Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Lanjutan


__ADS_3

" Halo kak?" Arumi dalam sambungan telepon.


" Iya ada apa?"


" Aku sedang binggung."


" kenapa?"


" Kakak tahu kan jika Radit punya rumah di perumahan dan akan ditempati saat kami menikah?"


" Iya terus?"


" Kakak tahu kan jika rumah di perumahan umumnya hanya memiliki dua kamar."


" Iya." Yumna masih senantiasa mendengarkan dan menunggu apa yang akan adiknya katakan.


" Jadi gini. waktu Radit datang dan berniat untuk serius kepadaku. Ibu mengatakan bahwa Ibu tidak mempermasalahkan siapapun yang akan menjadi suamiku. Ibu juga mengatakan bahwa saat ini Ibu ikut aku."


" Oke."


" Nah masalahnya sekarang adalah, jika aku menikah Ibu bagaimana?"


" Bagaimana gimana maksudnya?"


" Gini, ibu kan ikut aku. Sementara kakek ikut Ibu. Otomatis jika aku pindah dari rumah kontrakan itu mereka akan ikut bersamaku karena di sini akulah yang menjadi tulang punggung keluarga."


" Lalu?"


" Jika mereka ikut tinggal di rumah yang dibeli oleh Radit secara kredit itu. Aku akan tidur di mana sementara kamarnya kan hanya ada dua. Ruangan lain juga kecil. Aku binggung."


" Tunggu, Bukankah kamu dulu mengatakan jika kalian menikah adik akan membawamu ke kota P?"


" Tidak, Radit tidak jadi membawaku ke sana. Dia akan pulang seminggu sekali."


" Jadi maksudnya kamu akan tinggal di rumah itu sendirian?. Apa kamu berani? "


" Kalau cuma untuk 5 hari aku berani. Dan ya, Mama Radit juga pernah mengatakan jika suatu saat kami sudah menikah sebisa mungkin harus tinggal berdua tanpa ada campur tangan dari orang tua masing-masing pihak."


" Jika Aku menikah Bagaimana dengan ibu dan Kakek apakah mereka akan tetap tinggal di sana atau tidak. Karena aku tidak mungkin membawa keduanya pulang dan menempati rumah Radit. Tapi jika mereka tetap tinggal di rumah kontrakan itu dan ketika aku sudah tidak bekerja mereka akan mendapat pemasukan dari mana untuk makan sehari-hari. Aku benar-benar bingung kak."


" Hmmm.." Yunma menghela nafas panjang. Tanpa terasa air mata menetes.


" Aku binggung, aku dilema. Aku harus bagaimana Karena aku sudah mengatakan kepada Radit jika suatu saat aku hamil maka aku akan berhenti bekerja dan akan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga."


" Mama juga sih, kenapa dari dulu saat baru pulang dari negeri Jiran tidak langsung ke Bali dan membuka usaha. Jika saja saat itu lama menuruti permintaan kakak untuk cepat membuat usaha mungkin sekarang mama mempunyai penghasilan sendiri. Aku bukan tidak ikhlas dalam memberi makan ibu. Tapi Aku sungguh bingung karena radio sendiri juga ingin kita hanya tinggal berdua tanpa ada campur tangan dari orang tua masing-masing."Ucap Arumi panjang lebar


" Begini, sekarang kamu katakan kepada Radit bahwa posisi kamu di keluarga adalah tulang punggung. Kamu harus bisa menceritakan semuanya kepada Radit. Kita lihat Bagaimana respon Radih terhadap keluarga kita. Jika Radit tidak memberikan solusi. Itu artinya Radit sama saja dengan Galang. Yang tidak mempedulikan keluarga kita."


" Begitu ya?"


" Arumi dengar. Aku sudah mendapatkan pasangan yang salah yang tidak peduli kepada keluarga kita. Janganlah kamu juga mendapat pasangan seperti aku. Cukup aku saja yang tidak dapat membahagiakan ibu jangan kamu. Percaya atau tidak tapi harapan ibu sekarang lebih besar kepadamu."


