Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Seolah bicara sendiri


__ADS_3

Setelah selesai melakukan pekerjaan rumah di siang menjelang sore. Yumna termenung didepan pintu rumah ibu kos. Ilmi sedang ikut Ayah nya. Sementara Akifa masih tidur.


Yumna memejamkan mata, mengingat saat dimana dirinya menjual perhiasan. Bahkan jika di ingat, Yumna tidak pernah lama jika memiliki perhiasan. Selalu saja perhiasan itu terjual untuk memenuhi kebutuhan hidup.


Yumna melepas cincin, dan anting-antingnya. Kemudian berjalan ke toko perhiasan.


" Permisi mbak, saya mau menjual ini." Yumna menyerahkan cincin dan anting-anting pada salah satu karyawan toko.


" Suratnya mana? mau dijual apa ditukar?". Melihat kode perhiasan yang berikan Yumna.


" Dijual aja, Suratnya tidak ada. Itu Emas Malaysia." Ucap Yumna.


" Tunggu sebentar ya?"


" Cincin dan anting-anting nya. Total 8 gram. Dibeli dengan harga 500 Ribu per gram. Mau dilepas atau dibawa lagi."


" Dilepas saja mbak."


Wanita tadi berjalan ke belakang, kemudian menghitung sejumlah uang, dan menyerahkannya kepada Yumna.


" Saya hitung dulu ya mbak". Ucap Yumna. Karyawan itu hanya mengangguk.


" Oke, pas. Makasi ya mbak". Dengan tersenyum Yumna meninggalkan toko perhiasan, dan menuju toko perabot.


Drrtt drtt drttt....


" Hallo mam".


" Ada dimana?, apa kalian sudah pindah?". Suara Ibu di seberang sana.


" Aku ada di pasar, maaf aku menjual perhiasaan yang Ibu berikan untuk membayar uang sewa dan membeli kasur." lirih Yumna.


" Iya tidak apa, nanti Mama ganti."


" Terima kasih mam, kalau begitu aku matikan dulu, aku sedang berada di toko perabot sekarang."


" Baiklah, hati hati dijalan".


Sambungan telfon dimatikan. Yumna pun memasuki toko perabot. Setelah berkeliling dan memilih apa apa saja yang diperlukan, Yumna pun melangkah ke meja kasir untuk membayar.


" Tiga kasur busa ukuran 120 total 1.300.000. empat bantal dan 4 guling, saya kasih harga termurah 200 ribu semua. Dua lemari plastik 500ribu Satu rak piring 100.000 dan dispenser 150.000, saya kasih air + galon nya gratis. Jadi total semua 3juta 50 ribu.". ucap laki laki bermata sipit, berkulit putih.


" Tidak di kasih diskon ko?, saya beli banyak lo."


" Aku sudah kasih galon gratis masih minta diskon, ckckck." Laki laki itu menggeleng gelengkan kepala sambil tersenyum.


" Ah, ayolah koko, biar jadi pelanggan." ucap Yumba sambil tersenyum


" Okeh lah. Saya kasih semua 2 juta 200. Hey lu orang, antar semua barang-barang ini." berkata sambil menunjuk salah satu pegawai nya.


" Apa saya boleh ikut naik pik up nya?, hehe, saya tidak bawa kendaraan." Ucap Yumna.


" Baiklah, ikut saja. Biar tidak kesasar".


" Ayo neng, barang barangnya sudah masuk semua ke mobil." ucap laki laki paruhbaya.


" Ah iya, terima kasih paman"


Tak perlu waktu lama, Yumna sampai di rumahnya, masuk ke dalam rumah dan dengan sigap, laki-laki tadi menurunkan barang, dan meletakkannya di tempat yang ditunjuk Yumna.


Dengan cekatan Yumna dibantu adik dan kakeknya menata barang yang barusaja di beli Yumna.


" Ini uang untuk membayar uang sewa kakek." ucap Yumna sambil menyerahkan sejumlah uang kepada kakek nya.


" Kakak, aku kesekolah naik apa?, sekolahnya jauh." rengek Arumi.


" Ah, iya kakak lupa, biarkan kakak minta bantuan Ayah. oke".


" Kakak janji ya?" meninggikan jari kelingkingnya. Yumna membalas sambil tersenyum.


****************


Keesokan harinya, setelah selesai memasak, Yumna menelpon seseorang.


" Hallo Ayah. bisakah aku pinjam motor Ayah? motor Ayah kan banyak."


" bla bla bla bla bla bla" suara Ayah mengoceh dipagi hari.


" Ayolah ayah, hanya 1. Motor matic." Yumna memohon dengan suara semanja mungkin.


" Datanglah ke rumah Ayah, dan ambil lah."


" Aku naik apa kesana, minta tolong abang Hamdan saja, untuk mengantarkan motornya kesini."


" hah, baiklah baiklah."


" Hehe, terima kasih. Ayah baik deh."


" Manis saat ada mau nya."


" Hehe, kan Ayah guru nya."

