Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Tidak pernah beruntung (2)


__ADS_3

" Nda, akhir bulan tolong kamu yang bayar kos ya." Ucap Galang sesaat setelah dia selesai dengan tugas rutin yang dilakukan sore hari. Yaitu membersihkan kandang burung.


Yumna yang baru saja selesai memberi ASI kepada Akifa sedikit terkejut dengan perkataan yang diutarakan oleh Galang.


" Lo, kok bisa aku yang bayar kos?, aku dapat uang dari mana." Ucap Yumna.


" Ya Aku tidak tahu bukankah kamu banyak uangnya. Kamu kan sudah jadi penulis novel tidak mungkin jika kamu tidak punya uang."


" Jika aku sudah mempunyai penghasilan dari menulis Aku tidak akan menunggu uang dari mu untuk membayar kos, untuk membeli beras untuk membeli token listrik dan juga kebutuhan sehari-hari." Ketus Yumna.


" Masak?"


" Iya, buat apa menunggu uang darimu. Jika kamu saja memberiku uang kurang kurang."


Mendengar itu, Galang memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan mungkin saja Galang mandi.


Ada ya laki laki seperti itu, Aku tahu sebenarnya kamu sangat berharap aku bisa bekerja dan menghasilkan uang sehingga aku tidak perlu lagi bergantung kepada mu. Tapi bukankah aku ini istrimu dan aku adalah tanggung jawabmu. Kenapa tidak mengatakan saja jika kau sudah lelah menghidupiku dan kedua anakku. Aku akan senang hati angkat kaki dan pergi jauh darimu. Batin Yumna.


Malam ini seperti biasa setelah Galang mandi dia duduk bersantai bermain ponsel.


" hmm, sepertinya malam ini dia tidak bekerja lagi." Lirih Yumna.


Setelah dirasa Akifa sudah cukup minum ASI, Yumna segera meninggalkannya bersama sang ayah.


Yumna lalu segera mencuci pakaian seperti yang biasa dia lakukan mencuci saat malam hari.


Satu jam kemudian...


Yumna yang sudah selesai mencuci lalu menjemur pakaiannya di luar rumah kembali duduk dan bersantai di dekat Akifa yang tengah sibuk bermain.


" Ayah, ayah kan tadi burungnya sudah dapat juara sekarang ayo belikan aku terang bulan lembut." Ucap Ilmi.


" Iya."


" Ya ayo ayah."


" Orang bunda mu saja masih belum mandi Kenapa kamu sudah minta beli terang bulan lembut."


" Aku sudah mandi." Ketus Yumna.


" Masak?"


" Iya, coba cium." Ucap Yumna.


Ilmi kemudian segera mendekat kepada Yumna dan mencium aroma wangi sabun dari tubuh Yumna.


" Hmm, iya wangi. Ayah bunda sudah mandi Ayo sekarang kita beli terang bulan lembutnya." Ucap Ilmi.


" Ya ayo."


Nina lalu segera berganti pakaiannya Yumna memakaikan jaket serta kerudung kepada akifa.


" Sekalian Aku membeli bawang, di sana pasti ada tukang sayur." Ucap Yumna.


" Dimana?" Tanya Galang.


" Ada, sebelum lampu merah di kiri jalan sepertinya ada tukang sayur."


Setelah mengunci pintu mereka akhirnya berangkat. Dan Galang juga menunjuk beberapa pedagang sayur yang mereka lewati.


" Tidak, beli di sebelah sana aja ada, sebentar lagi jalan lah pelan-pelan." Ucap Yumna.


" Oh ini?" Ucap Galang saat mengetahui pedagang sayur dan langsung menyalakan lampu belok dan berbelok berhenti tepat di depan pedagang sayur.


Setelah selesai membeli beberapa kebutuhan yang memang sudah habis mereka melanjutkan perjalanan untuk membeli terang bulan lembut.


" Mas, terang bulan rasa coklat susu satu ya." Ucap Yumna kepada pedagang terang bulan.


" Iya."


Setelah memesan, karena tidak ada tempat untuk duduk jadi Yumna kembali kepada Galang dan Ilmi yang sedang menunggu di sepeda.


"Nda, Ilmi minta ayam bakar." Ucap Galang.


Yumna melihat ke arah Ilmi. Ilmi tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


" Pesankan dulu dah." Ucap Galang.


Yumna menghela nafas, sebenarnya ini terlalu berat terutama ketika Galang hanya memberi uang satu lembar berwarna merah. Dan itu sudah tinggal separuh karena sudah Yumna gunakan untuk membeli keperluan dapur.


Dengan langkah gontai akhirnya Yumna memesankan ayam bakar untuk Ilmi berharap Galang akan menggantinya setelah di rumah nanti.


Namun, lagi-lagi Yumna harus menelan pil pahit karena Galang tidak memberinya uang lagi.


