
Hari ke hari, Yumna merasa bahwa ada perubahan sikap Galang.
Galang kini jadi lebih baik dan perhatian. Membuat benih benih cinta kembali bersemi di hati Yumna
" Halo sayang.. Sedang apa." Suara Galang, melalui panggilan video.
" Sedang santai, Ayah sedang apa?" Ucap Yumna.
" Baru selesai makan." Menunjukan bekas bungkus nasi.
" Dimana Ilmi?" Tanya Galang.
" Ilmi.. ini Ayah menelpon." Teriak Yumna yang saat itu berada di kamar.
" Iya.." Saut Ilmi.
" Halo Ayah.."
" Hei, sedang apa?" Tanya Galang.
" Nonton Bluey Ayah, Ayah sudah makan." Celoteh Ilmi.
" Sudah."
" Ayah. Ayah kok lama sih, aku gak di jemput." Ucap Ilmi.
" Iya tunggu, sabar ya."
" Huu.. Ayah tukang bohong."
Ilmi kemudian pergi..
" Dia sudah pergi." Ucap Yumna.
" Iya sudah sayang, aku mau lanjut kerja." Ucap Galang.
" Iya sayang."
Selama beberapa minggu ini, sikap galang melunak, dia lebih sering bersikap lembut.
Ya walaupun hanya lewat telepon, tapi itu cukup membuat Yumna bahagia.
" Nda, apa kau benar benar ingin ikut ke Bali lagi." Ucap Galang, masih via ponsel.
" Iya.. kalau boleh."
" Yaa, tunggu. Aku sudah memesan, jika ada kamar kosong di dekat Lana." Ucap Galang.
" Hmmm, dapurnya di luar ya?" Tanya Yumna.
" Iya, nanti masak nya ya bareng sama mbak Hilda."
" Iya juga sih, ya sudah dimana saja."
Setelah menutup telepon, Yumna kembali melanjutkan pekerjaan nya membuat sikat, dagangan yang mulai sepi. Membuat Yumna memutuskan untuk berhenti, selain karena berkurangnya pembeli, juga karena uang modal sudah habis untuk kebutuhannya dan Ilmi.
"Kok gak jualan lagi nduk." Tanya tetangga yang membeli token listrik.
" Sepi bude, juga aku jual jajanan yang lekas basi dan berjamur. Modal nya gede, untung nya sedikit."
" Iya sih. Tapi jualan pulsa nya masih?"
" Insyallah masih, bude."
" Ya sudah, enak nduk. Jadi aku tidak perlu jauh jauh beli token di sana."
----------------
Malam hari..
Seperti biasa, Yumna selalu sibuk chat dengan Galang.
Yumna seperti kembali ke masa pendekatan dulu.
Dimana Galang begitu perhatian dan terlihat penyayang.
__ADS_1
(nda, kau semakin kurus). Pesan dari Galang.
(masak).Balas Yumna?.
(iya, jelek kalau kurus, terlihat sangat tua). Balas Galang.
(Haha, masak sih). Balas Yumna, dengan emoticon tertawa.
(iya. apa kau tidak bahagia ada disana?). Balas Galang.
(ya.. siapa yang bisa bahagia, jika berjauhan dengan suami). balas Yumna.
(ya sudah, tunggu aku dapat kos. Lalu kau dan Ilmi menyusul kesini). Balas Galang.
...
" Stop dulu ya, bahan nya sedang tidak ada. Juga sepi peminat." Ucap mbak Ratih, saat Yumna menyetorkan pekerjaan nya.
" Iya sudah mbak."
Drtt...drrrtt...drrrtt. .
" halo, iya ayah." Yumna mengangkat telepon.
" Nda, ada kamar kosong, tepat nya bekas kamar kita yang dulu." Ucap Galang.
" Waow.. Benarkah?" Yumna terlihat antusias.
" Iya, bagaimana?, Diambil atau tidak." Tanya Galang.
" Ya terserah ayah dong. Katanya kalau malam susah cari toilet, karena yang di tempati sekarang tidak ada kamar mandi." Ucap Yumna.
" Iya sih, ya sudah nanti aku coba cari kunci nya di pegang siapa." Ucap Galang, lalu mematikan sambungan telepon.
Beberapa hari kemudian...
" Nda, kamarnya sudah aku sewa." Ucap Galang.
" Iya sudah.."
" Tidak apa apa, kan mulai dari nol lagi."
" Iya, gorden juga tidak ada. Aku tidur juga pakai tas sebagai bantal." Kekeh Galang.
