
" Apa kau yakin?"
" Tentu saja." memberikan senyum termanis, walau sebenarnya berat melepas Rimba. Yumna ingin Rimba menemaninya hingga mobil travel datang. Karena manapun ini adalah hari terakhir Yumna berada di kota itu.
" Baiklah, sampai jumpa lagi" Ucap Rimba sambil berdiri, mengacak acak rambut Yumna, dan menoleh ke kanan kiri, kemudian...
Cup
Satu Kecupan mendarat di pipi Yumna. Rimba bergegas pergi. Yumna tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Rimba yang sudah melajukan motornya.
Hatiku, kenapa hatiku sangat sakit. Rasanya berat meninggalkan kota kelahiran ku, mungkin juga aku belum siap berpisah jauh dari Rimba. Dia satu² temanku, sahabatku, dan mungkin cintaku. Cinta yang tidak akan pernah bersatu.
Tak terasa menetes air mata Yumna yang sedari berusaha dia tahan.
Hingga tak lama kemudian, mobil travel pun datang, Yumna masuk dan duduk di kursi belakang supir.
Selamat tinggal kota kelahiran ku. Selamat tinggal Rimba ku. Semoga kita bisa bertemu lagi. Lirih Yumna.
Tangis Yumna pecah bersama dengan melajunya mobil yang sudah melewati perbatasan kota Jember.
.
...----------------...
drrtt drrtt drtt
Yumna meraih ponselnya..
" Apa kau sudah berangkat". Suara paman mengagetkan Yumna yang hampir terlelap kelelahan karena menangis.
" Sudah paman, ini sudah sampai di Kota Banyuwangi."
" Besok turunlah di halte Busway koridor 3, paman akan menjemputmu."
" baik paman ".
Sambungan terputus, Yumna meletakan ponselnya kembali, dan bersandar di kaca.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam, Yumna hampir sampai di halte Busway koridor 3, di kota Denpasar, Bali.
" Hallo paman, kata sopir ini sudah hampir sampai di halte Busway koridor 3."
" Paman akan bersiap siap."
" Baik paman".
15 menit kemudian, Yumna turun di halte tersebut, dilihatnya paman sudah ada menunggu disana dengan mobil berwarna merah.
" Assalamualaikum paman." Yumna menghampiri dan mencium tangan paman.
" Walaikumsalam, ayo kita pulang, pasti kau lelah."
Paman segera membawa ransel Yumna dan barang barang yang lain.
" Wah, mobil siapa ini paman"
" Mobil bos paman, paman meminjam nya, untuk menjemputmu. Paman pikir barang bawaanmu akan banyak."
ucap paman sambil mulai melajukan kendaraaannya.
Tak perlu waktu lama, kendaraan menuruni aspal dan berhenti tepat di sebuah rumah, bukan rumah. Tepatnya rumah kos.
" Masuklah, biar paman yang membawa barang barangmu."
Yumna hanya mengangguk, dan melangkah kaki nya menuju kamar yang ditunjuk paman.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
" Assalamualaaikum bude"
" Walaikumsalam, eh sudah datang, ayo masuk dan istrihatlah dulu. Tidur lah di sebelah kia." Tatik, istri dari paman Yumna yang menunjuk kasur dimana bayi berusia 1 tahunan itu masih tertidur pulas.
" Dimana olan." Tanya Yumna basa basi. Yumna tidak melihat olan, kakak dari kia. Anak pertama dari pamannya yang berusia 7tahun.
" Olan tidur dikamar om nya"
Yumba hanya ber 'o' ria, kemudian menjatuhkan diri disebelah kia, rasa kantuk menyerangnya. Hingga tak butuh waktu lama, Yumba pun terlelap.
Ah perjalanan yang panjang dan melelahkan.
" Yumna bangun..."
Suara bibi mengejutkan mimpi indah Yumna. Yumna terpaksa membuka mata.
" Iya bibi, aku sudah bangun."
" Mandi lah, lalu kita makan bersama."
" Hmm, baiklah."
Yumna membuka ranselnya, mengambil handuk dan peralatan mandi, kemudian bergegas ke kamar mandi.
" Ayo, makanlah. Kau pasti sudah lapar." ucap paman, saat melihat Yumna baru keluar dari kamar mandi.
Tampak disana, keluarga paman sedang memakan hidangan sederhana. Yumna berjalan dan duduk di sebelah Bibi yang sibuk menyuapi Kia, sedangkan Paman, duduk bersama anak sulungnya. Olan.
" Kapan ibu mu akan datang." Tanya Paman.
" Apa dalam waktu dekat atau gimana?." Ucap Bibi tanpa melihat Yumna yang mulai meletakan nasi dan lauk pada piringnya.
" Kemungkinan minggu depan, kalau bisa dipercepat akan lebih baik. Begitu kata beliau".
" Kalau begitu, kau tidak usah bekerja. Tunggu saja Ibu mu datang, bukankah setelah itu kalian akan langsung ke Kalimantan." imbuh Paman ditengah tengah aktivitas makan.
" Apa aku tidak merepotkan kalian?."
