
Sesampainya di Klinik Bumi Sehat...
Yumna langsung menjalani tes rapid.
Supir dan Ibu Yumna terpaksa pulang karena hanya suami yang boleh menunggu.
" Silahkan duduk dulu bu, kita lakukan tes dulu ya." Ucap bidan.
" Kapan terakhir kali periksa ke sini?" Tanya bidan yang satu lagi yang tengah melihat buku kontrol milik Yumna.
" Tadi sore." Ucap Yumna sekuat tenaga sambil menahan rasa sakit.
" Oh, ini tadi yang saya suruh USG ya?"
" Iya."
" Maaf ya." Ucap bidan saat dirinya mengambil sampel darah Yumna.
Yumna tidak merasakan sakit akibat robekan kecil yang dibuat oleh bidan itu.
Karena kontraksi yang dialami oleh Yumna jauh lebih sakit dari sayatan pisau kecil di tangan Yumna.
" Jadi apa ibu sudah melakukan USG, seperti yang diperintahkan?"
" Belum. Suami masih belum mendapatkan uang, jadi rencananya hari ini akan melakukan USG."
" Emm ya sudah tidak apa apa."
" Hasil tes negatif ya." Ucap Bidan yang bertugas melakukan pengecekan tes rapid terhadap Yumna.
" Ayo bu, kita pindah ke ruangan sebelah."
Ya Tuhan, aku pikir akan disuruh berbaring di sini, tapi kenapa justru berpindah-pindah tempat. Apakah bidan itu tidak tahu jika aku merasakan sakit yang luar biasa?. Batin Yumna.
Dengan bantuan Galang, Yumna berjalan hati-hati hingga mereka tiba di ruangan yang berada di seberang ruangan tadi.
" Berbaring disini, hati hati."
Dengan hati-hati Galang membantu Yumna untuk naik ke atas ranjang.
" Kita cek pembukaannya dulu ya?"
" Buka 4. Atur nafas ya bun, dan silakan berbaring menghadap kiri, bapak boleh memijat lembut punggung ibu ya, sembari menunggu pembukaannya lengkap."
Setelah mengatakan itu, kedua Bidan itu pun keluar dari ruangan Yumna.
Yumna melihat ke arah jam, pukul setengah 4 dini hari.
Yumna mencoba menahan rasa sakit yang terus menerus datang.
Namun, rasa sakit itu tidak tertahankan hingga Yumna menangis. Yumna merengek layaknya anak kecil yang merasa kesakitan. Galang semakin bingung. Ditambah Yumna yang tidak mau berbaring di ranjang, dia lebih suka duduk di atas toilet duduk.
Setiap kali, Yumna mencoba untuk berbaring, rasa sakitnya semakin datang dan semakin menyiksa Yumna. Akhirnya Galang membiarkan Yumna untuk duduk diatas toilet.
" Apa rasanya sakit sekali?"
" Iya, rasanya berkali-kali lipat. Padahal dulu aku melahirkan Ilmi tidak sesakit ini."
Yumna terus mengerang kesakitan, membuat Galang semakin bingung Dan panik.
" Sakit sekali, huhuhu..."
Yumna mencubit bahkan sesekali mencakar bahu Galang.
Yumna terus merasakan sakit hingga dia sesekali mengejan. Lalu seorang bidan datang dan mungkin ingin melihat perkembangan dari pembukaan jalan lahir Yumna.
" Lo, Kenapa ada di kamar mandi Kenapa tidak tidur di atas ranjang saja?" Tanya bidan itu.
" Katanya kalau dibawa berbaring sakitnya semakin parah." Ucap Galang.
" Sakit sekali ya?, apa sudah mau mengejan?"
__ADS_1
" Iya, hiks hiks hiks." Ucap Yumna sambil menangis.
" lo jangan menangis, nanti tenaga nya habis."
Dan tanpa sadar Yumna mulai mengejan.
" Lo jangan mengejan disini. Ayo kita kembali ke ranjang lagi."
Dengan hati-hati Galang membantu Yumna untuk kembali tidur di atas ranjang.
" Buka saja pakai ibu pak, tutupi dengan kain ini saja." Perintah Bidan.
Yumna melihat ke arah jam, pukul 6 kurang 15 menit
Seperti nya bayi ini akan lahir di jam yang sama dengan Ilmi. Batin Yumna
Yumna lalu mulai mengikuti instruksi yang diberikan oleh bidan.
Yumna berjuang keras, hingga akhirnya Yumna dapat mengeluarkan bayi nya.
oeekk...oek...oek...
Yumna tersenyum dan bernafas lega, rasa sakit itu berangsur-angsur hilang seiring dengan suara tangisan dari bayi.
" Bayi nya perempuan. Anak pertama ya?" Ucap Bidan.
" Kedua." Ucap Galang dan Yumna bersama.
