Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Tetangga senasib


__ADS_3

Yumna yang sedang tidur siang terkejut dengan suara hujan. Dengan segera Yumna keluar untuk mengangkat jemuran.


" Hmm, selalu saja begini, jika jemuran ku yang ada di luar tidak ada yang berteriak untuk memanggilku karena hujan. Tapi ya sudahlah mungkin memang mereka mengangkat jemuran nya jauh sebelum hujan datang."


Yumna berargumen sendiri sambil mulai melipat baju dan memasukkannya ke dalam lemari.


Ini memang bukan kali pertama, jemuran Yumna terkena hujan dan tidak ada yang berteriak perihal hujan.


Namun, jika jemuran selain milik Yumna yang berada di luar dan sedang turun hujan, pasti banyak pihak yang akan menjerit dan berkata bahwa telah turun hujan.


Yumna mencoba untuk tetap berpikir positif, walaupun dia pernah menolong jemuran saat hujan turun dengan deras tapi mbak yuni ada diluar dan tidak ada keinginan untuk memanggil Yumna.


Hari ke hari berikutnya....


Yumna yang akan menidurkan Akifa, dia terlebih dulu mengangkat jemurannya. jadi saat cuaca sedang mendung dan mungkin mulai gerimis, Yumna tidak lagi merasa khawatir karena jemurannya sudah berada di tempat yang teduh.


Dan anehnya, setiap jemuran Yumna sudah berada di tempat yang teduh selalu saja ada orang yang berteriak dan mengatakan bahwa telah turun hujan. Hal itu tentu saja membuat Yumna merasa minder.


" Apa karena aku orang tidak punya?"


Yumna lalu mengingat beberapa kejadian di mana para penghuni kos merencanakan untuk berwisata bersama, Yumna mengusulkan untuk pergi ke pantai. Namun yang lain mengatakan jika bosan pergi ke pantai Jadi mereka memutuskan untuk pergi ke kebun binatang yang sedang ada diskon tiket.


Jadilah Yumna hanya menyimak pembicaraan dari rencana liburan para penghuni kos.


Karena kunjungan itu setidaknya akan menghabiskan dana lima ratus ribu rupiah. Nominal yang sangat besar bagi Yumna.


Sore harinya, saat Ilmi tengah berada di depan kamarnya, Ilmi melihat bahwa kakaknya akan pergi dengan menaiki mobil.


" Ayah, aku mau ikut kakaknya. Kakak nya mau jalan jalan." Ucap Ilmi.


" Tidak usah, wong kamu tidak di ajak kok mau ikut." Ucap Galang.


" Mau ikut kemana?" Tanya Yumna yang baru saja selesai mencuci tangan Akifa di kamar mandi.


" Ilmi mau ikut jalan jalan sama kakak."


" Ayo bunda jalan jalan. Aku ingin naik mobil." Ucap Ilmi lagi.


Galang yang sedari tadi berada diluar kini masuk setelah mendengar Ilmi yang terus saja merengek minta jalan jalan naik mobil.


" Heh, kamu itu anaknya orang miskin. Sana kalau kamu ingin naik mobil jadi anaknya orang kaya." Ketus Galang.


" Hiks hiks... Mangkanya, ayah kalau kerja yang bener biar bisa beli mobil." Ucap Ilmi.


" Kok jadi menyalahkan ayah, suruh siapa kamu jajan terus. Coba jangan jajan. Uang nya di tabung untuk beli mobil." Ucap Galang.


Setelah mengatakan itu, Galang menelpon temannya, sepertinya Galang sudah mempunyai janji untuk pergi lomba burung bersama temannya, terbukti setelah menelpon Galang keluar sambil membawa serta burungnya.


" Ayah ini kenapa lomba burung terus." Ucap Ilmi dengan nada kesal.


" Udah sana kamu tidur. Nanti malam ayah ajak ke taman kota." Ucap Galang.


" Bohong."


" Sudah sana tidur."


" Ayah jahat." Kesal Ilmi lalu masuk ke dalam kamar

__ADS_1


Yumna hanya menyimak pembicaraan mereka tanpa berkata apa-apa.


Yumna sudah lelah jika berbicara tentang Galang yang suka lomba burung.


Pernah sekali Yumna juga membahas perihal Galang ya hampir setiap minggu, terkadang terlalu sering lomba burung. Dan jawaban Galang selalu sama. Daripada dia bermain wanita lebih baik bermain burung.


" Aku lomba burung juga pakai uangku." Ucap Galang.


Disitu Yumna merasa bahwa segala sesuatu nya memang Galang yang mengatur, artinya jika Galang memberi Yumna uang, maka uang itu tidak boleh habis.


