
Setiap hari ketika Yumna barusaja selesai bertengkar dengan Galang.
Dia selalu memikirkan tentang dulu saat Yumna masih belum memberitahu Galang bahwas dia hamil.
Dia selalu berkhayal masa itu bisa kembali sehingga Yumna tidak akan memberi tahu Galang tentang dirinya hamil dalam waktu dekat.
Seperti malam itu, semalaman Yumna berpikir tentang keputusan apa yang harus dia ambil.
Di satu sisi, dia juga sangat ingin memiliki seorang bayi, dan memberikan adik bagi Ilmi.
Yumna juga masih ingat betul saat dulu Ilmi meminta seorang adik kepada nya. Agar dia punya teman bermain.
Tapi, disisi lain, dia masih belum siap memiliki anak. Mengingat kondisi perekonomian yang masih jauh dari kata stabil. Ditambah keadaan rumah tangga nya yang sebenarnya sudah diujung tanduk. Belum lagi sikap Galang masih suka marah bila Yumna meminta uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
" Apa yang harus aku lakukan.." Lirih Yumna sambil memandangi Ilmi yang sedang tidur.
Karena Yumna tidak kunjung bisa memejamkan mata. Yumna lalu menghubungi teman teman nya.
Yumna secara tersirat mengumpulkan pendapat dari semua teman yang dihubunginya malam itu. Tentang pilihan apa yang harus diambil mengenai kehamilan yang tidak direncanakan.
Pagi harinya...
Setelah Yumna selesai melakukan aktivitas ibu rumah tangga. Yumna mengambil ponsel dan menemukan pesan dari Farah.
(Bagaimana kak, sudah diputuskan?). Isi pesan Farah.
(Kakak tidak tahu, menurut mu apa yang harus kakak lakukan?)
(Kalau adik sih, terserah kakak, adek juga sudah menghubungi kawan adik. Dan dia bilang siap mengirimkan obat nya kepada kakak)
( Kakak bingung. Satu sisi kakak juga ingin seorang anak untuk teman ilmi, disisi lain akak belum siap).
( pikirkan lagi. nanti kabari aku).
(baiklah).
Tak beberapa lama setelahnya.
Novi menelpon, Yumna pun mengatakan hal yang sama tentang kehamilan dan juga dilema nya itu.
" Jangan deh, lebih baik kamu pertahanan saja, siapa tahu dengan bayi itu nanti, sikap Galang bisa berubah."
" Berapa persen kemungkinan nya bahwa calon janin ini akan membuat sikap Galang berubah?" Tanya Yumna.
" Ya aku juga tidak mengerti, tapi setidaknya kita berdoa agar kehadiran bayi ini bisa membawa perubahan pada Galang."
" Begitu ya?"
" Iya."
" Tapi bagaimana jika ternyata Galang tidak berubah dan sikapnya bertambah parah?"
" Percaya deh kalau calon bayi mu ini akan membawa perubahan pada Galang."
Yumna terdiam lalu memilih untuk mengakhiri panggilan nya dengan Novi.
Yumna masih tidak bisa memutuskan langkah apa yang akan dia ambil.
Ini benar benar sebuah keputusan yang sangat sulit.
...
Hari ke hari...
Setelah begitu banyak nasehat yang diberikan Eka. Yumna akhirnya dengan mantap memutuskan bahwa dia akan tetap mempertahankan bayi ini.
Eka benar, bayi ini tidak bersalah. Dia adalah anugerah dari Tuhan, bagaimana bisa Yumna akan membuang anugerah yang sudah Tuhan berikan.
Namun Yumna masih belum mengatakan jika dirinya hamil kepada Galang.
" Mau sampai kapan?" Tanya Dwi, saat Yumna berada didepan kamarnya untuk mencari udara segar.
" Entahlah, aku tidak tahu."
"Bilang aja, biar dia tahu dan mulai memperbaiki sikap."
" Aku tidak yakin."
" Jadi orang itu harus yakin dan percaya."
" Tapi tidak bisa percaya sama manusia, pasti akan terluka."
" Iya sih. Nah terus mau sampai kapan kamu merahasiakan nya?"
" Entahlah." Ucap Yumna sambil memejamkan mata.
Hingga suatu hari...
" Nda, kok belum datang bulan?, apa jangan-jangan kamu hamil?"
