
"Jadikan satu saja kamu dan anakmu di dalam KK ini, biar tidak udah pecah KK. Biaya nya biar tidak mahal." Ucap Ibu, saat Yumna akan menyerahkan berkas miliknya ke balai desa setempat.
" Ini, tolong di cek lagi. Nama mu dan anakmu. Biar tidak salah, dan agar bisa langsung di cetak." Ucap petugas kecamatan desa saat datang untuk menuliskan nama bayi Yumna.
" Sudah benar. Berapa lama kira², KTP nya jadi buk?, Karena kan saya mau ke Bali."
" Sekitar 2 bulan. Blanko nya habis, jadi harus bersabar dulu ya.."
Yumna menunggu dengan sabar. Namun Sudah 4 bulan Yumna menunggu. Tapi, KTP nya belum jadi².
Setiap ditanya selalu beralasan blanko kosong.
" Aku masih belum bisa ke Bali, KTP nya belum jadi." Ucap Yumna saat melakukan Video Call dengan Galang.
" Memangnya sudah kepengen banget ya kesini?" Tanya Galang.
" Namanya istri ya pengen suaminya itu tahu pertumbuhan anak. Pengennya merawat anak bersama sama. Memangnya kamu tidak mau aku ikut kesana?" Ucap Yumna.
" Ya mau. Tapi mau bagaimana lagi kalau KTP nya belum selesai."
Beberapa hari berikutnya, Yumna mulai kesal karena petugas itu selalu beralasan jika Yumna menanyakan perihal KTP. Padahal Yumna sudah memberikan sejumlah uang yang diminta diawal penyerahan berkas.
Yumna yang sudah tidak tahan tinggal di sana memutuskan untuk datang ke balai desa, meminta surat keterangan KTP sementara dan menyusul Galang ke Bali.
Dan di hari Yumna mendapatkan sudah keterangan bahwa KTP masih belum selesai, Yumna memutuskan untuk kembali ke Bali di hari berikutnya.
Dalam perjalanan ke Bali, Yumna sangat bersyukur karena Ilmi tidak rewel.
Sesampainya di Bali, Yumna langsung menelpon Galang untuk menanyakan alamat rumah kos yang baru. Karena satu minggu sebelumnya, Galang mengatakan sudah pindah kos karena memiliki tetangga yang selalu membuat berisik.
" Yah.. Kos kosan nya pindah dimana?" Ucap Yumna dalam panggilan suara.
" Di Xxx, jalan xxx. Masuk ke xxx. Nanti ada pohon kelapa. Kamar paling Utara."
" Aku tidak tau, bicara sama supir travel nya saja ya." Yumna memberikan ponsel nya kepada supir.
__ADS_1
Setelah mengerti, supir pun memberikan kembali ponsel Yumna.
" Kenapa pindah?, bukankah kemarin kos di kos kosan tingkat ya?" Ucap sopir.
" Katanya sebelah kamar sangat berisik. Sudah berkali² di tegur tapi tidak menghiraukan. Kasihan kalau Ilmi ada di sana. Jadi pindah."
" Oo begitu."
" Apa masih jauh?" Tanya Yumna saat mobil baru saja melewati jalan arah kos Galang yang dulu.
" Tidak, sebentar lagi sampai."
Sepuluh menit kemudian, mobil memasuki pekarangan kos, dilihatnya Galang sudah menunggu didepan kamar.
" Terima kasih ya..," Ucap Galang pada sopir.
" Kenapa dapat kos yang begini?" tanya Yumna saat memasuki kamar.
" Yaa, tidak ada lagi yang kosong, kalau lama² disana, ya nanti di tarik untuk bayar kos lagi disana." Ucap Galang.
" Biar aku mandikan dia dulu." Ucap Yumna sambil membongkar ransel nya. Mencari handuk dan juga pakaian untuk Ilmi.
Setelah selesai memandikan Ilmi, dan membersihkan diri.
Yumna memutuskan untuk beristirahat setelah makan.
Dalam tidurnya, samar samar Yumna mendengar suara dari kakak Galang dan istrinya. Sepertinya mereka datang untuk melihat Ilmi.
Namun rasa kantuk dan lelah yang di rasakan Yumna, membuat Yumna tidak kuat membuka mata.
Akhirnya Yumna memilih untuk tetap beristirahat.
Malam hari nya, Kakak ipar kembali datang. Dan saat itu barulah Yumna mengerti bahwa tadi siang sang kakak ipar benar benar berkunjung.
Hari berganti hari...
__ADS_1
Yumna menjalani rumah tangga dengan bahagia karena dia tidak lagi berada dirumah Galang. Walaupun kini rumah tangga Yumna di uji dengan ekonomi yang semakin memburuk.
Sepi nya pekerjaan membuat Galang terpaksa berhutang untuk kebutuhan sehari-hari.
" Yah. Kebutuhannya Ilmi habis." Ucap Yumna.
" Gimana yaa, pekerjaan sepi. Aku juga tidak bisa meminjam kepada kakak ku lagi, sebab hutang ku sudah hampir 3 juta, hanya untuk makan." Ucap Galang.
" Ya sudah, jual kalung ini saja." Ucap Yumna sambil mengeluarkan kalung yang dulu dibelikan Galang di masa ramai nya orderan yang diterima Galang.
" Kalau dijual nanti kamu gak pakai kalung."
" Ya nanti cari yang lebih kecil. Yang penting sekarang kita punya uang untuk makan."
" Ya sudah, doakan rejeki ku lancar. Jadi aku bisa mengganti nya."
" Iya."
Hari itu juga, Yumna diantar Galang menjual kalung dan langsung berbelanja kebutuhan Ilmi.
Rumah tangga berjalan seperti biasa. Galang sibuk dengan tugasnya, mencari uang untuk menghidupi anak dan istrinya. Sementara Yumna, petugas sebagai seorang ibu rumah tangga.
Yumna selalu berdoa bahwa kehidupan rumah tangganya akan terus berjalan seperti ini.
Namun sayangnya hari itu hanyalah menjadi harapan yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1