Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Tak seindah harapan


__ADS_3

" Eh gimana, jadi pulang gak lebaran?" Tanya Novi.


" Sepertinya enggak." Ucap Yumna saat Novi tengah bermain ke rumah nya.


" Memangnya Galang bilang kek gimana?"


" Ya bilang kalau gak pulang, travel aja udah satu juta. Belum untuk makan saat disana. Ditambah pendaftaran sekolah Ilmi dimulai awal bulan."


" Lalu?"


" Ya gak pulang mungkin, beberapa penghuni kos juga gak pulang, jadi aku masih ada teman saat lebaran." Ucap Yumna.


" Kakak iparmu pulang?"


" Gak tau, katanya sih enggak. Tapi gak tahu lagi. Soalnya kabar ujian anaknya masih simpang-siur." Jawap Yumna.


...Flash back on...


" Hari raya kurang berapa minggu nda?" Tanya Galang.


" Kira kira 2 minggu lagi." Jawap Yumna sambil menyuapi Akifa.


" Tabungan gak punya, alamat gak bisa pulang tahun ini." Ucap Galang.


" Ya gak pulang wes." Ucap Yumna.


Yumna juga tidak mendapatkan suntikan dana lebaran, jadi dia juga tidak berharap bisa pulang tahun ini, walaupun hati nya begitu ingin pulang dan merayakan lebaran bersama ibu dan adiknya.


...Flash back off...


Beberapa hari setelah nya. Mama Elsa pulang kampung.


Yumna tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Dia begitu ingin bisa pulang dan menikmati suasana puasa di kampung halamannya.

__ADS_1


" Loh, Akifa gak pulang?" Tanya kakak ipar saat Yumna berada diluar ketika Mama Elsa berpamitan kepada Yumna.


" Enggak."


" Oh ya sama aku, aku juga enggak pulang. Itu mau ujian. Pulang habis lebaran aja enak " Ucap kakak ipar.


" Iya.."


Yumna kemudian masuk ke dalam kamar. Mencoba menghubungi sang Ayah, mana tahu sang ayah akan memberinya pinjaman uang agar Yumna bisa pulang.


" Nak, kamu tidak usah pinjam. Aku akan menanggung biaya travel pulang pergi kamu. Bahkan selama kamu di Jawa, aku juga akan menanggung biaya makan kamu dan anakmu. Asal. Kamu pulang nya ke Sumberbaru. Adikmu Husna kasihan. Kamu tahu kan ibunya sudah tidak ada. Aku kasihan kalau dia sendirian saat lebaran. Aku tidak bisa pulang karena masih ditutup."


" Tapi kan aku ada suami. Aku pasti pulang ke Lumajang."


" Ya kalau kamu pulang ke rumah suami. Husna bawa juga. Husna ada sepeda motor. Jadi nanti Ilmi sama Ayahnya. Kamu gonceng Husna adik kamu."


" Ya masak aku Gendong Akifa yang masih berusia 15 bulan." Pekik Yumna.


" Ya kalau begitu kamu tinggal di rumah selama beberapa hari. Minimal 3 hari sebelum hari raya, dan 3 hari setelah hari raya. Setelah itu terserah kamu mau kemana, aku tidak peduli. Aku hanya peduli sama lebaran , Husna ada yang menemani." Ucap Bapak.


" Ya, bilang sama Suami kamu ya. Dan tenang saja. Aku pasti akan membayar travel untuk pulang pergi kamu." Ucap Ayah Yumna sebelum Yumna memutuskan untuk mengakhiri panggilan.


Yumna mulai putus asa.


Semakin hari, dia merasa bahwa kebahagiaan semakin berjalan menjauh. Tidak ada yang bisa Yumna lakukan karena beberapa saudara yang tidak berkenan memberi pinjaman uang kepada Yumna.


Yumna seakan tidak mempunyai harapan kepada siapapun lagi.


" Hmm, Aku akan mencoba untuk tidak lagi mengeluh. Akan aku menjalani apa adanya. Ku anggap penebusan dosa. Walaupun Aku tidak tahu dosa apa yang telah aku perbuat sehingga hidupku menjadi begitu rumit seperti ini." Ucap Yumna seorang diri.


Yumna mendengar bahwa seseorang akan mendapatkan pasangan sesuai dengan cermin dan dirinya sendiri.


