
Satu minggu kemudian...
" Spon nya udah tipis yaa, agak sakit kalau tidur."
" Ya mau gimana lagi, nama nya juga bekas. Kalau baru ya empuk." Kekeh Yumna.
" Naaf ya aku belum bisa membelikanmu kasur."
" Tidak apa pelan-pelan saja."
Besok aku akan meminta antar Joko ke tukang service. Siapa tahu tv-nya masih Bisa diservis.
..
" Tv-nya sudah tidak lagi merah, tapi kecerahannya hanya sebatas ini. Kata kata tukang servisnya tabung tv-nya sudah kosong dan tidak dapat lagi diganti. Kalaupun diganti harganya mahal lebih baik membeli TV lagi."
" Ya sudah tidak apa-apa kalau punya rezeki kita bisa beli TV yang lebih baik." Ucap Yumna.
" Ya semoga saja."
Saat Yumna sedang duduk di teras kamarnya..
" Ini lho punya siapa sih barangnya, jadi sarang tikus tau." Omel salah seorang tetangga Yumna yang bernama Dwi .
" Gimana kalau dibersihkan saja ayo aku bantu." Tawar Yumna.
" Bener mau bantu?"
" Iya." Jawap Yumna.
" Ya udah ayo."
Yumna kemudian membantu Dwi, membersihkan ruangan kosong yang ada di depan kamar Dwi.
" Ini kasur siapa sih sebenarnya?" Tanya Yumna
" Kasur milik suami."
" Tidak di pakai?"
" Tidak tahu orang nya"
Tak beberapa lama kemudian suami Dwi datang.
Yumna menanyakan apakah kasur ini masih dipakai atau tidak.
" Tidak. Kasurnya sudah tidak kepakai, lagi pula aku sudah memiliki kasur yang lebih baik dan lebih bagus. Itu kan kasur spon."
" Aku pinjam ya boleh?" Tanya Yumna.
" Pakai saja tidak apa-apa tapi cuci dulu karena itu sudah lama ada di sana."
Setelah mendapat izin dari pemiliknya, Yumna menemui suaminya yang bekerja tidak jauh dari sana.
Yumna meminta bantuan untuk mengangkat kasur itu agar Yumna bisa mencucinya.
Setelah ruang kosong depan kamar Dwi rapi dan bersih, Yumna mulai mencuci kasur spon.
Sore harinya Yumba dibantu sang suami memasukkan kasur spon itu ke dalam kamar. dan meletakkannya di atas kasur spon miliknya.
" Nah kalau ini sih empuk." Ucap Galang yang langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur.
" Ya sudah minggir dulu aku akan memasang sprei."
" Siapkan nasi untukku, aku akan makan setelah aku menyelesaikan pekerjaanku."
" Hmmmm."
Tak lama kemudian Ilmi datang entah dari mana.
" Ilmi dari mana?" Tanya Yumna.
" Dari bermain, loh bunda beli kasur baru? iya?"
__ADS_1
" Kasurnya mama Ayu, bunda pinjam."
" Oh, ye ye ye.. punya kasur. Bunda besok beli kasus seperti yang ada di rumah nenek ya agar aku bisa loncat-loncat."
" Iya." Yumna tersenyum ke arah Ilmi.
Hari, minggu, bulan, berganti dengan cepat. Kebahagiaan yang di rasakan Yumna sudah hilang entah sejak bulan keberapa.
Yumna dan Galang sering cekcok soal uang.
" kamu ini gimana sih baru kemarin aku memberimu uang jangan boros-boros."
" Bukan aku yang boros memang semua kebutuhan itu sedang naik."
" Ini ambil ini untuk belanja."
Galang memberikan selembar uang kepada Yumna.
" Ingat hemat jangan boros."
Yumna ingin menangis menatapi selembar uang yang ada di tangannya, bagaimana dia bisa berhemat sedangkan segala kebutuhannya sedang naik.
Beras dan beberapa kebutuhan dapur juga sudah habis.
Dan Hari ini usia Ilmi tepat 4 tahun.
Yumna membelikan sebuah donat kecil dan lilin untuk Ilmi.
" Selamat ulang tahun sayang.." Ucap Yumna membangunkan Ilmi.
" Lo, Ilmi mau kue yang besar, bukan yang kecil." Ucap Ilmi sedih.
" Iya, nanti di belikan yang besar. Sekarang tiup dulu dong lilinnya."
" Beneran??"
" Iya, ini kado nya."
Yumna memberikan sebuah kantong kresek berwarna hitam kepada Ilmi.
Yumna membelinya dari uang koin yang ia kumpulkan.
" Makasih bunda. Besok belikan Ilmi kue yang besar ya seperti saat ulang tahun kakak Tina."
" Iya sayang."
" Mangkanya kalau tidak punya uang itu jangan so-soan bikin acara tiup lilin untuk anak." Ketus Galang.
Selama ini memang Galang lah yang selalu menentang jika Yumna membuatkan kue untuk Ilmi, di hari ulang tahunnya.
