleh Keke. karena keke hanya memberi tahu arah tanpa memberitahu nama jalan yang akan dilewati untuk menuju rumahnya.
Akhirnya Galang dan Yumna hanya mengangguk-anggukan kepala walaupun sebenarnya mereka tidak mengerti.
" Jaga anak anak ya, aku akan merokok sebentar di sebelah sana." Ucap Galang
" Baiklah."
Setelah cukup lama, Yumna yang sudah mulai lelah, lalu mengajak Akifa dan juga Ilmi untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Yumna sedikit merasa kesal karena tatanan sepatu ataupun sandal yang ada di rak luar kamarnya berantakan.
Bahkan jemuran Yumna juga tidak ada di tempat biasanya, beberapa sepatu dan sandal milik Akifa pun hilang dan berserakan entah kemana.
Hal itu tentu saja membuat Yumna marah. Siapapun yang telah bermain-main di sana seharusnya mengembalikan sepatu dan sandal ke tempat semula.
Yumna sendiri jika Akifa sedang mengobrak-abrik sandal milik tetangga, ataupun Akifa membawa serta membuang sembarangan sendal atau sepatu yang dia bawa.
Yumna selalu saja mengembalikannya ke tempat semula. Atau jika Akifa membuat kotor di teras kamar tetangga lain, Yumna selalu membersihkannya. Tapi Kenapa setiap kali orang lain yang membuat kota di teras Yumna, ataupun bermain-main di mana sandal atau sepatu. Tidak ada yang akan mengembalikan nya lagi ke tempat semula.
Sabar !!
Mungkin memang begini nasib orang tidak punya. Tidak pernah akan dibantu dalam hal apapun. Batin Yumna sambil berusaha mencari sendal dan juga sepatu Akifa yang berserakan.
Setelah menidurkan Akifa, Yumna mulai membersihkan pekerjaan rumah yang belum sempat dia selesaikan sore tadi. Lalu saat Yumna hendak tidur, Galang mencegahnya.
Hmm, sudah ku duga. Hal ini pasti terjadi ketika Galang mengajak jalan-jalan. Tuhan sebenarnya aku sangat enggan untuk melayaninya, Galang hanya manis saat hendak meminta hak nya saja. Tapi Karena dia sudah berbaik hati mengajak kami jalan-jalan maka baiklah. Batin Yumna.
...
Begitu juga Yumna yang berharap dia akan bahagia dengan rumah tangganya. Salah kah jika Yumna berharap dia akan mendapatkan kasih sayang dari suaminya. Bukan rasa perhatian yang Yumna dapatkan hanya ketika Galang mengajak nya untuk berhubungan intim.
Selama ini mungkin Galang sudah menyayangi Yumna. Tapi tidak dengan cara yang benar karena Yumna merasa isi dari pernikahannya hanyalah luka.
Yumna tidak ingat kapan terakhir kali dia merasa paling bahagia dan paling beruntung menjadi seorang istri.
Sore itu, Yumna sangat kesal karena begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Sedangkan Galang memilih untuk pergi memancing karena dia tidak bekerja dan juga ini yang sedang libur mengaji.
Galang tidak memberi uang lagi kepada Yumna, padahal Yumna saat tahu bahwa Galang sudah mendapatkan uang dari pekerjaan sebelumnya.
Karena Yumna sedang dalam suasana hati yang buruk, jadi dia tidak menanyakan perihal uang kepada Galang.
" Nda, apakah berasnya masih ada atau sudah habis?" Tanya Galang setelah Yumna duduk dan berbaring karena lelah mencuci.
" Ada, mungkin cukup untuk masak besok."
" Ya sudah ayo beli."
Galang beranjak dari tempat duduknya lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah juga uang berwarna biru dan memberikannya kepada Yumna ada digunakan untuk membeli beras.
Tit
Tit
Tit.
Suara alarm token listrik.
" Itu ambillah lagi uang dua puluh ribu di atas lemari untuk tambahan membeli token listrik." Ucap Galang.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Yumna berjalan dan mengambil uang yang berada di atas lemari.
Mata Yumna berkaca-kaca, melihat uang yang baru saja diberikan oleh Galang. Rasanya Yumna ingin menangis karena Galang hanya memberinya uang untuk membeli beras dan juga token listrik. Sedangkan di dalam dompet Yumna hanya tersisa uang receh yang mungkin tidak akan cukup untuk membeli sayur di keesokan harinya.