" Baiklah, aku akan coba merundingkan masalah ini dengan Radit."


Panggilan berakhir, Yumna menghapus air matanya dan berdoa agar Arumi mendapatkan pria yang jauh lebih baik dan peduli kepada keluarganya.


Namun Yumna harus menelaah rasa kecewa karena Arumi mengirimkan screenshot percakapannya dengan Radit.


" Ya Allah, Kenapa kehidupan keluargaku serumit ini." Ucap Yumna sambil kembali mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Bagaimana Yumna tidak menangis, dalam screenshot percakapan Arumi dengan Radit jelas jelas mengatakan bahwa Radit juga tidak ingin ada campur tangan dari orang tua saat mereka sudah menikah kelak. Bahkan Radit dengan sombongnya mengatakan berapa modal untuk membuka usaha untuk Ibu.


(Jika hanya 10 juta aku bisa memberikan modalnya asalkan modal itu benar-benar dipakai untuk usaha dan tidak untuk yang lainnya. Karena aku sudah trauma memberikan modal dua kali kepada keluargaku namun tidak ada hasilnya karena ibuku menggunakan uang modal yang aku berikan untuk kebutuhan pribadinya). Pesan dari Radit.


Pagi harinya, Novi datang karena Galang dan Joko akan pergi lomba burung.


Yumna pun menceritakan tentang respon dari pacar Arumi. Karena sebelumnya Yumna juga bercerita tentang dilema adiknya itu kepada Novi.


" huh kalau begitu Radit tidak ada bedanya dengan Galang yang tidak peduli pada keluarga mu." Ucap Novi.


" Ada bedanya. Bedanya Radit Tajir dan banyak uang sedang Galang tidak hahah."


" Iya ya." Ucap Novi


Yumna juga ingat saat Arumi mengirimkan screenshot percakapannya dengan Radit yang mengatakan bahwa Arumi tidak boleh memakai koper milik Yumna, padahal Yumna sudah tidak menggunakan koper itu lagi sehingga jumlah memberikannya kepada Arumi yang sering healing bersama dengan seluruh pegawai tempat nya bekerja. Dengan dahil bahwa Arumi tidak boleh merepotkan orang lain. Dan langsung memerintahkan Arumi agar membeli koper baru yang harganya sangat fantastis menurut Yumna.


" Ya ampun, Kalau begini aku jadi Big No jika Arumi jadi dengan Radit." Ucap Novi saat Yumna memperlihatkan isi dari percakapan Radit yang mengatakan bahwa Arumi tidak boleh memakai koper milik Yumna.


" Hmm, aku juga. Radit tanpa sadar sudah mengajarkan Arumi untuk menjadi materialistis dan selalu membeli barang kebutuhannya. Radit mengajarkan Arumi untuk selalu melihat ke atas, bukan mengajari Arumi untuk memandang ke bawah."


...----------------...


Sore hari, seperti biasa Yumna yang sudah mengemas rumah dan juga memasak untuk makan malam memilih untuk duduk bersantai di depan pintu rumah ibu kos.


Dengan memangku Akifa, Yumna memikirkan kembali bagaimana caranya agar dia dapat memenuhi kebutuhannya dan juga kedua putrinya tanpa harus menunggu uang dari Galang.


" Dimana aku bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu agar aku juga mendapat penghasilan dan bisa mencukupi kebutuhan ku dan juga kedua Putri ku." Lirih Yumna.


Ini adalah kesekian hari yang membuat Yumna pusing karena pertengkaran dengan Galang perihal uang.


Tadi siang Yumna bertanya baik-baik kepada Galang apakah dia mempunyai uang untuk membayar iuran bulanan tempat mengaji Ilmi.


" Aku tidak punya uang, aku harus bekerja dengan model bagaimana lagi agar aku bisa mendapatkan uang dengan cepat. Sekarang ini sudah akhir bulan. Aku bahkan tidak mempunyai cukup uang untuk membayar kos. Belum lagi jika memikirkan uang sangu untuk pulang lebaran. Setidaknya kita harus punya uang 3 juta untuk bisa pulang. Jika kita tidak punya uang sebanyak itu maka, Jangan berharap untuk bisa pulang. Karena sepertinya sampai kapanpun juga kita tidak akan pernah bisa pulang jika hanya mengandalkan penghasilan dari bekerja ku." Ucap Galang.


