Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Pulang mendadak


__ADS_3

Galang menerima kabar tentang ibunya yang sakit. Hari itu juga Galang mengajak Yumna untuk pulang.


Ternyata Ibu Galang hanya sakit biasa. Hanya dengan beristirahat sudah kembali sehat.


Yumna sangat menyayangkan Galang yang memutuskan untuk langsung pulang hanya karena adiknya yang berkata berlebihan tentang sakit ibunya.


Tiga hari kemudian, Galang mengajak Yumna untuk mengunjungi orang tua Yumna.


Tentu saja Yumna sangat senang karena Yumna sudah sangat merindukan sang Ibu..


" Berapa hari disana?" Tanya mertua saat Yumna dan Galang sudah siap untuk berangkat.


" Berapa hari nda?" Tanya Galang sambil menatap Yumna.


" Ya berapa hari kek gitu." Ucap Yumna.


Setelah mengatakan itu, Yumna memilih untuk masuk ke dalam mengambil selimut yang akan mereka jadikan untuk alas duduk agar nyaman.


Karena jok sepeda milik adik Galang sangatlah tipis. Mengingat perjalanan yang jauh pastilah membuat bokong terasa panas dan pegal.


Samar samar Yumna mendengar obrolan Galang dan juga Ibu mertuanya yang mengatakan kalau bisa jangan lama-lama berada di sana, karena sang ibu mertua takut jika Kakak Galang akan datang dan mengajak mereka untuk jalan-jalan.


" Memangnya kenapa sih kalau lama?, toh itu juga dirumah sendiri, walaupun ngontrak tapi setidaknya kan di sana ada keluargaku sendiri. Kenapa ibu mertua selalu saja membuat keadaan semakin memburuk. Galang saja sudah enggan untuk mengunjungi orang tuaku, ditambah dengan omongan sang ibu. Pastilah aku di sana tidak lebih dari 3 hari." Lirih Yumna sambil menahan tangis, meratapi nasibnya yang selalu tidak bisa lebih lama berkumpul bersama keluarganya.


" Kami pamit bu." Ucap Yumna sambil menyalami Ibu mertuanya.


" Hemm."


Ibu matanya seperti tidak rela melepas kepergian Galang dan Ilmi.


Yumna tidak mau mempermasalahkan hal itu, dia langsung naik ke atas jok sepeda motor yang sudah siap berangkat.


Perjalanan panjang, di tengah jalan ban sepeda yang mereka kendarai bocor.


" T*ik.., Anj*ng."


" ****."


Galang terus saja mengumpat karena kesal, membuat Yumna menyadari bahwa sesungguhnya Galang, enggan untuk mengunjungi orang tuanya.


Yumna jadi kembali teringat tentang kejadian saat dulu dia berkunjung ke rumah orang tuanya dalam keadaan hamil.


...----------------...


" Kamu sama Ilmi naik bis aja nanti aku akan menyusul kalian." Ucap Galang beberapa saat setelah dia mengeluarkan kata-kata kasar dan banyak kata yang tidak pantas diucapkan saat berada di dekat anak-anak.


" Tidak kita cari bengkel bersama-sama saja, lagi pula rumah kontrakannya sudah pindah kamu tidak akan tahu. Daripada nanti kita sama-sama bingung mencari posisi dimana dan dimana lebih baik kita berangkat bersama saja."


" Ya sudah terserah."


Galang lalu menuntun sepedanya.


Yumna mengandeng Ilmi agar tidak berjalan terlalu dekat dengan jalan raya.


" Itu sepertinya bengkel." Tunjuk Yumna.


" Ohya."


Yumna akhirnya bisa tersenyum lega, karena dia tidak lagi harus mendengar Galang yang terus saja mengumpat karena kesialan yang mereka alami.


" Kenapa mas?" Tanya tukang tambal ban.


" Bocor."


" Ohya, saya periksa dulu ya."


Setelah tukang tambal ban itu membongkar ban sepeda milik adik Galang.


" Ohya, lihat ini bocor nya di tempat bekas tembelan."


" Besar gak lubangnya?"


" Ya lumayan. Bekas lubang yang dulu itu terbuka. Ini peleng sepeda nya juga bukan yang aslinya. Ini juga bisa membuat ban rawan bocor.


" Ya sudah, ganti ban dalam saja. Biar cepat, soal nya perjalanan kami masih jauh." Ucap Galang.


