Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Bukan Ibu yang baik


__ADS_3

Perlahan lahan, Yumna mulai bisa menghilangkan emosi akan kemarahnya.


Yumna berusaha untuk bersabar saat menenangkan Akifa yang sedang rewel.


Hingga, saat Akifa sudah berumur 3 bulan. Dia tidak pernah lagi rewel saat malam hari.


Yumna tersenyum bahagia. Namun kebahagiaan itu selalu saja dirusak oleh Galang.


" Kamu itu, kok tidur terus kerjaannya. Ilmi itu lo diperhatikan diajari belajar lagi, masak kamu enak-enakan tidur sedangkan Ilmi kamu biarkan bermain kesana kesini seperti anak liar saja." Ucap Galang, saat Yumna baru saja menidurkan Akifa.


" Iya aku tahu, Aku baru saja menidurkan Akifa."


" Alasan saja kamu ini."


Yumna hanya terdiam karena dia tidak ingin meneruskan perdebatan mereka.


Akhirnya Yumna yang awalnya ingin beristirahat sebentar jadi keluar untuk mencari Ilmi dan mulai mengajarinya belajar membaca lagi.


" Dasar anak tidak becus." Umpat Galang saat mendengar Yumna sedikit membentak karena Ilmi tidak mau mendengarkan perkataan Yumna.


Yumna terdiam, hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sesi belajar untuk hari itu. Dan menyuruh Ilmi untuk tidur siang bersama dengan sang adik.


Hari berganti hari...


Semakin lama sikap Galang selalu saja membuat Yumna kecewa.


Hal itu membuat Yumna sering kali memarahi dan membentak Ilmi saat dia tidak bisa membaca ataupun lupa menulis huruf.


Hingga suatu malam, Yumna menangis sambil memeluk Ilmi, dia tahu bahwa marahnya dia kepada Ilmi imbas dari kekesalannya kepada Galang.


Namun, Yumna bukanlah manusia yang berhati malaikat. Dia menyesal saat malam hari namun mengulanginya lagi saat siang hari.


" Aku adalah ibu yang jahat. Aku selalu memarahi dan membentak Ilmi." Ucap Yumna di suatu malam sambil menangis di dalam kamar mandi.


Bulan berikutnya, bulan itu adalah minggu ketiga bulan puasa. Ibu Yumna mengirimkan sejumlah uang karena menginginkan Yumna dan juga anak-anaknya untuk pulang agar bisa merayakan lebaran bersama sang ibu.


Karena Yumna pun tidak pernah merasakan bagaimana rasanya lebaran bersama ibu selama beberapa tahun lamanya, dan saat sang Ibu baru saja pulang yang ke tanah air. Yumna dan Ilmi tidak dapat pulang karena saat itu itu masih dalam situasi panas akibat covid.


Setelah melewati sedikit perdebatan dengan Galang, Galang akhirnya mengizinkan Yumna untuk pulang.


Dan tahun tidak pulang saat lebaran merupakan tahun panjang bagi Yumna, setelah sekian tahun lamanya Yumna akhirnya dapat merasakan lebaran bersama dengan ibunya. Namun, tahun itu juga menjadi tahun pertama bagi Yumna dan juga Ilmi merayakan lebaran tanpa suami.


Malangnya, saat hari lebaran Yumna jatuh sakit, hal itu membuat Yumna tidak bisa bersilaturahmi ke rumah saudara saudara Yumna.


Akhirnya Yumna hanya tinggal diam di rumah bersama Akifa dengan ditemani Galang melalui panggilan video call.


Satu Minggu setelah lebaran. Yumna mendapat kabar bahwa Galang dan kakaknya akan pulang dalam akhir bulan ini.


" Jadi kapan kamu mau pulang ke rumahku?" Ketus Galang.


Hah, Yumna sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi di mana Galang akan selalu marah-marah jika Yumna tidak kunjung kembali ke rumah Galang.


" Tanggal 25, karena pada tanggal itu Arumi akan mendapatkan cuti hari raya, jadi Arumi bisa ikut bersama-sama ke rumah Ibu." Ucap Yumna.


