Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Tidak beruntung sejak dulu


__ADS_3

Malam hari, saat kedua Putri Yumna sudah tertidur dan Galang yang masih belum pulang dari bekerja, Yumna duduk terdiam sambil merenungi nasib hidupnya sendiri.


Sejak kecil, sejak ditinggal orang kedua orang tuanya. Yumna mulai merasa bahwa tidak ada lagi yang memperhatikan dan memperdulikan dirinya.


Yumna ingat betul bahkan saat ibunya pergi tidak ada pelukan ataupun ciuman selamat tinggal.


" Mama mau kemana?" Tanya Yumna saat melihat ibunya mengemas pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas ransel besar.


" Mama mau kerja kamu diam di sini saja dengan adikmu ya."


Saat itu usia Yumna sekitar 10 tahun, dan adik Yumna berusia sekitar beberapa bulan.


" Tapi, kalau mama kerja aku sama siapa?" Tanya Yumna.


" Stt, sudah diam kamu di sini bersama dengan kakek dan nenek. Jaga adikmu dengan baik ya."


" Tapi...."


" Haduh, Jangan cerewet."


" Baiklah." Ucap Yumna sambil menunduk, menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Ibu kemudian segera pergi ke luar rumah membawa sebuah ransel berukuran besar karena dia sudah ditunggu temannya.


Yumna hanya bisa menatap kepergian ibunya dari balik jendela. Lalu setelah sang Ibu benar-benar hilang dari jangkauan mata, Yumna segera masuk kembali ke dalam kamar.


" Mau kemana nak?" Tanya Nenek yang sedang menggendong adik Yumna.


" Mau menutup jendela kamar aku lupa menutupnya." Ucap Yumna berbohong.


" Ya sudah, kalau begitu cepat tutup lalu kita akan makan setelah itu ikut nenek untuk berpamitan kepada majikan nenek."


Yumna hanya membalas ucapan nenek dengan anggukan. Lalu Yumna segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu serta menguncinya.


Yumna mulai menutup jendela kamar, butiran demi butiran air mata menetes membasahi pipinya. Yumna begitu sedih. Entah dia sedih karena kepergian sang ibu, atau karena hal lain. Tapi yang jelas, saat itu Yumna tidak dapat menahan diri.


" Mama..., hiks hiks.."


Tangis Yumna semakin menjadi tak kala dia selesai menutup jendela dan mendapati pakaian ibunya berada di atas kasur.


" Hiks hiks..."


Yumna segera memeluk pakaian ibunya dan menangis. Yumna tidak mengerti kenapa sang Ibu juga pergi setelah ayahnya pergi bersama dengan wanita yang katanya adalah ibu kedua dari Yumna yang sudah mempunyai seorang anak laki-laki.


" Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Aku tinggal dengan siapa?" Lirih Yumna.


Tok


Tok


Tok


Ceklek.


" Yumna.."


Nenek yang masuk ke dalam kamar sangat terkejut saat mendapati Yumna tengah menangis sambil memeluk pakaian ibunya.


Nenek langsung memeluk Yumna.


" Sudah tidak apa-apa kamu masih ada nenek dan juga kakek. Jangan menangis lagi." Ucap nenek yang berusaha menenangkan Yumna.


" Hiks hiks hiks.."


" Sttt, sudah Ayo kita makan lalu nenek akan mengajak mau jalan-jalan ke alun-alun kota mau kan?" Bujuk Nenek.


Dengan berat akhirnya Yumna mengangguk. Nenek tersenyum lalu segera mengajak Yumna ke meja makan.

__ADS_1


Setelah selesai makan. Nenek dan kakek mengajak Yumna untuk pergi ke rumah majikan sang nenek.


Ya, sebelumnya nenek bekerja sebagai pembantu di salah satu rumah orang Cina.


Setelah mengatakan alasan kenapa sang nenek berhenti bekerja menjadi pembantu di rumah itu.


Nenek segera mengajak Yumna untuk ke alun alun kota dan membelikan mainan yang Yumna inginkan.


Hari berganti, tahun berganti tahun. Yumna menjalani kehidupan tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kakek dan nenek Yumna sibuk membuat kue dan mengurus adik Yumna.


