
" Halo kak?" Arumi dalam sambungan telepon.
" Iya ada apa?"
" Aku sedang binggung."
" kenapa?"
" Kakak tahu kan jika Radit punya rumah di perumahan dan akan ditempati saat kami menikah?"
" Iya terus?"
" Kakak tahu kan jika rumah di perumahan umumnya hanya memiliki dua kamar."
" Iya." Yumna masih senantiasa mendengarkan dan menunggu apa yang akan adiknya katakan.
" Jadi gini. waktu Radit datang dan berniat untuk serius kepadaku. Ibu mengatakan bahwa Ibu tidak mempermasalahkan siapapun yang akan menjadi suamiku. Ibu juga mengatakan bahwa saat ini Ibu ikut aku."
" Oke."
" Nah masalahnya sekarang adalah, jika aku menikah Ibu bagaimana?"
__ADS_1
" Bagaimana gimana maksudnya?"
" Gini, ibu kan ikut aku. Sementara kakek ikut Ibu. Otomatis jika aku pindah dari rumah kontrakan itu mereka akan ikut bersamaku karena di sini akulah yang menjadi tulang punggung keluarga."
" Lalu?"
" Jika mereka ikut tinggal di rumah yang dibeli oleh Radit secara kredit itu. Aku akan tidur di mana sementara kamarnya kan hanya ada dua. Ruangan lain juga kecil. Aku binggung."
" Tunggu, Bukankah kamu dulu mengatakan jika kalian menikah adik akan membawamu ke kota P?"
" Tidak, Radit tidak jadi membawaku ke sana. Dia akan pulang seminggu sekali."
" Kalau cuma untuk 5 hari aku berani. Dan ya, Mama Radit juga pernah mengatakan jika suatu saat kami sudah menikah sebisa mungkin harus tinggal berdua tanpa ada campur tangan dari orang tua masing-masing pihak."
" Jika Aku menikah Bagaimana dengan ibu dan Kakek apakah mereka akan tetap tinggal di sana atau tidak. Karena aku tidak mungkin membawa keduanya pulang dan menempati rumah Radit. Tapi jika mereka tetap tinggal di rumah kontrakan itu dan ketika aku sudah tidak bekerja mereka akan mendapat pemasukan dari mana untuk makan sehari-hari. Aku benar-benar bingung kak."
" Hmmm.." Yunma menghela nafas panjang. Tanpa terasa air mata menetes.
" Aku binggung, aku dilema. Aku harus bagaimana Karena aku sudah mengatakan kepada Radit jika suatu saat aku hamil maka aku akan berhenti bekerja dan akan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga."
" Mama juga sih, kenapa dari dulu saat baru pulang dari negeri Jiran tidak langsung ke Bali dan membuka usaha. Jika saja saat itu lama menuruti permintaan kakak untuk cepat membuat usaha mungkin sekarang mama mempunyai penghasilan sendiri. Aku bukan tidak ikhlas dalam memberi makan ibu. Tapi Aku sungguh bingung karena radio sendiri juga ingin kita hanya tinggal berdua tanpa ada campur tangan dari orang tua masing-masing."Ucap Arumi panjang lebar
__ADS_1
" Begini, sekarang kamu katakan kepada Radit bahwa posisi kamu di keluarga adalah tulang punggung. Kamu harus bisa menceritakan semuanya kepada Radit. Kita lihat Bagaimana respon Radih terhadap keluarga kita. Jika Radit tidak memberikan solusi. Itu artinya Radit sama saja dengan Galang. Yang tidak mempedulikan keluarga kita."
" Begitu ya?"
" Arumi dengar. Aku sudah mendapatkan pasangan yang salah yang tidak peduli kepada keluarga kita. Janganlah kamu juga mendapat pasangan seperti aku. Cukup aku saja yang tidak dapat membahagiakan ibu jangan kamu. Percaya atau tidak tapi harapan ibu sekarang lebih besar kepadamu."
" Baiklah, aku akan coba merundingkan masalah ini dengan Radit."
Panggilan berakhir, Yumna menghapus air matanya dan berdoa agar Arumi mendapatkan pria yang jauh lebih baik dan peduli kepada keluarganya.
Namun Yumna harus menelaah rasa kecewa karena Arumi mengirimkan screenshot percakapannya dengan Radit.
" Ya Allah, Kenapa kehidupan keluargaku serumit ini." Ucap Yumna sambil kembali mengeluarkan air mata.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1