Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Hanya gertakan


__ADS_3

Memang susah menjalani bahtera rumah tangga, jika semuanya sudah tidak dapat berjalan sesuai rencana atau berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Mungkin dalam rumah tanggaku, komunikasi lah yang kurang. tapi bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan baik jika lawan bicaranya selalu ingin menang sendiri. Tidak ingin kalah ataupun tidak ingin disudutkan.


Dalam pertengkaran pun selalu aku yang harus mengalah. Karena jika tidak hal itu akan membuatku semakin terluka.


...


" Dasar kamu istri durhaka, dasar anj*ng."


" Sudah aku bilang aku sedikit tidak enak badan, bisakah kau meminta nya besok pagi atau besok malam saja." Ucap Yumna saat Galang meminta haknya.


" Menyingkirlah kau dari hadapanku aku bosan melihatmu."


Brak !!


Galang keluar sambil membanting pintu saat Yumna tidak mau melayaninya.


" Hiks hiks hiks..."


Yumna menangis dalam diam, dia tahu jika dia telah bersalah karena tidak melayani sang suami. Tapi kondisi memaksanya untuk tidak menuruti keinginan sang suami


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Yumna berdering.


Yumna mengangkat dengan tangan kanannya.


" Ya halo?"


" Apa kau sedang menangis?" Tanya seseorang dari seberang sana.


" Tidak."


" Jangan berbohong."


Yumna terdiam, entah kenapa seseorang yang menelponnya itu selalu tahu saat Yumna menangis ataupun bersedih.


Beberapa bulan terakhir, Yumna memiliki seorang teman, mereka berhubungan via ponsel dan saling berbagi cerita pahit masing masing.


" Yumna..."


" Hiks hiks hiks." Yumna pun kembali menangis.


" Ada apa?, bertengkar dengan Galang lagi?"


" Iya."


" Ya Tuhan, kali ini kenapa lagi?"


Yumna lalu menceritakan apa penyebab pertengkaran nya dengan Galang.


" Kamu juga sih, kenapa juga menolak permintaan Galang?"


" Ya, aku harus bagaimana. Galang selalu baik dan manis padaku saat dia menginginkan haknya sebagai suami, namun saat dia tidak menginginkanku dia kembali dengan sikapnya yang cuek dan egois. Dan setelah dia selesai menunaikan hajatnya pun dia langsung pergi begitu saja, tidak ada lagi pelukan dalam tidur. Ataupun ciuman selamat malam. Jadi untuk apa aku harus terus melayani nya saat dia menginginkanku saja?, aku merasa seperti pelacvr. Di sayang saat dibutuhkan, dan di hina di caci maki saja sudah tidak diperlukan."


" Kau tidak boleh berkata seperti itu, cobalah untuk memahami Galang. Mungkin rumah tangga kalian akan jauh lebih baik."


" Memahami dengan cara yang bagaimana lagi, selama ini aku sudah memahaminya mencoba mengerti keinginannya. Mencoba selalu membuatnya bahagia dan merasa nyaman. Tapi apa balasannya?, dia selalu mencaci memakiku, mengata ngatai ku. Seolah Olah aku ini hanya beban hidupnya."


" Iya aku tahu, maksud ku..."


" Maksud mu aku harus bertelanjang setiap hari di depan Galang?. Maaf! aku tidak akan sudi melakukannya, biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka. Aku sudah lelah, selama ini aku yang selalu mengalah terhadap dirinya. Namun semakin aku mengalah rasanya harga diriku semakin diinjak-injak. Dia seperti tidak lagi menghargaiku sebagai seorang istri, dan aku juga sadar akan posisiku yang hanya menumpang menyambung nyawa bersama dengan putriku."


" Yumna..."


" Jangan berkata apa-apa lagi, kau hanya menilai dari sudut pandang laki laki. Tapi tidak dari sudut pandang ku."


Setelah itu Yumna mematikan ponselnya, memilih untuk tidur dengan memeluk erat putrinya, Ilmi.


Keesokan paginya, Yumna terkejut karena menerima serangan tiba-tiba dari Galang.


Yumna terus saja mengalihkan pandangan, saat Galang memegang pipinya, maksud agar Yumna menatap matanya saat mereka sedang melakukan penyatuan. Yumna langsung membuang muka.


Plak !!


" Dasar j*lang. Kau tidak mau menatapku?, apa kau merasa jijik dengan ku?"


" Bukankah kau sendiri yang bilang, jika aku harus menyingkir dari hadapanmu?" Ketus Yumna.


Galang terlihat marah, dia segera menyelesaikan hajatnya. Lalu menyingkir dari Yumna.


Yumna dengar suara di kamar mandi, sepertinya Gslang mandi. Dan benar saja setelah itu, Galang terlihat tergesa-gesa memakai pakaiannya lalu keluar.


Brak !!

__ADS_1


Sekali lagi Galang membanting pintu.


Satu jam kemudian...


Galang kembali dan melemparkan beberapa lembar uang ke arah Yumna.


" Ini uang untuk travel, jangan minta lebih. Aku tidak punya uang lagi. Silahkan angkat kaki dari sini."


Setelah mengatakan itu, Galang kembali meninggalkan rumah.


Tak beberapa lama setelah kepergian Galang. Eka datang.


" Lo, kamu kenapa?" Tanya Eka.


Yumna menyuruh Eka masuk, lalu menceritakan apa yang terjadi.


" Jadi apa yang akan kamu lakukan?"


" Aku tidak tahu."


" Begini saja. lihat nanti malam apakah dia memesankan travel untukmu atau tidak. Jika dia memesankan travel untukmu, artinya kau harus pulang."


" Begitu ya.?"