" Oke, tapi tunggu sebentar ya karena saya harus mengambil ban di dalam rumah."


" Jauh?"


" Enggak, hanya di belakang rumah yang besar itu saja."


" Baiklah."


Sepeninggal tukang tambal ban, Galang menelpon adiknya dan dia terlihat marah marah. Karena sang adik tidak becus mengurus sepeda, hingga sepeda nya menjadi rusak.


Tak lama kemudian, tukang tambal ban kembali. Setelah memasang ban dalam baru. Galang dan Yumna pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Yumna.


" Ini kan jalan nya." Tanya Galang.


" Iya. Pelan pelan jalannya karena aku sedikit lupa belokannya."


Galang melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, Yumna menoleh ke kanan kiri mengingat patokan jalan di mana dia harus berbelok.

__ADS_1


" Lah, itu jalan nya kelewatan." Ucap Yumna sambil menepuk-nepuk punggung Galang.


" Huh, kamu itu gimana sih yang bener kamu itu kalau lihat." Ucap Galang dengan nada marah.


" Ya mana aku tahu aku kan lupa lagipula aku kan sudah lama tidak pernah datang ke sini." Ucap Yumna.


" Lalu ini gimana sekarang kita sudah melewati nggak terlalu jauh." Kata Galang masih dengan nada marah.


" Ya sudah kita belok kiri setelah ada Indomaret saja." Ucap Yumna.


Karena jalannya memutar, tentu saja hal itu membuat Galang semakin marah.


Dan saat mengetahui jika rumahnya terlalu masuk kedalam Galang semakin mengomel. Yumna berusaha untuk tidak menghiraukannya.


" Keluarga mu itu gimana sih, setiap mengontrak rumah selalu saja terlalu masuk ke dalam. Tidak pintar memilih rumah atau bagaimana?"


" Aku tidak tahu yang jelas mereka mencari rumah kontrakan sesuai dengan keuangan yang ada." Ucap Yumna.


Begitu Yumna dan Ilmi tiba, Ibu langsung menyambut mereka dengan suka cita. Setelah bersalaman Galang langsung meminta izin ke kamar mandi.


" Kak, Mama belum masak mau beli bakso atau rujak?" Bisik Arumi.


" Terserah, sedapatnya aja dan ini uangnya." Ucap Yumna sambil memberikan selembar uang berwarna biru kepada adiknya.


" Pegang saja dulu sementara pakai uangku, Ilmi ayo ikutan Tante, nanti Tante belikan Ilmi es krim."


" Hore.."


Yumna langsung membantu melepas jaket Ilmi. sepeninggalan Ilmi, Yumna membawa masuk tas yang berisi pakaian mereka.


" Istirahatlah dikamar." Ucap Yumna saat melihat Galang sudah keluar dari kamar mandi.


" Iya, nanti saja." Ucap Galang.


" Yumna, suamimu dibuatkan teh atau kopi?" Tanya Mama yang sudah menghidupkan kompor hendak memasak air.


" Sebentar aku tanya."


Yumna lalu mendatangi Galang yang sedang merokok di teras rumah.


" Mau kopi lagi?"


" Teh saja."


" Hmm, baiklah."


Setelah mengetahui apa yang yang Galang mau, Yumna segera berjalan kembali menuju dapur dan mengatakannya kepada sang ibu.


" Ma, aku akan melahirkan di Bali."


" Karena di sana ada klinik yang bisa bayar seikhlasnya."


" Oh ya sudah, nanti aku yang akan datang ke sana untuk merawatmu."


" Ohya ma, jika Galang masih belum bisa mengumpulkan uang untuk biaya persalinan ku, aku minta ijin untuk meminjam kalung yang telah mama berikan kepada Ilmi. Nanti, kalau aku ada rezeki lain aku akan menggantinya."


" Iya, gunakan saja. Lagipula itu kan sudah aku berikan kepada Ilmi."


" Ya, walaupun sudah diberikan Tapi tetap saja kan aku harus meminta izin kepada yang memberi."


" Iya pakai saja, mama juga tidak bisa membantu apa-apa kepadamu."


" Cukup dengan datang dan membantu ku menjaga Ilmi saat aku akan melahirkan saja sudah membuatku senang." Ucap Yumna sambil tersenyum kepada sang ibu.


" Ya sudah ini, berikan teh nya kepada suamimu."