Waktu itu, Yumna hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataan dari Galang. Karena jika Yumna menjawab, maka itu akan menjadi sebuah pertengkaran lagi.


Dan Galang pasti akan kembali menyalahkan Yumna yang tidak mau bekerja membantu keuangan keluarga.


Yumna juga teringat perkataan dari ibu mertua saat Galang melakukan video call.


" Ya sudah buk, aku matikan ya karena jika terlalu lama nanti kouta dari Bibi habis."


" Tidak akan habis le, Bibi mu sekarang sudah bekerja di Mas Bimo."


" Lo mulai kapan bekerja?"


" Belum ada 1 bulan sih, tapi setidaknya kan enak jika Bibi mu juga ikut bekerja jadi ada jaga-jaga jika membutuhkan biaya mendadak untuk sekolah, enak tidak menunggu penghasilan dari suami nya. Punya uang sendiri, bisa beli apa apa sendiri." Ucap Mertua dengan nada keras.


Yumna tahu jika Ibu mertuanya sengaja berkata demikian agar Yumna juga mendengarkan.


Sabar Yumna, sabar jangan sampai terbawa suasana. Batin Yumna yang menyemangati diri sendiri.


Yumna lalu teringat perkataan dari mbak Ida.


Mbak Ida adalah saudara sepupu dari Ibu Yumna. Tapi Yumna lebih nyaman manggil sepupu dari ibunya itu dengan sebutan kakak.


Mbak Ida memberitahu Yumna untuk bertekad bekerja di luar negeri meninggalkan Galang, bangun dari keterpurukan dan bangkit dengan tangan kakinya sendiri untuk menghidupi kedua putrinya.


" Tapi aku takut jika kedua anak-anakku aku titipkan kepada ibuku dan keluarga Galang akan mengambil nya." Ucap Yumna.

__ADS_1


" Tidak perlu takut dan khawatir. Jika kamu sukses jika kamu bisa mau punya penghasilan sendiri dari kerja keras maka kedua anakmu akan mencarimu." Ucap Mbak Ida saat itu.


" Tuhan berikanlah aku petunjuk apa yang harus aku lakukan Haruskah aku bekerja ke luar negeri dan meninggalkan kedua Putri putriku?. Jika aku melakukan itu maka sama saja kejadian dulu yang menimpa ku akan terulang kembali kepada anak-anakku. Tapi jika aku tidak bertekad untuk bekerja ke luar negeri maka hidupku akan tetap seperti ini. Tuhan pilihan ini sungguh membuatku dilema, di satu sisi aku juga ingin bekerja sehingga mendapatkan uang agar aku bisa memenuhi kebutuhan ku dan juga kedua Putri ku. Tapi di sisi lain aku juga tidak ingin kejadian yang dulu menimpa terjadi kepada kedua putriku." Lirih Yumna dalam doa.


Malam itu, saat semuanya terlelap termasuk Galang. Yumna terbangun di seperempat malamnya dan mengadu kepada sang maha pencipta, berharap dia akan mendapatkan petunjuk dari Tuhan.


.....


Pagi hari nya...


Yumna sedang berdiri didepan cermin, memandangi wajahnya yang sudah terlihat tua. Padahal usianya baru memasuki 28 tahun. Tapi jika dibandingkan dengan mama Elsa yang sudah berusia 38 tahun Yumna justru terlihat lebih tua.


Mata Yumna berkaca-kaca menyadari bahwa dirinya kini tidak dapat untuk merawat wajahnya seperti dulu kala, sehingga wajah nya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.


" Bolehkah aku marah karena aku tidak dapat mempercantik diri ku sendiri. Jangankan untuk mempercantik diri, untuk makan saja masih kurang-kurang. Apa aku yang kurang bersyukur atas pemberian dari suamiku apakah memang suamiku yang tidak mengerti tentang kebutuhan rumah tangga dan juga kebutuhan seorang istri untuk dirinya sendiri."


