
Pagi harinya, Yumna terbangun dan duduk didepan rumah. Sepertinya Yumna belum terbiasa di lingkungan baru.
" Kau akan memasak apa." Tanya Mama Yumna, Aisyah. pada adik bungsu nya. Anik yang terlihat berkutat di dapur.
" Sup dan ayam goreng saja, yang simpel."
" Dimana Arum?." Aisyah melihat sekeliling dan tidak menemukan adik ke dua nya itu.
" Mungkin ke pasar." Jawap Anik
" Anik, apa terjadi masalah". Tanya Aisyah pada adik bungsu nya yang terlihat sedih.
" Nanti kau akan tau sendiri kak." Anik tersenyum getir. Sambil mematikan kompor dan memanggil suami serta anaknya untuk sarapan sebelum berangkat sekolah dan bekerja.
Saat Aisyah hendak bertanya lagi, Arum datang dan mengatakan untuk berangkat ke makam setelah sarapan.
Mereka semua sarapan dengan lauk seadanya.
Setelah mandi dan bersiap.
Ibu, Yumna dan adiknya. Arumi. Serta Arum bersama suami pun pergi ke makam tempat Ibu mereka yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Jaraknya sekitar 15 menit.
Yumna melihat tangis sang Ibu pecah, bagaimana tidak satu tahun lalu, almarhum Nenek meminta Ibu untuk pulang, untuk mencegah agar Kakek tidak menjual rumah mereka. Tapi ada lah daya hutang yang besar memaksa Kakek menjual rumah satu satu nya yang mereka punya, dan pindah ke Kalimantan. Membeli sebuah lahan kecil, dan dibangun pondok sederhana. Tidak ada sekat pembatas. Setiap ruang tidur hanya di tutupi gorden seadanya.
Setelah cukup lama, Hawa panas menusuk kulit. Memaksa mereka untuk kembali ke rumah.
" Arum, ayo kita ke supermarket. Aku rasa ingin belanja." Ucap Aisyah kepada sang adik
" Baiklah, kita ke plaza saja Pak." Arum berbicara pada suami nya yang fokus melihat jalanan.
" Kemana saja, asal tidak lebih pukul 16.00 WITA. karena kita harus mengembalikan mobil ini tepat waktu." Ucap Abah Sani, Suami Arum.
" Emmm Mbak, kau kan yang akan membayar sewa mobil ini." Arum menatap kakak nya yang masih bermuka sedih.
" Berapa ?"
" 3 juta. Dengan biaya sewa saat menjemput kalian ke bandara." Arum bersemangat saat Ibu menyerahkan uang kepadanya.
Setelah dari mall....
" Apa ada lagi yang ingin di beli" Arum menerima beberapa kantung plastik dari kakaknya, dan memasukan nya ke bagasi.
" Tidak ada. Apa kalian ingin membeli sesuatu." ucap Ibu sambil melihat ke dua putrinya.
" Tidak." Jawap kedua nya bersamaan.
" Kalau tidak ada, kita pulang saja." imbuh Ibu.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada percakapan antara Yumna dan sang Ibu. Yumna merasa asing dengan sosok yang jelas jelas Ibu nya itu. Mungkin mereka berpisah terlalu lama. Sehingga tidak ada lagi ikatan batin antara Ibu dan anak. Terutama Arumi yang terlihat begitu cuek saat kedatangan Ibu.
" Yumna, toko didepan jalan masuk rumah kita, seperti nya membutuhkan karyawan. Kau bisa kerja disana." ucap Arum pada Yumna.
" Hmm, aku akan mencoba nya Ibu."
" Apa kau ingin kerja yang lain saja." Abah melihat Yumna dari kaca mobil."
" Tidak perlu, kerja disana saja. Dekat dengan rumah." imbuh Ibu, sambil melihat Yumna yang menggangukkan kepala.
" Mama, aku ingin sebuah boneka." Akhirnya Arumi bersuara setelah sekian lama diam.
__ADS_1
" Ah ya, mama lupa membawakan mu boneka." Memeluk anak bungsu nya.
