Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Tidak menyangka


__ADS_3

" Malam ini, bermalam lah disini, jalanan terlalu sepi jika aku mengantarmu pulang sekarang. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang" Ucap Galang menemui Yumna, saat selesai acara tahlil.


" Kau si, menghilang. Dari tadi sore aku sudah mencari mu, untuk meminta di antar kan ke terminal. Sudah satu minggu kan aku tidak pulang." Ketus Yumna.


" Iya, aku terlalu sibuk berbaur dengan orang² yang datang. Tidak apa, malam ini menginap lah disini, kau boleh tidur di kamarku. Dan jangan lupa untuk mengunci pintu." ucap Galang.


" Hmmm, baiklah."


Keesokan harinya....


Rumah Galang sudah ramai dengan orang yang sibuk memasak guna menjamu para pelayat yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa.


" Apa kau sudah siap?." Tanya Galang mengetuk pintu kamarnya.


" Sudah," Ucap Yumna sambil keluar dengan baju yang dibelikan Galang di pasar pagi tadi. Karena baju Yumna semua kotor dan bau.


" Ibu dimana?" Tanya Yumna


" Itu Ibuku." Tunjuk Galang.


Yumna melangkah mendekati Ibu Galang yang sibuk memotong sayur mayur.


" Bu, saya pamit mau pulang" Ucap Yumna sopan.


" Terus kamu gak akan kesini lagi kalau sudah tujuh harinya Bapakmu?." ucap Ibu.


" Siapa dia ning?." Tanya seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Ibu Galang.


" Ini lo mbak, pacar Galang, dia yang menemaniku di RS, dan juga merawat suamiku. Dia juga yang wira wiri mengurus semua, termasuk bolak balik mengambil obat yang jaraknya 2km dari kamar rawat ke apotik." terang Ibu Galang kepada wanita, yang ternyata adalah kakaknya.


" Ooo, Terus ini mau kemana?." Tanya wanita tadi.


" Mau pulang." Jawap Ibu Galang.


" Loo, nduk. Menurut adat disini, kalau sudah terlanjur bermalam di rumah duka, harus menginap sampai selesai acara tujuh harinya, kalau tidak nanti.. bla bla bla bla bla.... "


Panjang lebar wanita itu menjelaskan, Intinya pamali kalau di paksakan pulang.


" Bener nduk, kamu gak boleh pulang." Sambung Ibu Galang.


Yumna melirik Galang, kemudian Galang meng kode agar menuruti saja apa kata mereka.


Setelah menaruh kembali tas ranselnya di kamar galang, Yumna memilih berbaur dengan orang² di dapur.


Tiga hari berlalu, Yumna mulai terbiasa berbaur dengan anggota keluarga Galang.


" Rajin sekali ya pasangan Galang ini". Ucap wanita yang tak lain adalah kakak dari Ibu Galang.


" Nanti sudah rajin, eh tidak diangkat jadi menantu." kekeh yang lain. Yumna hanya menyimak.


" Ohh tidak, setelah ini selesai biarkan Pak Jono datang meminta dia." Ucap Ibu Galang. Jono adalan suami dari adik Ibu Galang.


" Nanti seperti Sila, sering berkunjung disini, namun ujung²nya tidak jadi menantu." Jawap yang lain.


" Itu karena 'weton' mereka tidak baik dan tidak cocok." Jawap Ibu Galang.


Bla bla bla bla bla....


Mereka bicara hal yang tidak di mengerti, Yumna hanya menanggapi nya dengan senyum.


Satu minggu kemudian, keluarga Galang benar² datang seperti yang Ibu Galang katakan.


Mereka juga membawa seserahan. Yumna sungguh tidak berpikir akan segera menikah dengan Galang, karena rencana mereka dulu adalah menikah setelah hari raya.

__ADS_1


Setelah acara lamaran.


Galang dan Yumna mulai sibuk mengurus berkas untuk di serahkan ke kantor KUA. Karena tanggal pernikahan di tentukan 2 minggu, sejak acara lamaran yang sederhana itu.


" Rim, aku akan menikah." Ucap Yumna melalui sambungan telpon.


" Benarkah?, kenapa mendadak sekali?." Ucap suara di seberang.


" Bla bla bla bla bla bla."


Yumna menceritakan kronologi nya, dimulai dia yang ikut ke RS, hingga dia tidak diperbolehkan pulang sebelum selesai acara tahlil 7 hari.


Dan keputusan yang tidak terduga dari kedua belah pihak yang memutuskan untuk menikahkan mereka.


" Acara nya dimana?". Tanya Rimba, masih dalam sambungan telpon.


