
Satu Minggu setelah Yumna kembali ke Bali, Yumna mengajak Galang untuk melakukan USG.
" Mau USG dimana?"
" Di dokter Candra saja."
" Ya sudah nanti malam ayo kesana. Sekalian mampir ke senggol."
Malam harinya, mereka berangkat ke tempat praktek dokter tempat dimana Yumna melakukan USG setiap 2 bulan sekali. Namun ternyata dokter hanya praktek di rumahnya saat hari Sabtu. Dan sekarang adalah hari Rabu. Praktek dokter Candra berada di klinik Kimia Farma.
Putar balik.
Setelah mendapatkan nomor antrian, Yumna dan Ilmi menunggu giliran untuk diperiksa.
" Ibu Yumna, silahkan masuk."
" Bagaimana, jenis kelamin bayinya mau dikasih tahu atau tetap jadi rahasia saja." Ucap dokter Candra.
" Biarkan saja dok." Ucap Yumna.
Saat itu Galang dan Ilmi tidak ikut masuk kedalam karena Galang baru saja mendapat telepon dari sang kakak untuk menjemput keponakannya mengaji.
Setelah dokter menjelaskan tentang kondisi dari bayi Yumna, dan setelah Yumna mendapat jawaban dari semua pertanyaan nya. Yumna keluar dari ruang USG dan menuju meja Admin untuk membayar biaya USG.
Yumna keluar, dan mendapati Galang serta Ilmi baru saja tiba di sana.
" Sudah selesai?, Aku baru mau masuk." Ucap Galang.
" Udah, cuma sebentar."
" Ya sudah ayo, katanya Ilmi mau naik odong-odong."
" Ya ayo." Ucap Ilmi.
Mereka pun langsung menuju ke pasar malam, yang dikenal dengan nama senggol.
Beberapa hari setelahnya Yumna mulai membicarakan tentang membeli kasur dengan dipan kepada Galang. Karena setelah melahirkan Yumna pastilah butuh kasur yang lebih tinggi. Saat ini, Yumna hanya memiliki dua buah kasur spon.
" Kau coba cari di marketplace ataupun grup, biasanya di sana banyak yang jual kasur dengan dipan. Dan pastikan kau memilih di sekitar area Gianyar agar kita tidak terlalu jauh untuk melihat apakah barangnya itu masih bagus atau tidak." Ucap Galang.
" Baiklah, aku akan mulai mencari sekarang."
" Tapi, kalau aku masih belum punya uang bagaimana?, kamu tahu kan pekerjaanku tidak seramai dulu. Dan aku masih harus membayar hutang kepada kakakku. Kita bahkan tidak punya sepeserpun untuk tabungan melahirkan."
" Kita jual kalung pemberian Ibu saja, aku sudah meminta izin kepada beliau untuk menjualnya sebagai biaya persalinan. Dan akan menggantinya jika kita sudah mempunyai rejeki."
Cukup lama Galang terdiam sebelum akhirnya dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Yumna.
Yumna mulai sibuk berselancar di aplikasi biru, untuk mencari kasur dan dipan yang dijual dengan harga murah.
" Hmm, bagus sih tapi mahal sekali harganya."Gumam Yumna.
Lalu pencarian Yumna terhenti Karena kini sudah waktunya Yumna mengantar Ilmi untuk mengaji.
Malam harinya, Galang mengajak Ilmi untuk ke taman kota.
" Sudah dapat belum kasurnya?" Tanya Galang di tengah perjalanan mereka menuju taman kota.
" Ya belum, yang harga di atas 800 sih banyak, tapi aku cari kalau bisa ya dibawah 800."
" Ya mana ada, di mana-mana kasur ya harganya segitu apalagi ini dengan dipan pastilah harganya mahal."
" Ya, karena itu mencarinya pelan-pelan saja. Siapa tahu rezeki si jabang bayi jadi kita menemukan kasur dipan dengan harga murah."
__ADS_1
" Disini lo banyak pilihan kasur tinggal pilih saja." Ucap Galang sambil menunjuk ke arah toko yang menjual berbagai macam jenis kasur.
" Ya kalau beli di situ ya harus punya uang tebal." Lirih Yumna. Galang hanya terkekeh.
" Banyak yang bilang kalau anak ini perempuan." Ucap Galang sambil mengelus perut Yumna.
" Kalau perempuan lagi bagaimana?"
" Ya tidak apa apa, aku akan tetap menerima nya."
Yumna tersenyum, walaupun sebenarnya dia tahu bahwa Galang dari awal pernikahan sudah menginginkan bayi laki-laki. Tapi sepertinya Tuhan lebih mempercayakan bayi perempuan kepada Yumna dan Galang. Dan Yumna juga merasa bahwa bayi kedua mereka juga perempuan.
****************
" Yah ini ada kasur dipan harga 600 ribu bisa nego. Lokasi Denpasar." Ucap Yumna, saat Galang pulang untuk makan siang.
" Coba tawar 500, boleh gak?"
" Aku coba."
Lama Yumna menunggu balasan, namun si penjual kasur dipan itu belum juga membalas pesan dari Yumna.
" Kalau boleh kabari aku, lalu kita akan melihat kasusnya seperti." Ucap Galang sesaat setelah dia selesai makan dan hendak kembali bekerja.
" Baiklah."