" Ya sudah. Uang mu masih ada kan?"


" Ada tapi tinggal sedikit."


" Ck, kenapa sih kamu itu selalu saja boros enggak di Bali enggak di Jawa. Ya sudah Aku akan mengirim uang nanti. Dan di hemat-hemat."


" Iya."


Hari dimana Yumna harus pulang ke rumah sang suami pun tiba.


Walaupun sebenarnya Yumna enggan untuk kembali, tapi dia tetap harus kembali ke sana untuk mengurus akte kelahiran Akifa dan juga berencana membuat KK sendiri.


Karena Yumna sudah bertekad untuk membuat KK sendiri, dan tidak perlu menjadi satu dengan KK Ibu mertuanya.


" Kamu itu, sudah tahu suamimu masih seperti itu apalagi lagi dia tidak memberikanmu nafkah dengan benar, kenapa kamu masih saja bertahan dengan nya." Ucap Ibu pada malam sebelum Yumna akan kembali pulang.


" Tidak apa apa, untuk saat ini aku bisa sabar karena aku sedang menunggu akte kelahiran Akifa dan juga KK baru. Selama ini KK ku jadi satu dengan ibu mertua."

__ADS_1


" Ya sudah, yang penting kamu selalu ingat jika kamu sudah tidak tahan dengan sikap Galang maka pulanglah karena kamu masih punya orang tua. Dan aku masih sanggup untuk membiayai hidupmu dan juga kedua anakmu. Tinggalah disini temani adikmu maka aku akan kembali merantau untuk mencukupi kehidupan mu dan juga anak-anakmu." Ucap Ibu.


Yumna terdiam, dia menangis dalam tidurnya.


Ibu seandainya saja kita punya rumah sendiri, pastilah aku sudah dari dulu pulang pada ibu. Karena rasanya aku sudah tidak sanggup bertahan pada pernikahan. Anak kedua bukalah jembatan untuk membuat hubungan aku dan Galang menjadi lebih baik. Tapi justru membuat ujian ku bertambah. Galang semakin menjadi-jadi. Bukan Aku tidak ingin menyerah sekarang, Aku ingin sekali Bu. Tapi seandainya aku pulang kepada ibu dan ibu memutuskan untuk kembali merantau. Siapa yang akan membelaku saat aku kembali di hakimi oleh keluarga Galang. Aku merasa bahwa Aku tidak mempunyai cukup orang untuk mendukungku. Aku takut mereka akan mengambil anak anakku. Karena Galang selalu mengancam akan memisahkan aku dari anak anak bu. Aku harus bagaimana. Kenapa aku begitu lemah. Batin Yumna.


Berada di rumah mertua seakan berada di dalam penjara bagi Yumna, setiap gerak-gerik Yumna merasa banyak pihak yang mengawasinya.


Yumna berusaha untuk tidak memperdulikan nya, karena apapun yang dilakukan Yumna pastilah buruk dimata mereka.


Ditengah rasa ketidaknyamanan Yumna, Yumna mendapat kabar bahagia. Bahwa esok hari di balai desa akan ada Dispenduk. Jadi Yumna bisa membuat akte dan juga KK tanpa harus ke kota dan menunggu lama.


Dengan semangat Yumna mendatangi balai desa dan mulai mengumpulkan berkas-berkas untuk persyaratan pembuatan akte dan juga membuat KK baru.


Yumna tersenyum lega, setelah akhirnya menunggu selama kurang lebih 3 jam, akte Akifa dan juga KK baru, yang hanya ada nama Galang dan Yumna serta anak-anaknya pun jadi. Rasa lelah karena harus bolak-balik meminta tanda tangan dari RT dan RW juga lelah mengantri serta berdesak-desakan tidak lagi dirasakan oleh Yumna saat melihat akte dan KK itu kini berada di tangannya.


Akhirnya, aku mempunyai KK sendiri, jadi aku tidak lagi merasa khawatir jika suatu saat aku akan pergi dari kehidupan Galang. Karena semua berkas-berkas aku yang memegang. Batin Yumna.


...----------------...


" Ilmi, kamu itu gimana sih yang bener dong kalau habis mainan itu diberesin."


