
Malam ini adalah malam dimana, Galang janji akan mengajak Ilmi ke area bermain yang ada di pusat kota.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka kini sudah tiba di area bermain.
" Aku akan tunggu disini."
Seperti biasa, Galang selalu menunggu di luar area bermain. Sedang Ilmi ditemani Yumna.
" Sudah yuk pulang." Ucap Yumna pada Ilmi yang kini berusia 3 tahun.
" Tapi aku mau beli jajan dulu, boleh."
" Iya boleh."
Setelah membeli beberapa makanan kesukaan Ilmi, mereka pun keluar area bermain, dan menemui Galang.
" Sudah selesai mainnya?" Tanya Galang, saat Yumna dan Ilmi mendatangi nya.
" Sudah Ayah." Ucap Ilmi sambil meminum susu uht.
" Mau kemana sekarang?, ke alun alun mau?" Ucap Galang.
" Mau.." Antusias Ilmi.
Memang sudah jadi kewajiban, jika pergi ke kota dan selesai bermain, mereka pasti mengunjungi alun alun kota.
" Di Bali ataupun di Jawa, kita tetap sama kalang kabutnya." Ucap Yumna, sambil melihat Ilmi yang sedang berlarian ke sana kemari.
" Tapi kan kalau di sini kita perlu membawa sewa kos. Keperluan juga tidak se mahal disana."
" Iya, karena sekarang terbantu dari hasil jualanku, coba bayangkan, jika jualan ku semakin sepi pelanggan. Apa kita bisa tetap memenuhi kebutuhan kita?"
" Hmm entahlah, apa harus kembali merantau lagi."
" Pikirkan dengan matang, apapun yang terjadi aku mendukungm."
" Entahlah, aku pusing. Kenapa jadi seperti ini."
" Anggap saja ini ujian pernikahan kita, di awal menikah, kita sudah di beri rejeki yang sangat deras. Jadi sekarang kita di uji dengan keadaan yang serba kekurangan."
" Hmmm.. Mungkin memang begitu."
Beberapa minggu kemudian,..
" Nda, aku kau kembali bekerja di Bali."
" Ya sudah tidak apa apa."
" Kau disini dulu, sampai aku mendapatkan uang, dan bisa menyewa kamar kos."
" Iya, lagipula kerjaan ku membuat sikat sedang banyak. Lumayan buat ongkos pergi ke Bali."
" Mungkin dua atau tiga hari lagi, aku berangkat."
" Dengan kakakmu?"
" Iya.., si kembar kan tidak ikut. Masih ada di sini. Jadi sekalian aku menemani kakak yang sendirian dalam perjalanan ke Bali."
" Ya sudah, nanti aku siapkan pakaian mu."
" Iya, terima kasih."
...
" Bunda, kok kita lama sih ada di Jawa. Kapan kita pulang ke Bali." Celoteh Ilmi.
" Kenapa?, Ilmi tidak suka ada di sini?" Tanya Yumna, sambil mengusap rambut Ilmi.
" Enak ada di Bali bunda, bisa jalan jalan ke taman yang ada air mancurnya."
" Lo, bukan nya di alun alun, juga ada air mancurnya."
" Tapi tak seronok." Ilmi menirukan suara film si botak kembar.
" Iya, nanti kalau Ayah sudah punya uang, kita pulang ke Bali."
" Beneran ?"
" Iya, sekarang Ilmi tidur ya."
....
__ADS_1
Seperti biasa, saat Yumna sudah selesai berjualan, dan membereskan rumah
. Di malam hari, saat Ilmi sudah tidur, Yumna masih melanjutkan pekerjaan nya membuat sikat.
" Nda, kau belum tidur." Galang membuka pintu, dan melihat nina yang masih sibuk membuat sikat.
" Belum, kenapa?"
" Tidak apa apa."
" Apa kau selalu lembur?"
" Biasa nya tidak, ini karena sebentar lagi kamu akan ke Bali. Jadi aku harus mengerjakan nya dengan cepat, agar cepat juga mendapat uang. Kan tidak mungkin jika baru bekerja, kamu sudah memberiku uang belanja." kekeh Yumna.
" Haha, karena itu. Ayo kita buat adik untuk Ilmi."
" Kau mulai lagi, tidak. Aku tidak mau, aku belum siap."
" Ayo di coba, siapa tau kehidupan kita berubah, jadi lebih baik."
" Jika ekonomi kita sudah membaik, baru aku mau menambah anak.," Ucap Yumna, yang masih sibuk membuat sikat.
Beberapa hari kemudian..
" Nda, baju ku sudah kamu siapkan.,"
" Sudah."
" Lo, Ayah mau kemana?" Tanya Ilmi.
" Ayah mau kerja ke Bali." Ucap Galang sambil memasang kaos.
" Lo, aku juga?" Ucap Ilmi.
" Ilmi nanti menyusul dengan Bunda."