Haruskan aku mengambil uang tabungan untuk sekolah Ilmi lagi. Batin Yumna saat dirinya dalam perjalanan pulang kembali ke rumah.


Yumna oh Yumna, apakah kau begitu bodoh. sehingga tidak bisa melawan ataupun protes kepada Galang saat dia tidak memberimu cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


...----------------...


Keesokan harinya...


Pekerjaan rumah sudah selesai, Akifa cepat sekali tidur, serta Ilmi yang pamit bermain bersama dengan teman temannya, Membuat Yumna mempunyai waktu santai.


Yumna mengambil ponselnya dan mulai berselancar di dunia maya. Melihat status semua orang yang lewat di beranda nya.


Hmm, kapan aku bisa jalan jalan walaupun hanya sekedar melihat lihat. Aku juga ingin bisa membelikan sesuatu untuk anak anakku. Batin Yumna.


Entahlah, mungkin karena dulu Yumna selalu tidak bisa mendapat apa yang dia inginkan. Membuat Yumna serasa sangat berambisi jika menginginkan sesuatu, terutama untuk kedua putrinya.


" Seandainya saja ada pekerjaan yang bisa dikerjakan dirumah selain jualan online aku pasti akan melakukannya. Atau seandainya ada pekerjaan paruh waktu yang memperbolehkan ku untuk membawa seorang balita aku pasti mau melakukannya demi anak-anak. Banyak hal yang ingin aku beli yang tidak dapat aku beli saat dulu."


Yumna lalu mulai mengingat kembali kejadian di masa lalu dimana saat Yumna bekerja pun Yumna tidak seberuntung teman-teman yang lain.


...


...


...Flashback on...


" Yumna, nanti kamu ke Jakarta kosnya sama tunangan Abang Mus ya." Ucap Ayah Yumna


" Iya."


Satu bulan setelah percakapan itu sang ayah benar-benar memberikan tiket untuk Yumna ke Jakarta.


Namun, malangnya 3 bulan menjadi karyawan sebuah restoran Cina membuat Yumna jatuh sakit karena tidak pernah ada libur dan juga jadwal kerja yang selalu pulang malam.


" Sudah berhenti saja, cari pekerjaan yang lain." Ucap Linda, yang tidak lain adalah tunangan dari abang Mus. Kakak tiri dari Yumna


"Tapi..."


" Sudah, orang gaji juga tidak seberapa apalagi yang mau kamu pertahanin."


Yumna terdiam dan memikirkan kata-kata dari Kak Linda. Memang benar apa yang dikatakan oleh kak Linda, jam kerja tidak sesuai dengan gaji yang didapatkan. Terbukti selama Yumna sudah bekerja di restoran Cina itu Yumna masih saja meminta uang dari sang ayah karena uang gajinya tidak mencukupi untuk makan, belum lagi untuk membayar uang kos setiap bulannya.


" Tapi bagaimana caranya aku keluar dari sana?" Tanya Yumna.


" Nunggu setelah gajian lalu kamu masuk dua atau tiga hari setelah itu kamu pura-pura sakit atau apa. Dan kamu tidak perlu masuk lagi seterusnya. Jadi dari sekarang kamu sudah mulai bisa menulis lagi surat lamaran dan meletakkannya di beberapa outlet yang sedang membutuhkan karyawan."


" Hmm, baiklah. Terima kasih kak."


" Sama sama. Ya udah istirahat ya Kakak mau berangkat kerja dulu."


Yumna tersenyum dan mengangguk, sungguh Dia sangat beruntung bertemu dengan Kak Linda.


Orangnya baik ramah, Yumna merasa seperti mempunyai seorang kakak perempuan. Mereka sangat dekat bahkan mirip seperti saudara kandung.


Beberapa minggu kemudian, setelah lepas dari restoran Cina. Yumna mencoba keberuntungannya dengan bekerja di salah satu butik yang menjual pakaian Korea.


Pekerjaan ini terbilang cukup santai, karena tidak ada aturan ketat seperti saat Yumna bekerja di restoran Cina.


Namun, lagi-lagi karena gaji yang tidak dapat mencukupi kebutuhan yang masih lama di Jakarta. Membuat Yumna memutuskan untuk kembali pulang ke kota asalnya.


" Jangan pulang kenapa?" Ucap Kak Linda sedih saat Yumna mengutarakan niatnya untuk kembali pulang ke kota asalnya.


" Kak aku sudah hampir 1 tahun di sini, Tapi selama aku disini aku masih saja meminta uang dari ayahku. Aku tidak benar-benar berdiri dengan tangan dan kakiku sendiri. Aku merasa malu karena aku sudah bekerja namun masih meminta uang kepada ayah ataupun ibuku."


" Ya tidak apa-apa bukankah ayahmu sudah mengatakan jika akan tetap membantumu hingga kamu bisa berdiri dengan tangan dan kaki mu sendiri?"