Namun apalah daya Yumna yang tidak bisa meminta kepada Galang. Yumna terlalu takut Galang akan marah karena hal itu akan menyakiti hatinya. Entah Yumna yang bodoh atau Yumna yang terlalu takut.
Tapi...
Setiap kali uang belanja habis Yumna tidak pernah mau memintanya lagi. Karena dia sudah terlalu banyak terluka perihal pertengkaran yang kerap terjadi tak kala Yumna meminta uang untuk belanja, jadi Yumna enggan untuk mendengarkan omelan Galang lagi.
Malam itu, dengan diantar Galang. Yumna pergi ke toko yang ada di depan seberang jalan kos untuk membeli beras dan juga token listrik.
" Huft.."
Yumna menghela nafas saat uang yang berada di dompetnya benar-benar terkuras habis.
Aku harus bagaimana?, sebentar lagi kebutuhan Akifa akan habis dari mana aku akan mendapatkan uang.
Malam harinya, Yumna sulit sekali untuk tidur karena dia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan dan juga anak-anaknya.
Tuhan, apakah memang aku yang terlalu banyak mengeluh sehingga uang yang diberikan untuk Galang tidak pernah cukup, ataukah memang Galang yang memang keterlaluan dalam memberikan nafkah untukku. Aku ingin menyerah, rasanya aku ingin berteriak dan mengeluh agar beban dalam hatiku hilang. Apa yang menjadikan ku terjebak dalam kehidupan mengerikan ini?. Apa memang aku yang tidak pandai bersyukur dan tidak pandai mengatur keuangan ataukah memang Galang yang tidak bisa mengerti pengeluaran dari rumah tangga. Batin Yumna.
Pagi harinya, Yumna menjalani aktivitas seperti biasa. Memasak, menyapu serta menyuapi Akifa. Dan saat Yumna tengah bersantai setelah melakukan semua pekerjaan rumah. Yumna dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari keponakan Galang.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
" Tante ini bajunya Om." Ucap keponakan Galang sambil meletakkan baju itu di atas lemari.
" Lo, om beli baju?"
" Iya, baju untuk lomba burung."
" Apa sudah bayar?" Tanya Yumna.
" Aku tidak tahu, dia nanti saja kalau Om sudah datang."
" Ya sudah."
Setelah katakan itu keponakan Galang kembali keluar dan menutup pintu.
Yumna membuka baju itu. Lalu Dia teringat jika Galang pernah menanyakan soal ukuran baju dan mengatakan jika teman-temannya memesan sebuah baju untuk club lomba burung.
Yumna tidak menyangka jika Galang sendirilah yang mau beli baju.
Yumna?
Yumna tentu saja menatap baju itu dengan rasa sakit di dalam dada. Hal kecil saja Galang tidak pernah terbuka kepada Yumna apalagi hal besar.
Yumna ingin sekali menangis, Kenapa kehidupan seakan tidak adil padanya. Dari dulu hingga sekarang.
Dulu Yumna tidak pernah bisa membeli apapun yang dia inginkan. Begitu juga sampai sekarang saat Yumna sudah menikah. Yumna sangat sulit untuk membeli apa yang dia inginkan karena Galang tidak pernah memberinya uang lebih, selain uang untuk belanja.
" Makanya kerja sendiri biar kamu bisa punya uang jam bisa membeli apapun yang kamu inginkan."
Kata kata itu selalu terngiang di telinga Yumna saat Yumna menginginkan sesuatu.
Terkadang muncul ide gila dalam diri Yumna untuk mendapatkan uang dengan cepat, seperti mungkin menjual diri atau apa saja yang bisa mendapatkan uang dengan cepat. Namun, khayalan tetaplah menjadi khayalan. Yumna tidak mau mengambil langkah salah yang membuatnya akan menyesal di kemudian hari yang membuat nya menjadi terpisah jauh dengan buah hatinya.
Yumna hanya bisa terdiam sambil meletakkan kembali baju milik Galang ke atas lemari. Dan mulai menidurkan Akifa karena ini sudah masuk jam tidurnya di pagi hari.
Yumna akan menunggu apa yang Galang katakan setelah melihat baju yang dia pesan sudah datang.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...