" Jika benar hamil bagaimana?, aku sudah minum banyak jenis jamu. Tapi belum juga datang bulan." Ucap Yumna.
" Ya gimana ya..." Ucap Galang.
" Gimana apanya."
" Ya gimana kalau ternyata kamu hamil?" Tanya Galang.
" Gak tahu, Farah bilang dia punya teman yang punya obat buat melancarkan haid. Harga nya dua ratus ribu."
Galang terdiam.
Cukup lama Galang terdiam. Yumna menanti dengan hati berdebar-debar. Kira kira apa yang akan dikatakan oleh Galang.
" Ya sudah jangan minum jamu lagi, takut kamu benar hamil. Kita sudah banyak dosa, jika berusaha mengugurkan kandungan. Itu akan menambah dosa."
Yumna bisa melihat kekecewaan pada wajah Galang.
" Kamu sih, gak mau KB. Gini kan jadinya."
" Kok jadi nyalahin aku sih?, bukankah kita sudah sepakat."
" Ya masak tidak ada KB lain yang bisa tetap membuat mu rutin datang bulan."
" Kalau ada, aku pasti sudah memakai nya."
" Aku pusing jika ternyata kamu memang hamil. Kamu pikir cari uang itu gampang."
" Tadi bilangnya tidak apa apa kalau hamil."
__ADS_1
" Ya Iya tidak apa-apa namanya juga rezeki dari Tuhan yang kita harus menerima, tapi aku juga pusing, karena aku yang cari uang."
Karena tidak ingin meneruskan perdebatannya yang akan membuat Yumna semakin terluka.
Yumna memilih untuk diam dan tidur di samping Ilmi.
Beberapa hari setelahnya Eka berniat untuk mengantarkan Yumna periksa ke salah satu klinik yang ada di Ubud.
" Ayo tak anterin periksa. Udah 2 bulan lo, kita harus tahu kondisi bagaimana. Kamu udah banyak minum jenis jamu buat gugurin lo." Ucap Eka.
" Tapi aku masih belum ada uang."
" Di BUMI SEHAT bayar seikhlasnya." Ucap Eka.
" Tapi apa bisa kamu goncengin aku sementara kamu bawa Azril dan aku bawa Ilmi?" Tanya Yumna
" Bisa, udah ayo."
" Ya udah aku ijin Galang dulu. Kapan sih mau kesana."
" Besok aja. Sekarang hari Minggu, tutup biasanya." Ucap Eka.
" Ya sudah, nanti aku coba bilang sama Galang."
" Oke, kabarin aku ya. Pokoknya aku anterin kalau Galang gak mau ngaterin kamu. Kasihan lo itu kalau gak kemasukan vitamin." Ucap Eka.
" Iya, aku juga udah minum susu ibu hamil."
" Ya sudah."
Keesokan harinya, saat Galang sedang santai. Yumna mencoba untuk berbicara perihal dia yang akan memeriksakan kandungannya.
" Aku mau pergi dengan Eka." Ucap Yumna pada Galang.
" Kemana?"
" Klinik bumi sehat di nyuh kuning, ubud."
" Kapan mau kesana?"
" Masih nunggu Eka, mungkin besok."
" Buka nya kapan?"
" Senin sampai Jumat, kalau poli hamil dari jam 4 sampai jam 6."
" Sekarang hari apa?" Tanya Galang.
" Hari Sabtu.,"
" Pergi sama aku saja. Aku akan mengantarkan mu."
" Hmm, baiklah."
Beberapa hari berikutnya Galang mengantar Yumna ke Klinik yang di maksud Yumna tadi.
Jaraknya lumayan jauh dari rumah kos Yumna, sekitar 20 menit.
" Bayar berapa?" Tanya Galang sesaat setelah Yumna selesai diperiksa.
" Bayar seikhlasnya. Tidak ditarik karena di sana sudah ada kotak jadi kita memasukkan uangnya ke dalam kotak."
" 20 ribu, hehe. Uangnya berwarna biru dan merah semua hanya uangku saja yang berwarna hijau." Kekeh Yumna.
Galang ikut tertawa, lalu mereka memutuskan untuk langsung pulang, karena Galang harus melanjutkan pekerjaannya.
Hari berganti hari...
Saat Yumna tengah berada di kamar mandi karena merasakan mual. Dia dikejutkan dengan Galang yang membuka pintu sambil menggendong Hasna.