Namun hingga sore hari Yumna masih belum juga mendapat balasan dari si penjual, Yumna akhirnya mencoba mencari kasur dipan murah lainnya. Yumna menemukan kasur dipan tapi dengan harga 700.000 nett.
Keesokan paginya, Yumna mendapatkan pesan dari si penjual bahwa penjual menerima tawaran harga dari Yumna.
Yumna langsung menghampiri Galang ke tempat kerjanya yang berada tidak jauh dari kamar kos.
" Yah, kasur yang semalam aku kasih tahu, penjualnya mau dengan harga 500." Ucap Yumna kepada Galang.
" Iya lah, kapan lagi kita dapat harga murah." Ucap Yumna
" Uangnya ada?" Tanya Galang.
" Sudah aku bilang kan pakai kalung Ilmi dulu."
" Tapi aku tidak enak. Dulu, Aku juga pernah membelikanmu kalung lalu aku juga yang menjualnya. Ilmi juga pernah diberi kalung oleh ayahmu, dan kalung nya juga terjual untuk makan. Dan sekarang kita harus menjual kalung Ilmi lagi yang diberi oleh ibumu?"
Yumna mendekati Galang, kemudian mengelus lembut bahunya.
" Tidak apa-apa. Mungkin sekarang kita sedang diuji soal ekonomi oleh Tuhan. Karena di saat awal kita menikah bukankah kau sangat mudah mendapatkan uang."
" Hmm, sepertinya begitu."
" Ya sudah Ayo kita lihat kasurnya seperti apa, karena kata si penjual yang berminat pada kasur itu banyak"
" Ya sudah sini, kita jual kepada kakakku saja. Jadi kita hanya akan mengambil uangnya untuk beli kasur saja."
" Baiklah."
Yumna kemudian melepas kalung Ilmi yang selama ini dipakai olehnya.
" Kalungnya aku titipkan kepada kakakku saja, aku akan meminta satu juta untuk membeli kasur apakah cukup?"
" Cukup." Ucap Yumna.
Galang langsung pergi ke rumah sang kakak sementara Yumna mengajak Ilmi untuk segera bersiap-siap.
Tak beberapa lama kemudian Galang kembali dan memberikan sejumlah uang kepada Nina.
__ADS_1
" Katakan kepada si penjual untuk menunggu, karena aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku yang tinggal sedikit ini."
" Baiklah."
Dua jam kemudian, Galang yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung mengajak Yumna ke Denpasar untuk memantau kondisi dari kasur yang akan dibeli mereka. Berbekal Google map, akhirnya mereka sampai di kediaman penjual kasur.
" Kasur nya sudah tidak empuk lagi, pir nya sudah terasa." Lirih Galang.
" Iya, lumayan empuk lah daripada kita tidur di kasur spon. Di mana lagi kita bisa membeli kasur dengan harga murah." Ucap Yumna
" Apa kita beli baru saja?, mumpung kita ada di Denpasar. Aku pernah melihat postingan kasur dengan harga satu juta 400. Dan tokonya juga tidak jauh dari sini."
" Tapi kan kita hanya punya uang satu juta."
" Uang belanja sudah habis?" Tanya Galang.
" Ya sekalipun ditambah dengan uang belanja jumlahnya juga tetap kurang." Ucap Yumna.
Setelah pertimbangan yang cukup panjang, Yumna akhirnya membeli kasur itu. Dan Ilmi tentu saja sangat senang karena dia memiliki kasur baru.
Yumna sekarang bisa bernafas lega, pakaian bayi ada, kasur tinggi juga sudah ada, tidak ada lagi yang perlu dipikirkan.
Yumna sekarang hanya tinggal menyiapkan mental untuk persalinannya.
HPL menunjukkan angka 21-12-2020.
Itu artinya masih kurang satu bulan lagi, sebelum akhirnya Yumna bisa bertemu dengan bayi kecil nya.
Setiap pagi Yumna rajin jalan pagi, mengepel sambil berjongkok. Walau dokter pernah mengatakan jika bayi Yumna dalam keadaan sungsang. Tapi Yumna tetap optimis.
Dia melakukan serangkaian senam atau tindakan yang biasa dilakukan jika bayi dalam keadaan sungsang.
Tak lupa Yumna juga sering berbicara dengan bayi agar tidak membuat nya sampai melahirkan secara caesar.
Drrrttt drrrttt drrrttt
" Halo ma." Ucap Yumna
" Gimana, mama jadi tanggal berapa ke sana?" Tanya ibu Yumna.
" Tanggal 15 bulan depan saja. Karena kata dokter persalinan bisa maju satu Minggu atau mundur satu Minggu."
" Ya sudah, ingat kamu saja yang pesan travel nya. Biar nanti langsung menuju ke rumah mu."
" Iya santai. Lagipula masih satu bulan lagi kan?"
" Mama hanya mengingatkan."
" Iya. Ya sudah, aku sedang memandikan Ilmi."
" Baiklah."
Panggil berakhir. Yumna meletakkan ponselnya dan mulai berpikir dari mana dia akan mendapatkan uang untuk biaya travel sang Ibu.
Ya Tuhan, kenapa hidup ini sangat rumit. Dari mana aku akan mendapatkan uang untuk biaya travel Ibu? Galang pasti masih belum punya uang. Batin Yumna.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...