
Di kantor KUA, terlihat banyak sekali pasangan yang menikah.
Sepertinya hari itu memang hari dan tanggal yang baik untuk menikah.
" Hei, kalian baru sampai?, aku sudah menunggu kalian sejak tadi. Ayo langsung masuk saja." Ucap seorang laki², yang tak lain adalah mudin di desa Galang.
" Waow.. kita seperti nikah masal." Bisik Yumna pada Galang yang hanya di jawap anggukan kepala.
" Ayo maju." Ucap mudin tadi setelah Yumna dan Galang menunggu, dan menyaksikan 3 pasangan melakukan ijab.
" Sudah latihan ijab kabul." Tanya penghulu.
" Sudah." Jawap galyang mantap.
" Kalau begitu bisa kita mulai." Ucap penghulu yang kemudian menjabat tangan Galang.
" Saya Nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Falisha Yumna Az Zahra binti Muhammad yang di wali hakimkan kepada saya, dengan mas kawin xxxx dibayar tunai."
Galang langsung mengucapkan kata sakral itu dalam satu tarikan nafas.
" Bagaimana para saksi"
" Sah..."
"
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ. بَارَكَ اللهُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْكُمَا فِيْ صَاحِبِهِ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ
(Berkah Allah (semoga tercurahkan) bagimu. Dan (semoga) Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. Berkah Allah (semoga tercurahkan) bagi masing-masing kalian berdua atas pasangannya, dan (semoga) Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.)
" Selamat ya mbak, semoga menjadi keluarga yang samawa." Ucap Intan sambil memeluk Yumna, saat mereka akan bergegas pulang.
" Selamat ya." Rimba menjabat tangan Yumna.
" Terima kasih." Yumna membalas jabat tangan Rimba. Sungguh saat itu Yumna ingin sekali memeluk sahabat, tempat Yumna menumpang segala keluh kesahnya.
" Ayo kita kembali ke rumah." Ucap Pak Jono, paman Galang.
Yumna mengandeng tangan Galang dan berjalan menuju mobil.
Sesampainya di rumah Galang, makanan sudah tertata rapi.
Saat semua nya sudah turun, tuan rumah mempersilahkan tamu nya untuk menikmati makanan yang sudah tersedia.
Setelah menikmati hidangan, Galang dan Yumna melakukan sesi foto.
Selamat melakukan sesi foto, perasaan Yumna tidak menentu. Dia tidak tahu apakah dia harus berbahagia atau tidak.
Sesekali Yumna melihat Rimba yang selalu tersenyum padanya. Yumna tahu jika Rimba merasakan sesuatu yang mungkin dirasakan oleh Yumna. Tidak tahu harus merasa bahagia atau tidak melihat sahabat yang begitu dicintai sudah menikah.
" Intan, bisakah kau membantuku melepas ini?" Bisik Yumna pada Intan. setelah sesi foto keluarga telah selesai.
__ADS_1
" Oh, tentu saja." Jawap Intan dengan senyuman nya yang manis.
Kau sangat baik Intan, beruntung Rimba memilikimu. Batin Yumna.
Setelah berganti pakaian, dan menyerahkannya pada kakek, agar dikembalikan kepada tukang sewa didekat rumahnya.
Keluarga Yumna pun pamit pulang, tak lupa disela2 itu, Rimba berfoto bersama Yumna dan Intan.
Setelah memastikan mobil yang di naikin keluarganya tidak terlihat, Yumna masuk dan memilih berbaur dengan yang lain.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Yumna masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Entah karena rasa lelah atau perasaan yang tidak bisa diartikan akan pernikahan yang terjadi begitu cepat ini. Membuat Yumna tertidur pulas.
Hingga Yumna merasa ada yang menggoyang goyangkan bahunya.
" Bangun dan mandilah. Hari sudah sore" Ucap Galang yang membangunkan Yumna.
"Hoam...apa ada orang di kamar mandi." Tanya Yumna sambil menguap.
" Tidak ada, aku barusaja mandi. Cepatlah." Ucap Galang sambil memberikan handuk kepada Yumna.
