Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Hanya sebentar


__ADS_3

" Mau makan apa?" Tanya Yumna saat hari sudah menjelang malam.


" Apa saja." ucap Galang seperti biasa.


" Mie?"


" Bosan."


" Lalu apa?"


" Ayo kita beli makan diluar saja." Ucap Galang.


" Ayo." Ucap Ilmi penuh semangat.


" Ya sudah ayo, segera lah bersiap siap." Ucap Galang pada Yumna.


Yumna tersenyum, dan segera memakai kan jaket dan sepatu Akifa, Galang, Ilmi yang sudah selesai bersiap menunggu Yumna di luar.


Mereka berangkat untuk mencari makan, sesampainya di senggol. Mereka memutuskan untuk makan nasi pecel ditempat biasa mereka datangi untuk makan.


Yumna tidak bisa menikmati makan karena tingkah laku Akifa yang terlalu aktif.


" Ayo sini, biar aku gendong Akifa." Ucap Galang.


Yumna menyerahkan Akifa dan melanjutkan makannya.


Setelah itu, mereka segera menuju tempat bermain karena Ilmi meminta bermain.


" Aku mau menggambar ayah." Ucap Ilmi.


" Ya sudah, sana menggambar bersama ayah, bunda akan naik odong-odong." Ucap Yumna.


" Ya sudah." Ucap Galang.


Mereka kemudian berpisah, Ilmi bersama Galang menggambar sedangkan Yumna dan Akifa menuju tempat odong-odong.


Yumna melihat Galang yang tengah membantu Ilmi untuk menggambar. Yumna merasa hatinya damai. Seandainya hal seperti ini akan terus terjadi di dalam rumah tangga nya.


Sepulangnya Galang juga membantu menjaga Akifa saat Yumna sedang mencuci piring dan membersihkan tempat tidur.


Malam itu, dengan senang hati, Yumna melayani Galang sebagaimana mestinya. Melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


Pagi hari, Galang berpamitan kepada Yumna saat dirinya hendak berangkat bekerja, hal itu tentu saja membuat Yumna sedikit terkejut. Pasalnya selama ini Galang tidak pernah berpamitan saat akan pergi bekerja.


" Aku mau kerja dulu." Ucap Galang.


Yumna hanya mengangguk dan tersenyum, lalu melanjutkan aktivitasnya yang tengah menyuapi Akifa.


" Ayah aku mau ikut." Ucap Ilmi.


" Ajak saja, agar tidak selalu bermain." Ucap Yumna.


" Ya sudah ayo."


Yumna cukup lega, jika tidak ada Ilmi, maka tidak akan ada yang mengganggu saat Akifa akan tidur. Yumna jadi punya waktu untuk bersantai dan menulis cerita.


Ilmi berangkat sebaring membawa buku tulis dan beberapa mainan.


Sepeninggal Galang dan Ilmi..


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Yumna berdering, panggilan dari teman Yumna.

__ADS_1


" Halo?, bagaimana kabar mu." Ucap nya.


" Baik, kalau kabar mu, bagaimana?" Tanya Yumna.


" Baik juga, hubungan mu dengan suami bagaimana?"


" Ya, masih biasa saja. Hanya beberapa hari ini, mungkin suasana hatinya sedang membaik. Jadi kami tidak bertengkar selama beberapa hari." Ucap Yumna.


" Baguslah kalau begitu, semoga saja kali ini Galang benar-benar bisa berubah."


" Hmm, aku tidak yakin." Ucap Yumna.


" Kenapa?"


" Aku sudah tahu Galang. Tapi ya tidak ada salahnya jika aku berharap suasana seperti ini akan tetap terjaga."


" Ya semoga saja. Ya sudah kalau begitu, aku harus meneruskan pekerjaan ku."


"Baiklah kalau begitu, aku juga akan meneruskan menulis novel." Ucap Yumna.


" Ya sudah, aku tutup ya."


" Iya."


" Bye."


Setelah panggilan berakhir. Yumna kembali melanjutkan menulis, walau kini semangat nya terasa semakin berkurang. Yumna tidak menyangka, suasana hati juga mempengaruhi ide Yumna dalam menuangkan tulisan.


Tin


Tin


Tin


" Ya ampun, token listrik nya sudah berbunyi."


" Ini tidak akan cukup untuk membeli token." Ucap Yumna saat menghitung uang yang hanya tinggal lembar lima ribuan.


Yumna lalu juga mengetahui jika cemilan Akifa habis. Tidak ada pilihan lain, karena tidak ingin merusak suasana baik yang sedang terjadi di antara Galang dan dirinya. Membuat Yumna memilih menukarkan uang receh untuk membeli token listrik dan juga cemilan untuk Akifa.


Setelah menghitung uang receh, Yumna memasukkan nya ke dalam kantong plastik, dan menunggu Akifa terbangun sebelum akhirnya memilih berjalan kaki untuk menukar uang receh dan membeli token dan cemilan untuk Akifa.


Semoga saja setelah ini Galang pulang dan memberi uang. Jika aku yang meminta dulu, pasti perdebatan akan kembali terjadi. Batin Yumna.


Saat dalam perjalanan pulang dari toko Cantik yang ada di seberang jalan tempat kosnya.


Yumna bertemu Novi dan memintanya untuk datang dan bermain.


Hari itu, Novi bertanya tentang Galang. Yumna pun bercerita tentang Galang yang mulai ada sedikit perubahan.