Brak !!
Galang menutup pintu dengan kasar.
Brug !!
Dia mendorong Ilmi ke kasur, Ilmi menangis. Yumna yang baru saja selesai munt4h menjadi terkejut dan langsung menghampiri Ilmi.
" Kamu itu punya anak dijaga. Kok bisa anak dibiarkan main sama anak laki laki, sampai ke jalan jalan. Didik anak yang betul. Kamu ini anak semakin liar. Ilmi itu nakal. Bandel, anak liar."
Brak !!
Galang kembali keluar rumah dan menutup pintu dengan keras.
" Ilmi.."
" Bunda.."
Ilmi langsung memeluk Yumna.
" Ilmi gak main ke jalan Ilmi cuma lihat di pinggir aja. Lalu ayah tiba-tiba datang dan menjewer telinga Ilmi." Ucap Ilmi sambil memegangi telinga nya yang memerah.
" Iya sayang, tenanglah."
Yumna terus mendekap Ilmi. Dan menenangkan nya.
Yumna yang menyadari jika Galang terlalu keras ketika mendidik anak. Galang selalu marah ketika yumnalah yang menjewer Ilmi.
Galang selalu mengatakan bahwa mendidik anak kecil tidak harus bermain tangan. Tapi ketika dia yang merasa kesal karena tingkah laku Ilmi. Dia justru dengan mudah bermain tangan.
Beberapa bulan berikutnya....
Usia kandungan Yumna sudah menginjak 4 bulan. Dan terjadi sedikit perdebatan.
" Bulan depan kita pulang bersama kakakku, bagaimana kalau kau melahirkan di rumah saja." Ucap Galang.
" Kenapa?, Melahirkan di klinik bumi sehat saja. Disana kan bisa bayar seikhlasnya atau semampunya kita."
" Kamu siapa yang merawat. Ibuku Tidak mungkin mau datang ke sini ibuku sudah tua tidak akan kuat perjalanan jauh." Ucap Galang
" Ibuku yang akan datang sini. Lagipula coba pikirkan di sini kita itu bisa menghemat biaya daripada melahirkan di Jawa."
" Kok bisa?"
" Kamu tahu, dulu saat Ilmi Puput pusar aku menghabiskan uang 2jt. Saat Ilmi berumur 40hari aku menghabiskan hampir 5juta. Padahal acaranya tidak besar. Hanya mengundang tetangga kanan-kiri dan juga depan belakang." Terang Yumna.
Galang terdiam.
" Kalau disini, kita kan bisa jika hanya membuat beberapa piring saja dan dibagikan kepada tetangga. Itu bisa membuat kita menghemat. Sesuai dengan kondisi keuangan kita." Imbuh Yumna.
__ADS_1
Galang masih terdiam dan sepertinya dia sedang memikirkan perkataan Yumna.
Padahal mereka sudah berulang kali membahas tentang melahirkan di sini. Tapi, Galang selalu saja berubah-ubah pikiran.
" Bukan aku tidak mau melahirkan di rumahmu. Tapi, lihatlah kondisi perekonomian kita. Dan seandainya aku melahirkan di rumah, kita harus mempunyai uang sedikitnya lima juta. Dan juga setidaknya memiliki uang simpanan lain minimal 1 juta untuk biaya travel. Itu belum termasuk nanti jika membuat acara yang lain menurut adat sana. Itu saja sudah berapa?"
" Huft..."
Galang terlihat menghela nafas panjang dan memejamkan mata.
Yumna memilih keluar dan menemani Ilmi bermain.
Membiarkan Galang berpikir, bahwa keinginannya agar Yumna melahirkan di rumah itu justru membuat pengeluaran mereka semakin bengkak.
Beberapa minggu setelah nya.
"Nda, minggu depan kita pulang bersama dengan kakak. Jika kau tidak usah mampir ke rumahmu dulu dan langsung pulang ke rumahku bagaimana?. Jadi kita akan pulang ke rumahmu beberapa hari setelah kita sampai."
" Ya, kan aku menggendong kembar tentu saja kita langsung pulang ke rumahmu." Ucap Yumna dengan senyuman walaupun sebenarnya hatinya terasa sakit dengan kenyataan itu.
Karena Yumna tahu jika Galang tidak pernah mau lebih dari 2 hari untuk bermalam di rumahnya.