" Tidak mau Ayah, Ilmi mau sama Ayah. Hiks hiks..," Ilmi mulai menangis.
" Jangan nangis. Kalau ayah gk kerja, Ilmi gimana beli susu nya hayo." Yumna mencoba menenangkan Ilmi.
" Ayah jahat. Aku gak mau sama ayah." Ucap Ilmi, kemudian pergi meninggalkan Yumna dan Galang yang masih berada di kamar.
" Dia marah."
" Kakak ku sudah datang." Ucap Galang, saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah nya.
" Aku berangkat dulu ya, jangan nakal. Jaga Ilmi baik baik." Ucap Galang mencium kening Yumna.
Hangat.
Perasaan hangat dirasakan Yumna.
Hati nya begitu sakit, saat akan berpisah dengan suami nya.
Walau selama ini mereka sering bertengkar, namum momen perpisahan ini sungguh memilukan hati.
" Bu, aku pamit ya." Ucap Galang, mencium tangan dan pipi sang Ibu.
" Iya, hati hati. Ilmi gak ikut?" Tanya ibu
" Nanti menyusul, jika aku sudah punya uang." Ucap Galang.
" Ohya sudah. Lagian istri mu juga masih kerja di sini."
" Kami pamit, Assalamualaikum."
" Walaikumsalam."
Sepeninggalan Galang, airmata Yumna jatuh tanpa rencana.
Sungguh inilah yang tidak di sukai Yumna, di tinggalkan sendirian, tinggal bersama mertua lagi.
" Nduk.. ada orang beli." Teriak ibu dari ruang tengah.
" Ya bu, sebentar."
Yumna menyeka air mata nya, dan menepuk nepuk pipinya, setelah memastikan mata nya tidak terlihat sembab, nina keluar dan melayani orang yang membeli dagangan nya.
..
☘️ beberapa bulan berlalu...🌱
__ADS_1
" Bu, titip Ilmi sebentar. Aku mau menyetorkan ini." Ucap Yumna yang membawa nampan berisi sikat yang sudah ia rangkai.
" Iya, naik apa kesana?"
" Naik sepeda, biar cepet."
" Ya sudah, hati hati."
Yumna kemudian menghidupkan motor, dan menyetir dengan satu tangan, karena tangan yang lain membawa nampan berisi sikat.
" Assalamualaikum bude... bude." Teriak Yumna, sambil menggedor pintu.
" Dibelakang nduk, lewat pintu samping."
Yumna berjalan menelusi jalan samping rumah.
" Ini bude, punya ku."
" Berapa ini?
" Seratus tiga empat "
" Kok tanggung sekali?" Tanya bude sambil mencari catatan hasil stor Yumna.
" Tidak tau, kemaren di kasih kawat nya hanya segitu."
" Ya, sudah. Ini uang nya mau diambil sekarang atau gimana?"
" Kalau ada sekarang, ya tidak apa apa bude"
" Ya sudah, tunggu sebentar ya."
Beberapa saat kemudian, Yumna menerima tiga kembar uang merah.
" Ini sudah dengan total setoran mu"
" Ya bude, terima kasih. Kalau gitu, aku pulang yaa bude."
" Eh, iya. Galang kemana?, sudah lama aku tidak melihatnya."
" Galang ke Bali bude."
" Lo.., kapan?"
" Sudah lama, sudah hampir 3 bulan."
" Oo, aku tidak tau. Ya sudah nanti kawat nya biar di antar Ratih ke rumahmu ya."
" Iya bude."
Di rumah..
Yumna menutup lapak daganganya nya pada pukul 16:00 , Setelah memandikan Ilmi. Yumna segera membereskan dagangan nya dan ketika hendak mencuci peralatan yang kotor,
" Bu, sanyo nya mati?, kok gak hidup." Teriak Yumna dari dapur.
" Lo, tadi masih menyala, saat aku mandi." Ucap ibu saat mendatangi Yumna.
" Ini tidak bisa."
" Aduh, pasti sudah rusak. Dulu juga begini mati, tapi masih bisa di servis. Ini seperti nya sudah rusak." Terang ibu.
" Telepon Galang. Suruh dia kirim uang untuk beli sanyo yang baru." Titah ibu.
Yumna berjalan menuju kamar, dan menelpon Galang.
" Sanyo dirumah rusak, katanya suruh ganti. Aku sudah tanya pak Jono. Harganya sekitar 400ribuan."
" Kamu ada uang?"
" Ada. Barusaja senang mendapat uang, sekarang ada masalah dan harus mengganti sanyo."
" Hehe, kita dari dulu suka begitu, baru punya tabungan, sudah ada masalah. Tidak apa apa, nanti aku ganti. Sekarang pakai uangmu dulu."
Batal sudah niat Yumna untuk menabung uang tersebut.
Sekarang impian Yumna untuk menyusul ke Bali, benar benar harus di tunda, untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...