Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Pilihan sulit


__ADS_3

Keesokan paginya nya, saat Yumna pergi ke pasar, dia menyempatkan diri untuk membeli Testpack di apotik yang letaknya tidak jauh dari pasar.


Sesampainya di rumah, Yumna menyimpan alat itu, dia akan menggunakan nya di keesokan harinya.


Yumna menyimpan baik baik alat itu agar Galang tidak menemukan nya.


Setelah selesai memasak dan menyuapi Ilmi. Yumna memutuskan untuk mandi.


Yumna sedikit terkejut karena saat dia BAK, airnya berwarna hijau ke biruan.


" Ini pasti karena aku telah meminum berbagai macam jenis jamu." Lirih Yumna.


Malam harinya, Galang meminta haknya, namun Yumna berasal jika perutnya sakit, mungkin pertanda datang bulan. Sebenarnya Yumna menolak karena dia masih was was perihal dirinya yang masih belum datang bulan.


Malam itu, Yumna memutuskan untuk tidur cepat agar bisa bangun pagi untuk mencoba menggunakan Testpack.


...----------------...


Pagi itu, Yumna bangun dan langsung menuju kamar mandi. Warna BAK Yumna masih sama seperti warna sebelumnya.


Setelah mencelupkan alat tes kehamilan itu, Yumna menunggu dengan penuh ketegangan sambil berharap garis akan menunjukkan garis satu.


" Garis satu Garis satu."


Nina terus berdoa agar alat itu tidak menunjukkan garis dua.


Namun harapan tinggalah Harapan. Garis itu menunjukkan garis dua yang sangat terang.


" Tidak!!!"


Yumna memejamkan mata, lalu memasukkan alat itu lagi ke dalam bungkus nya, dan menyimpannya di tempat yang tidak dapat ditemukan oleh Galang.


" Testpack nya pasti salah. Pasti rusak karena aku terlalu banyak minum jamu. " Lirih Yumna sepanjang dia memasak. Bahkan sepanjang hari Yumna terus berpikir bahwa hasil tes nya pasti salah.


Hari berikutnya, Yumna mencoba mengetes nya kembali. Dan hasilnya tetap sama. Garis dua.


" TIDAK. Jangan."


Yumna menangis sambil memukul-mukul perutnya sendiri, dia berlompatan di kamar mandi.


Setelah cukup lama Yumna di kamar mandi, dia segera keluar, mengambil ponsel dan segera menghubungi Farah.


" Halo Farah."


" Ada apa kak?"


" Aku hamil."


" Astaga, selamat ya kak."


" Tidak. Aku tidak ingin kehamilan ini. Kau harus membantu ku. Aku ingin obat yang pernah kau bilang dulu "


" Baiklah, aku akan menghubungi teman ku dulu."


" Tapi, aku tidak punya uang sebanyak itu, untuk membeli obatnya."


" Kakak pikirkan saja dulu dengan benar. Jika sudah yakin tidak menginginkannya. Maka hubungi aku. Aku akan membelikan nya untuk kakak. Tapi dengan syarat kakak sudah yakin tidak menginginkan nya."


" Kamu serius ingin membelikan nya untuk ku?"

__ADS_1


" Ya, aku juga kasihan sama kakak jika hamil lagi, sementara sikap suami masih belum sepenuhnya menyayangi kakak."


" Baiklah kalau begitu."


" Iya, pikirkan baik baik dan dengan matang sebelum membuat keputusan." Ucap Farah sebelum menutup panggilan.


Yumna mematikan telepon. Dia kembali pada aktivitas nya. Memasak, membersihkan rumah serta merawat Ilmi. Yumna sedikit tersentuh dengan ucapan Farah.


Walaupun Farah dan Yumna hanya saudara sepupu, tapi kedekatan mereka seperti saudara kandung.


" Sudah datang bulan belum?" Tanya Galang.


" Belum." Jawab Yumna yang tidak menoleh ke arah Galang, karena dia sedang menyuapi Ilmi.


" Tidak kau coba untuk di Testpack?" Tanya Galang.


" Sudah, garis satu." Ucap Yumna berbohong. Dia masih belum siap untuk mengatakan hasil yang sebenarnya.


" Baguslah. Berarti karena haid tidak lancar." Ucap Galang.


" Kalau misalnya garis 2 gimana?"


" Ya, kalau bisa jangan karena aku sendiri tidak siap untuk memiliki anak lagi. Kau tahu kan, ekonomi kita pas-pasan tunggulah saat kita mempunyai tabungan baru kita mempunyai anak lagi." Ucap Galang.


