Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Selalu berdoa


__ADS_3

Hari berganti hari...


Dan sikap Galang sudah kembali normal seperti biasa nya. Sikap egois dan sewenang-wenang.


Tuhan, tidak bisakah kau memberiku secercah kebahagiaan. Aku ingin bahagia walau hanya sebentar. Ijinkah aku untuk bisa membuat putriku bahagia. Ijinkan aku kembali merasakan bahagianya dicintai dan disayangi oleh seseorang yang kita cinta. Kenapa luka ini terus saja basah, padahal luka itu barusaja kering.


Keesokan harinya,


Seperti biasa, Yumna dan Galang masih tidak saling berbicara. Dan Galang pergi entah kemana.


" Mana suami mu?" Tanya Eka yang kebetulan lewat jalan depan kos, jadi dia memutuskan untuk mampir sebentar.


" Aku tidak tahu."


" Nah, kok bisa tidak tahu. Wong kamu istri nya."


" Ya, bagaimana aku bisa mengetahui Galang pergi ke mana. Jika dia sendiri tidak pernah memberitahu jika akan keluar rumah."


" Masak sih?"


" Ya, dari dulu dia memang seperti itu. Dan Aku juga malas bertanya karena ujung-ujungnya pasti bertengkar."


" Sabar ya, semoga setelah ini Galang mendapat hidayah sehingga hatinya bisa terbuka.


" Amin."


Tidak terasa sudah satu jam eka berada dirumah Yumna, saling bercanda tawa menghibur diri sendiri.


" Eh aku pulang ya.."


" Iya, terima kasih sudah mau mampir dan datang lagi lain hari."


" Pasti."


" Bye, assalamualaikum."


" Walaikumsalam."


Drrrttt drrrttt drrrttt


Sepeninggal Eka, ponsel Yumna berdering.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Yumna mendapat kabar baik. Sang Ayah memberinya sejumlah uang agar Ilmi dapat membeli apapun yang dia inginkan.


Yumna gembira luar biasa. Dia langsung menelpon sang Ayah dan mengucapkan terima kasih.


" Mungkin inilah cara Tuhan membuat putriku bahagia. Walau bukan dari jerih payahku sendiri, tapi setidaknya aku bisa melihat nya tersenyum bahagia." Lirih Ilmi.


Yumna masih ingat betul bagaimana marahnya Galang saat Ilmi meminta uang untuk membeli jajan.


Yumna tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya sendiri tidak berdaya dan tidak bisa bekerja.


Bukan tidak mau bekerja, tapi Yumna belum menemukan pekerjaan yang cocok mengingat usia nya sudah 25 tahun.


Lowongan pekerjaan banyak, tapi rata rata meminta pekerja dengan usia dibawah 25 tahun.


Yumna lalu membawa Ilmi ke toko serba ada. Dan Ilmi bisa membeli apapun yang dia inginkan.


" Ilmi ingat ya, jangan bilang Ayah bahwa ilmi diberi uang oleh kakek."

__ADS_1


" Kenapa?" Tanya Ilmi.


" Sudah, pokoknya Ilmi tidak boleh memberi tahu Ayah. Jika Ilmi memberi tahu ayah, maka ayah akan mengambil semua milik Ilmi."


" Hmm, baiklah."


Yumna tersenyum lalu mengajak Ilmi untuk pulang.


Maafkan bunda nak, bukan bermaksud untuk mengajarimu berbohong. Tapi, jika ayah tahu bahwa bunda memiliki uang. Maka ayahmu tidak akan memberi bunda uang untuk belanja. Biarlah uang pemberian dari kakek kamu, aku gunakan untuk uang jajan Ilmi.


Beberapa hari berlalu,...


Yumna memutuskan untuk mencoba melupakan segala sesuatu tentang rasa kecewanya.


Diwaktu senggang, Yumna membuka kembali foto masa lalu, saat dia dan Galang masih belum menjadi suami istri.


Yumna membuka foto demi foto yang ada di layar laptop. Sambil sesekali memejamkan mata mencoba mengingat setiap momen yang pernah terjadi.


Namun sungguh Nina tidak menemukan apapun selain rasa kecewanya.


Mungkin Luka dalam hatinya begitu besar sehingga kenangan indah sekecil apapun tidak dapat membuat Nina merasa jauh lebih baik.


" Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa mengulang memori kebersamaanku dan Galang. Bagaimana aku bisa mencoba berdamai dengan keadaan ini jika aku tidak bisa menumbuhkan perasaanku lagi pada Galang."