" Lihat deh, bagus kan baju aku."


" Iya bagus, aku juga baru dibelikan sepeda sama papaku."


" Wah keren sekali."


Yumna hanya bisa memandang dan mendengarkan teman-teman sepermainannya saling berbicara tentang barang baru yang mereka dapatkan.


Yumna tidak pernah beruntung dalam hal pun, baik berteman ataupun dalam permainan.


Jika bermain, Yumna selalu saja yang dijadikan kucing oleh teman-temannya.


Di sekolah, Yumna lebih banyak diam daripada bermain dengan kawan-kawannya. Karena teman-temannya selalu memamerkan barang-barang baru dan membawanya ke sekolah. Sedangkan Yumna?, jangankan untuk barang baru. Bekal ke sekolah ataupun uang saku untuk jajan saja Yumna tidak pernah membawanya.


Tidak terasa air matanya mengalir saat mengingat kembali kejadian masa dia kecil dulu.


" Pantas saja Aku selalu ingin bermain permainan saat aku mengantar anak-anak ke taman bermain. Mungkin karena dulu aku tidak merasakan masa-masa keemasan menjadi anak-anak." Lirih Yumna.


Yumna lalu menciumi kedua putrinya yang tengah tertidur lelap. Berharap mereka tidak akan merasakan penderitaan yang dulu dialamioleh Yumna.


Yumna rela bertahan dalam pernikahan ini demi kebahagiaan kedua putrinya. Berharap kejadian dulu yang menimpa Yumna tidak akan terulang kembali kepada anak-anaknya.


Dimana Yumna menjadi anak broken home. Hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua, dan kehilangan masa masa menjadi anak kecil yang seharusnya dipenuhi dengan kebahagiaan.


...----------------...


" Ayah mau kemana?" Tanya Ilmi yang melihat Galang sudah pulang bekerja, padahal hari masih siang.


" Lo kok mancing, kan aku mau mengaji. Nanti siapa yang nganterin?" Tanya Ilmi dengan wajah sedih.


" Sekarang hari Minggu, ngaji nya masih libur. Besok baru masuk."


" Oh. Ya sudah ayah sana pergi mancing. Dapat ikan yang besar ya, kalau gak dapet ikan jangan pulang." Celoteh Ilmi.


" Iya."


Setelah mendapatkan alat pancing dan juga barang yang lain. Galang segera kembali keluar.


Yumna hanya terdiam tidak menanggapi atau berbicara kepada Galang karena saat itu Yumna tengah menidurkan Akifa.


Yumna pun memilih ikut tidur daripada harus memikirkan Galang.


Setelah tidur, Yumna segera melakukan pekerjaan rumah tangga rutin setiap sore hari.


Hari mulai menjelang malam, Galang pulang namun tidak membawa apapun.


" Lo Ayah kok enggak dapat ikan sih?" Tanya Ilmi saat mengetahui ember yang dibawa oleh Galang tetap kosong.


" Iya, ikannya ayah kasih kepada Om Upin."


" Yah, kok dikasih sih aku kan juga mau."


" Ikannya kecil Ayah tidak dapat ikan yang besar jadi ayah berikan saja kepada teman ayah."


" Ya sudah."


Yumna yang saat itu sedang mencuci piring di belakang, hanya menoleh dan mendengarkan percakapan antara ayah dan anak.

__ADS_1


Entah Galang benar-benar mancing ataupun tidak. Tapi setiap kali Galang berpamitan memancing, saat pulang dia tidak pernah membawa ikan.


Malam pun tiba, jika biasanya setelah makan malam Galang akan beristirahat sebentar lalu kembali bekerja.


Tapi ini sudah 3 hari setiap malam Galang tidak pernah lagi berangkat bekerja. Yumna juga malas bertanya alasan kenapa Galang tidak bekerja. Walaupun sebenarnya Yumna ingin tahu apa penyebab dari Galang yang tidak berangkat bekerja saat malam hari, dan hanya bersantai sambil bermain ponsel dan menonton TV.


" Kemana?" Tanya Mama Elsa saat Yumna tengah menemani Akifa yang sedang memakan cemilan di teras kamar Yumna.


" Didalam." Ucap Yumna dengan suara lirih.