" Ilmi, jangan ganggu adiknya Jangan membuat adiknya menangis."


" Ilmi kamu sangat nakal."


" Ilmi jangan."


" Ilmi."


Hari ke hari, emosi Yumna selalu tidak terkontrol, terlebih lagi saat dia mendapati tingkah laku Ilmi yang tidak biasa. Seperti, dia mulai menjahili sang adik. Dia tidak lagi mau membereskan mainannya atau dia tidak lagi mau belajar.


Hal itu membuat Yumna semakin pusing dan selalu ingin marah-marah, ditambah dengan sikap Galang yang semakin hari semakin bertambah buruk.


Kondisi ekonomi yang semakin menurun membuat Galang jadi mudah marah dan selalu saja bertengkar jika Yumna meminta uang untuk belanja.


" Ini. Dihemat, jangan boros boros." Ucap Galang saat dia memberikan 2 lembar uang berwarna merah.


" Ya, tapi kan Ilmi juga suka telur."


" Aku tahu, tapi apa jadinya Jika setiap hari aku memberi makan Ilmi dengan lauk telur. Kamu saja jika aku selalu memasak telur kamu selalu marah-marah."


Galang lalu pergi keluar kamar karena tidak ingin lagi berdebat dengan Yumna.


Beberapa bulan berlalu, Akifa kini sudah berumur 7 bulan. Dia sudah pandai merangkak, dan mulai merangkak ke sana ke sini. Akifa mulai mengusik Yumna ketika Yumna mengajari Ilmi bermain.


Dan imbas dari sikap Yumna yang selalu saja memarahi Ilmi, Ilmi berubah menjadi anak yang mudah marah.


Tak jarang Ilmi memukul sang adik jika sang adik tengah mengganggunya bermain ataupun belajar.


Yang dilakukan Yumna justru semakin marah kepada Ilmi.


" Maafkan bunda ya nak, bunda tidak bermaksud untuk membentak Ilmi." Ucap Yumna yang menangis saat malam hari setelah Ilmi tidur.


Dicium dan dipeluknya Ilmi oleh Yumna. Yumna berjanji akan berusaha mengontrol emosinya, namun janji tinggal janji.


Perdebatan nya dengan Galang yang terjadi hampir setiap kali Yumna meminta uang, membuat Yumna melupakan keinginannya untuk lebih mengontrol emosinya saat menghadapi kenakalan dari Ilmi.


" Baru kemarin aku memberimu 300 ribu, dan sekarang kamu sudah minta uang lagi?. Kenapa kamu sangat boros Yumna, kita bahkan tidak bisa menabung. Kita juga belum bisa membayar tunggakan kos. Kamu pikir mudah mencari uang?"


Sejak saat itu, Yumna tidak lagi mau meminta uang kepada Galang, jadi dia hanya akan menunggu Galang untuk memberikannya uang.


Setiap kali beras ataupun kebutuhan lainnya habis. Yumna hanya mengatakan bahwa keperluannya habis tanpa meminta uang dari Galang.


" Pempes habis."


"Beras habis."


Hanya itu yang selalu Yumna katakan.


Hingga suatu hari, saat Galang akan membuat teh pada malam hari.

__ADS_1


" Nda gulanya habis."


" Ya memang habis."


" Kenapa tidak beli?"


" Ya karena uangku cuma cukup untuk membeli sayur saja, jika uang belanja aku gunakan untuk membeli gula maka aku tidak akan punya uang untuk belanja." Ucap Yumna.


Lalu dengan memasang wajah kesal Galang membuka dompetnya dan memberikan selembar uang kepada Yumna agar Yumna membeli gula.


Tanpa pikir panjang lagi Yumna segera berjalan menuju toko cantik untuk membeli gula dan beberapa keperluan lainnya yang memang sudah habis.


Hal seperti itu terus berlanjut hingga Akifa berumur 10 bulan .


Jadi Yumna tidak mengatakan secara langsung bahwa uangnya habis, jadi dia akan tetap diam hingga Galang sendiri yang memberikan uang kepadanya karena Galang sendiri tahu bahwa kebutuhannya habis.