Padahal, Yumna hanya ingin menyenangkan hati Ilmi.
Yumna ingin Ilmi melakukan Tiup lilin di setiap hari ulang tahunnya, hal yang tidak pernah Yumna dapatkan sejak dulu.
Setelah meniup lilin Ilmi kembali tidur. Yumna menangis.
" Maafkan bunda ya sayang, bunda belum bisa memberikan kue untuk Ilmi."
Yumna menumpahkan rasa bersalahnya dengan menangis di dapur.
Sesekali dia menoleh kearah Ilmi dan Galang yang sedang tidur.
Memastikan bahwa mereka tidak melihat Yumna yang tengah menangis.
Sorenya...
" Aku akan pergi memancing." Ucap Galang.
" Sepedanya jangan dibawa nanti Ilmi mengaji."
" Aku akan memancing dengan temanku."
" Ya sudah kalau begitu."
__ADS_1
Setelah Galang pergi memancing.
Yumna mulai mempersiapkan tas dan keperluan Ilmi untuk mengaji.
" Bunda hari ini ngaji?" Tanya Ilmi, yang terbangun saat ini Yumna masih mencari gamis untuk dipakai Ilmi mengaji.
" Iya, sudah ayo cepat mandi."
Setelah memandikan Ilmi, Yumna juga mulai bersiap dan mengantar Ilmi mengaji yang jaraknya sekitar 5 km dari rumah kost Yumna.
Yumna mulai memperhatikan Ilmi mengaji, dan seperti biasa Yumna selalu sibuk membantu mengasuh anak guru ngaji Ilmi.
Yumna saat senang mengasuh anak laki laki Eka, yang bernama Azril.
" Gimana suami?" Tanya Eka saat jam istirahat.
" Ya, masih seperti biasa."
" Sabar siapa tahu nanti berubah."
" Ya namanya juga watak nggak akan berubah sampai kapanpun. Watak itu ibarat batu, mau dipukul di hancurin namanya tetap batu, keras."
" Iya sih. Tapi Tapi nggak sampai memukulkan?" Tanya Eka.
" Sejauh ini sih enggak terakhir kali yang aku cerita ke kamu itu."
" Ya udah selama enggak mukul juga nggak apa-apa."
" Kalau sampai mukul sih aku langsung pulang. Kamu itu lo, apa rahasianya kok bisa betah sama suamimu" Ucap Yumna kepada Eka.
" Aku nggak tahu, aku masih merasa yakin bahwa suatu saat suamiku akan berubah."
" Tapi nyatanya dia nggak berubah kang sampai Azriel umur satu tahun setengah.?"
" Entahlah aku kadang juga lelah, di sini aku yang cari nafkah tapi dia yang marah-marah kurang apa coba Aku ini. tempo hari aku sampai minta tolong sama dia. Tolong carikan uang karena aku sudah ditagih terus-terusan sama pemilik kos, aku nunggak 3 bulan."
" Terus dia mau?"
" Iya dan aku nggak tahu dia itu dapat uang dari mana. Dia ngasih aku 2 juta, dia ngasihnya malam hari, terus paginya, diambil lagi. Padahal aku belum megang uang itu lo."
" La terus gimana?"
" Nggak tahu lah. Kadang aku pusing, aku anak pertama dalam keluarga, tapi malah aku yang sering minta kepada orang tuaku kadang juga aku minta pada adikku."
" Haha, sama aja. aku juga kadang minta sama ibuku kadang sama ayahku, buat jajan ilmyi. Mau gimana lagi, suami kalau ngasih selalu pas. Sedangkan si Ilmi doyan jajan. bukannya aku enggak bersyukur tapi coba deh bayangin dia ngasih aku 100.000 suruh hemat, sampai satu minggu apa bisa?"
" Ya gak bisa bu. Kadang aku juga nggak ngerti pikirannya para suami itu kayak gimana sih sebenarnya?. dia itu ngasih uang ke kita tanpa mau tahu kebutuhan itu kayak gimana." Ucap Eka.
" Iya ya orang laki-laki itu, kalau untuk jajannya sendiri nggak masalah abis berapapun Tapi kalau uangnya ada di istrinya habis selalu saja marah."
" Iya sama aja kayak suamiku kayak gitu. bayangin dia ngasih aku 500.000 tapi dia nggak ngasih lagi selama 2 bulan. Ya terus aku makanya dari mana Kalau nggak dari bulanan ngaji anak-anak."
" Nggak tahulah kadang aku juga lama-lama stres. Pengen nyerah."
" Sabar ingat ada Ilmi."
" Iya terkadang kalau aku ingin nyerah aku lihat kamu, mungkin aku lebih beruntung daripada kamu, jadi aku akan sangat malu jika aku yang menyerah sedangkan di sini kamu yang cari nafkah."
" Nah itu, disini kita saling menguatkan aja. Bersama sama berdoa, semoga suami kita diberikan hidayah dan dibukakan pintu hatinya."
" Amin..."
...----------------...
......................
...----------------...
......................
...----------------...
......................
__ADS_1
...----------------...
......................