Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Hanya mimpi


__ADS_3

Yumna terbangun dari tidurnya.


" Ya Tuhan, ternyata aku hanya mimpi." Pekik Yumna.


Dia melihat ke sekeliling, rupanya rasa lelah setelah perjalanan dari Bali ke Jawa. Membuat Yumna bermimpi seolah-olah dia kembali ke masa lalu.


Yumna memutuskan untuk kembali tidur saat dia melihat jam yang masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Tiba tiba Yumna menangis. Meratapi nasibnya. Dulu Yumna berpikir bahwa keluarga Galang akan membuatnya merasakan kehangatan sebuah keluarga yang tidak pernah didapatkan oleh Yumna sejak kecil.


Namun ternyata Yumna salah, keluarga ini justru membuat Yumna semakin merasa bahwa kehidupan yang bahagia tidak pernah berpihak kepada Yumna.


Pagi itu....


Seperti biasa, Yumna bangun pukul 5 pagi untuk berjalan², sambil berbelanja sayur.


Yumna selalu rajin jalan jalan. Karena bulan ini adalah bulan perkiraan persalinan.


" Jalan² nduk." Sapa para tetangga yang menjumpai Yumna.


" Iya bu.." ucap Yumna sopan.


" Perutnya sudah terlihat turun, mungkin sebentar lagi melahirkan.


" Masih jalan 9 bulan bu."


Setelah berjalan cukup jauh dari rumah.


Yumna menuju tukang sayur yang baru saja datang, setelah selesai membeli beberapa lauk dan sayur. Yumna kembali ke rumah.


Sesampainya dirumah, Yumna mencuci tangan dan kaki sebelah langsung menuju dapur dan mulai memasak.


" Masak apa?" Tanya Ibu.


" Masak Sop, tempe dan ikan tongkol. Sambal terasi."


"Ya sudah, jangan terlalu banyak bawang. bawang sedang mahal." ketus Ibu saat melihat Yumna tengah mengupas bawang untuk sop.


Yumna hanya tersenyum untuk menutupi rasa ingin menangisnya.


Entah mengapa tapi, kehamilan ini membuat mood Yumna sangat sensitif. Batin Yumna seolah sangat rapuh sehingga kata-kata bernada tinggi saja sudah sangat melukai hati Yumna.


Saat Yumna selesai masak dan bersiap untuk mandi. Dia tidak sengaja mendengar suara dari ibu mertuanya yang sedang berada di belakang rumah.


" Yaa.. nanti kalau anaknya lahir biar ada di sini aja, istri Galang biar ikut ke Bali, cari kerja biar dapat uang." Samar² suara ibu, namun masih bisa terdengar jelas oleh Yumna.


" ------"


Entah apa yang dikatakan oleh orang yang sedang mengajak Ibu Galang berbicara. Yumna tidak dapat mendengarnya dengan jelas, Yumna hanya dapat mendengar suara dari ibu Galang yang memang berbicara dengan nada tinggi dan keras.


" Ya tentu aku yang akan merawatnya. Biar ibunya kerja, cari uang. Jadi setiap bulan bisa mengirimi aku uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya." Suara ibu lagi, benar² membuat dada Yumna sesak.


Setelah sikap suami yang berubah, sekarang Ibu juga.


Yumna mulai merasa bahwa dirinya tetap berada di sini hanya karena sedang mengandung anak Galang. Dan merasa bahwa pernikahan nya dengan Galang bisa bertahan sampai sekarang karena Yumna tengah hamil.


Yumna memutuskan untuk mandi dengan menggunakan selang, agar Ibu mertuanya tidak mendengar suara percikan air.


Dan sekali lagi, Yumna menangis.


 


 


Dua minggu kemudian, Galang pulang.


Tidak ada perlakuan istimewa, semua berjalan seperti biasa. Dan Yumna kerap menangis di dalam kamar mandi.


Yumna merasa dirinya benar benar seperti orang asing yang hanya ditampung karena sedang mengandung darah daging Galang.


" Nanti kalau anak mu lahir, tidur denganku ya." Ucap Ibu pada Galang.


" Terserah." Ucap Galang yang seakan tidak peduli.


" Nanti kalau nangis baru di kasih ke Ibu nya."


" Nanti Ibu saja yang menemani Yumna saat persalinan." Pinta Galang.