" Gak kerja?" Mama Elsa juga dengan suara lirih.


Yumna menggeleng.


" Ya itu artinya stok uangnya banyak."


" Ck, kalau banyak uang, Aku tidak akan bingung untuk belanja." Lirih Yumna karena takut Galang mendengarnya.


" Halah sama aja seperti lelakiku. Dari kemarin dia malah mengatakan lelah dan tidak akan bekerja untuk beberapa hari."


" Hmm, kemarin sih aku tahu ada seseorang yang kesini menawari Galang pekerjaan. Saat aku tanya kenapa pekerjaannya tidak diambil, Galang mengatakan Jika pekerjaan itu berat dan memakan waktu yang lama."


" Lo kok begitu harusnya sih pekerjaan lama atau cepat atau diambil hitung-hitung buat tambahan uang beli beras kan?"


" Entahlah Aku tidak tahu lagi harus berkata apa."


" Coba kamu marahin Galang kalau dia itu gak kerja. Aku gitu sama suami, dirumah aku yang paling cerewet. Semua itu semata mata aku lakukan agar keuangan tetap berjalan lancar." Ucap Mama Elsa.


" Ya kamu enak. Kalau Galang aku gituin, bisa bisa pecah perang dunia."


Keesokan harinya....


Yumna memasak apa adanya menyesuaikan perbelanjaan dengan uang yang tersisa di dalam dompetnya. Yumna sedikit sedih karena sabun dan juga kebutuhan akifa mulai habis.


Tidak ada pilihan lain bagi Yumna selain memakai kembali uang yang dia kumpulkan untuk membayar biaya pendaftaran sekolah Ilmi yang tinggal beberapa bulan lagi.


"Hmm, uangnya hanya tinggal 2 lembar berwarna biru. Jika aku ambil 1 maka tinggal satu lembar." Ucap Yumna saat mendapati uang untuk sekolah Ilmi hanya tinggal 2 lembar.


Yumna bingung harus bagaimana, Karena dia sudah berulang kali mengambil uang dari tabungan Ilmi.


" Ya sudahlah sementara aku pakai dulu, semoga saja sebelum pendaftaran aku bisa merasakan penghasilan dari aku menulis sehingga aku dapat membayar biaya pendaftaran sekolah Ilmi." Lirih Yumna.


Yumna lalu mengajak Akifa serta Ilmi untuk berbelanja kebutuhan mereka di toko yang berada di seberang rumah kost.


Siang harinya....


sekitar pukul 4 waktu Indonesia tengah. Galang pulang dan terlihat terburu-buru mengambil sesuatu dan berkata kepada Yumna yang baru saja bangun.


" Nanti Ilmi antarkan ngaji ya. Aku mau lomba burung dulu."


Yumna hanya terdiam dan menatap kepergian Galang yang sudah ditunggu temannya.


" Huft.."


Ingin sekali Yumna berteriak dan memaki-maki Galang. Dia punya uang jika untuk lomba burung tapi tidak ada uang jika Yumna yang memintanya untuk berbelanja.


" Ya Tuhan, Aku sangat lelah. Bolehkah Aku menyerah sekarang, tapi aku tidak punya tempat bersandar jadi kemanakah aku harus pulang dan bersandar?. Disisi lain aku juga tidak ingin anak-anakku mengalami nasib seperti ku, perceraian orang tua sangatlah berdampak negatif bagi anak-anak. Aku tidak ingin anak-anakku mengalami nasib seperti ku yang kehilangan masa keemasan di masa kecil. Tapi aku juga tidak dapat terus bertahan dalam situasi ini. Aku harus bagaimana?"


Yumna menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya, tidak ada yang bisa Yumna lakukan. Berbicara dengan Galang juga tidak ada gunanya. Bicara dari hati ke hati ujung-ujungnya juga bertengkar. Langsung bertengkar juga akan semakin membuat Yumna terluka. Tapi jika Galang terus dibiarkan maka dia akan tetap seperti itu.


Sungguh Yumna benar benar tidak bisa berbuat apa-apa.


Terkadang dia menyesali dirinya yang tidak punya keberanian untuk menentang Galang hanya karena takut kehilangan kedua buah hatinya.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2