
Beberapa hari kemudian, Yumna akhirnya kembali pulang ke rumah Galang.
Hari pertama hingga hari ketiga, Yumna selalu menangis di setiap malam.
Meratapi nasibnya. Dulu Yumna berpikir bahwa keluarga Galang akan membuatnya merasakan kehangatan sebuah keluarga yang tidak pernah didapatkan oleh Yumna sejak kecil.
Namun ternyata Yumna salah, keluarga ini justru membuat Yumna semakin merasa bahwa kehidupan yang bahagia tidak pernah berpihak kepada Yumna.
Pagi itu....
Seperti biasa, Yumna bangun pukul 5 pagi untuk berjalan², sambil berbelanja sayur.
Yumna selalu rajin jalan jalan. Karena bulan ini adalah bulan perkiraan persalinan.
" Jalan² nduk." Sapa para tetangga yang menjumpai Yumna.
" Iya bu.." ucap Yumna sopan.
" Perutnya sudah terlihat turun, mungkin sebentar lagi melahirkan.
" Masih jalan 9 bulan bu."
Setelah berjalan cukup jauh dari rumah.
Yumna menuju tukang sayur yang baru saja datang, setelah selesai membeli beberapa lauk dan sayur. Yumna kembali ke rumah.
Sesampainya dirumah, Yumna mencuci tangan dan kaki sebelah langsung menuju dapur dan mulai memasak.
" Masak apa?" Tanya Ibu.
" Masak Sop, tempe dan ikan tongkol. Sambal terasi."
"Ya sudah, jangan terlalu banyak bawang. bawang sedang mahal." ketus Ibu saat melihat Yumna tengah mengupas bawang untuk sop.
Yumna hanya tersenyum untuk menutupi rasa ingin menangisnya.
Entah mengapa tapi, kehamilan ini membuat mood Yumna sangat sensitif. Batin Yumna seolah sangat rapuh sehingga kata-kata bernada tinggi saja sudah sangat melukai hati Yumna.
Saat Yumna selesai masak dan bersiap untuk mandi. Dia tidak sengaja mendengar suara dari ibu mertuanya yang sedang berada di belakang rumah.
" Yaa.. nanti kalau anaknya lahir biar ada di sini aja, istri Galang biar ikut ke Bali, cari kerja biar dapat uang." Samar² suara ibu, namun masih bisa terdengar jelas oleh Yumna.
" ------"
Entah apa yang dikatakan oleh orang yang sedang mengajak Ibu Galang berbicara. Yumna tidak dapat mendengarnya dengan jelas, Yumna hanya dapat mendengar suara dari ibu Galang yang memang berbicara dengan nada tinggi dan keras.
" Ya tentu aku yang akan merawatnya. Biar ibunya kerja, cari uang. Jadi setiap bulan bisa mengirimi aku uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya." Suara ibu lagi, benar² membuat dada Yumna sesak.
Setelah sikap suami yang berubah, sekarang Ibu juga.
Yumna mulai merasa bahwa dirinya tetap berada di sini hanya karena sedang mengandung anak Galang. Dan merasa bahwa pernikahan nya dengan Galang bisa bertahan sampai sekarang karena Yumna tengah hamil.
Yumna memutuskan untuk mandi dengan menggunakan selang, agar Ibu mertuanya tidak mendengar suara percikan air.
Dan sekali lagi, Yumna menangis.
...----------------...
...----------------...
Dua minggu kemudian, Galang pulang.
Tidak ada perlakuan istimewa, semua berjalan seperti biasa. Dan Yumna kerap menangis di dalam kamar mandi.
Yumna merasa dirinya benar benar seperti orang asing yang hanya ditampung karena sedang mengandung darah daging Galang.
" Nanti kalau anak mu lahir, tidur denganku ya." Ucap Ibu pada Galang.
__ADS_1
" Terserah." Ucap Galang yang seakan tidak peduli.
" Nanti kalau nangis baru di kasih ke Ibu nya."
" Nanti Ibu saja yang menemani Yumna saat persalinan." Pinta Galang.
" Kok bisa aku, ya kamu. Kamu kan suami nya." Ketus Ibu.
" Aku pusing jika melihat darah."
" Apalagi aku." Jawap Ibu.
" Terus siapa yang akan menemani Yumna" Tanya Galang.
" Ya sudah, nanti Aku bilang sama Bude. Biar dia yang menemani istri mu melahirkan." Ucap Ibu dengan nada dingin.