" Kok bisa aku, ya kamu. Kamu kan suami nya." Ketus Ibu.


" Aku pusing jika melihat darah."


" Apalagi aku." Jawap Ibu.


" Terus siapa yang akan menemani Yumna" Tanya Galang.


" Ya sudah, nanti Aku bilang sama Bude. Biar dia yang menemani istri mu melahirkan." Ucap Ibu dengan nada dingin.


Yumna yang berada di dalam kamar hanya bisa mendengar dua orang yang sedang berdebat.


Rasanya Yumna ingin lari, tapi kemana?


****************


 


Beberapa hari setelah itu..


Malam harinya,


Yumna sama sekali sangat sulit untuk tidur.


Perutnya kencang, dan sesekali merasakan kontraksi.


Setelah dirasa sakitnya makin kuat dan ada tanda² akan melahirkan.


Yumna meminta diantarkan ke rumah Bidan.


" Pelan², perutku sakit." Ucap Yumna saat mereka dalam perjalanan menuju rumah bidan.


Setelah sampai di rumah bidan. Pukul 01.30 dinihari.


" Sudah pembukaan 3, Disini saja ya nduk, tidak usah pulang." Ucap Bidan sambil menyuruh Yumna untuk berbaring ke kiri.


Sungguh kontraksi yang sangat nikmat, Yumna merasa mual dan selalu muntah.


Jangankan makanan, minum air putih atau teh hangat, hanya sampai pada tenggorokan.


" Bu bagaimana ini?" Ucap salah satu perawat saat bidan datang.


" Kenapa?"


" Ibu ini selalu muntah, diberi minum saja sudah muntah."

__ADS_1


" Kalau begitu di infus saja. Kalau tidak, nanti tidak punya tenaga. Di infus ya nduk." Ucap bidan sambil menatap Yumna iba.


Mungkin bidan itu merasa kasihan karena Yumna hanya seorang diri berada di ruangan itu. Galang entah ada dimana. Dia hanya sebentar melihat Yumna kemudian keluar dari ruangan.


Pukul 4.30, menjelang subuh.


Yumna merasakan sesuatu yang deras keluar dari jalan lahirnya.


" Mbak.. seperti nya saya mengompol." Ucap Yumna pada perawat yang duduk sambil memejamkan mata.


Perawat itu segera memeriksa Yumna.


" Bukan mbak, ini air ketubannya sudah pecah. Cepat panggil bu bidan."


Satu perawat terlihat berlari memanggil bidan.


" Sudah buka lengkap. Ayo nduk atur nafas." Bidan memberi aba aba.


Ceklek.. Bude Galang terlihat masuk.


" Nduk bude hanya bisa menemani kamu sampai pukul 5, karena bude harus memasak." Bisik bude yang di balas anggukan Yumna.


Yumna mulai mengejan..


" Salah nduk salah, bukan gitu mengejan nya."


" Ya ya bagus..."


" Terus nduk.."


"Yumna mengejan sekuat tenaga, hingga tanpa disadari jarum infus ditangan Yumna terlepas.


Lemas.


Yumna merasa sangat lemas.


" Aduh, infusnya lepas, cepat pasang lagi." teriak bidan.


" Nduk jangan tutup mata, buka mata." Teriak bidan saat melihat Yumna memejamkan mata.


" Nduk maaf ya, bude harus pulang, tidak apa² ya ditinggal?" Bisik bude yang kembali dibalas anggukan oleh Yumna.


Di ruangan itu, Yumna berjuang hidup dan mati seorang diri. Berusaha melahirkan bayi manis yang mungkin kehadirannya tidak di harapkan.


Namun bagi Yumna, dia adalah segalanya. Dia adalah kekuatan nya.


" Cepat panggil suaminya." Ucap bidan, saat melihat Yumna sudah kehabisan tenaga.


" Tidak mau bu."


" Cepat paksa."


Tak beberapa lama, Galang masuk.


Bidan langsung menyuruhnya untuk menopang badan Yumna, agar posisi kepala Yumna lebih tinggi dari perut.


Yumna yang sudah setengah sadar, tidak mendengar apa yang Galang bicarakan.


Deraian air mata keluar begitu saja, seolah ikut menjadi saksi perjuangan Yumna melahirkan buah hati pertama nya.


Dengan sisa tenaga terakhir, Yumna berhasil melahirkan bayi perempuan.


CUP..