" Ya sudah nanti aku belikan bantal dari sini, aku cari daerah dekat sana saja. Biar cepat sampai."
" Iya sudah kalau gitu, Ilmi sedang apa?"
" Seperti nya sedang bermain."
" Tidak ada pekerjaan?"
" Sepi, kata mbak Ratih, bahan nya tidak ada, juga peminat nya kurang. Kan masih tahap promosi."
" Ya sudah kalau begitu. Aku tutup telepon nya ya." Ucap Galang, yang kemudian memutus komunikasi.
Yumna membuka aplikasi oren, dan mulai mencari toko bantal terdekat dari tempat kos Galang.
Dia membeli beberapa bantal guling, magicom dan sebuah kipas, tak lupa pula, Yumna membeli sebuah jam dinding.
Setelah memesan dan membayar via ind*maret.
Yumna segera memberitahu Galang, jika sebentar lagi akan ada kurir yang mengantar barang pesanan Yumna.
" Bagaimana bantalnya?, empuk?" Tanya Yumna saat melakukan panggilan video.
" Lumayan lah." Ucap Galang, sambil memperlihatkan bantal dan guling yang hanya dibuka satu pasang.
" Magic com nya kayak gimana?, gede?" Tanya Yumna.
" Seperti nya kecil." Ucap Galang.
" Masak sih?, coba lihat." Yumna mengkerut kan dahi nya.
" Belum aku buka." Galang menunjukan magic com yang masih terbungkus rapi.
__ADS_1
" Kenapa tidak di buka." Tanya Yumna.
" Nanti aja, kalau kamu sudah ada di sini." Ucap Galang.
" Eh, nda. Sepeda yang di jawa, dijual aja, nanti beli di sini. Cari plat DK saja, biar kalo samsat enak" Ucap Galang.
" Ya sudah, nanti aku coba bilang ke bapakku. Kemaren beliau bilang sedang mencari sepeda." Ucap Nina.
" Iya sudah kalau begitu."
Tut.
Panggilan video berakhir.
Yumna kemudian menghubungi sang Ayah.
Guna menanyakan, apa beliau masih berniat membeli sepeda.
Setelah memastikan sepeda nya sudah laku, dan siap di ambil oleh orang suruhan ayah nya.
Yumna mulai membereskan barang apa saja yang akan dia bawa.
" Seperti ini saja dulu, besok di lanjut lagi." Ucap Yumna, saat selesai mengemas beberapa perabot, yang mungkin di butuhkan disana.
Beberapa hari kemudian...
Drttt drtt drrrtt....
" Halo?"
" Halo nduk, sepeda nya mau di ambil sekarang. Tapi 4 juta dulu ya, yang 1 juta ayah bayar satu minggu lagi. Bagaimana?." Tawar Ayah Yumna.
"Hmmm, baiklah. Tapi janji ya, satu minggu lagi. Jangan mundur. Biasanya ayah suka molor. Bilang satu minggu lagi, tapi ujungnya satu bulan kemudian." Ketus Yumna.
" Hahaha, tidak tidak. Ayah akan usahakan satu minggu lagi." Ucap ayah menyakinkan.
" Ya sudah, siapa yang mau mengambil sepeda nya?" Tanya Yumna.
" Suami Mastura, sama kawan nya."
" Ya sudah aku tunggu."
"Yumna, kasih mereka makan ya, kata Mastura tadi mereka berangkat dan tidak sempat makan." Ucap ayah, saat Yumna akan mematikan sambungan telepon.
" Tenang saja."
Setelah mematikan telepon, Yumna segera berkutat di dapur.
Yumna memasak makanan simpel saja, dan tak lupa, Dia juga membuat dua gelas kopi.
Jadi saat mereka datang, bisa langsung bersantai. Minum kopi dan makan beberapa jenis gorengan, yang sudah Yumna beli dari rumah sebelah.
" Oke, uang nya sudah di hitung, dan pas. Jadi kami langsung membawa sepeda nya ya kak." Ucap suami Mastura.
" Iya, hati hati dan sekali lagi terima kasih." Ucap Yumna.
" Iya sama sama. Kami pamit kak."
" Iya."
Sepeninggalan mereka, Yumna menelepon Galang dan berkata, bahwa sepeda nya sudah di bawa.
Lalu Galang menyuruh Yumna bersiap dan mencari travel dengan tarif termurah.
Yumna tersenyum karena sebentar lagi dia akan ke Bali lagi.
...----------------...
...****************...
......................
...----------------...
......................
__ADS_1
...****************...