Jika habis maka Galang akan marah dan terjadilah perdebatan diantara mereka.


Namun jika Galang yang menghabiskan uangnya untuk lomba burung atau semacamnya, Galang tidak akan marah karena memang Galang yang mencari uang. Jadi dia berhak menggunakan uang itu untuk apapun yang dia inginkan.


Fix berarti disini aku dan anak-anakku hanya menumpang menyambung hidup. Batin Yumna, setiap kali mereka selesai cek cok perihal uang.


...----------------...


" Hei, kok tidak pernah berada di luar rumah lagi?" Tanya Mama Elsa melalui kaca jendela kamar Yumna.


" Hei."


Yumna bangun dari posisi tidurnya lalu membukakan pintu.


" Keluar lo, itu nongkrong sama orang-orang."


" Enggak ah, kalau kumpul sama mereka aku tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Karena mereka selalu membahas hal yang diluar jangkauan ku. Jadi daripada aku hanya diam, lebih baik aku di rumah saja diam dan menemani Akifa."


" Iya sih, aku sendiri kalau bergabung bersama mereka juga kebanyakan diam, karena yang mereka bahas adalah kuliner enak dan juga terlihat mahal. Mereka juga terkadang merencanakan pergi ke tempat wisata."


" Jalan jalan saja sendiri."


" Mauku sih gitu, tapi aku sendiri tidak punya uang. Kamu tahukan bagaimana cara Galang memberiku uang. Jangan kan untuk bisa ku buat jalan-jalan, untuk makan saja masih kurang kurang. Belum lagi sepeda yang selalu dibawa, kadang Galang pulang namun keluar lagi untuk lomba burung ataupun memancing."


" Galang tak lihat lihat itu seperti mencari kesenangannya sendiri." Ucap Mama Elsa.


" Ya, memang seperti itu. Kalau sudah pulang dari lomba burung atau memancing malam harinya selalu minta dipijat, jika aku menolak maka kamu akan tahu sendiri aku dan dia akan bertengkar. Dan kata kukatakan Kenapa tidak diam di rumah saja saat sudah tidak ada pekerjaan. Kamu tahu dia justru mengatakan ingin mencari hiburan agar pikirannya tidak stress karena pekerjaan."


" Halah, sama saja seperti suamiku. Kamu tau nggak sih nasib kita mungkin hampir sama."


" Ya beda, walaupun Ayah Elsa suka marah dia mengomel tapi dia tetap saja mau pergi jalan-jalan kan? jadi walaupun nasib kita sama tapi masih jauh lebih beruntung kamu daripada aku."


" Iya sih."


" Nah, bedanya diantara suami kita adalah itu, jika suamimu akan tetap pergi walaupun dia mau ngomong sepanjang jalan. Tapi tidak dengan Galang, walaupun Ilmi merengek sampai menangis tapi jika Galang tidak menghendaki untuk keluar maka tidak akan keluar untuk jalan-jalan. Terkadang aku juga bingung dengan apa yang dipikirkan oleh Galang. Dia sendiri merasa butuh hiburan karena stress akan pekerjaan. Tapi Dia seakan tidak memikirkan keluarganya, dia lomba burung game memancing itu untuk kesenangan siapa? untuk kesenangan nya dia sendiri kan.,"


" Coba kamu marah jika mengetahui Galang akan lomba burung ataupun memancing. Seperti aku yang selalu ngomel-ngomel jika ayah Elsa tidak lekas pulang atau pun pulang terlambat dari bekerja."


" Ya, itu kan Ayah Elsa. Galang ya Galang. Jika aku marah dia justru balik marah. Seakan dia tidak ingin diatur justru aku yang diatur olehnya. Lalu aku bisa apa?, jika aku teruskan maka ujung-ujungnya aku yang terluka. Jadi lebih baik aku diam. Dan juga soal berkumpul dengan yang lain diluar, aku kadang merasa minder karena aku adalah orang tidak punya. Ditambah pengetahuanku akan kuliner dan juga tempat wisata tidak seluas mereka."


" Iya sih, tapi apa salahnya kan bergabung dengan mereka siapa tahu nanti mereka akan mengajak kita jalan-jalan."


" Tidak akan, jika mereka mengajak kita, pengeluaran mereka pasti akan banyak karena harus mentraktir kita kan. Sedangkan jika mereka membuat acara sendiri lalu kemudian langsung pergi mereka tidak perlu mengeluarkan uang banyak karena sudah ada bos yang akan menanggung uang makan dan juga biaya perjalanan mereka."