Bidan lalu meletakkan bayi itu di atas dada Yumna dan langsung menyuruh Yumna untuk melakukan IMD.
Sementara bidan itu mulai membersihkan jalan lahirnya Yumna, dan memberikan sedikit jahitan sana.
Lalu datang bidan lain yang bertugas untuk mencatat waktu kelahiran bayi.
" Bayi nya lahir bertepatan dengan hari ibu." Ucap Bidan yang bertugas mencatat kelahiran bayi.
Yumna tersenyum. Dia mengelus rambut putri kecilnya.
" Tiga jam lagi, kalau Ibu tidak merasa pusing silakan mencoba untuk berbaring kanan dan ke kiri. Lalu bangun dari posisi tidur ya. Dan jika masih belum 3 jam, Jangan pernah bergerak ataupun bangun." Ucap Bidan setelah selesai menjahit bagian Yumna.
" Iya bu."
" Kalau begitu kami permisi dulu, kalau ada apa-apa silakan bapak datang ke ke posko yang ada di sebelah kanan ruangan ini."
" Iya."
Sepeninggal bidan, Galang dengan hati-hati meletakkan bayi yang sudah di adzanin di samping Yumna.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Ponsel Galang berdering. Galang sedikit menjauh jauh lalu mengangkat panggilan itu.
Setelah Galang kembali, Yumna meminta tolong untuk diambilkan ponselnya. Karena Yumna ingin mengabadikan moment pertama dari kehidupan bayinya yang sudah keluar dari kandungan.
" Aku akan merokok di depan, telepon aku jika kamu butuh sesuatu."
Yumna mengangguk. Lalu mulai mengambil foto serta video bayinya yang terlihat terbangun.
Yumna tersenyum, karena saat melahirkan Ilmi dulu, Yumna tidak sempat untuk mengabadikannya.
Yumna lalu mengirim foto serta video Putri keduanya itu ke grup keluarga, serta membagikan melalui status aplikasi hijau.
Tring
Tring.
Yumna menerima banyak sekali pesan dari sanak saudara dan juga teman yang mengucapkan selamat atas kelahiran Putri keduanya.
Drrrttt drrrttt drrrttt
" Halo yah, ada apa?" tanya Yumna saat mengetahui Galang nelponnya.
__ADS_1
" Video bayi kita yang kamu jadikan status kirimkan kepadaku."
" baiklah."
Tut.
Galang mematikan telepon, lalu Yumna segera mengirim beberapa foto dan video yang sempat direkam tadi kepada Galang.
Satu jam kemudian.
" Permisi, ini sarapan untuk ibu dimakan ya." Ucap seseorang yang datang dan langsung meletakkan makanan di meja sebelah kiri Yumna
" Terima kasih."
Tak lama kemudian Galang sudah kembali.
" Ini makanan untuk siapa?" Tanya Galang.
" Untukku."
" Oh, Aku kira makanan ini untukku." Kekeh Galang.
" Haha, ada-ada saja. Yang melahirkan kan aku, tentu saja aku yang dapat makanan."
" Ya kali aja. Apa kamu akan memakannya?"
" Ya, Aku sangat lapar."
" Kalau begitu ayo aku akan menyuapimu."
Galang lalu membuka tudung saji yang menutupi makanan itu. Nasi merah tekstur mirip tekstur untuk bayi yang berusia 9 bulan keatas dengan lauk telur dan tomat, serta buah semangka.
" Semangka nya aku makan." Ucap Galang.
" Lo, kalau kamu mau kita bisa menghabiskan makanan itu berdua."
" Ini bubur, dan aku tidak suka bubur.," Ucap Galang, langsung menyuapi Yumna, hingga Yumna menghabiskan setengah dari makanan itu.
" Tidak dihabiskan?" Tanya Galang.
" Tidak, aku sudah kenyang."
Setelah tiga jam, Galang membantu Yumna untuk berlatih miring ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya Yumna bangun dari posisi tidur nya.
Yumna mencoba berjalan perlahan menuju kamar mandi.
" Hati hati, jangan sampai kamu pingsan di kamar mandi." Ucap Galang yang saat itu menggendong Putri kecil mereka.
" Iya iya, aku tahu."
" Ingat jangan menangis lagi." Ledek Galang.
" Ih apaan sih." Ucap Yumna yang langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.
" Eh jangan tutup aku takut kamu nanti pingsan di dalam."
" Hmm, baiklah."
Yumna tersipu malu jika dia mengingat momen saat dia menangis karena tidak tahan merasakan kontraksi yang rasanya berkali-kali lipat dari yang dirasakan saat melahirkan Ilmi.
Tapi semua itu sudah terbayarkan dengan kelahiran buah hati kedua Yumna.
Yumna merasa begitu bahagia dan bersyukur kepada Tuhan karena masih mengijinkan Yumna untuk merawat satu lagi seorang putri.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1