Yumna berjalan menuju kamar mandi, dan di dalam kamar mandi saat Yumna hendak melepaskan pakaiannya.
" Astaga..." Yumna menepuk jidat nya sendiri, kemudian mengintip dibalik pintu, berharap seseorang yang ia kenal akan melewati kamar mandi.
"Buk..." Panggil Yumna saat melihat Ibu Galang yang melintas.
" Ya nduk, ada apa?" Ucap Ibu sambil membawa baskom.
" Kenapa kau datang bulan?, oh astaga, kau akan membuatkan aku cucu. Hahaha. Tidak akan berbulan madu kalau kamu lebih dulu datang bulan." Kekeh Ibu.
" Aku tidak punya, karena aku sudah lama tidak haid. Sebentar biar aku menyuruh Elsa membelikannya." sambung Ibu kemudian berlalu.
Beberapa saat kemudian, Elsa mengetuk pintu kamar mandi, dan memberikan pesanan Yumna.
Setelah selesai mandi dan bersiap, Yumna memilih membantu mempersiapkan jamuan untuk acara syukuran nanti.
" Ini, makan ini. Agar subur." Ucap mbak Tina, sambil menunjuk se mangkuk tauge.
" Wah, ini kesukaanku." jawap Yumna.
" Iya, ini sangat bagus untuk kesuburan." Ucap Mbak Tina.
" Kau tidak KB dulu nduk?" Ucap wanita yang tak lain adalah bude Galang.
" Jangan!, biarkan punya anak dulu kemudian KB." ucap Ibu.
" Ya maksud ku biarkan mereka bersenang² dulu." ucap bude Galang.
" Senang senang nanti saja. Sekarang biarkan punya anak dulu. Minimal satu."
Mereka kemudian banyak berbicara hal yang tidak dimengerti Yumna. Yumna pun memilih untuk kedepan dan melihat apa yang dilakukan Galang.
__ADS_1
Setelah acara syukuran selesai, Yumna memilih langsung istirahat di kamar. Meski tak banyak tamu yang di undang, namun acara ini cukup menguras tenaga.
" Sayang, akhirnya kita sah juga." Ucap Galang memeluk Yumna dari belakang.
" Hmmm, iya aku tidak menyangka akan secepat ini." Ucap Yumna dengan perasaan tidak menentu.
" Aku sedang datang bulan." Ucap Yumna menghentikan aktivitas Galang yang sedari tadi menciumi leher Yumna.
" Tiga hari lagi kita berangkat ke bali." Ucap Galang.
" Secepat itu ?" Ucap Yumna.
" Tentu saja, aku sudah lama tidak bekerja. Jika berlama-lama disini. Maka akan semakin kehabisan uang." Ucap Galang sambil menata badannya di atas tempat tidur.
Yumna tidak menjawab dan memilih untuk merebahkan diri di samping Galang.
Malam itu, Galang tidur dengan nyenyak sementara Yumna tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan tentang pernikahan yang terjadi secepat kilat itu.
Apa keputusanku untuk menikah dengan Galang ini salah?. Kenapa aku tidak merasa bahagia dengan pernikahan ini. Bisakah aku memutar waktu agar aku dapat mencari alasan dari rasa ketidaknyamananku setelah sah menjadi istri Galang.
Yumna meneteskan air mata, mengingat kemarahan ibunya saat Yumna memberitahu bahwa dia akan menikah dengan Galang serta perkataan dari sang kakek yang mengatakan bahwa si kakak tidak akan mau tahu soal biaya yang harus dikeluarkan di pernikahan Yumna.
Yumna juga sedih karena dia harus meninggalkan Arumi sendirian.
" Kenapa aku merasa ingin kembali ke masa sebelum keluarga Galang melamarku. Kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Perasaan ini sungguh membuatku benar-benar ingin memutar kembali waktu yang telah berlalu...."
...----------------...
...****************...
......................
...----------------...
...****************...
...----------------...
......................
...----------------...
...****************...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...