Yumna lalu menutup laptopnya. Dan mencoba keluar rumah dan menemani Ilmi yang sedang bermain.


Malam harinya,..


Galang mengajak Yumna serta Ilmi bermain ke taman kota.


" Ayah, ayo kita main ayunan." Pinta Ilmi sesaat setelah mereka baru saja sampai di taman kota.


" Iya, tunggu sebentar." Ucap Yumna.


" Seperti nya bakpao."


" Kenapa?,Ilmi mau?" Tawar Galang.


" Mau."


" Ini beli lah, aku akan menemani Ilmi bermain ayunan." Ucap Galang sambil memberikan selembar uang berwarna biru.


" Baiklah."


Galang langsung menuntun Ilmi menuju tempat bermain, sepeninggal Ilmi dan Galang, Yumna langsung menghampiri pedagang yang diduga berjualan bakpao itu.


" Permisi pak, jual bakpao ya?" Tanya Ilmi.


" Iya, mau beli berapa?" Tanya penjual.


" Ada rasa apa aja?" Tanya Yumna.


" Itu daftar rasa beserta harganya." Tunjuk si penjual.


Dan betapa terkejutnya Yumna saat melihat harga sebuah bakpao.


" Rasa coklat 10k, stroberi 8k, kacang hijau 8k, ayam 10k. Ya Tuhan ini bakpao atau bakso. Harga nya setara dengan semangkuk bakso yang biasa aku beli untuk Ilmi." Lirih Yumna


" Coklat 1, kacang hijau 2 ya pak." Ucap Yumna setelah sekian lama dia memikirkan apa yang akan dibelinya.


" Semua 26 ya.." Ucap penjual sambil memberikan 3 biji bakpao yang sudah dibungkus kantung plastik.

__ADS_1


" Ini uangnya."


" Kembali dua puluh empat ribu ya.."


" Iya."


" Ini, coba dihitung dulu." Ucap penjual sambil menyerahkan uang kembalian.


Yumna menghitung ulang uang kembalian didepan penjual.


" Iya, pas."


" Oke. Makasih ya, kalau kurang beli lagi."


" Iya." Ucap Yumna sambil berlalu.


" Beli lagi kepala mu. Mending aku beli mie ayam mas Kenzo. 26ribu dapat 2 mangkuk plus 1 mangkuk bakso." Lirih Yumna setelah dia cukup jauh dari penjual bakpao.


Kemudian Yumna berjalan menelusuri taman mencari keberadaan Galang dan Ilmi.


" Bunda..." Teriak Ilmi saat melihat Yumna yang berjalan ke arah mereka.


Yumna lalu menghampiri mereka yang duduk di atas rumput di dekat penjual balon.


" Mana bakpao nya " Tanya Ilmi.


Yumna lalu memberikan kantong plastik yang berisi bakpao tadi.


" Kok cuma beli tiga?" Tanya Galang.


" Ya memang mau beli berapa, orang harganya paling murah 8k."


" Apa?, bakpao ini 8k?" Ucap Galang yang sama terkejutnya dengan Yumna saat pertama kali mengetahui harga dari bakpao itu.


" Iya."


" Huu, mahal sekali, rasa nya juga sama seperti bakpao yang biasa kita beli di depan supermarket kan?" Ucap Galang sambil memakan bakpao rasa kacang hijau.


"Kacang hijau nya dari Amerika, karena itu harga nya mahal." Ucap Yumna.


Mereka lalu menghabiskan malam itu dengan canda tawa.


Galang sukses membuat Yumna melupakan rasa kecewanya.


Malam itu Galang benar benar membuat hati Yumna bahagia.


Sesekali Yumna memanjatkan doa agar sikap Galang akan berubah menjadi lebih baik.


Saat perjalanan pulang, Galang menarik tangan Yumna dan meletakkan nya melingkar di perutnya, kode agar Yumna memeluk nya.


Yumna pun melakukan apa yang diinginkan Galang. Memeluk Galang sepanjang perjalanan pulang.


Yumna menyandarkan kepalanya pada punggung Galang dan memejamkan mata. Mencoba mengingat momen seperti ini yang dulu selalu dilakukan Yumna saat pergi kencan dengan Galang.


Semoga setelah ini hubungan kami menjadi lebih baik. Dan semoga saja Galang bisa berubah menjadi pria yang lebih baik lagi. Batin Yumna.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2