Dan Galang memutuskan untuk tidak lagi bekerja bersama sang kakak, Galang mencoba bekerja bersama dengan teman nya.


Dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.


Namun sayangnya, yang dirasakan Yumna justru sebaliknya.


Bukannya membuat ekonomi keluarga jadi lebih baik, justru semakin berantakan. Pekerjaan yang selesai dalam waktu yang cukup lama, serta penghasilan yang tidak menentu, membuat Yumna dan Galang semakin sering cekcok.


" Kenapa kamu tidak minta saja jika uangmu memang habis?" Tanya Tetangga Yumna.


" Karena aku lelah, aku sudah lelah bertengkar dengan Galang. Walau aku mengatakan banyak hal. Tapi tetap saja dia selalu ingin menang sendiri." Ucap Yumna sedih


" Galang tidak tahu pusingnya aku mengatur keuangan jika dia hanya memberikan uang 200ribu. Dan akan memberi lagi setelah satu minggu. Semua kebutuhan aku yang beli. Aku sebenarnya lelah, setiap minggunya aku harus meminta uang atau meminjam uang kepada ayah dan saudara yang lain demi bisa mencukupi kebutuhan ku dan anak anak."


" Coba kau ajak Galang jika akan berbelanja keperluan dapur, dan lainnya."


" Aku sudah sering melakukannya, tapi Galang hanya diam saja tidak berkomentar. Namun, saat uang yang dia berikan padaku habis maka dia akan mengeluarkan kata-kata pedas nya lagi."


" Hmm, entahlah aku juga bingung dengan pemikiran para laki-laki. Mereka selalu menganggap bahwa uang yang mereka beri kepada kita sudah cukup untuk keperluan sehari-hari. Mereka tidak berpikir bahwa kebutuhan itu naik setiap harinya."


" Iya, aku juga sudah pernah mengatakan kepada Galang, bawa harga sembako dan kebutuhan lainnya terkadang naik. Namun, dia hanya merespon dengan kata-kata yang menyakitkan seperti jangan pernah membeli barang atau makanan yang mahal lagi. Menyebalkan bukan?"


" Haha iya, sama saja seperti suamiku."


" Dari dulu, memang tidak bisa jika hanya mengandalkan penghasilan dari Galang, tapi aku harus bagaimana. Aku sudah coba jualan online tapi tidak berhasil, karena jualan online itu butuh modal. Tidak mudah mendapatkan pembeli hanya dengan menjadi dropship." Terang Yumna.


" Bukak usaha."


" Usaha tambah membutuhkan modal yang besar, seandainya saja ada pekerjaan yang boleh membawa anak-anak aku pasti akan mengambil pekerjaan itu walaupun sebagai pembantu rumah tangga. Asal aku bisa mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan ku dan juga untuk uang jajan Ilmi."


" Bunda minta uang beli jajan." Ucap Ilmi yang mendatangi Yumna.


" Ya Tuhan Ilmi, Kenapa kamu jajan terus. Coba makan nasi, apa kamu tahu jika bunda sedang tidak punya uang."


Ilmi cemberut. Yumna menghela nafas.


Hal itu sering terjadi, kadang Yumna menjadi marah karena Ilmi yang suka sekali minta uang untuk beli jajan.


Terkadang Yumna sadar, anak kecil ini tahu apa soal keuangan orang tuanya.


Tapi terkadang kesadaran Yumna ditutupi oleh kekesalannya terhadap sikap Galang, yang selalu saja tidak memberikan nafkah secara benar.


Yumna sering menangis disetiap malam, tatkala Galang masih belum pulang dari bekerja. Yumna menyadari perbuatannya yang sering memarahi dan membentak Ilmi.


" Aku bukan ibu yang baik, aku ibu yang sangat buruk bagi anak-anakku. sampai kapan aku bisa bertahan dalam situasi ini?, dan kenapa Tuhan selalu saja memberikanku cobaan yang berat. Kapan aku bisa merasakan kan bahagia seperti keluarga yang lainnya." Lirih Yumna sambil memandangi kedua buah hatinya yang sedang tertidur.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2