Yumna menerima gelas berisi teh dan mengantarkannya kepada Galang.


Mama, seandainya aku bisa aku ingin memberitahumu tentang segala sesuatu yang aku rasakan. Maafkan aku mama, karena sejauh ini aku masih saja terus merepotkanmu. Batin Yumna.


...----------------...


Tiga hari kemudian....


" Pokoknya besok aku mau pulang. Jika kamu masih ingin disini terserah padamu saja. Kemasi barang ku, aku akan pulang besok pagi." Ketus Galang, saat Yumna menolak untuk pulang.


Setelah mengatakan itu, Galang keluar dari kamar dan duduk di teras rumah.


Dengan menangis, Yumna mengemasi barang-barang miliknya dan milik Ilmi.


" Loh, kenapa baju mu juga diberesin?" Tanya Galang


" Ya. Jika aku tidak ikut pulang bersama mu pasti kamu akan marah marah dan mengataiku segala sesuatu yang menyakiti hati." Ketus Yumna tanpa melihat kearah Galang.


Hingga keesokan harinya saat mereka dalam perjalanan pulang kembali ke rumah Galang, Yumna memilih untuk terus diam.


Yumna hanya berkata ya atau tidak di setiap pertanyaan yang Galang lontarkan.


" Mau mampir ke taman?" Tanya Galang saat mereka pulang dengan melewati kota dan alun-alun.


" Hmm."


" Aku tidak butuh jawaban Hmmm, aku butuh jawaban iya atau tidak."

__ADS_1


" Pulang. Pulang sajalah aku capek. Dan aku ingin segera istirahat." Ketus Yumna.


Sesampainya di rumah Yumna langsung masuk ke dalam kamar tanpa mencari Ibu mertuanya.


" Kenapa istri mu,?"


Samar samar Yumna mendengar Ibu mertuanya bertanya kepada Galang tentang sikapnya yang tidak biasa.


" Ya biasa karena aku mengajaknya pulang mungkin dia masih belum puas bertemu dengan ibunya."


" Sudah tahu dia masih rindu kepada ibunya Kenapa kamu mengajaknya pulang?"


" Aku malas berada di sana di sana itu bukan rumahku lagipula rumahnya itu terlalu pelosok sangat sepi jauh dari jalan raya. Mau kemana-mana jauh. Aku bosan." Ketus Galang.


Yumna hanya bisa menangis saat mendengar penuturan dari Galang.


Karena inilah Yumna selalu tidak suka bilang pulang bersama dengan Galang.


Karena tidak ingin terus larut dalam kesedihan, Yumna memilih membongkar barang bawaannya.


Yumna juga membawa bekas pakaian Ilmi waktu masih bayi yang dia temukan di dalam koper di rumah nya. Lalu mencari lagi pakaian bayi Ilmi yang ada di rumah mertuanya itu.


" Hmm, ternyata baju bayi ini masih lumayan banyak. Jadi aku hanya perlu membeli beberapa saja, yang tidak ada." Gumam Yumna.


Yumna kemudian meletakkan pakaian bayi milik Ilmi dulu di kantung plastik. Karena dia akan mencucinya besok lalu akan memasukkannya ke dalam tas jadi jika suatu saat sang kakak ipar mengajaknya untuk kembali ke Bali, Yumna tidak perlu lagi mengemasi barang-barang milik bekas Ilmi.


Tiga hari berlalu, namun Galang masih belum mendapat kepastian dari kakaknya kapan mereka akan kembali ke Bali.


Sedangkan Galang sudah mengoceh karena uang mereka sudah menipis namun sang Kakak belum juga mengajaknya kembali.


" Mungkin masih repot." Ucap Ibu Galang saat Galang mengomel karena sang kakak tidak kunjung mengajaknya kembali ke Bali.


" Ya, kakak enak uangnya banyak. Punya simpanan. Sedangkan aku, Aku sama sekali tidak mempunyai tabungan. Bahkan aku tidak bisa menabung untuk persiapan melahirkan."


" Ya sabarlah siapa tahu nanti ada rezekinya dari si cabang bayi."


" Rejeki dari mana orang hutangku ke kak aku saja sudah 5 juta buat ongkos pulang ke sini."


" Ya kamu kenapa nambah anak kalau memang ekonomi mu masih belum berkecukupan."


" Jangan salahkan aku, salahkan saja Yumna. Kenapa dia tidak mau ber KB."


Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Yumna saat mendengar perkataan yang baru saja diucapkan oleh Galang.


Bagaimana mungkin Yumna disalahkan atas kehamilan yang terjadi, dan menyalahkan Yumna karena Yumna tidak mau ber KB.


Bukankah sejak awal mereka sudah sepakat. Dan kenapa di saat genting Galang justru menyalahkan Yumna.


Yumna bahkan tidak dapat lagi mengingat kapan terakhir kali Galang membelanya, atau pun mengatakan hal baik tentang Yumna di hadapan keluarganya.


Yumna selalu saja mengetahui bahwa Galang tidak pernah memuji Yumna, Galang justru membuat Yumna semakin terlihat buruk dimata keluarganya.


Tidak.


Bukan hanya dimata mertua dan adiknya ataupun keluarga sang kakak. Tapi, Galang membuat Yumna terkesan buruk di semua keluarga dari ibunya.


Selama satu hari penuh, Yumna menyibukkan diri menata pakaian bayi ke dalam tas.


Yumna tidak menghiraukan lagi ocehan Galang dan juga Ibu mertuanya.


" Biarkan saja mereka membicarakan ku dengan kata-kata apapun. Terserah mereka mau membicarakan apa di belakangku. Lagipula aku berbuat baik atau tidak tetap saja selalu menjadi bahan obrolan. Perilaku ku tidak pernah benar dimata Galang ataupun ibunya. Jadi lebih baik mulai sekarang aku akan bersikap cuek. Sebentar aku akan memiliki satu lagi seorang anak yang akan menceriakan hari-hariku." Ucap Yumna yang menyemangati dirinya sendiri.


Dua hari kemudian, Yumna akan kembali ke Bali.


" Aduh barang bawaan nya kenapa banyak sekali. Mobilnya tidak akan muat." Keluh kakak ipar saat melihat barang bawaan Yumna.


Sebenarnya tidak banyak, hanya satu ransel ukuran sedang, satu koper kecil, dan 3 tas kecil berisi pakaian bayi.


" Sebenarnya barang bawaan ku tidak banyak. Ini terlihat banyak karena aku tidak memiliki tas yang besar. Satu ransel itu berisi pakaianku dan Galang. Koper berisi pakaian Ilmi. Dan sisanya juga pakaian milik bayi. Dan yang di kantung hitam itu kan kasur yang kakak berikan." Ucap Yumna.


" Hmm, ya nanti biarkan para lelaki yang menatanya."


Yumna merasa jika sang kakak ipar keberatan dengan barang bawaan Yumna yang banyak.


Seandainya dulu aku memaketkan sebagian barangku mungkin hal ini tidak akan terjadi. Batin Yumna.


Dan, hingga Yumna keluar untuk membantu membawakan barang bawaannya. Sang mertua dan adik serta adik iparnya juga mencela karena barang bawaan Yumna yang sangat banyak.


Yumna merasa dirinya berada di tengah-tengah lingkaran orang-orang yang membully nya.


Yumna hanya tersenyum agar air matanya tidak terjatuh, dan juga menjelaskan Kenapa barang bawaannya bisa banyak.


Tapi walaupun Yumna menjelaskan panjang lebar pun tidak berguna. Karena tidak satupun dari mereka yang mengerti, termasuk Galang yang justru menyalahkan Yumna karena terlalu banyak membawa pakaian bayi.


Dalam perjalanan kembali merantau. Kakak ipar laki laki selalu mengomel tak kala dia membuka pintu bagasi, tas Yumna yang berisi pakaian bayi selalu terjatuh.


Kakak ipar juga sering membuka bagasi mobil untuk melihat burung yang dia bawa nya.


Dimana mana, pastilah yang miskin yang selalu tertindas, Jika boleh memilih, sebenarnya Yumna tidak ingin pulang bersama dengan kakak iparnya.


Karena Yumna sudah mengerti apa yang akan terjadi, namun karena Kakak Galang memintanya untuk pulang bersama karena salah satu dari anak kembar mereka tidak ada yang menggendong.


Begini lah nasib jika pulang pergi menumpang di mobil orang.

__ADS_1


Lain kali, lebih baik aku pulang naik travel saja. Tidak apa-apa membayar asalkan tidak terjadi hal hal yang mungkin sedikit membuat hati terluka. Batin Yumna.


__ADS_2