" Iya, tapi aku yang merasa tidak enak Aku adalah anak pertama dari keluarga, dan ayahku juga masih harus memenuhi kebutuhan anak-anak yang lainnya."

__ADS_1


" Pikirkan lagi. Apapun keputusanmu Kakak kan selalu mendukungnya."


" Terima kasih kak."


" Sama sama. Kamu mau jalan-jalan nggak kita ke tanah Abang dan juga ke mall yang ada di Jakarta pusat siapa tahu di sana kita bisa menemukan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar untukmu."


" Boleh, kita harus mencocokkan hari libur kita."


" Bagaimana kalau hari rabu."


" Hmm, aku akan membicarakannya dengan kak Ayu besok." Ucap Yumna.


Hari Rabu tiba, pagi-pagi sekali Yumna dan Kak Linda sudah siap untuk berjalan-jalan ke Jakarta pusat dengan menaiki busway.


Mereka sangat menikmati hari libur itu dengan berjalan-jalan sambil sesekali masuk ke dalam mall dan melihat apakah ada lowongan di sana Dan juga bertanya kepada teman-teman Kak Linda tentang gaji yang sekiranya mencukupi untuk kebutuhan hidup di Jakarta.


Namun Yumna harus menelan pil pahit karena tidak ada pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi seperti yang didapatkan Kak Linda.


Kenapa Yumna tidak bekerja di tempat Kak Linda? Jawab nya karena Yumna kurang tinggi untuk memasuki kriteria persyaratan utama.


Akhirnya setelah satu minggu mengganggu dan tidak menemukan pekerjaan yang cocok.


Yumna akhirnya kembali pulang ke kota asalnya.


Perpisahan yang berat. Sejujurnya Yumna juga tidak ingin meninggalkan kota Jakarta. Karena dia sudah merasa sangat nyaman bersama dengan Kak Linda.


Tapi mau bagaimana lagi, Yumna juga tidak ingin menyusahkan orang tuanya.


Setelah pulang dari Jakarta Yumna mencoba keberuntungannya dengan mencari kerja di pabrik Pasuruan. Namun tidak ada satupun perusahaan yang mau menerima Yumna.


" Susah memang bekerja di pabrik jika tidak ada orang dalam. Yang melamar di pabrik bukan 10 atau 20 orang tapi ratusan orang. Jika punya kenalan orang dalam maka itu akan berpeluang besar untuk diterima di pabrik tersebut." Ucap Devi yang saat itu bekerja di pabrik sepatu kota Sidoarjo.


" Iya, beberapa temanku yang lain juga mengatakan hal yang sama."


" Iya, kalau saja di pabrik tempat aku bekerja membuka lowongan aku sudah pasti akan membantumu untuk bisa bekerja di sini, Tapi sayangnya sekarang masih belum membuka lowongan."


" Iya tidak apa-apa beritahu aku saja jika pabrik tempat mu bekerja sudah membuka lowongan."


" Tentu."


Yumna berada di Pasuruan selama dua minggu bersama temannya yang bernama Sri.


Mereka tinggal di rumah bibi Sri. Lalu mereka memutuskan untuk kembali pulang sebelum uang saku mereka benar-benar habis dan tidak bersisa.


Tidak berhenti di situ setelah pulang dari Pasuruan. Yumna mulai mencari pekerjaan di kota Jember.


Kali ini Yumna cukup beruntung karena akhirnya dia bisa bekerja di sebuah toko serba ada bernama toko happy.


Yumna hanya dapat bekerja selama 3 bulan, karena tiba-tiba Yumna merasakan sakit yang teramat dalam di dada sebelah kirinya.


Namun saat Yumna memeriksakannya ke dokter tidak ada penyakit yang serius, dokter mengatakan mungkin Yumna mengalami lelah karena harus naik turun 3 lantai setiap hari.


Sakit yang diderita Yumna memaksa Yumna untuk berhenti total dan tidak bekerja selama 1 bulan.


Setelah sembuh Yumna tidak dapat lagi menemukan pekerjaan dan justru bertemu lagi dengan Novi. Hingga akhirnya menikah dengan Galang.


...Flashback off...


" Kenapa dari dulu aku selalu tidak beruntung dalam segala hal.. Apa yang salah dariku sehingga aku tidak pernah beruntung dalam hal apapun." Ucap Yumna sambil meletakkan ponselnya dan memilih untuk keluar rumah menjernihkan pikiran dengan angin yang biasa menerpa Yumna saat Yumna duduk bersantai di depan pintu masuk rumah ibu kost.


" Lo, kemana Akifa?" tanya mama Elsa.


" Tidur, jadi aku akan menghabiskan waktu sendiri ku disini menjernihkan pikiran agar pikiranku tidak terlalu lelah memikirkan kehidupan."


" Hahaha ada ada saja."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2