Hingga beberapa harinya berikutnya, saat Yumna sedang merasakan sedikit tidak enak badan.


Galang marah, hanya karena hal kecil.


" Dasar kamu bla bla bla bla.."


Galang mengoceh semalaman sebab Yumna yang tidak ingin melayani Galang.


Brug !!


Galang melempari Yumna dengan bantal dan guling.


Crakk !!

__ADS_1


Sebelum nya juga Galang sudah merobek pakaian dalam Yumna.


" Dasar luknut."


" Sudah aku bilang besok saja, aku benar-benar sedang merasa pusing." Keluh Yumna.


" Kamu itu hitam, sok kebanyakan gaya. Gak cantik. Pakek drama sakit segala. Bilang aja gak mau melayani. Bla bla bla bla bla.."


Yumna memilih untuk tidak mendengarkan, dan terus memejamkan mata. Berharap akan segera terbang ke dunia mimpi. Walaupun tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipi.


Jika memang aku yang telah bersalah karena menolak ajakan suami, biarlah Tuhan yang mencatat dosa ku. Tuhan yang tahu bagaimana keadaan ku. Dan sejujurnya aku juga sudah sangat enggan untuk melayaninya. Karena dia selalu saja memikirkan kenikmatannya sendiri, tanpa mau tahu apakah aku juga merasa kenikmatan seperti yang dia rasakan. Batin Yumna


Malam itu, butiran air mata menghiasi malam Yumna sebelum akhirnya benar-benar terbang ke dunia mimpi.


Paginya..


Seperti biasa, jika Galang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Maka, dia akan berpura-pura seolah-olah Akifa tidak ada.


Yumna memilih diam, dan tetap memasak sebaring mengendong Akifa.


" Ayah mau kemana?" Ucap Ilmi.


" kerja."


Jawaban yang singkat padat dan jelas.


Tidak ada kata lagi yang diucapkan oleh Galang. Dia langsung pergi begitu saja setelah mandi.


Yumna mencoba untuk tidak memikirkan nya, dia memilih bermain dan bercanda tawa bersama dengan kedua buah hatinya untuk menghilangkan rasa kecewanya.


" Hei, kenapa kok tumben berangkat pagi?" Tanya Mama Elsa.


" Biasa lah."


" Loh."


Satu tahun terakhir, Yumna mempunyai teman kos yang kehidupan rumah tangga nya hampir sama dengan Yumna, hanya bedanya Suami Mama Elsa masih giat mencari uang ketimbang Galang.


" Aku jadi berpikir, apa isi dari rumah tangga adalah bercocok taman terus" Ucap Yumna.


" Ah sama saja seperti suamiku. Dia malah lebih kasar mengatai ku, jika aju menolak ajakannya."


Yumna dan Mama Elsa kemudian saling bercerita tentang kehidupan nya dan juga rumah tangga nya.


Saat jam makan siang, Yumna lebih dulu mengambilkan nasi untuk Galang sebelum kemudian memilih kembali duduk bersantai didepan pintu masuk rumah pemilik kos.


Semilir angin, membuat hati Yumna merasa tenang, dia membiarkan angin itu menerpa wajahnya. Menyapu rasa kecewa yang ada di hatinya. Walaupun hanya sesaat tapi setidaknya Yumna bisa merasakan tenang.


Galang pulang, tapi tidak ada sedikitpun niat Yumna untuk kembali masuk ke dalam rumah dan menemani Galang saat makan siang.


Yumna membiarkan dirinya tetap duduk sambil menikmati hembusan angin yang menyejukkan jiwa.


Saat itu Yumna merasa apalah arti kehidupan Yumna sekarang. Kenyataan ini semakin lama semakin membuat Yumna kehilangan semangat untuk tetap hidup.


Tuhan, apa aku pernah berbuat dosa di masa lalu, Kenapa cobaan ini begitu berat aku rasakan. Aku yang terlahir dari keluarga broken home, tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga. Tidak diajari apa yang harus dilakukan dan tidak, bahkan aku belajar sendiri tentang mana yang baik dan juga yang buruk. Salahkan jika aku mengharapkan sebuah kasih sayang dari suami?. Berharap akan mendapatkan kebahagiaan dari hubungan rumah tangga yang sudah terjalin dengan pria yang menjadi pilihanku. Apakah Aku punya dosa kepada suamiku?, apakah aku mempunyai dosa kepada orang lain. Sehingga Tuhan menghukum ku dengan tidak membuatku merasa bahagia dalam rumah tangga ini. Apa yang harus aku lakukan?, di sisi lain batinku tersiksa. Ingin menyerah, tapi aku tidak ingin anak-anakku benar sama sepertiku. Karena egoisan orang tua, mereka Jadi tidak lagi mendapatkan kasih sayang yang seutuhnya. Aku tidak ingin mereka sepertiku, anak keluarga broken home. Lalu, Haruskah aku tetap bertahan demi anak-anak?. Haruskah aku yang harus mengalah dalam segala hal?. Sebenarnya siapa yang salah dalam rumah tanggaku?. Apakah aku selalu siap bersedia melayani saat suami menginginkannya?. Tapi bagaimana dengan kemarahan suami saat aku meminta uang untuk memenuhi kebutuhan kami semua?. Apakah memang salahku yang tidak bekerja dan membantu keuangan keluarga?. Lirih Yumna dalam diam.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2