Jadi Yumna berfikir mungkin dia punya kesalahan di masa lalu sehingga mendapatkan suami seperti Galang, yang egois keras kepala dan juga selalu ingin menang sendiri dalam segala hal.

__ADS_1


Walaupun semua saudara Ibu Yumna mengatakan jika yang terjadi pada Yumna sama seperti yang terjadi pada ibunya saat nikah dengan ayah Yumna dulu.


" Apakah ini karma dari orangtua ku?" Lirih Yumna.


Yumna juga sempat mengatakan keluh kesah terhadap suaminya kepada sang ayah. Dan Yumna juga mengatakan bahwa yang terjadi padanya saat ini karena ulah sang ayah di masa lalu. Namun, sang ayah berdalil dan mengatakan dia tidak pernah berlaku begitu.


" Aku tidak pernah menjatah uang belanja kepada ibumu. Dan Aku sangat menyayangi ibumu walaupun aku kan dua katanya tapi sungguh aku tidak ingin kehilangan dirinya. Aku juga tidak melarangnya jika ingin pulang ke rumah." Begitu kira-kira yang diucapkan oleh sang ayah.


Namun-hal itu bertentangan dengan apa yang didapatkan Yumna saat dia menceritakan tentang rumah tangga nya kepada saudara sang ibu.


" Sabar ya, yang kamu alami mengatasi sepatu yang ibumu alami dulu. Cuma bedanya setelah melahirkan adikmu ibumu berani dan memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Setiap kami ibumu datang berkunjung ke sini ibumu selalu membawa sedikit demi sedikit pakaiannya. Lalu, saat pakaian ibu mau tidak lagi tersisa di rumah Ibu mertuanya, ibumu lantas langsung penolak saat ayahmu menjemputnya hendak membawanya kembali pulang."


" Seandainya aku punya keberanian seperti ibu" lirih Yumna.


" Kenapa tidak kau coba untuk pergi saja dari Galang, siapa tahu setelah ini dia akan berubah." Ucap teman Yumna


" Entahlah, terkadang saat dia membuatku merasa sangat terluka Aku ingin pergi di hari itu juga. Namun saat ini aku sudah membara tiba-tiba rasa kasihan muncul dalam diriku. Aku tidak tega jika meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini. Dulu saat kami menikah perekonomian kami begitu baik hingga mungkin berada di atas garis hijau. Tapi sekarang perekonomian kami begitu menurun drastis, aku sangat tidak tega jika meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Aku berpikir jika aku menyerah karena keadaan ekonomi yang seperti ini. Itu artinya walaupun aku menikah 5 kali aku tidak akan bisa bertahan dalam keadaan jika Tuhan mengujiku dengan ekonomi lagi."


" Tapi untuk apa bertahan jika kau tidak merasakan kebahagiaan lagi."


" Aku tahu, tapi di sisi lain aku juga tidak ingin kedua putriku mengalami hal yang sama seperti yang aku rasakan dulu. Karena keegoisan orang tua aku jadi tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka, dan tidak mengenal ayam baik dan juga buruk apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Aku juga tidak rela jika kedua putriku diasuh oleh bibu mertua, aku tidak akan rela. Aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa kedua putriku jika berada di sana. Aku ingin sekali bekerja ke luar negeri agar bisa mewujudkan masa depan kedua putri yang lebih baik. Tapi aku takut jika gila mengambil kedua Putri ku dan membawanya pergi jauh tanpa bisa kuraih. Aku tidak bisa membayangkan mereka memiliki ibu tiri yang ternyata kejam. Aku juga takut jika nanti aku memilih menyerah kedua Putri ku akan merasakan penyesalan dan juga mungkin marah seperti yang aku alami sekarang."


" Kau marah?"


" Ya, terkadang aku marah kenapa aku terlahir dari keluarga yang berantakan. Sehingga kejadian ini menimpa ku. Aku juga menyesali kenapa kedua orang tua ku tidak ada yang benar benar peduli padaku. Dan hari ini aku juga mulai menyerah karena aku tidak bisa menghasilkan cuan dari tulisanku."


" Lalu, apa yang akan kau lakukan?"


" Entahlah. Mungkin aku akan menyerah. Lelah, hati dan batinku sungguh lelah. Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2