Hingga hari di mana mereka semua akan pulang pun tiba.
Mereka pulang dengan menumpang mobil milik kakak Galang. Yumna mengendong salah satu dari anak kedua kakak ipar yang kembar.
Perjalanan panjang dan melelahkan. mereka tiba di kampung halaman Galang tepat pukul 1 dini hari.
Setelah bersalaman dengan Ibu mertua dan mencuci muka.
Yumna segera masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat.
Rasa lelah yang teramat dalam membuat Yumna memutuskan untuk membongkar barang bawaannya besok aja, rasa lelah juga membuat Yumna tidur dengan pulas.
Keesokan harinya...
Yumna sudah berusaha bangun pagi. Namun, saat Yumna terbangun kakak ipar dan ibu mertuanya sudah sibuk memasak.
" Makanlah, makanannya sudah siap. Biasanya orang hamil selalu lapar di pagi hari." Ucap Kakak ipar.
" Iya, aku mau mandi dulu badanku rasanya lengket semua. Apa ada orang di kamar mandi?" Tanya Yumna.
" Tidak ada, mandilah sana " Ucap ibu mertua.
Yumna lalu mengajak Ilmi untuk mandi.
Setelah Yumna memandikan Ilmi terlebih dahulu, Galang terlihat mengetuk pintu. Dan membawa serta kembar.
" Sana mandi sama Tante." Ucap Galang.
Yumna lalu memandikan si kembar. Setelah itu dia teriak memanggil Galang untuk meminta sebuah handuk bagi si kembar.
Namun yang datang justru kakak ipar dan langsung membawa si kembar.
" Sudah mandi?, pasti dingin ya.." Tanya Kakak ipar.
" Disini airnya dingin." Ucap Yumna.
" Apalagi dirumahku, aku setiap pulang anak-anak selalu aku mandikan air hangat. Karena airnya sangat dingin sekali apalagi kalau musim hujan." Ucap Kakak ipar
" Sudah ayo, tante mau mandi." Ucap Kakak ipar.
Setelah selesai mandi, Yumna lalu mengambil piring untuk menyuapi Ilmi.
Yumna mencari cari Ilmi dan ternyata ini berada di rumah belakang, dan sedang bermain bersama dengan Tina. Anak dari sepupu Galang yang usianya hampir sama dengan Ilmi.
" Aduh, tidak pernah pulang tidak pernah terdengar kabarnya. Tahu tahu sudah hamil saja." Ucap Mama Tina.
" Iya. Gara gara keseringan lokdown." Kekeh Yumna.
" Sudah berapa bulan?"
" Lima."
" Berarti nanti setelah ini ditinggal di sini?"
" Tidak, ikut kembali ke Bali. Nanti Kembar itu tidak ada yang mengendong.," Ucap Yumna sambil duduk dan mulai menyuapi Ilmi.
" Oo.."
Setelah selesai menyuapi Ilmi. Yumna kembali pulang untuk sarapan. Sejujurnya Yumna sudah merasakan lapar saat dia bangun pagi. Tapi karena Yumna tidak ikut memasak, Yumna memutuskan untuk makan nanti saja.
Yumna paham bahwa dua orang sama. Terkadang suka membicarakan Yumna dibelakang.
Saat sarapan, Yumna mendengar percakapan kakak ipar dan ibu mertua yang sedang menemani si kembar.
" Sebentar lagi cucu ibu akan bertambah satu." Ucap Kakak ipar
" Iya."
Lalu Galang datang dan bergabung bersama.
" Nanti ibu ke Bali?" Tanya Kakak ipar.
" Lo, ngapain ke Bali?" Tanya ibu.
" Kan Istri Galang melahirkan di Bali."
" Lo iya Galang?" Tanya mertua kepada Galang. dan Galang mengangguk.
" Aku kira melahirkan disini."
" Di Bali saja."
" Kenapa?, gak enak sini. Banyak yang membantu." Ucap Ibu Galang.
" Karena di sana ada klinik yang bayar seikhlasnya, jadi aku bisa berhemat biaya. Uang bisa dipakai untuk keperluan lain." Ucap Galang.
" Aku kira melahirkan disini."
Yumna tersenyum lega, karena akhirnya Galang menyetujui untuk Yumna melahirkan di Bali.
" Terima kasih Tuhan, karena sudah mengabulkan keinginan ku untuk melahirkan di Bali.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1