Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Penyesalan terdalam


__ADS_3

" Sini sini.. Tidurkan bayi nya di sini. Aku sudah menata nya." Antusias Ibu Galang, saat Yumna dan bayi nya baru saja pulang dari rumah bidan.


" Assalamualaikum.."


" Mana bayi nya.."


" Iya, duh mana cucu nya."


" Hati² nduk, kalau duduk. Kau kan barusaja melahirkan."


" Dimana bayi nya..."


Para tetangga mulai ramai berdatangan, ingin melihat anggota baru keluarga Galang.


" Lo kok bayi nya disini, kasurnya kan rendah. Ibu nya kan masih masa pemulihan, memang nya bisa langsung berjongkok." Ucap salah satu tetangga yang datang melihat bayi yang di tidurkan di kamar depan.


Kamar Yumna dan Galang.


" Iya, bayi nya tidur denganku. Ibu nya biar tidur di kamar tengah, kasur nya tinggi." Ucap Ibu Galang.


" Lo apa di susu formula?, tidak asi ya." ucap tetangga yang lain.


" Ya kalau nangis aja, aku kasih ke ibunya. Nanti ya, tidur denganku lagi."


" Akhirnya, keinginan mu tercapai, ingin cucu perempuan." Ucap tetangga lagi.


" Iya, aku sangat senang."


Sungguh rasa nya begitu menyakitkan bagi Yumna, masih dalam kandungan seperti tidak di harapkan. Sudah lahir, ingin menguasai bahkan Yumna tidak memiliki kesempatan menggendong putrinya.


Yumna hanya bisa duduk dan menyaksikan para tetangga yang berganti datang untuk melihat Putrinya.


Malam hari ...


" Yah, kasur bayi nya tarok disini saja. Jadi, setelah minum asi, aku bisa langsung meletakkannya." Ucap Yumna pada Galang saat dirinya tengah memberi ASI di kamar.


" Memangnya kalau tidur didepan kenapa?" Tanya Galang.


" Ya gak apa apa sih. Cuma biar aku lebih gampang memberinya asi."


Tanpa berkata lagi, Galang segera keluar dari kamar untuk mengambil kasur bayi yang ada di kamar depan.


" Lo, mau di bawa kemana kasurnya?" Tanya Ibu, saat Galang mengambil kasur bayi dari kamar depan.


" Biarkan bayi nya tidur dengan Ibunya." Suara galang.


Bayi cantik itu diberi nama, Akifa Ilmi Putri.


Dan Tiga hari sudah usia bayi Ilmi.


Ilmi sedikit rewel saat malam. Mungkin imbas dari ASI yang belum keluar sepenuhnya.


" Di susu formula saja kenapa?, Seperti Risa." Ucap Ibu saat melihat bayi Ilmi terus menangis.


" Tidak apa², ini lumrah, karena baru menyusui 3 hari. Nanti asi juga jadi melimpah jika sering disusu kan pada bayi." Ucap kader posyandu yang dipanggil untuk membantu memandikan bayi.


" Heeeeeeh!, ya lama kalau nunggu asi nya deras. Bisa² dia kelaparan" Ucap Ibu sambil berlalu.


" Tidak apa, jangan menyerah. Terus berikan asi pada anakmu." Ucap kader pada Yumna.

__ADS_1


Berbagai jamu, kacang²an dan daun²nan sudah Yumna makan, demi bisa mempercepat asi.


Hingga Tante Yumna menyarankan untuk membeli kapsul di apotik.


" Sudah belikan saja susu formula. Kasihan anakmu." Ucap Ibu kepada Galang.


" Kenapa sih kalau di susu formula?" Ketus Galang. Yumna hanya diam.


" Di susu formula saja, sampai asi mu keluar." Ucap Galang lagi.


" Terserah." Ucap Yumna tanpa melihat ke arah Galang.


Beberapa saat kemudian....


Galang kembali dengan membawa botol susu dan satu kotak besar ukuran 1kg untuk Ilmi.


" Ini berikan pada nya." Ucap Galang.


Yumna pun mencoba memberikan botol yang sudah berisi susu, namun bayi nya tidak bisa menyedot dari botol.