Setelah sarapan Galang meninggalkan rumah untuk mulai bekerja kembali.


Dan tidak beberapa lama kemudian Eka datang berkunjung ke rumah Yumna.


" ASSALAMUALAIKUM."


" Waalaikumsalam, Bunda ada adek Asril. Asril sini ayo turun." Ucap Ilmi dengan penuh semangat.


" Bunda masih mandi." Ucap Ilmi.


Setelah cukup lama Eka menunggu akhirnya Yumna selesai mandi dan berganti pakaian.


" Hai, darimana?" Tanya Yumna basa-basi.


" Dari masjid habis setor soal ulangan untuk anak-anak. Daripada di rumah sendiri, jadi aku mampir ke sini.,"


" Oh."


Yumna hanya ber'O'ria sambil mengoles wajahnya dengan make up tipis.


" Ohya, gimana?"


Yumna yang tahu maksud dari pertanyaan Eka langsung mengambil sebuah tespek yang disembunyikan di dapur, lalu memberikannya kepada Eka.


" Wah selamat yaa." Ucap Eka saat mengetahui bahwa tespek itu garis 2.


Yumna terdiam. Dia terlihat begitu sedih.


" Tapi aku tidak mau hamil." Ucap Yumna.


" Kenapa?" Tanya Eka sambil menatap Yumna.


" Kamu tahu sendiri kan Galang seperti apa?, bagaimana aku bisa menerima kehamilan ini jika Galang masih bersikap seperti itu kepadaku. Bahkan sebenarnya rumah tangga ku sudah sangat retak. Ibarat sebuah rumah itu hanya tinggal robohnya saja."


" Iya sih, tapi kan anak itu rezeki."

__ADS_1


" Aku tahu, karena itu aku mencoba untuk menghilangkannya dariku sebelum dia semakin besar. Aku sudah minum berbagai macam jenis jamu. Tapi garis nya tetap ada dua."


" Jangan ah." Cegah Eka.


" Kenapa?"


" Apapun yang terjadi antara kamu dan suamimu, itu bukan salah dari janin yang kamu kandung. Lihat saja walaupun kamu sudah memberinya jamu abcd tapi dia tetap aja kan?"


" Hmmm." Yumna berdehem, dalam hati dia membenarkan apa yang baru saja Eka katakan.


" Bayangkan, bagaimana perasaan janin itu saat mengetahui dia tidak diharapkan oleh ibunya."


Yumna terdiam dan menatap Eka. Tiba tiba hatinya begitu sakit mendengar perkataan Eka.


" Lebih baik jangan, siapa tahu anak itu akan membawa perubahan pada sikap Galang. Merubahnya menjadi suami yang lebih baik dan bertanggung jawab pada keluarga."


" Berapa persen kemungkinan perubahan itu?" Tanya Yumna.


" Ya aku tidak tahu pasti, yang jelas berharap boleh. Sebaring berharap kita juga berdoa."


" Entahlah. Aku tidak yakin karena aku berkaca dari dirimu. Dan aku juga sudah memberi tahu jika watak itu tidak akan pernah bisa berubah sampai kapanpun." Ucap Yumna.


Hening.


Mereka sama sama terdiam. Yumna dan Eka melihat Azriel dan Ilmi yang sedang asyik bermain.


" Sudah pertahanan saja." Ucap eka setelah cukup lama mereka saling diam.


" Tapi.."


" Yumna, janin itu tidak bersalah. Kita sudah banyak dosa, jangan menambah dosa dengan membunuh kehidupan yang bahkan belum lahir ke dunia ini." Terang Eka.


Yumna terdiam dan larut dalam pemikirannya sendiri.


Apa yang harus aku lakukan Tuhan, di sisi lain aku juga tidak ingin menggugurkan kandunganku. Tapi di sisi lain aku belum siap karena sikap Galang yang masih tidak berubah. Batin Yumna.


" Pikirkan lagi sebelum kamu melakukan sesuatu yang mungkin akan kamu sesali di kemudian hari." Ucap Eka sebelum akhirnya dia pulang.


" Iya, terima kasih saran nya."


" Tapi Aku sungguh berharap kamu akan mempertahankan kehamilan ini."


Yumna tersenyum sebelum akhirnya mengantar kepulangan Eka.


" Apa yang harus aku lakukan...."


...----------------...


...----------------...


......................


...----------------...


......................


...----------------...


......................

__ADS_1


__ADS_2