Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Momen bahagia


__ADS_3

Terkadang Yumna menggunakan kesempatan yang ada untuk mengingat momen bahagia.


Seperti momen saat dia akan melahirkan Akifa.


Dimana kehadiran Ibu membuat Yumna dan Galang merasakan benih cinta lagi.


Yumna benar benar menikmati momen itu.


H-2 HPL tiba, Yumna masih belum juga merasakan kontraksi yang sebenarnya.


" Sudah sakit?" Tanya kakak ipar saat Yumna berjalan-jalan pada malam hari.


" Sudah, namun aku masih belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan."


" Mungkin besok atau lusa, lihat perutnya sudah turun sekali." Ucap Tetangga Yumna.


Yumna hanya meng Amin kan perkataan dari tetangganya itu.


Pagi hari di HPL, Yumna merasakan sesuatu keluar dari jalan lahirnya. Namun hanya sedikit. Dan karena sakit nya masih belum teratur jadi Yumna membiarkan hal itu.


" Sakit ya?, apakah kamu mau kita berangkat ke Klinik sekarang?" Tanya Galang.


" Tidak."


" Kenapa?"


" Karena kontraksi ku masih belum teratur. Kita ke sana nanti sore saja, karena nanti sore adalah jadwal kontrol terakhir sesuai jadwal." Ucap Yumna.


" Kau yakin?" Tanya Galang memastikan.


" Iya."


" Ya sudah kalau begitu aku akan kembali bekerja, temui aku kalau kamu memang sudah ingin diantar ke klinik." Ucap Galang.


" Iya."


Hari itu, Yumna merasa mulai tidak nafsu makan. Dan sore harinya, Yumna dan Galang pergi ke klinik.


Ilmi tidak ikut karena takut neneknya akan pulang jika Ilmi tinggal pergi.


" Sekarang HPL nya ya bu.." Ucap Bidan.


" Iya."


" Ada keluhan?" Tanya bidan satu lagi.


" Tadi pagi keluar L3ndir dan sedikit d4rah. Tapi rasa sakit nya masih belum teratur."


" Ayo bu, diperiksa dulu."


Yumna lalu mengikuti bidan, dan berbaring dengan hati hati di ranjang.


" Kepala sudah masuk sekali, tinggal nunggu mungkin sebentar lagi. Kalau bisa nanti USG ya bu, untuk melihat kondisi air ketuban. Karena hari ini adalah HPL nya."


" Baik bu."


Setelah selesai mendapatkan penjelasan dari Bidan. Yumna keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung menemui Galang.


" Gimana, apa bidan sudah menyuruh untuk membawa barang-barang bayi?" Tanya Galang.


" Belum, bidan menyarankan agar kita melakukan USG sekali lagi untuk mengetahui kondisi bayi dan juga air ketuban."


" Hmm, padahal sekarang hari perkiraan lahir nya tapi kenapa bayi ini belum juga mau keluar?" Ucap Galang sambil mengelus perut Yumna.


" Sabar, mungkin nanti malam. Mungkin si bayi tidak ingin banyak orang tahu saat dia akan lahir." Ucap Yumna.


" Semoga saja. Jadi apa sekarang kita pulang. Apa mau USG"


" Langsung pulang aja, aku takut jika Ilmi menangis mencari kita. Soal USg, besok malam saja. Hari ini kita tunggu, siapa tahu di bayi akan keluar nanti malam."


" Ya sudah ayo."


Malam harinya, Yumna mulai merasakan kontraksi dengan frekuensi teratur.


Namun Yumna tidak panik, karena dia juga belum mengeluarkan kembali tanda-tanda kelahiran seperti sebelumnya.


Nina juga masih bisa tidur dengan tenang, namun tepat pukul 12 malam, Yumna terbangun karena perutnya sudah terasa kencang dan jauh lebih sakit dari sebelumnya.


Yumna bangun dengan hati-hati dan menuju kamar mandi, dia merasa ada sesuatu yang keluar dari jalan lahirnya.


Dan benar saja, lend3r bening disertai d4rah keluar. Namun Yumna masih mampu menahan sakitnya. Dan selama 2 jam Yumna menahan rasa sakit yang terus-menerus semakin terasa menyiksa.


Hingga sang Ibu terbangun karena menyadari jika Yumna bolak-balik dari tempat tidur ke kamar mandi.