Yumna yang berada di dalam kamar hanya bisa mendengar dua orang yang sedang berdebat.
Rasanya Yumna ingin lari, tapi kemana?
...****************...
...----------------...
Beberapa hari setelah itu..
Malam harinya,
Yumna sama sekali sangat sulit untuk tidur.
Perutnya kencang, dan sesekali merasakan kontraksi.
Setelah dirasa sakitnya makin kuat dan ada tanda² akan melahirkan.
Yumna meminta diantarkan ke rumah Bidan.
" Pelan², perutku sakit." Ucap Yumna saat mereka dalam perjalanan menuju rumah bidan.
" Sudah pembukaan 3, Disini saja ya nduk, tidak usah pulang." Ucap Bidan sambil menyuruh Yumna untuk berbaring ke kiri.
Sungguh kontraksi yang sangat nikmat, Yumna merasa mual dan selalu muntah.
Jangankan makanan, minum air putih atau teh hangat, hanya sampai pada tenggorokan.
" Bu bagaimana ini?" Ucap salah satu perawat saat bidan datang.
" Kenapa?"
" Ibu ini selalu muntah, diberi minum saja sudah muntah."
" Kalau begitu di infus saja. Kalau tidak, nanti tidak punya tenaga. Di infus ya nduk." Ucap bidan sambil menatap Yumna iba.
Mungkin bidan itu merasa kasihan karena Yumna hanya seorang diri berada di ruangan itu. Galang entah ada dimana. Dia hanya sebentar melihat Yumna kemudian keluar dari ruangan.
Pukul 4.30, menjelang subuh.
Yumna merasakan sesuatu yang deras keluar dari jalan lahirnya.
" Mbak.. seperti nya saya mengompol." Ucap Yumna pada perawat yang duduk sambil memejamkan mata.
Perawat itu segera memeriksa Yumna.
" Bukan mbak, ini air ketubannya sudah pecah. Cepat panggil bu bidan."
Satu perawat terlihat berlari memanggil bidan.
" Sudah buka lengkap. Ayo nduk atur nafas." Bidan memberi aba aba.
__ADS_1
Ceklek.. Bude Galang terlihat masuk.
" Nduk bude hanya bisa menemani kamu sampai pukul 5, karena bude harus memasak." Bisik bude yang di balas anggukan Yumna.
Yumna mulai mengejan..
" Salah nduk salah, bukan gitu mengejan nya."
" Ya ya bagus..."
" Terus nduk.."
"Yumna mengejan sekuat tenaga, hingga tanpa disadari jarum infus ditangan Yumna terlepas.
Lemas.
Yumna merasa sangat lemas.
" Aduh, infusnya lepas, cepat pasang lagi." teriak bidan.
" Nduk jangan tutup mata, buka mata." Teriak bidan saat melihat Yumna memejamkan mata.
" Nduk maaf ya, bude harus pulang, tidak apa² ya ditinggal?" Bisik bude yang kembali dibalas anggukan oleh Yumna.
Di ruangan itu, Yumna berjuang hidup dan mati seorang diri. Berusaha melahirkan bayi manis yang mungkin kehadirannya tidak di harapkan.
Namun bagi Yumna, dia adalah segalanya. Dia adalah kekuatan nya.
" Cepat panggil suaminya." Ucap bidan, saat melihat Yumna sudah kehabisan tenaga.
" Tidak mau bu."
" Cepat paksa."
Tak beberapa lama, Galang masuk.
Bidan langsung menyuruhnya untuk menopang badan Yumna, agar posisi kepala Yumna lebih tinggi dari perut.
Yumna yang sudah setengah sadar, tidak mendengar apa yang Galang bicarakan.
Deraian air mata keluar begitu saja, seolah ikut menjadi saksi perjuangan Yumna melahirkan buah hati pertama nya.
Dengan sisa tenaga terakhir, Yumna berhasil melahirkan bayi perempuan.
CUP..
Yumna merasa sebuah kecupan mendarat di keningnya.
" Anak kita sudah lahir.." Bisik Galang.
Setelah tali pusar di potong, bayi dibawa ke meja yang tak jauh dari ranjang Yumna untuk di bersihkan.
" Bu, tolong keluar dulu, ayo keluar. Nanti saja kalau mau masuk." Ketus bidang, yang melihat Ibu Galang langsung masuk saat mendengar suara tangisan bayi.
Yumna melihat Ibu mertuanya langsung keluar.
...****************...
......................
...----------------...
...****************...
......................
...----------------...
__ADS_1
...****************...
......................