Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Terpaksa tegar


__ADS_3

Tidak ada yang menyadari Keluh kesah seorang ibu hamil.


Yumna yakin jika semua wanita hebat yang sedang hamil pasti menginginkan di manja dan disayangi oleh suami.


Tapi kebanyakan dari suami tidak memperdulikan keinginan dari para istri.


Saat wanita yang bergelar isteri, hamil


Mungkin dia ga banyak bercerita.


Tapi bukan berarti dia selalu sedang baik-baik saja.


Ada kalanya dia cukup waras untuk tidak mengeluh karena tau percuma mengeluhkan rasa yg tidak bisa dibayangkan oleh pasangannya.


Tapi ada kalanya dia mungkin cukup lelah sehingga tanpa sadar keluhan-keluhan itu keluar begitu saja.


Rasa yg dialami dia yg sedang hamil tentu saja hanya bisa dirasakan oleh yg pernah hamil juga.


Krn rasa tersebut begitu spesial dan spesifik.


Mual saat sakit beda sekali dengan mual saat hamil.


Tapi kebanyakan suami mengganggap hal itu telah berlebihan. Bahkan tidak jarang para suami menghujat secara berlebihan ketika sang istri mengalami masa ini.


Kaki bengkak krn kecapean berolah raga beda sekali dengan kaki bengkak saat hamil.


Suami seringkali memarahi ketika melihat istrinya hanya duduk diam dan bersantai. Mereka tidak tahu jika istri hamil juga butuh waktu untuk bersantai.


Ngilu bagian punggung, pinggang, ************ dan lain lain yg bukan krn penyakit tapi mmg karena bagian bagian itu sedang berproses menyiapkan tempat bayi dan jalan lahir entahlah siapa yg bisa paham.


Walaupun istri sudah menjelaskan secara rinci namun beberapa jenis suami justru menganggap itu hanyalah alasan belakang.


Selera makan yg kadang ingin pedas, kemudian ingin manis, lalu ingin asem, lanjut merasa pahit bukan krn dia ingin menguji kesabaran pasangannya.


Tak heran berapa para suami justru marah ketika diminta istri membelikan sesuatu yang terlalu banyak macamnya.


Seperti saat Yumna mengalami mual dan muntah yang sangat hebat di kehamilan keduanya. Dan meminta diberikan nasi goreng oleh Galang karena gina sama sekali belum kemasukan makanan.


" tolong belikan aku nasi goreng aku tidak kemasukan makanan dari pagi." Ucap Yumna.


" suruh siapa kerjanya hanya tidur saja dan tidak mau berolahraga inilah akibatnya karena kamu terlalu banyak tidur." Ketus Galang.


" Tidak usah pakai sayur, jangan pakai telur."


" Huh Kenapa kamu cerewet sekali. Kenapa tidak kamu saja yang pergi dan membelinya sendiri." Ucap Galang yang sukses menbuat Yumna menangis.


Sepeninggal Galang, Yumna menangis dan bertekad tidak akan memberitahu jalan tentang apa yang akan dia inginkan.


Yumna menjalani kehidupan seperti biasa, dia selalu mencoba menahan mual muntahnya ketika ada Galang di dalam rumah.


Ketika Yumna ngidam, dia akan berusaha untuk mencarinya dan memberinya sendiri tanpa merepotkan Galang.


" Gak ada istilah ngidam. Gak ada istilah di Padang bayi yang menginginkan makanan ataupun lainnya. Itu hanya akal-akalan kamu saja." Kata itu yang selalu dalam ucapkan ketika Yumna mengatakan tentang keinginannya yang menginginkan sesuatu.


Tanpa para suami sadari, istri sendiri mungkin heran dengan apa yg dia rasakan.


Saat dia benar benar memakan dengan lahap apa yg dia inginkan, istri hanya ingin di pahami bahwa itu bukanlah suatu yg hal mengada-ada.


Saat dia mulai kesulitan untuk sekedar beranjak dari kursi atau tempat tidur, uluran tangan sangat dirasakan membantu. Tapi terkadang para suami menganggap sang istri hanya bertingkah berlebihan.


Sama halnya Yumna yang berharap suaminya merasa bahwa pasangannya turut berempati terhadap kesakitan yg sedang di rasakan.


Saat dia mulai lambat berjalan, kadang ngos-ngosan, sesekali mencari pegangan, Yumna berharap Galang akan membantunya. Namun nyatanya tidak.