__ADS_1


Setelah membereskan rumah, Yumna menjatuhkan diri di kasur yang baru dia beli, mencoba memejamkan mata. Memikirkan rencana apa untuk kedepannya.


Drtt drtt drttt


..


.


" hallo bang Hamdan?".


" Sepeda nya mau diantar kapan?." ketus suara di seberang sana.


" Sekarang juga boleh." ucap Yumna yang tak kalah ketus.


" Diantar kemana?"


" Jalan nangka no.76 "


" Akan ku hubungi lagi, jika aku sudah sampai."


tut.


.


.


" Dasar beruang kutub !!". umpat Yumna kesal. Menatap layar ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.


" Hei curut, apa kabar?"


" Aku baik, bagaimana kabarmu,?"


" Aku sedang mencari pekerjaan, aku sudah ada di Jawa."


" Wah, benarkah?. lusa aku akan pulang. Kita nanti akan mengunjungi Liza. Dia sedang hamil."


" Benarkah?"


" Iya."


" Baiklah. Matikan telfon nya, aku akan menghubungi Liza."


tut.


..


.


Menggeser layar ponsel, mencari kontak liza, dan menelponnya.


" Hai curut. Selamat ya atas kehamilannya."


" Iya, aku doakan kamu juga segera hamil."


" Yah jangan dong. Kan belum ada pasangan." Ucap Yumna.


" Mangkanya cari suami dong biar hamil."


" Teman laknat."


" Ya sudah, jangan terlalu lama menganggu aku yang sedang menikmati semangkuk mie ayam."


" Baiklah baiklah, ahya hari Minggu ketemu yuk."


" Boleh. Dimana?"


" Biasa. Zentop. Novi sudah memberi tahu Wulan." Ucap Yumna.


" Oke bye curut.".


" Bye.."


****************


 


Hari dimana ke empat sahabat itu akan bertemu pun tiba, mereka memutuskan untuk bertemu di kafe 'zentop'.


Tanpa direncanakan, mereka tiba secara bersamaan.


" Ayo kita duduk di dekat air mancur itu saja." Tunjuk Wulan saat mereka memasuki kafe.


" Kalian pesan apa? biar aku pesankan". ucap Yumna saat mereka melangkah menuju tempat yang ditunjuk Wulan.


" Aku bebek galak, dan milk shake vanila ". ucap Liza sambil menjatuhkan bokongnya di kursi.


" Aku mie setan, dan jus mangga". ucap Wulan.


" Aku mie goreng spesial dan milk shake coklat". ucap Novi sambil meletakan tas nya di atas meja.


Yumna pun berlalu meninggalkan sahabatnya, dan berjalan menuju meja menu.

__ADS_1


" Aw, maaf aku tidak sengaja." Ucap Yumna yang tidak sengaja menabrak seseorang.


" Yumna ?? ."


" Rimba ??."


Melihat senyum Rimba, Yumna pun membalas senyumannya.


" Kapan kau datang dari Kalimantan?, dan bersama siapa kau disini?". tanya Rimba sambil melihat dan menduga duga, kira kira Yumna datang bersama siapa.


" Itu bersama para curut." Menunjuk sahabatnya yang sedang tertawa seperti mbak Kunti.


" Kau sendiri dengan siapa?."


" hmm".


Rimba menunjuk dengan mata nya, dilihatnya Intan melambai ke arah Yumna.. Setelah membalas lambaian Intan, Yumna meninggalkan Rimba, dan menuju meja menu.


" Saya pesan steak, cappucino float, kentang goreng, roti maryam, stup roti dan bla bla bla bla bla..... di antar ke meja sebelah sana." Yumna menyebut pesanan para sahabat nya, dan menunjuk tempat mereka duduk.


" Hei, aku disebelah sana, mungkin kalian ingin bergabung." ucap Yumna yang menghampiri meja Rimba dan Intan.


" Pergilah, kau mengganggu kencanku." Rimba memasang muka merajuk, layaknya anak kecil yang diganggu saat bermain.


Yumna dan Intan hanya terkekeh melihat tingkah laku Rimba. Yumna tahu, Rimba selalu bersikap seperti ini, sedikit posesif jika Yumna menemuinya saat bersama dengan Intan.


Mungkin Rimba ingin menjadi hati Intan. Karena bagaimanapun Intan tahu cerita tentang Rimba dan Yumna.


" Oke aku pergi." Ucap Yumna sambil tersenyum.


Saat Yumna hendak sampai di meja tempat teman temannya berada, matanya menangkap sosok yang tidak asing.


Yumna membuka mata karena mendengar suara tangis Akifa.


Yumna masuk ke dalam kamar dan mendapati Akifa menangis sambil memejamkan mata. Itu artinya Akifa masih mengantuk dan membutuhkan ASI.


Yumna segera menutup pintu dan berbaring di samping Akifa


Yumna memejamkan mata. Hingga pikiran nya tertuju pada pembahasan tentang skincare beberapa hari lalu.


