Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)

Seandainya... (Waktu Dapat Diputar)
Pergi ke Klinik


__ADS_3

Hari dimana sang ibu akan datang, Galang menyerahkan uang sisa dari penjualan kalung.


" Alhamdulillah."


Dalam hati Yumna mengucap syukur akhirnya dia mempunyai uang untuk membayar uang travel ibunya.


Yumna segera menyisihkan sebagian dari uang itu dan meletakkannya di dalam tas yang berisi pakaian bayi.


Kedatangan ibu, menciptakan jarak antara Yumna dan Galang.


Mereka sudah tidak dapat lagi untuk sekedar bercanda tawa ataupun berpelukan.


Hal itu membuat Yumna kembali merasakan getaran cinta saat dia mengantarkan kopi ke tempat kerja Galang. Sikap Galang juga terlihat jauh lebih manis dari sebelumnya.


Entah karena kehadiran sang ibu mertua, atau karena memang dia tidak dapat lagi berdekatan dengan Yumna secara intens. Tapi hal itu cukup membuat hati Yumna bahagia.


Ada perasaan senang dan juga ada perasaan yang tidak bisa digambarkan ketika sang ibu datang.


Yumna merasa ada jarak di antara dirinya dan ibu. Mungkin itu karena sebelumnya Yumna tidak pernah berkumpul bersama ibunya.


Yumna pun berusaha tetap melakukan aktivitasnya seperti memasak dan menyapu, karena dia merasa sungkan jika sang ibu yang melakukannya.


" Disini kalau mau beli beli dimana? Indomaret jauh ya?"Tanya Ibu.


" Jauh, tapi di sini ada toko yang dekat tinggal menyeberang jalan raya saja. Namanya Toko Cantik. Apa ibu mau kesana?"


" Jauh?"


" Tidak. Hanya menyebrang jalan raya saja. Kalau Ibu mau pergi ayo kita sama-sama kesana dengan berjalan kaki."


" Ayo."


Siang yang tidak terlalu panas itu akhirnya Yumna dan sang Ibu berjalan menuju toko cantik yang ada di seberang jalan rumah kost Yumna.


" Oh ini. Jual apa saja?" Tanya ibu, saat mereka baru saja memasuki toko cantik."


" Ibu lihat saja, aku menjelaskan juga percuma nanti kan Ibu bisa melihat-lihat sendiri."


Setelah cukup lama, mereka akhirnya selesai dengan belanjaan masing-masing.


Saat Ibu akan membayar tagihan. Yumna tidak memperbolehkannya dan langsung memberikan sejumlah uang miliknya kepada kasir.


" Ibu, aku sudah menyiapkan bumbu-bumbu untuk keperluan ari-ari nanti. Aku simpan semuanya di dalam kulkas. Dan jika di rasa bumbu yang aku sediakan kurang Ibu bisa membelinya di toko yang ada di belakang Kost. Nanti aku akan menunjukkan jalannya, tapi kalau misal pintu rumah ibu kos yang ada di sebelah kiri dibuka, Ibu lebih baik lewat sana saja jadi tidak perlu berjalan memutar." Ucap Yumna.


" Pasarnya dimana, jauh?"


" Cukup jauh. Kalau Ibu ingin ke pasar kapan-kapan saja aku akan mengantarkan."


Selama beberapa hari terakhir akhir, Yumna semakin rajin jalan-jalan pagi, ataupun sekedar jongkok dan naik turun tangga.


Jika Yumna merasakan kontraksi, dia langsung berjongkok atau pun membawanya untuk naik turun tangga.


Namun Hingga H-2 HPL tiba, Yumna masih belum juga merasakan kontraksi yang sebenarnya.


" Sudah sakit?" Tanya kakak ipar saat Yumna berjalan-jalan pada malam hari.


" Sudah, namun aku masih belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan."


" Mungkin besok atau lusa, lihat perutnya sudah turun sekali." Ucap Tetangga Yumna.


Yumna hanya meng Amin kan perkataan dari tetangganya itu.


Pagi hari di HPL, Yumna merasakan sesuatu keluar dari jalan lahirnya. Namun hanya sedikit. Dan karena sakit nya masih belum teratur jadi Yumna membiarkan hal itu.


" Sakit ya?, apakah kamu mau kita berangkat ke Klinik sekarang?" Tanya Galang.


" Tidak."

__ADS_1


" Kenapa?"


" Karena kontraksi ku masih belum teratur. Kita ke sana nanti sore saja, karena nanti sore adalah jadwal kontrol terakhir sesuai jadwal." Ucap Yumna.


" Kau yakin?" Tanya Galang memastikan.


" Iya."


" Ya sudah kalau begitu aku akan kembali bekerja, temui aku kalau kamu memang sudah ingin diantar ke klinik." Ucap Galang.


" Iya."


Hari itu, Yumna merasa mulai tidak nafsu makan. Dan sore harinya, Yumna dan Galang pergi ke klinik.


Ilmi tidak ikut karena takut neneknya akan pulang jika Ilmi tinggal pergi.


" Sekarang HPL nya ya bu.." Ucap Bidan.


" Iya."


" Ada keluhan?" Tanya bidan satu lagi.


" Tadi pagi keluar L3ndir dan sedikit d4rah. Tapi rasa sakit nya masih belum teratur."


" Ayo bu, diperiksa dulu."


Yumna lalu mengikuti bidan, dan berbaring dengan hati hati di ranjang.