Yumna ingin sekali Galang mengerti jika...


Apa yang dibawa dalam perutnya sebenarnya sangat berat. Walaupun itu sudah menjadi kodrat wanita. Tapi Apa salahnya jika seorang istri ingin dimengerti.


Berat yg harus dibawa kemanapun dalam posisi apapun.


Mungkin dia kesulitan untuk sekedar berjongkok, untuk mengangkat kakinya saat berwudhu, bahkan untuk menggunting kuku kakinya sendiri.


Disaat jongkok adalah posisi yg paling dia ingin hindari seiring semakin besar perutnya, justru keadaan harus buang air kecil yg semakin sering membuatnya harus bolak balik ke kamar mandi bahkan bbrp kali di malam hari.


Dibanding apa yg dia ucapkan, percayalah, lebih banyak yg dia pendam sendiri.


Dibalik semua rasa lelah dan sakitnya, dia penuhi hatinya dengan penuh rasa syukur dan suka cita, krn dia tau insyaallah akan hadir makhluk mungil yg selalu dia cintai sepenuh hati dari sebelum hadirnya.


Dia begitu antusias menyiapkan tempat untuk bayinya, keperluan bayinya, berusaha melakukan yg terbaik sbg seorang ibu.


Mungkin dia sesekali terlihat sedih dan takut atau khawatir.


Jangan kau kecilkan dan remehkan perasaannya.


Krn kau sedikitpun tidak terbayangkan apa yg akan dia hadapi.


Mungkin kau pernah menemaninya dlm proses melahirkan sebelumnya, saking indahnya yg teringat hanyalah saat akhirnya bayi keluar dengan selamat.


Taukah apa yg berkecamuk dlm pikirannya?


"Ini adalah hidup dan matiku.


Rasa sakit yg memang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manapun."


Bantulah dengan doa selalu.


Dia yg mgkn biasanya manis mendadak muram.


Dia yg mgkn biasanya sigap mendadak lelet.


Dia yg mgkn biasanya fokus mendadak pelupa.


Dia yg mgkn biasanya harum mendadak malas berhubungan dengan sabun mandi dan parfum.

__ADS_1


Dia yg mgkn biasanya sabar mendadak lebih mudah kesal.


Dia yg mgkn biasanya tabah mendadak mudah menangis.


Dia yg mgkn biasanya enak diajak bicara diskusi segala hal mendadak isi pembicaraannya hanya seputaran hamil yg dialaminya.


Jika dia merasa dimengerti, dia akan merasa nyaman menjalani kehamilannya.


Basa basi pun dia terima.


Kata kata manis dan perhatian apapun yg enak didengar.


Yg penting bukan caci maki.


Bukan kata yg menyakiti hati.


" Ingat ya pak, ini yg dikandung adalah anakmu juga, karna sedihnya ibu akan jd sedihnya janin yg dikandung. Berbuat baik pada ibunya, tentunya terhitung berbuat baik pada titipanNya juga."


Seandainya saja Galang ada untuk mendengarkan apa yang baru saja dokter katakan, mungkin Yumna akan merasa sedikit ada perhatian dari Galang dan tidak akan menganggap bahwa semua yang dilakukan Yumna tidak dibuat buat.


Namun nyatanya sekalipun Yumna berusaha untuk mengajak Galang ikut masuk saat pemeriksaan. Galang selalu beralasan dengan berbagai hal.


Yumna kemudian menyadari satu hal bahwa dia tidak boleh cengeng dan harus kuat.


Yumna harus bisa menjadi seorang yang tidak lemah dan tidak terlalu mengharap akan mendapat perlakuan lembut dari Galang.


...----------------...


" Aku berharap anak kedua kita adalah laki-laki, namun ternyata perempuan." Ucap Galang.


" Iya." Ucap Nina.


" Mungkin memang rezeki kita hanya diberikan anak perempuan ya?, kan ada keluarga yang hanya diberikan anak laki-laki saja."


" Iya, setiap orang pasti diberikan ujian. Entah ujian tidak memiliki anak, entah ujian diberi kekayaan yang melimpah tapi sangat susah mendapatkan anak. Atau dengan banyak anak tapi mereka tidak punya uang. Apapun ujiannya kita harus tetap bersyukur kan bahwa Tuhan masih mempercayakan kita untuk membesarkan seorang anak."


" Iya."


Belum selesai percakapan mereka berdua, Galang mendapat telepon dari temannya, yang mengatakan bahwa temannya akan datang berkunjung ke sana.