" Kenapa?" Tanya Ibu.


" Pinggang ku terasa sangat sakit."


" Kemari dan duduklah biarkan Ibu memijat mu."


Yumna menurut kemudian dia duduk disebelah ibu dan Ibu mulai memijat Yumna.


" Apa sudah lebih baik?"


" Ya, sudah terasa jauh lebih."


Kenyamanan yang Yumna rasakan hanya bertahan selama beberapa menit saja.


Sakit itu kembali datang dan semakin bertambah menyiksa Yumna. Hingga Galang terbangun.


" Ada apa?, Kenapa kamu terbangun ini masih pukul 3 pagi."


" Perut dan pinggang ku terasa sakit."


" Mungkin Yumna mau melahirkan." Ucap Ibu.


" Apa kamu mau kita berangkat ke klinik sekarang?" Tanya Galang.


Yumna memejamkan mata, menahan rasa sakit sebelum akhirnya mengucapkan iya.


" Ya sudah aku bersiap dulu." Ucap Galang yang langsung masuk ke dalam kamar mandi, tidak mandi. Hanya menyikat gigi dan mencuci muka.


Ibu kemudian membantu Yumna mengeluarkan tas yang akan dia bawa.


Ceklek...


" Lo tumben keluar, apa sudah mau melahirkan?" Tanya pak Budi tetangga kost.


" Seperti begitu. Ayo tolong antarkan. Sebentar aku meminjam mobil kakak dulu "


Galang lalu mengetuk pintu kamar kakaknya dengan hati-hati dan mengatakan keperluannya untuk meminjam mobil karena Yumna akan segera melahirkan.

__ADS_1


" Lo sudah sakit ya?" Tanya kakak ipar, saat datang melihat ke kamar Yumna.


" Iya, sepertinya Yumna sudah merasa kesakitan sejak pukul 12. Karena tadi aku sempat melihat Yumna bolak-balik ke kamar mandi. Dan lihat, bahkan daster yang Yumna pakai sudah penuh dengan dar4h." Terang Ibu, sedangkan Yumna hanya diam karena menahan sakit yang luar biasa menyiksa.


" Semoga lancar melahirkan nya."


Yumna hanya bisa membalas doa dari sang kakak ipar dengan senyuman. Sungguh rasa sakit ini benar-benar membuat Yumna tidak bisa berbicara. Sakit yang berkali kali lipat dari sakit yang dirasakan Yumna ketika melahirkan Ilmi.


" Mobilnya sudah siap, ayo." Ucap Pak Budi.


" Ilmi dimana?" Tanya kakak Galang.


" Itu tidur." Jawab ibu.


" Ibu ikut saja dengan Yumna ke klinik, Ilmi biar aku yang menjaga." Ucap kakak Gilang.


" Iya ikut saja Bu, siapa tahu Galang perlu bergantian menjaga Yumna." Imbuh kakak ipar.


" Tapi disana hanya 1 orang yang boleh menunggu." Ucap Galang.


" Ya coba saja, siapa tahu. karena ini malam jadi boleh 2 orang yang menunggu." Imbuh kakak ipar.


" Ya sudah ayo." Ucap Galang.


Sedangkan Yumna hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit yang berkali-kali lipat.


Ibu segera memakai baju panjang dan juga kerudung, lalu dengan hati-hati menuntun Yumna untuk masuk ke dalam mobil.


Mobil pun bergerak dengan kecepatan sedang menuju klinik bumi sehat.


Sesampainya di Klinik Bumi Sehat...


Yumna langsung menjalani tes rapid.


Supir dan Ibu Yumna terpaksa pulang karena hanya suami yang boleh menunggu.


" Silahkan duduk dulu bu, kita lakukan tes dulu ya." Ucap bidan.


" Kapan terakhir kali periksa ke sini?" Tanya bidan yang satu lagi yang tengah melihat buku kontrol milik Yumna.


" Tadi sore." Ucap Yumna sekuat tenaga sambil menahan rasa sakit.


" Oh, ini tadi yang saya suruh USG ya?"


" Iya."


" Maaf ya." Ucap bidan saat dirinya mengambil sampel darah Yumna.


Yumna tidak merasakan sakit akibat robekan kecil yang dibuat oleh bidan itu.


Karena kontraksi yang dialami oleh Yumna jauh lebih sakit dari sayatan pisau kecil di tangan Yumna.


