
" Kemarin pulang habis berapa?" Tanya Yumna saat dirinya diminta Galang untuk injak-injak.
" Berapa.., sekitar 200 ribu. Sudah sama bensin dan makan."
" Kalau cuma untuk biaya transportasi dan makan sampai mendapat pekerjaan. Aku ada uangnya. Untuk bayar kos, nunggu dapat pekerjaan aja. Sekarang yang penting kita balik dulu aja. Aku takut kouta di sekolah tempat Ilmi akan mendaftar sudah penuh." Ucap Yumna.
" Apalagi sekarang sudah pertengahan bulan." Imbuh Yumna
" Aku masih tidak mendapatkan pinjaman uang." Ucap Galang.
" Bagaimana bisa mendapatkan pinjaman uang,jika terus saja diam dirumah." Lirih Yumna.
Keesokan harinya, Yumna mulai merapikan barang bawaannya.
" Buk, mana oleh oleh yang akan dibawa olehku?. Biar aku rapikan. Jadi sewaktu waktu berangkat enak " Ucap Yumna kepada Ibu Galang.
Sebenarnya Ibu Galang sudah menunjukan beberapa makanan yang akan dibawa ke Bali.
" Ya ini bawa.." Ucap Ibu Galang.
Yumna mengambil kardus dan mulai menatap beberapa jajan. Setelah semuanya selesai. Yumna meletakkan barang bawaan nya di depan meja ruang tamu.
" Barang barangnya titipkan kakak ku saja." Ucap Galang.
" Iya."
" Besok kalau ke kota J sore aja gimana?"
" Memangnya kalau pagi kenapa?. Ibu ku kasihan, waktu dengan Akifa cuma sebentar. Jarak dari kota L ke kota J tidak sebentar." Ucap Yumna.
Galang diam. Yumna tahu jika sebenarnya Galang malas untuk berada di rumah Yumna.
Tapi Yumna tidak pernah memikirkan itu. Yang dia pikirkan hanya bisa berkumpul lagi dengan Ibu dan adiknya walaupun hanya satu malam.
Beberapa hari kemudian, tepat hari Sabtu. Yumna dan Galang pergi ke rumah Yumna.
Berangkat pukul 8, tapi baru sampai rumah Yumna ba'da Dzuhur. Google map membuat perjalanan mereka yang seharusnya dari kota L ke kota J 2 jam. Menjadi 3 jam.
__ADS_1
Galang langsung masuk ke kamar setelah bersalaman dengan ibu mertuanya. Sedangkan Yumna memilih menggelar tikar agar sang Ibu bisa bermain puas bersama dengan Ilmi dan Akifa.
Sungguh momen yang sangat memilukan. Ibu Yumna sangat berharap Yumna dan kedua putrinya akan tinggal lebih lama sampai kerinduan diantara mereka terobati.
Tapi apa daya, Ekomoni membuat Yumna harus pulang bersama dengan Galang.
" Setelah ini, mama akan ikut tabungan. Jadi suatu saat jika kamu mau pulang dan tidak akan uang, aku bisa membiayai travel nya." Ucap Mama saat Yumna membantu ibunya memasak.
" Iya, aku akan coba untuk menabung untuk koin dan mencoba kuat untuk tidak mengambilnya. Siapa tahu saat lebaran uangnya cukup untuk biaya travel." Ucap Yumna.
Sore harinya, Yumna meminta agar sang adik segera pulang. Agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
Hingga pukul 10 malam, baik Akifa maupun Ilmi belum ada yang berniat tidur.
Mungkin mereka juga tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir bersama dengan nenek dan juga Tante.
" Bunda, kok di rumah Ibu sebentar. Sedangkan dirumah Nenek lama." Ucap Yumna.
" Ya itu karena Ilmi tidak pulang dulu naik travel. Coba Ilmi pulang dulu naik travel seperti tahun kemarin. Ya, Ilmi akan puas berada disini. Bermain dengan Tante Arumi dan ibuk." Ucap Mama yang membuat Yumna merasa sedih.
Malam semakin larut, Yumna memutuskan untuk menidurkan Ilmi dan Akifa karena takut mereka tidak akan bangun pagi di keesokan harinya.
Yumna merasa sedih, ingin rasanya dia memundurkan waktu, agar bisa memperbaiki keadaan.
Memundurkan waktu ke masa dia baru mengenal platform tempat Yumna menulis demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Dan menekuni nya sehingga Yumna bisa merasakan hasil dari menulis.
" Doakan setelah ini aku mempunyai rejeki yang cukup. Sehingga aku bisa pulang dan berkumpul lebih lama disini." Ucap Yumna kepada sang Ibu.
" Iya.."
Malam itu, Yumna tidak bisa memejamkan mata. Dia ingin sekali membuat matahari tidak terbit.
Tapi apalah daya, Yumna hanya manusia, bukan malaikat.
Suara adzan subuh memaksa Yumna membuka mata. Yumna begitu sedih.
Begitu sedikit waktu untuk bersama dengan keluarganya. Sedangkan waktu tinggal dirumah Galang lebih banyak, padahal mereka berada di Jawa lebih dari 2 minggu.
__ADS_1
" Kami berangkat ya bu.." Ucap Yumna sambil menahan diri agar tidak menangis.
" Iya hati hati." Ucap Ibu sambil memeluk Yumna dan mencium Akifa
Arumi sudah berangkat bekerja saat Yumna mandi, jadi mereka tidak bisa saling memeluk untuk terakhir kalinya.
" Sudah siap?. Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Galang
" Insyallah tidak ada." Ucap Yumna.
" Bismillah selamat sampai tujuan."
" Amin."
Ilmi dan Yumna melambaikan tangan ke arah sang Ibu.
Setelah sepeda motor berjalan cukup jauh meninggalkan rumah. Yumna tidak dapat menahan diri. Air mata nya tiba tiba menetes tanpa aba-aba. Untung saja saat itu Yumna mengenakan masker dan menutup kaca helm. Jadi Galang tidak menyadari jika Yumna menangis.
Ya Allah, kapan aku mempunyai keberanian seperti istri pada umumnya. Yang berani mengungkapkan keinginannya untuk tetap tinggal karena rasa rindu akan keluarga. Seandainya saja Galang tidak mencaci maki aku saat aku berada di rumah ku sendiri. Mungkin aku sudah meminta berada di rumah setelah selesai bersilaturahmi dengan
seluruh keluarga besar Galang. Tapi tidak apa apa. Semoga setelah ini, aku bisa menabung dan mempunyai uang cukup sehingga bisa berkumpul bersama dengan Ibu dan adikku. Semoga keduanya dan diriku diberi umur panjang sehingga dapat berkumpul di hari raya berikutnya.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam. Yumna dan Galang bertemu dengan Novi.
Ya, sebelumnya mereka sudah sepakat untuk berangkat ke Bali bersama sama.
Perjalanan panjang dimulai, semoga saja tidak ada hujan. Itu harapan dari semua orang.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1