Yumna yang sedang berdiri didepan cermin setelah selesai memberi Akifa ASI, memandangi wajahnya yang sudah terlihat tua. Padahal usianya baru memasuki 28 tahun. Tapi jika dibandingkan dengan mama Elsa yang sudah berusia 38 tahun Yumna justru terlihat lebih tua.


Mata Yumna berkaca-kaca menyadari bahwa dirinya kini tidak dapat untuk merawat wajahnya seperti dulu kala, sehingga wajah nya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.


" Bolehkah aku marah karena aku tidak dapat mempercantik diri ku sendiri. Jangankan untuk mempercantik diri, untuk makan saja masih kurang-kurang. Apa aku yang kurang bersyukur atas pemberian dari suamiku apakah memang suamiku yang tidak mengerti tentang kebutuhan rumah tangga dan juga kebutuhan seorang istri untuk dirinya sendiri."


Yumna lalu memejamkan mata mengingat percakapannya dengan Galang saat dia meminta sebuah gamis.


" Ya beli saja, bukankah aku selalu memberimu uang." Ucap Galang saat Yumna memberi tahu tentang keinginannya untuk membeli gamis di aplikasi berwarna orange.


" Iya, tapi kan saat kamu memberikan aku uang kamu tidak berkata apa-apa bukankah itu artinya orang itu untuk belanja membeli kebutuhan sehari-hari."


" Ya itu saja dibuat beli."


" Lalu jika kebutuhan habis uang apa yang akan dipakai?" Tanya Yumna.


" Ya makan baju gamis itu, sama halnya seperti saat kamu menginginkan sebuah lemari. Beli saja, namun saat beras dan lain-lainnya habis maka jangan meminta uang pada aku tapi mintalah pada lemari yang telah kamu beli. Atau kemarinya saja di masak biar bisa kenyang." Ucap Galang.


" Ya aku udah tahu karena itu ketika kamu memberi uang aku masih bersyukur untuk membeli apa yang aku inginkan."


" Ya sudah? itu artinya kamu masih punya pikiran jika tidak ingin menghabiskan uang aku berikan untuk membeli barang yang tidak perlu."


" Tapi aku juga butuh gamis karena banyak gamisku yang sudah jelek dan usang bahkan beberapa diantaranya sudah tidak layak pakai."


" Bisa enggak sih, sekali-kali kamu tidak meminta uang dari untuk membeli apa yang kamu inginkan."


" Lo, aku kan istri mu. Kamu suami aku, jika aku tidak meminta uang dari dirimu lantas aku meminta kepada siapa?."


" Ya kepada siapa gitu."


" Jangan aneh. Tidak mungkin kan aku meminta uang kepada tetangga sebelah."


" Kenapa tidak kau coba siapa tahu mereka akan memberinya. Atau punya alah inisiatif untuk menjual apa kek atau bekerja pekerjaan apa kek. Jadi kamu bisa membeli apapun tanpa meminta dari ku."


Percaya atau tidak, aku rasa tidak ada wanita yang mau mendengar jawaban seperti itu. Bukannya menjawab dengan pertanyaan yang dapat menyenangkan hati Yumna, Galang justru menjawabnya seakan memberitahu kepada Yumna untuk tidak meminta apapun darinya.


" Sabar ya Yumna, tekuni dunia baru yang sedang kau jalani. Semangat untuk terus berkarya, jangan patah semangat walaupun bilang sendiri tidak mendukung untuk menulis Karena Dia mengira menulis hanyalah omong kosong dan tidak menghasilkan apapun. Kau harus bisa buktikan kepada bilang bahwa kau juga bisa menghasilkan uang dari menulis. Ya walaupun hasil nya tidak seberapa, tetapi bisa untuk membeli apa yang tidak bisa Galang berikan kepada mu." Ucap Yumna yang menyemangati dirinya sendiri.


Sedih memang saat mengetahui bahwa suami sendiri tidak pernah mendukung atau memberi semangat kepada diri. Tapi Yumna harus tetap bersemangat untuk bisa menghasilkan uang dari menulis. Walaupun Yumna sendiri tidak tahu kapan dia bisa merasakan penghasilan dari menulis.


Saat ini yang bisa anda lakukan hanyalah terus menulis dan berkarya.


" Jika rezekiku dari menulis maka aku akan mendapatkannya walaupun aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Sekarang yang harus aku lakukan hanyalah terus bersemangat dan berkarya. Ya walaupun aku tahu karena aku tidak sebagus karya yang lain sehingga tidak ada pembaca yang mampir hehe.. Tapi aku yakin jika jalan menuju sukses itu tidaklah mudah. Jadi aku harus tetap bersemangat. Semangat untuk diriku sendiri." Ucap Yumna sambil tersenyum.


Rasanya aneh berbicara sendiri dan menjawap segala sesuatunya sendiri. Menyemangati diri sendiri sudah biasa Yumna lakukan sejak dulu.


" Aku harus kuat demi kedua buah hatiku."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2