" Nda kamu tidak papa aku tinggal sendirian selama beberapa jam?, karena aku harus pulang untuk mengubur ari-ari dari bayi kita. Aku akan pulang bersama dengan temanku, dan kembali dengan membawa sepeda jadi kita ada kendaraan jika kita butuh sesuatu."


" Iya,bawakan aku beberapa cemilan dan susu."


" Baiklah. Aku akan berpamitan sebentar kepada bidan."


" Baiklah."


Tak beberapa lama setelah kepulangan Galang. Dokter dan bidan datang dan langsung memeriksa Yumna serta sang Bayi.


" Ibu apa ada keluhan?"


" Iya, perut saya terkadang seperti mengalami kontraksi."


" Tidak apa apa bu, itu normal terjadi karena perut dalam tahap kembali ke bentuk semula. Jadi Ibu mungkin akan mengalami gejala seperti akan melahirkan beberapa kali dalam beberapa jam."


Bidan serta dokter itu pun pamit. Yumna melihat dokter dan bidan itu masuk ke ruangan yang ada di sebelah kanan ruangan Yumna.


" Hmm, sepertinya bukan hanya aku yang melahirkan hari ini." Lirih Yumna.


" Lo, kok bawa makanan juga?" Tanya Yumna saat Galang datang dengan membawa sebungkus makanan.


" Iya, saat tadi aku berpamitan kepada bidan. Bidan itu mengatakan jika makan siang dan makan malam tidak disediakan jadi kita harus membelinya sendiri. Karena itu, Ibu membawakan kita makanan."


" Oh seperti itu, lalu apakah Ilmi menangis?"


" Menangis sebentar, lalu aku katakan jika Ilmi ikut maka adiknya tidak kan boleh pulang oleh dokter. Jadi dia diam."


" Oh..."


Galang dan Yumna memutuskan untuk kembali beristirahat karena Yumna juga masih tidak diperbolehkan terlalu banyak beraktivitas.


" Yah, ini sudah lebih dari 6 jam. Tapi kenapa aku dan bayinya tidak dimandikan?. Dulu setelah aku melahirkan Ilmi dan sudah 6 jam kami dimandikan."


" Mungkin nanti, yang melahirkan di sini ada tiga orang denganmu. Dan saat aku kembali aku juga melihat wanita hamil yang sepertinya juga akan melahirkan."


" Oh, mungkin saja."


" Ya sudah ini makanlah aku akan merokok di luar sebentar."


" Iya."


Setelah makan, Yumna memilih kembali berbaring, sambil menunggu bidan datang kembali.


Namun, sudah hampir 2 jam Yumna menunggu, tidak ada tanda-tanda bidan itu akan datang kembali.


Lalu saat Galang masuk ke dalam ruangan.


Yumna meminta Galang untuk bertanya kepada bidan apakah bayi mereka akan dimandikan atau tidak.


Galang pun segera pergi ke pos jaga bidan.


" Kata bidan, bayinya akan dimandikan besok saat pulang. Dan ibunya boleh mandi."


" Astaga, Kenapa tidak bilang dari tadi. Kalau ternyata aku sudah boleh mandi dari tadi maka aku akan segera mandi. Karena badanku terasa sangat lengket."


" Mandilah, aku akan menjaga Putri kita."


Dengan perlahan Yumna masuk kedalam kamar mandi. Dan memulai ritual mandinya. Yumna merasa sangat segar, walau belum genap 1 hari dia melahirkan tapi rasanya Yumna sudah tidak mandi selama berhari-hari.


Setelah mandi, Galang membantu memasangkan sabuk ke perut Yumna.


Tak beberapa lama kemudian, bidan datang dan masuk untuk mengantarkan vitamin.

__ADS_1


" Lo, Ibu sudah mandi?"


" Iya, saya tidak tahan gerah bu bidan."


" Iya sudah tidak apa apa kalau memang Ibu tidak ada keluhan seperti pusing. Dan ini saya membawakan Ibu obat dan vitamin diminum 2 kali sehari setelah makan ya. Saya letakkan disini ya."


Bidan meletakkan obat itu di atas meja yang ada di sebelah ranjang tidur Yumna.


" Terima kasih bu."


" Sama sama. Kalau begitu saya permisi, jika ada keluhan bapak bisa memanggil petugas yang ada di sebelah sana."


" Iya."


...