" Jadi apa ibu sudah melakukan USG, seperti yang diperintahkan?"


" Belum. Suami masih belum mendapatkan uang, jadi rencananya hari ini akan melakukan USG."


" Emm ya sudah tidak apa apa."


" Hasil tes negatif ya." Ucap Bidan yang bertugas melakukan pengecekan tes rapid terhadap Yumna.


" Ayo bu, kita pindah ke ruangan sebelah."


Dengan bantuan Galang, Yumna berjalan hati-hati hingga mereka tiba di ruangan yang berada di seberang ruangan tadi.


" Berbaring disini, hati hati."


Dengan hati-hati Galang membantu Yumna untuk naik ke atas ranjang.


" Kita cek pembukaannya dulu ya?"


" Buka 4. Atur nafas ya bun, dan silakan berbaring menghadap kiri, bapak boleh memijat lembut punggung ibu ya, sembari menunggu pembukaannya lengkap."


Setelah mengatakan itu, kedua Bidan itu pun keluar dari ruangan Yumna.


Yumna melihat ke arah jam, pukul setengah 4 dini hari.


Yumna mencoba menahan rasa sakit yang terus menerus datang.


Namun, rasa sakit itu tidak tertahankan hingga Yumna menangis. Yumna merengek layaknya anak kecil yang merasa kesakitan. Galang semakin bingung. Ditambah Yumna yang tidak mau berbaring di ranjang, dia lebih suka duduk di atas toilet duduk.


Setiap kali, Yumna mencoba untuk berbaring, rasa sakitnya semakin datang dan semakin menyiksa Yumna. Akhirnya Galang membiarkan Yumna untuk duduk diatas toilet.


" Apa rasanya sakit sekali?"


" Iya, rasanya berkali-kali lipat. Padahal dulu aku melahirkan Ilmi tidak sesakit ini."


Yumna terus mengerang kesakitan, membuat Galang semakin bingung Dan panik.


" Sakit sekali, huhuhu..."


Yumna mencubit bahkan sesekali mencakar bahu Galang.


Yumna terus merasakan sakit hingga dia sesekali mengejan. Lalu seorang bidan datang dan mungkin ingin melihat perkembangan dari pembukaan jalan lahir Yumna.


" Lo, Kenapa ada di kamar mandi Kenapa tidak tidur di atas ranjang saja?" Tanya bidan itu.


" Katanya kalau dibawa berbaring sakitnya semakin parah." Ucap Galang.


" Sakit sekali ya?, apa sudah mau mengejan?"


" Iya, hiks hiks hiks." Ucap Yumna sambil menangis.


" lo jangan menangis, nanti tenaga nya habis."


Dan tanpa sadar Yumna mulai mengejan.


" Lo jangan mengejan disini. Ayo kita kembali ke ranjang lagi."


Dengan hati-hati Galang membantu Yumna untuk kembali tidur di atas ranjang.


" Buka saja pakai ibu pak, tutupi dengan kain ini saja." Perintah Bidan.


Yumna melihat ke arah jam, pukul 6 kurang 15 menit


Seperti nya bayi ini akan lahir di jam yang sama dengan Ilmi. Batin Yumna


Yumna lalu mulai mengikuti instruksi yang diberikan oleh bidan.


Yumna berjuang keras, hingga akhirnya Yumna dapat mengeluarkan bayi nya.


oeekk...oek...oek...

__ADS_1


Yumna tersenyum dan bernafas lega, rasa sakit itu berangsur-angsur hilang seiring dengan suara tangisan dari bayi.


" Bayi nya perempuan. Anak pertama ya?" Ucap Bidan.


" Kedua." Ucap Galang dan Yumna bersama.


Bidan lalu meletakkan bayi itu di atas dada Yumna dan langsung menyuruh Yumna untuk melakukan IMD.


Sementara bidan itu mulai membersihkan jalan lahirnya Yumna, dan memberikan sedikit jahitan sana.


Lalu datang bidan lain yang bertugas untuk mencatat waktu kelahiran bayi.


" Bayi nya lahir bertepatan dengan hari ibu." Ucap Bidan yang bertugas mencatat kelahiran bayi.


Yumna tersenyum. Dia mengelus rambut putri kecilnya.


Seorang bidan lalu mengambil bayi untuk di timbang dan dipakaikan baju dan selimut.