" Iya."


" Ya sudah aku akan lihat nanti."


..


Sore hari, belum ada tanda-tanda akan kepulangan Galang.


Yumna mulai membereskan sebagian barang miliknya dan juga Ilmi.


Berjaga jaga jika dirinya dan Ilmi akan benar benar pulang.


" Heh, kenapa kau belum membereskan pakaian mu,?" Ketus Galang, saat dirinya pulang.


" Kau yakin ingin menyuruh ku pulang?"


" Ya. Aku muak dengan mu. Ini aku sudah menelepon travel."


Galang menyerahkan ponsel nya.


Yumna kemudian berbicara kepada supir travel.


Yumna segera memasukkan pakaiannya dan Ilmi kedalam koper.


Yumna menarik nafas. Mungkin ini adalah yang terbaik. Begitu pikir Yumna.


"Akhirnya, aku akan terbebas dari belenggu ini. Batin Yumna.


" Aku sudah membatalkan travel nya." Ucap Galang saat Yumna hampir selesai memasukkan semua pakaiannya dan milik Ilmi.


" Apa maksud mu?"


" Kurang jelas?. Aku membatalkan travel nya. Jadi kau akan tetap berada di sini."


Brak !!


Yumna melempar koper yang baru saja ditutup.


" Apa maksud mu?"


" Dengar, jika kau pulang itu artinya kau ingin Ilmi tidak punya ayah."


" Memangnya kau mau mati sehingga bicara seperti itu?"


Galang menghampiri Yumna dan memeluknya dari belakang.


" Jika kau pergi itu artinya kau sudah siap untuk bercerai dengan ku."


" Memang aku sudah siap."


Galang melepaskan pelukannya dan menatap Nina.


" Kau serius dengan perkataan mu?"


" Bukan kah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku harus pergi dari hadapan mu."


Galang menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang.


" Aku hanya bercanda."


Yumna tersenyum tipis.

__ADS_1


" Kenapa setiap aku benar benar sudah muak, kau selalu mengatakan jika itu hanya sebuah candaan. Kau pikir hatiku ini apa?, seenaknya saja kau menarik ulur."


" Yumna. Apa kau ingin jika Ilmi tidak punya ayah?, kamu senang?"


" Aku pasti akan mencarikan nya ayah baru.


Hening.


Kata kata Yumna mungkin seperti belati yang menusuk ke dalam relung hati Galang.


Terbukti Galang langsung diam seribu bahasa.


" Bunda ayo, katanya kita mau pulang ke rumah tante Arumi." Celoteh Ilmi yang baru saja pulang dari bermain.


" Tidak jadi." Ketus Yumna sambil menendang koper yang ada di hadapannya.


" Lo, Kenapa?"


" Tanyakan saja kepada ayahmu."


Brug !!


Setelah mengatakan itu Yumna menjatuhkan dirinya di atas kasur dan menyibukkan diri dengan bermain ponsel.


" Ayah, Kenapa kok Ilmi tidak jadi pulang ke rumah tante Arumi?"


" Karena Ayah tidak ingin berpisah dengan Ilmi."


" Ayah jahat, Ilmi tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumah Tante Arumi."


" Sayang, maafkan ayah."


" Hiks hiks hiks." Ilmi mulai menangis.


Galang mendekati Ilmi


" Maafkan Ayah, ayo kita pergi beli es krim mau? atau Ilmi ingin naik odong-odong?, Ilmi boleh bermain sepuasnya di sana."


" Benaran?" Ucap Ilmi sambil menghapus air matanya.


" Iya."


" Ya udah, ayo."


" Coba tanya kepada bunda apakah bunda akan ikut?" Ucap Galang.


" Bunda, bunda mau ikut aku beli es krim?"


" Pergi saja dengan Ayah mu." Jawab Yumna tanpa melihat ke arah Ilmi dan terus sibuk dengan ponselnya.


" Ayah, bunda tidak mau ikut."


" Ya sudah ayo dengan ayah saja."


Setelah Ilmi mengenakan jaket serta kerudung dia dan Galang kemudian pergi meninggalkan Yumna menuju tempat yang dikatakan Galang tadi.


Sepeninggal mereka, Yumna kembali menangis.


Kenapa aku begitu lemah, Kenapa aku tidak mempunyai keberanian untuk pergi dari sini. Hiks hiks, seandainya saja salah satu orang tuaku ada di Indonesia. Mungkin Aku tidak akan menderita seperti sekarang. Mama, papa. Kenapa hidupku selalu seperti ini. Aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya aku merasa bahagia.


Yumna semakin larut dalam kesedihan nya, terkadang dia menyalahkan sang ayah karena dulunya membatalkan perjodohannya dengan seorang laki-laki yang kini sudah beristri dan hidup bahagia yang tinggal di pulau nan jauh disana.


Yumna terus saja menangis hingga dirinya terlelap. Dia bahkan tidak menyadari saat Ilmi dan Galang sudah pulang dari bermain.


Pagi harinya, ada yang aneh dari sikap Galang. Dia berubah menjadi laki laki yang manis.


" Hari ini Tidak usah masak aku sudah membelikan nasi bungkus untuk sarapan." Ucap nya saat melihat Yumna terbangun.


" Hmm."


Yumna hanya berdehem lalu bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah Yumna selesai mandi, Galang memeluknya.


" Maafkan aku Yumna, aku sungguh sungguh menyesal."


Yumna Hanya terdiam. Sungguh hatinya sudah lelah dengan drama Galang.


Yumna sudah hafal, sikap manis Galang hanya bertahan beberapa hari saja. Setelah itu Galang akan kembali ke sifat normalnya lagi.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2