" Baiklah, terima kasih Paman, Bibi."
" Semoga kau betah." ucap Paman seraya meletakan piringnya, dan pergi mencuci tangan.
****************
...****************...
****************
...****************...
Tak terasa, satu minggu telah berlalu, Yumna melewati hari hari nya
bermain bersama Kia, balita lucu nan mengemaskan.
Seharian bersama nya, membuat Yumba melupakan masalahnya dengan Yongki, dan melupakan rasa rindu nya pada Rimba.
Hari ini adalah hari dimana Yumna dan Paman akan menjemput Ibu Yumna di bandara Ngurah Rai Bali.
" Pukul berapa kata Ibu mu pesawatnya lepas landas?."Tanya paman yang melihat Yumna sibuk bersenda gurau bersama Kia.
" Pukul 19.00 Waktu malaysia Paman." Ucap Yumna yang menjawap tanpa melihat Paman, karena fokus dengan Kia.
" Kalau begitu kita berangkat ke bandara pukul 17.00 WITA."
" Apa Bibi dan Kia ikut?"
" Tidak, mereka akan menunggu di rumah, Olan suka mabuk perjalanan."
Seperti rencana awal, Paman dan Yumna pergi ke bandara. Perjalanan memakan waktu 30 menit.
Sesampai nya di bandara, mereka terus mencari ruang kedatangan internasional.
__ADS_1
Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, sosok yang begitu dirindukan Yumna muncul, dengan memakai jaket warna coklat serta menarik koper, dan menggendong tas ransel yang cukup besar.
Ya Ibu Yumna. Kali ini beliau benar benar pulang setelah 7 tahun.
" Hei, kami disini." Yumna melambaikan tangan, dan berteriak. Wanita itu tersenyum. Kemudian berjalan menghampiri Yumna dan Paman.
" Apa kabarmu nak?." Memeluk serta mencium kedua pipi Yumna. Tangis kedua nya tidak dapat di bendung lagi. Kedua nya menangis sambil memeluk satu sama lain.
" Mbak." Paman menyalami tangan kakaknya.
" Ayo kita langsung pulang saja, Mbak pasti lelah." ucap Paman sambil meraih ransel di punggung kakaknya, dan menyeret koper menuju mobil yang mereka sewa.
" Ayo mam." Ucap Yumna menggandeng tangan Ibunya.
30 Menit kemudian, mereka sampai di rumah kos Paman, terlihat Bibi menyambutnya dengan senyuman termanis sepanjang sejarah.
" Apa kabar Mbak?." meraih tangan dan mencium nya.
" Baik baik saja, dimana anak anak." Melihat kedalam rumah, dilihatnya kedua keponakan itu sedang tidur nyenyak.
" Masih tidur, mari masuk. Ayo istrhat. Mbak pasti lelah. Maaf kamar nya sempit."
" Rumah kos memang rata rata seperti ini." Merebahkan diri di kasur, dan mulai menciumi kedua keponakannya.
Paman datang dan meletakan barang barang kakaknya didepan lemari.
Kemudian mereka melanjutkan tidur.
...----------------...
3 hari sudah sejak kedatangan Ibu, dan kini mereka sudah akan berangkat ke Kalimantan.
" Hati hati dijalan, hubungi aku kalau sudah sampai." ucap Paman saat Kakak dan keponakannya akan memasuki bandara.
" Baiklah, terima kasih sudah mau mengantar. Kami masuk dulu."
Setelah bersalaman, Paman pun melambaikan tangan pada kedua nya hingga kedua nya masuk dan tidak terlihat lagi. Paman pun memutuskan untuk pulang.
Didalam pesawat.
" Ini Pertama kali nya aku naik pesawat." ucap Yumna gugup.
" Santai saja, nikmati perjalananmu". Ibu mengenggap tangan Yumna.
Setelah perjalanan yang menegangkan sekaligus menyenangkan, mereka sampai di bandara Samarinda.
" Kau carilah mereka, mama akan menunggu barang barang kita."
" Baiklah." ucap Yumna sambil mencari keberadaan adik, paman dan bibi yang akan menjemput mereka.
" Hei ibu, aku disini". Teriak nina saat melihat adik ke 2 dari ibunya. Dilihatnya juga sang Adiik kecil yang tersenyum menatap kedatangan kakak dan Ibunya.
Selepas adegan berpelukan, mereka pun menuju mobil, dan bergegas pulang ke rumah.
Perjalanan yang panjang, disertai hujan. Membuat Yumna tak kuasa menahan kantuk. Ia pun tertidur. dan terbangun saat mereka sudah sampai di tujuan.
Dan lagi, adegan berpelukan dan tangis kembali terjadi antara tiga bersaudara dan Ayah dari mereka.
" Tidurlah, besok kau bisa ke makam Ibumu." ucap pria paruhbaya, yang tak lain kakek Yumba, Ayah dari Ibunya
Yumna melihat Mama menangis di hadapan Ayah nya. Mungkin merasa bersalah karena tidak bisa pulang saat Ibunya meminta nya pulang.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1