" Tiga jam lagi, kalau Ibu tidak merasa pusing silakan mencoba untuk berbaring kanan dan ke kiri. Lalu bangun dari posisi tidur ya. Dan jika masih belum 3 jam, Jangan pernah bergerak ataupun bangun." Ucap Bidan setelah selesai menjahit bagian Yumna.


" Iya bu."


" Kalau begitu kami permisi dulu, kalau ada apa-apa silakan bapak datang ke ke posko yang ada di sebelah kanan ruangan ini."


" Iya."


Sepeninggal bidan, Galang dengan hati-hati meletakkan bayi yang sudah di adzanin di samping Yumna.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Galang berdering. Galang sedikit menjauh jauh lalu mengangkat panggilan itu.


Setelah Galang kembali, Yumna meminta tolong untuk diambilkan ponselnya. Karena Yumna ingin mengabadikan moment pertama dari kehidupan bayinya yang sudah keluar dari kandungan.


" Aku akan merokok di depan, telepon aku jika kamu butuh sesuatu."


Yumna mengangguk. Lalu mulai mengambil foto serta video bayinya yang terlihat terbangun.


Yumna tersenyum, karena saat melahirkan Ilmi dulu, Yumna tidak sempat untuk mengabadikannya.


Yumna lalu mengirim foto serta video Putri keduanya itu ke grup keluarga, serta membagikan melalui status aplikasi hijau.


Tring


Tring.


Yumna menerima banyak sekali pesan dari sanak saudara dan juga teman yang mengucapkan selamat atas kelahiran Putri keduanya.


Drrrttt drrrttt drrrttt


" Halo yah, ada apa?" tanya Yumna saat mengetahui Galang nelponnya.


" Video bayi kita yang kamu jadikan status kirimkan kepadaku."


" baiklah."


Tut.


Galang mematikan telepon, lalu Yumna segera mengirim beberapa foto dan video yang sempat direkam tadi kepada Galang.


Satu jam kemudian.


" Permisi, ini sarapan untuk ibu dimakan ya." Ucap seseorang yang datang dan langsung meletakkan makanan di meja sebelah kiri Yumna


" Terima kasih."


Tak lama kemudian Galang sudah kembali.


" Ini makanan untuk siapa?" Tanya Galang.


" Untukku."


" Oh, Aku kira makanan ini untukku." Kekeh Galang.


" Haha, ada-ada saja. Yang melahirkan kan aku, tentu saja aku yang dapat makanan."


" Ya kali aja. Apa kamu akan memakannya?"


" Ya, Aku sangat lapar."


" Kalau begitu ayo aku akan menyuapimu."


Galang lalu membuka tudung saji yang menutupi makanan itu. Nasi merah tekstur mirip tekstur untuk bayi yang berusia 9 bulan keatas dengan lauk telur dan tomat, serta buah semangka.


" Semangka nya aku makan." Ucap Galang.


" Lo, kalau kamu mau kita bisa menghabiskan makanan itu berdua."


" Ini bubur, dan aku tidak suka bubur.," Ucap Galang, langsung menyuapi Yumna, hingga Yumna menghabiskan setengah dari makanan itu.


" Tidak dihabiskan?" Tanya Galang.


" Tidak, aku sudah kenyang."


Setelah tiga jam, Galang membantu Yumna untuk berlatih miring ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya Yumna bangun dari posisi tidur nya.


Yumna mencoba berjalan perlahan menuju kamar mandi.


" Hati hati, jangan sampai kamu pingsan di kamar mandi." Ucap Galang yang saat itu menggendong Putri kecil mereka.


" Iya iya, aku tahu."


" Ingat jangan menangis lagi." Ledek Galang.


" Ih apaan sih." Ucap Yumna yang langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.


" Eh jangan tutup aku takut kamu nanti pingsan di dalam."


" Hmm, baiklah."


Yumna tersipu malu jika dia mengingat momen saat dia menangis karena tidak tahan merasakan kontraksi yang rasanya berkali-kali lipat dari yang dirasakan saat melahirkan Ilmi.


Tapi semua itu sudah terbayarkan dengan kelahiran buah hati kedua Yumna.


Yumna merasa begitu bahagia dan bersyukur kepada Tuhan karena masih mengijinkan Yumna untuk merawat satu lagi seorang putri.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2