Yumna lalu memejamkan mata mengingat percakapannya dengan Galang saat dia meminta sebuah gamis.


" Ya beli saja, bukankah aku selalu memberimu uang." Ucap Galang saat Yumna memberi tahu tentang keinginannya untuk membeli gamis di aplikasi berwarna orange.


" Iya, tapi kan saat kamu memberikan aku uang kamu tidak berkata apa-apa bukankah itu artinya orang itu untuk belanja membeli kebutuhan sehari-hari."


" Ya itu saja dibuat beli."


" Lalu jika kebutuhan habis uang apa yang akan dipakai?" Tanya Yumna.


" Ya makan baju gamis itu, sama halnya seperti saat kamu menginginkan sebuah lemari. Beli saja, namun saat beras dan lain-lainnya habis maka jangan meminta uang pada aku tapi mintalah pada lemari yang telah kamu beli. Atau kemarinya saja di masak biar bisa kenyang." Ucap Galang.


" Ya aku udah tahu karena itu ketika kamu memberi uang aku masih bersyukur untuk membeli apa yang aku inginkan."


" Ya sudah? itu artinya kamu masih punya pikiran jika tidak ingin menghabiskan uang aku berikan untuk membeli barang yang tidak perlu."


" Tapi aku juga butuh gamis karena banyak gamisku yang sudah jelek dan usang bahkan beberapa diantaranya sudah tidak layak pakai."


" Bisa enggak sih, sekali-kali kamu tidak meminta uang dari untuk membeli apa yang kamu inginkan."


" Lo, aku kan istri mu. Kamu suami aku, jika aku tidak meminta uang dari dirimu lantas aku meminta kepada siapa?."


" Ya kepada siapa gitu."


" Jangan aneh. Tidak mungkin kan aku meminta uang kepada tetangga sebelah."


" Kenapa tidak kau coba siapa tahu mereka akan memberinya. Atau punya alah inisiatif untuk menjual apa kek atau bekerja pekerjaan apa kek. Jadi kamu bisa membeli apapun tanpa meminta dari ku."


Percaya atau tidak, aku rasa tidak ada wanita yang mau mendengar jawaban seperti itu. Bukannya menjawab dengan pertanyaan yang dapat menyenangkan hati Yumna, Galang justru menjawabnya seakan memberitahu kepada Yumna untuk tidak meminta apapun darinya.


" Sabar ya Yumna, tekuni dunia baru yang sedang kau jalani. Semangat untuk terus berkarya, jangan patah semangat walaupun bilang sendiri tidak mendukung untuk menulis Karena Dia mengira menulis hanyalah omong kosong dan tidak menghasilkan apapun. Kau harus bisa buktikan kepada bilang bahwa kau juga bisa menghasilkan uang dari menulis. Ya walaupun hasil nya tidak seberapa, tetapi bisa untuk membeli apa yang tidak bisa Galang berikan kepada mu." Ucap Yumna yang menyemangati dirinya sendiri.


Sedih memang saat mengetahui bahwa suami sendiri tidak pernah mendukung atau memberi semangat kepada diri. Tapi Yumna harus tetap bersemangat untuk bisa menghasilkan uang dari menulis. Walaupun Yumna sendiri tidak tahu kapan dia bisa merasakan penghasilan dari menulis.


Saat ini yang bisa anda lakukan hanyalah terus menulis dan berkarya.


" Jika rezekiku dari menulis maka aku akan mendapatkannya walaupun aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Sekarang yang harus aku lakukan hanyalah terus bersemangat dan berkarya. Ya walaupun aku tahu karena aku tidak sebagus karya yang lain sehingga tidak ada pembaca yang mampir hehe.. Tapi aku yakin jika jalan menuju sukses itu tidaklah mudah. Jadi aku harus tetap bersemangat. Semangat untuk diriku sendiri." Ucap Yumna sambil tersenyum.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2