Yumna merasa sebuah kecupan mendarat di keningnya.


Setelah tali pusar di potong, bayi dibawa ke meja yang tak jauh dari ranjang Yumna untuk di bersihkan.


" Bu, tolong keluar dulu, ayo keluar. Nanti saja kalau mau masuk." Ketus bidang, yang melihat Ibu Galang langsung masuk saat mendengar suara tangisan bayi.


Yumna melihat Ibu mertuanya langsung keluar.


" Sini sini.. Tidurkan bayi nya di sini. Aku sudah menata nya." Antusias Ibu Galang, saat Yumna dan bayi nya baru saja pulang dari rumah bidan.


" Assalamualaikum.."


" Mana bayi nya.."


" Iya, duh mana cucu nya."


" Hati² nduk, kalau duduk. Kau kan barusaja melahirkan."


" Dimana bayi nya..."


Para tetangga mulai ramai berdatangan, ingin melihat anggota baru keluarga Galang.


" Lo kok bayi nya disini, kasurnya kan rendah. Ibu nya kan masih masa pemulihan, memang nya bisa langsung berjongkok." Ucap salah satu tetangga yang datang melihat bayi yang di tidurkan di kamar depan.


Kamar Yumna dan Galang.


" Iya, bayi nya tidur denganku. Ibu nya biar tidur di kamar tengah, kasur nya tinggi." Ucap Ibu Galang.


" Lo apa di susu formula?, tidak asi ya." ucap tetangga yang lain.


" Ya kalau nangis aja, aku kasih ke ibunya. Nanti ya, tidur denganku lagi."


" Akhirnya, keinginan mu tercapai, ingin cucu perempuan." Ucap tetangga lagi.


" Iya, aku sangat senang."


Sungguh rasa nya begitu menyakitkan bagi Yumna, masih dalam kandungan seperti tidak di harapkan. Sudah lahir, ingin menguasai bahkan Yumna tidak memiliki kesempatan menggendong putrinya.


Yumna hanya bisa duduk dan menyaksikan para tetangga yang berganti datang untuk melihat Putrinya.


Malam hari ...


" Yah, kasur bayi nya tarok disini saja. Jadi, setelah minum asi, aku bisa langsung meletakkannya." Ucap Yumna pada Galang saat dirinya tengah memberi ASI di kamar.


" Memangnya kalau tidur didepan kenapa?" Tanya Galang.


" Ya gak apa apa sih. Cuma biar aku lebih gampang memberinya asi."


Tanpa berkata lagi, Galang segera keluar dari kamar untuk mengambil kasur bayi yang ada di kamar depan.


" Lo, mau di bawa kemana kasurnya?" Tanya Ibu, saat Galang mengambil kasur bayi dari kamar depan.


" Biarkan bayi nya tidur dengan Ibunya." Suara galang.


Bayi cantik itu diberi nama, Akifa Ilmi Putri.


Dan Tiga hari sudah usia bayi Ilmi.


Ilmi sedikit rewel saat malam. Mungkin imbas dari ASI yang belum keluar sepenuhnya.

__ADS_1


" Di susu formula saja kenapa?, Seperti Risa." Ucap Ibu saat melihat bayi Ilmi terus menangis.


" Tidak apa², ini lumrah, karena baru menyusui 3 hari. Nanti asi juga jadi melimpah jika sering disusu kan pada bayi." Ucap kader posyandu yang dipanggil untuk membantu memandikan bayi.


" Heeeeeeh!, ya lama kalau nunggu asi nya deras. Bisa² dia kelaparan" Ucap Ibu sambil berlalu.


" Tidak apa, jangan menyerah. Terus berikan asi pada anakmu." Ucap kader pada Yumna.


Berbagai jamu, kacang²an dan daun²nan sudah Yumna makan, demi bisa mempercepat asi.


Hingga Tante Yumna menyarankan untuk membeli kapsul di apotik.


" Sudah belikan saja susu formula. Kasihan anakmu." Ucap Ibu kepada Galang.


" Kenapa sih kalau di susu formula?" Ketus Galang. Yumna hanya diam.


" Di susu formula saja, sampai asi mu keluar." Ucap Galang lagi.


" Terserah." Ucap Yumna tanpa melihat ke arah Galang.


Beberapa saat kemudian....


Galang kembali dengan membawa botol susu dan satu kotak besar ukuran 1kg untuk Ilmi.