Hingga terpaksa menggunakan sendok.


Keesokan harinya....


" Badan nya kemana merah²." Ucap kader saat akan memandikan bayi.


" Tidak tau bu."


" Mungkin alergi sabun, coba ganti yang lain."


" Ini bu.." Yumna memberikan merk sabun batang bayi.


" Masih merah² badan nya. padahal sudah diganti sabun, ini juga sudah 2 hari."


" Apa karena saya memberi nya susu S*M ?" ucap Yumna.


" Lo, kenapa diberi susu formula?"


" Di suruh. Saya bisa apa bu, saya disini hanya seorang menantu yang pendapat nya tidak pernah didengar." Lirih Yumna sambil sedikit terisak.


Bidan menguatkan Yumna, lalu mengatakan pada semua jika kemungkinan Ilmi alergi susu formula.


Setelah berhenti diberi susu formula, ASI Yumna melimpah.


Hal itu tentu saja membuat Yumna merasa senang.


Setelah Puput pusar. Galang memutuskan untuk kembali ke Bali.


Dua minggu berlalu....


" Bu, kapan acara selapan Ilmi?" tanya Yumna sopan.


" Kenapa?, mau kau bawa kemana dia?" Ibu dengan nada dingin.


" Aku ingin membawa nya pulang ke rumahku, untuk mengurus pindah KTP agar bisa mengurus akte."


" Oh, Satu minggu lagi tidak apa². Ya sudah aku mau ke dapur masak. Kalau duduk saja, ya tidak akan matang lauk untuk makan." Dingin ibu, kemudian berlalu meninggalkan Yumna.


Ibu tahu, itu adalah sindiran bagi Yumna, karena selama melahirkan. Yumna belum bisa memasak.

__ADS_1


Dua hari setelah acara selapan.


Yumna membawa bayi Ilmi pulang ke rumahnya, dan mulai mengurus berkas untuk pindah KTP.


" Sampai kapan kau ada disana?" Ketus Galang dalam sambungan telpon.


" Menunggu berkas ku selesai."


" Kapan?"


" Perkiraan 1 bulan lagi.".


" Lalu kau akan di sana selama sebulan. Ibu ku sendirian di rumah. Apa jau tidak punya otak. Pulang dan tinggal dirumah mu seenak jidat saja." Ketus Galang.


" Lalu apa salahnya aku ada disini?, Adik ku juga tidak ada yang merawat."


" Dasar kau istri tidak becus. Selalu membantah apa kata suami. Mau jadi istri durhaka kamu ha?, gak ada bakti nya sama sekali."


Tut.


Telpon di matikan sepihak.


Yumna mulai terbiasa dengan sikap ketus dan galak Galang saat dirinya pulang ke rumah sendiri.


Hinaan, cacian. Sudah menjadi makanan sehari-hari saat Yumna pulang ke rumah nya sendiri.


Berbeda dengan saat Yumna ada dirumah Galang. Dia tidak pernah marah ataupun menunjukkan sikap seperti saat Yumna berada dirumah nya.


Sungguh sesuatu yang sangat sulit dijelaskan.


Dua Minggu Yumna berada dirumah itu. Dan hari ini Yumna memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Galang.


Dan benar saja, sikap Galang kembali melunak setelah Yumna pulang ke rumah nya.


Drrrttt drrrttt drrrttt...


Panggilan dari Ibu Yumna.


Yumna yang sudah tidak kuasa menahan kecewa, akhirnya menceritakan perihal Galang yang selalu bersikap buruk saat Yumna pulang kerumahnya.


" Kamu yang sabar ya. Tunggu Mama pulang. Kamu juga sih terlalu terburu-buru menikah dengan orang yang belum sepenuhnya kamu kenal." Ucap Ibu.


Yumna lalu menyadari kesalahan terbesar adalah terlalu cepat menerima lamaran Galang.


"Seandainya waktu bisa diputar kembali". Lirih Yumna yang mulai menyesali keputusannya menikah dengan Galang.


...****************...


......................


...****************...


...----------------...


......................


...****************...


......................

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2