" Kepala sudah masuk sekali, tinggal nunggu mungkin sebentar lagi. Kalau bisa nanti USG ya bu, untuk melihat kondisi air ketuban. Karena hari ini adalah HPL nya."


" Baik bu."


Setelah selesai mendapatkan penjelasan dari Bidan. Yumna keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung menemui Galang.


" Gimana, apa bidan sudah menyuruh untuk membawa barang-barang bayi?" Tanya Galang.


" Hmm, padahal sekarang hari perkiraan lahir nya tapi kenapa bayi ini belum juga mau keluar?" Ucap Galang sambil mengelus perut Yumna.


" Sabar, mungkin nanti malam. Mungkin si bayi tidak ingin banyak orang tahu saat dia akan lahir." Ucap Yumna.


" Semoga saja. Jadi apa sekarang kita pulang. Apa mau USG"


" Langsung pulang aja, aku takut jika Ilmi menangis mencari kita. Soal USg, besok malam saja. Hari ini kita tunggu, siapa tahu di bayi akan keluar nanti malam."


" Ya sudah ayo."


Malam harinya, Yumna mulai merasakan kontraksi dengan frekuensi teratur.


Namun Yumna tidak panik, karena dia juga belum mengeluarkan kembali tanda-tanda kelahiran seperti sebelumnya.


Nina juga masih bisa tidur dengan tenang, namun tepat pukul 12 malam, Yumna terbangun karena perutnya sudah terasa kencang dan jauh lebih sakit dari sebelumnya.


Yumna bangun dengan hati-hati dan menuju kamar mandi, dia merasa ada sesuatu yang keluar dari jalan lahirnya.


Dan benar saja, lend3r bening disertai d4rah keluar. Namun Yumna masih mampu menahan sakitnya. Dan selama 2 jam Yumna menahan rasa sakit yang terus-menerus semakin terasa menyiksa.


Hingga sang Ibu terbangun karena menyadari jika Yumna bolak-balik dari tempat tidur ke kamar mandi.


" Kenapa?" Tanya Ibu.


" Pinggang ku terasa sangat sakit."


" Kemari dan duduklah biarkan Ibu memijat mu."


Yumna menurut kemudian dia duduk disebelah ibu dan Ibu mulai memijat Yumna.


" Apa sudah lebih baik?"

__ADS_1


" Ya, sudah terasa jauh lebih."


Kenyamanan yang Yumna rasakan hanya bertahan selama beberapa menit saja.


Sakit itu kembali datang dan semakin bertambah menyiksa Yumna. Hingga Galang terbangun.


" Ada apa?, Kenapa kamu terbangun ini masih pukul 3 pagi."


" Perut dan pinggang ku terasa sakit."


" Mungkin Yumna mau melahirkan." Ucap Ibu.


" Apa kamu mau kita berangkat ke klinik sekarang?" Tanya Galang.


Yumna memejamkan mata, menahan rasa sakit sebelum akhirnya mengucapkan iya.


" Ya sudah aku bersiap dulu." Ucap Galang yang langsung masuk ke dalam kamar mandi, tidak mandi. Hanya menyikat gigi dan mencuci muka.


Ibu kemudian membantu Yumna mengeluarkan tas yang akan dia bawa.


Ceklek...


" Lo tumben keluar, apa sudah mau melahirkan?" Tanya pak Budi tetangga kost.


" Seperti begitu. Ayo tolong antarkan. Sebentar aku meminjam mobil kakak dulu "


Galang lalu mengetuk pintu kamar kakaknya dengan hati-hati dan mengatakan keperluannya untuk meminjam mobil karena Yumna akan segera melahirkan.


" Lo sudah sakit ya?" Tanya kakak ipar, saat datang melihat ke kamar Yumna.


" Iya, sepertinya Yumna sudah merasa kesakitan sejak pukul 12. Karena tadi aku sempat melihat Yumna bolak-balik ke kamar mandi. Dan lihat, bahkan daster yang Yumna pakai sudah penuh dengan dar4h." Terang Ibu, sedangkan Yumna hanya diam karena menahan sakit yang luar biasa menyiksa.


" Semoga lancar melahirkan nya."


Yumna hanya bisa membalas doa dari sang kakak ipar dengan senyuman. Sungguh rasa sakit ini benar-benar membuat Yumna tidak bisa berbicara. Sakit yang berkali kali lipat dari sakit yang dirasakan Yumna ketika melahirkan Ilmi.


" Mobilnya sudah siap, ayo." Ucap Pak Budi.


" Ilmi dimana?" Tanya kakak Galang.


" Itu tidur." Jawab ibu.


" Ibu ikut saja dengan Yumna ke klinik, Ilmi biar aku yang menjaga." Ucap kakak Gilang.


" Iya ikut saja Bu, siapa tahu Galang perlu bergantian menjaga Yumna." Imbuh kakak ipar.


" Tapi disana hanya 1 orang yang boleh menunggu." Ucap Galang.


" Ya coba saja, siapa tahu. karena ini malam jadi boleh 2 orang yang menunggu." Imbuh kakak ipar.


" Ya sudah ayo." Ucap Galang.


Sedangkan Yumna hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit yang berkali-kali lipat.


Ibu segera memakai baju panjang dan juga kerudung, lalu dengan hati-hati menuntun Yumna untuk masuk ke dalam mobil.


Mobil pun bergerak dengan kecepatan sedang menuju klinik bumi sehat.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2