" Ini berikan pada nya." Ucap Galang.


Yumna pun mencoba memberikan botol yang sudah berisi susu, namun bayi nya tidak bisa menyedot dari botol.


Hingga terpaksa menggunakan sendok.


Keesokan harinya....


" Badan nya kemana merah²." Ucap kader saat akan memandikan bayi.


" Tidak tau bu."


" Mungkin alergi sabun, coba ganti yang lain."


" Ini bu.." Yumna memberikan merk sabun batang bayi.


Beberapa hari kemudian, badan Ilmi masih banyak bercak merah.


" Masih merah² badan nya. padahal sudah diganti sabun, ini juga sudah 2 hari."


" Apa karena saya memberi nya susu S*M ?" ucap Yumna.


" Lo, kenapa diberi susu formula?"


" Di suruh. Saya bisa apa bu, saya disini hanya seorang menantu yang pendapat nya tidak pernah didengar." Lirih Yumna sambil sedikit terisak.


Bidan menguatkan Yumna, lalu mengatakan pada semua jika kemungkinan Ilmi alergi susu formula.


Setelah berhenti diberi susu formula, ASI Yumna melimpah.


Hal itu tentu saja membuat Yumna merasa senang.


Setelah Puput pusar. Galang memutuskan untuk kembali ke Bali.


Dua minggu berlalu....


" Bu, kapan acara selapan Ilmi?" tanya Yumna sopan.


" Kenapa?, mau kau bawa kemana dia?" Ibu dengan nada dingin.


" Aku ingin membawa nya pulang ke rumahku, untuk mengurus pindah KTP agar bisa mengurus akte."


" Oh, Satu minggu lagi tidak apa². Ya sudah aku mau ke dapur masak. Kalau duduk saja, ya tidak akan matang lauk untuk makan." Dingin ibu, kemudian berlalu meninggalkan Yumna.


Ibu tahu, itu adalah sindiran bagi Yumna, karena selama melahirkan. Yumna belum bisa memasak.


Dua hari setelah acara selapan.


Yumna membawa bayi Ilmi pulang ke rumahnya, dan mulai mengurus berkas untuk pindah KTP.


" Sampai kapan kau ada disana?" Ketus Galang dalam sambungan telpon.


" Menunggu berkas ku selesai."


" Kapan?"


" Perkiraan 1 bulan lagi.".


" Lalu kau akan di sana selama sebulan. Ibu ku sendirian di rumah. Apa jau tidak punya otak. Pulang dan tinggal dirumah mu seenak jidat saja." Ketus Galang.


" Lalu apa salahnya aku ada disini?, Adik ku juga tidak ada yang merawat."


" Dasar kau istri tidak becus. Selalu membantah apa kata suami. Mau jadi istri durhaka kamu ha?, gak ada bakti nya sama sekali."


Tut.


Telpon di matikan sepihak.


Yumna mulai terbiasa dengan sikap ketus dan galak Galang saat dirinya pulang ke rumah sendiri.


Hinaan, cacian. Sudah menjadi makanan sehari-hari saat Yumna pulang ke rumah nya sendiri.


Berbeda dengan saat Yumna ada dirumah Galang. Dia tidak pernah marah ataupun menunjukkan sikap seperti saat Yumna berada dirumah nya.


Sungguh sesuatu yang sangat sulit dijelaskan.


Dua Minggu Yumna berada dirumah itu. Dan hari ini Yumna memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Galang.


Dan benar saja, sikap Galang kembali melunak setelah Yumna pulang ke rumah nya.


Drrrttt drrrttt drrrttt...


Panggilan dari Ibu Yumna.


Yumna yang sudah tidak kuasa menahan kecewa, akhirnya menceritakan perihal Galang yang selalu bersikap buruk saat Yumna pulang kerumahnya.


" Kamu yang sabar ya. Tunggu Mama pulang. Kamu juga sih terlalu terburu-buru menikah dengan orang yang belum sepenuhnya kamu kenal." Ucap Ibu.


Yumna lalu menyadari kesalahan terbesar adalah terlalu cepat menerima lamaran Galang.


"Seandainya waktu bisa diputar kembali". Lirih Yumna yang mulai menyesali keputusannya menikah dengan Galang.


" Oek....oek ..."


Yumna kembali terbangun saat mendengar suara rengekan dari Akifa.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2