" Iya kau benar Ya sudah aku akan membeli mobil suatu saat nanti. Lalu aku akan mengajak mau ke mana pun yang kau inginkan." kekeh Mama Elsa


" Haha, jangan terlalu tinggi kalau menghalu. Nanti kalau jatuh kan sakit."

__ADS_1


" Ya tidak apa-apa kan sekali-kali menghalu berkhayal yang tinggi-tinggi agar kita tidak stress memikirkan sikap suami kita."


" Iya, kau benar. Aku juga merasa Haruskah aku menangis setiap malam, dan Kenapa selalu saja aku yang terluka dalam hubungan ini."


" Aku juga kadang berpikiran yang sama, sebenarnya apa yang ada dipikiran suami kita. Apakah Dia merasa bahwa kita sebagai wanita bisanya hanya menghabiskan uang yang mereka kasih, mereka seakan tidak ingin tahu bahwa kebutuhan pokok itu semakin hari semakin bertambah mahal."


" Iya, aku sudah berulang kali mengatakan kepada bilang jika dia menanyakan kemana uang belanja yang dia berikan. Tapi jawabannya selalu membuat hatiku jengkel, seperti saat aku mengatakan harga telur naik. Dia dengan santai mengatakan tidak usah membeli barang kebutuhan yang mahal."


" Memang seperti itu, coba saja kamu mempunyai uang sendiri pasti kamu akan disayang sayang dan dimanja oleh suami. Seperti saat aku mendapatkan uang pesangon dari perusahaan tempat Aku bekerja dulu. Ayah Elsa bahkan tidak pernah lagi marah kepadaku, tapi begitu uang pesangon ku habis. Maka dia akan kembali menjadi serigala yang selalu marah-marah di setiap saat."


" Apa semua laki-laki memang seperti itu?, berharap istrinya juga bekerja dan mempunyai penghasilan agar tidak terlalu bergantung kepadanya?"


" Entahlah aku juga tidak habis pikir kenapa ada laki-laki dengan watak seperti itu."


" Selingkuh boleh gak sih?, nyari laki-laki yang mau menerima kita apa adanya dan juga royal akan uang." Ucap Yumna.


" Ya mana ada seperti itu, ya mungkin ada beberapa laki-laki yang akan royal dan mau menjadikan kita simpanan tapi kita juga harus mau jika laki-laki itu ingin tidur dengan kita."


" Huu, Jika seperti itu kenapa kita tidak jadi pelacvr saja." Ucap Yumna.


" Haha, iya kadang aku juga berpikir enak jadi pelacvr walaupun dimainkan setiap hari tapi selalu dapat uang. Beda dengan yang ini, sudah di genjot tiap hari keuangan rewel suka marah-marah. Membuat ku semakin merasa pusing."


" Ah sama saja, aku malah terkadang justru merasa seperti pelacvr. Karena aku Aku berani minta uang setelah Gilang meminta hanya kepadaku."


" Ya kamu kenapa mintanya setelah melakukan itu?"


" Ya, karena hanya setelah melakukan itu gila tidak akan marah jika aku meminta uang ataupun mengatakan kebutuhan yang sudah habis."


" Hmm, laki-laki memang sama saja ya."


" Entahlah, kadang aku juga mulai merasa lelah dengan kehidupan yang aku jalani."


" Sama."


Seperti itu yang dibahas Yumna dan juga mama Elsa.


Mereka saling bertukar kehidupan mereka yang menyakitkan. Namun, separah apapun kisah yang mama Elsa ceritakan, kehidupan mama Elsa jauh lebih beruntung daripada Yumna.


Yumna sendiri terkadang juga merasa iri terhadap kehidupan mama Elsa, walaupun sang suami sangat pemarah dan sering mendengar mereka bertengkar. Tapi suami Mama Elsa masih bisa memenuhi kebutuhan atau apapun yang mama Elsa inginkan.


Walaupun Yumna tahu bahwa rasa iri dan dengki itu tidak baik dan tidak seharusnya dipendam oleh wanita.


Tapi Yumna hanyalah manusia biasa, ditambah dari dulu kehidupannya juga tidak pernah berjalan mulus seperti jalan tol.


Jadi apakah salah jika Yumna selalu iri dengan kehidupan yang jauh lebih baik darinya. Dalam hati ini selalu berharap dapat menemukan ketenangan dan kebahagiaan di dalam rumah tangga yang sudah dibangun nya hampir 7 tahun itu.


Entah kapan tapi Yumna selalu berharap suatu saat dia akan menemukan kebahagiaan.


Tapi yang paling Yumna inginkan adalah dapat memutar kembali waktu yang telah berlalu. Ingat rasanya memperbaiki keadaan agar kehidupan Yumna dan kedua buah hatinya tidak terlalu seperti ini.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2