Malam harinya, bayi kecil itu sedikit rewel, karena pernapasannya berbunyi grok-grok.


" Mungkin karena tadi tidak mendapat sinar matahari." Ucap Galang.


" Iya, dan mungkin juga bunyi ini akibat dari kotoran yang menempel pada bayi kita. Tadi aku banyak membersihkan bercak merah pada badan bayi kita."


" Emm ya mungkin saja."


Malam itu, Galang membantu menidurkan dan menenangkan bayi mereka yang sedikit rewel karena pernapasannya.


Yumna yang khawatir, meminta Galang untuk memanggil bidan agar memeriksa bayi mereka apakah bayinya baik-baik saja.


" Tidak apa apa bu, ini normal terjadi di awal kelahiran bayi. Jika tidak air keluar yang dari hidung si bayi maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


" Syukurlah kalau begitu karena saya takut."


" Tidak apa apa Bu, jika bayi tiba-tiba menangis coba Ibu miringkan ke kiri. Atau sebaliknya cobalah untuk membuat bayi merasa nyaman."


" Iya, terima kasih bu."


" Sama sama."


Bidan keluar, dan Tak lama kemudian Galang masuk.


Galang meminta izin Yumna untuk menemui dan menemani temannya yang datang berkunjung lagi.


Keesokan paginya...,


Galang membawa bayi mereka dan menanyakan kepada bidan apakah bayi itu boleh berjemur atau tidak.


Dan setelah mengetahui bahwa bayi boleh berjemur. Galang langsung membawa bayi itu untuk berjemur dibelakang ruangan Yumna.


Yumna memilih untuk mandi sebelum akhirnya mereka pulang.


Setelah mandi, Yumna melihat sudah ada makanan di atas meja. Yumna lalu segera menghabiskan makanan itu dan meminum obat yang diberikan oleh bidan semalam.


Sesekali Yumna mengintip dari jendela, apakah Galang sudah kembali dari berjemur atau tidak.


Karena Galang belum kembali dan Yumna yang merasa sedikit bosan, akhirnya Yumna memilih untuk mengemasi pakaiannya dan milik bayi mereka.


Yumna hanya menyisakan satu stel pakaian yang akan dipakai untuk pulang nanti.


Tak beberapa lama kemudian Galang datang dan langsung menyerahkan bayi kepada Yumna, Yumna langsung memberi bayi itu ASI.


Tok


Tok


Tok


" Permisi pak bu, beberapa saat lagi bayinya akan dimandikan jadi tolong siapkan pakaiannya ya." Ucap Bidan


" Iya."


Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, akhirnya bidan tadi kembali dengan membawa sebuah bak yang berisi air hangat. Lalu di mana hati-hati Yumna memberikan bayi itu kepada bidan untuk dimandikan.


Tak lupa juga, bidan itu mengajarkan kepada Yumna cara memandikan bayi yang benar.


" Ohya bu, kira-kira kapan ya kami bisa pulang karena saya harus menghubungi paman untuk menjemput kami." Ucap Galang.


" Tadi malam sudah diperiksa oleh dokter atau belum?"


" Belum." Jawap Yumna.


" Kalau belum berarti menunggu Ibu dan bayinya diperiksa oleh dokter, dokternya akan datang dalam 2 jam."


" Baiklah."


..


Yumna dan Galang sudah menunggu lebih dari 2 jam. Namun belum ada tanda-tanda dokter itu akan datang ke sini untuk memeriksa bayi dan Yumna.


Galang yang sudah bosan berada di klinik itu memilih untuk keluar dan bertanya kepada bidan apakah dokter nya sudah datang atau belum.


" Bagaimana?" Tanya Yumna saat melihat Galang kembali.


" Dokter nya sudah datang tapi masih memeriksa bayi yang lain."


" Hmm, kan tadi aku sudah bilang mungkin dokternya sudah datang tapi karena bukan hanya aku yang melahirkan di sini mungkin dokternya masih jalan-jalan ke ruangan lain tapi kamu tidak percaya padaku." Ketus Yumna.


" Iya iya."


Tak beberapa lama kemudian, dokter yang ditunggu-tunggu pun akhirnya masuk ke ruangan Yumna dan langsung memeriksa Yumna dan juga bayinya.


Setelah Yumna dan bayinya selesai diperiksa dokter, bidan menyuruh Galang untuk mengambil buku KIA serta bingkisan yang diberikan klinik kepada si bayi.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2