" Aku akan menikah di rumah Galang, kau tau kan aku disini tidak ada siapa², kakekku tidak mau tau soal pernikahanku. Ayahku entah dimana. Ibuku marah karena aku menikah tanpa menunggu nya pulang." Ucap Yumba sedih


" Kenapa kau tidak coba memberi Ibumu kesempatan lagi?, siapa tau beliau benar² akan pulang." Ucap Rimba.


"Terakhir kali beliau katakan hanya akan ada di sana 2th, tapi ini sudah memasuki tahun ke 4." Ucap Yumna.


" Aku tau perasaanmu. Aku akan selalu mendukungmu." Ucap Rimba.


" Terima kasih, kau yang terbaik." Ucap Yumna, kemudian mematikan sambungan telpon.


Setelah mendaftarkan diri ke kantor KUA di kota Galang, dan membuat surat pernyataan wali hakim dalam acara ijal kabul nanti. Yumna memilih langsung pulang.


" Hallo tante." Yumna menelpon seseorang.


" Iya, ada apa nduk." Ucap seseorang di seberang sana.


" Bolehkan aku meminjam uang sejumlah xxx untuk menyewa kebaya?, tabunganku sangat menipis, aku ada uang. Namun untuk biaya sewa kendaraan." Ucap Yumna.


" Terima kasih tante." Yumna mematikan sambungan telpon.


................


(Apa kau tidak mau mengundangku ke acara mu nanti). Pesan dari Rimba.


( Apa kau mau ikut?,) balas Yumna


( Tentu saja aku tidak ingin melewatkan momen orang tersayang ku) balas Rimba yang sukses membuat Yumna meneteskan air mata.


(Keluargaku akan berangkat tanggal xx pukul 07:00, karena ijab kabulnya pukul 09.00) balas Yumna


( Hmmm, baiklah. Aku akan bersiap. Aku akan menunggu di jalan depan rumah nenekku saja, bagaimana). balas Rimba


(oke.).


...


drtt drttt drtt....


" Hallo tante?." ucap Yumna


" Hallo nduk, uangnya sudah di transfer, dan tidak usah di ganti. Anggap itu kado pernikahan dari kami. Maaf tante dan om tidak bisa datang. Kau tau kan tante barusaja melahirkan." Ucap tante Yumna.


" Terima kasih banyak ya tante."


" Iya, semoga kau bahagia. Soal Ibumu, jangan kau pikirkan ya." Ucap tante menenangkan.


Yumna kembali menangis, dia akan menikah, namun seakan tidak ada yang peduli.

__ADS_1


Hari Pernikahan, Yumna kecewa dengan hasil rias yang menor dan terkesan norak.


Membuat Yumna enggan menyapa Rimba dan Intan yang duduk di kursi paling belakang.


(Menoleh ke belakang, ayo. Aku mohon). pesan dari Rimba.


( Tidak, dandan nya memalukan, ingin aku hapus saja). balas Yumna


( jangan begitu. Kau tetap cantik di mataku) balas Rimba


( Jangan gombal, ada Intan di sampingmu, nanti dia cemburu) balas Yumna


( dia bahkan sudah tau, wkakakak).ledek Rimba


Yumna menoleh ke arah Rimba yang tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba perasaan nya tidak enak tentang pernikahan nya ini.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 90menit.


Yumna dan keluarga tiba di kediaman Galang.


Tidak ada tenda ataupun segala jenis resepsi. Pernikahan ini dibuat sesederhana mungkin.


Hanya ijal kabul ke kantor KUA, dan mengundang beberapa tetangga sebagai bentuk rasa syukur.


Lima belas menit digunakan keluarga Yumba untuk beristirahat, sambil menikmati hidangan yang di sugukan.


Hingga keluarga Galang memutuskan untuk berangkat ke KUA saat jam menunjukan pukul 09.00.


Sesampainya di kantor KUA, terlihat banyak sekali pasangan yang menikah.


Sepertinya hari itu memang hari dan tanggal yang baik untuk menikah.


" Hei, kalian baru sampai?, aku sudah menunggu kalian sejak tadi. Ayo langsung masuk saja." Ucap seorang laki², yang tak lain adalah mudin di desa Galang.


" Waow.. kita seperti nikah masal." Bisik Yumna pada Galang yang hanya di jawap anggukan kepala.


" Ayo maju." Ucap mudin tadi setelah Yumna dan Galang menunggu, dan menyaksikan 3 pasangan melakukan ijab.


" Sudah latihan ijab kabul." Tanya penghulu.


" Sudah." Jawap galyang mantap.


" Kalau begitu bisa kita mulai." Ucap penghulu yang kemudian menjabat tangan Galang.


" Saya Nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Falisha Yumna Az Zahra binti Muhammad yang di wali hakimkan kepada saya, dengan mas kawin xxxx dibayar tunai."


Galang langsung mengucapkan kata sakral itu dalam satu tarikan nafas.


" Bagaimana para saksi"


" Sah..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2