" Kita berhenti disana aja, seperti nya toko itu menjual boneka" Ucap Arum.
" Benar, sepertinya toko itu menjual boneka." Pekik Yumna.
Yumna lalu menunjuk sebuah toko acesoris, mobil pun berhenti tepat di depan toko.
" Kau ikut?." tanya Ibu pada Yumna saat turun dari mobil. Yumna hanya menggeleng.
Tak perlu waktu lama, Ibu dan Arumi keluar dari toko dengan membawa 2 buat boneka beruang ukuran sedang berwarna pink dan biru.
" Ini, satu buat kakak". Ucap Arumi sambil menyerahkan boneka warna pink.
" Ah manisnya, terima kasih".
Sesampainya di rumah, Ibu dan adiknya, Arum. Langsung menata barang belanjaan mereka. Sedang Yumna dan Arumi, memilih merebakan diri di kasur.
Malam harinya, jalan seperti malam sebelumnya. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa dari mereka sibuk dengan ponselnya sementara yang lain sibuk mengajarkan putranya belajar.
Yumna memilih masuk ke dalam kamar menemani Arumi yang tengah bermain boneka.
...----------------...
Keesokan harinya, Yumna diantar bibinya, Arum. Yang dipanggil juga dipanggil Ibu oleh Yumna, ke toko yang di bicarakan kemaren.
" Hallo, apa Pak Zaki ada?." tanya Ibu Arum kepada salah satu karyawan toko.
" Ada, sebentar saya panggilan kan". Wanita itu melangkah pergi, masuk ke dalam rumah.
Ya, toko ini cukup besar. sebenarnya bukan toko, ini halaman rumah yang di sulap jadi toko sembako.
Tak lama kemudian Pak Zaki datang.
" Arum, dengan siapa itu?". ucap pria yang tak lain adalah Pak Zaki. pemilik toko ini.
" Ini Yumna, keponakan saya dari Jawa, bukankah Pak Zaki mencari karyawan?."
" Betul sekali. Lulusan apa ?" Pak Zaki melihat Yumba yang berpakaian rapi.
" SMK Pak." Jawap Yumna sopan.
" Kapan kau siap bekerja."
" Sekarang bisa, tapi apakah saya di terima?" Tanya Yumna.
" Tentu saja, aku sudah mengenal Arum sejak lama. Dan mulai lah bekerja besok pagi, jam kerja mu dimulai pukul 07.00 - 17.00 WITA. Gaji awal 500.000. Bagaimana ?"
" Tentu, terima kasih Pak Zaki. Dan terima kasih karena sudah mau menerima saya."
...----------------...
...----------------...
Satu tahun kemudian....
Yumna sibuk dengan pekerjaannya, dan dirumah yang terlihat bahagia, sebenernya banyak duka yang terpendam.
Arum yang ternyata sangat egois, seenaknya memerintah semua orang yang tinggal disana, seakan akan mereka adalah orang yang menumpang dirumahnya.
__ADS_1
" Sekarang kamu tau kan mbak, bagaimana sifat asli dari mbak Arum". Anik memulai obrolan saat Isa duduk di sampingnya.
" Iya, aku tidak menyangka dia seperti itu". menimpali ucapan adiknya.
" Kau tau mbak, WC itu baru dibangun sejak kabar kedatangan mu. Mereka juga menghabiskan uang hasil sumbangan warga sini saat kematian almarhum Ibu. Dan lebih parahnya, perhiasan ibu dijual dengan dalil mengganti biaya rumah sakit." Tangis Anik pecah tak kala mengingat betapa kejam kakak ke dua nya itu.
" kau tau mbak, saat almarhum minta di bawa ke rumah sakit, Arum dan Suami tidak menggubris. Mereka asik bersenang senang dengan uang dari mu. Barulah saat beliau ditengah akhir hidupnya, mereka membawa ke rumah sakit. Tapi itu sudah terlambat mbak. Sudah terlambat."
Isa hanya terisak mengingat permintaan almarhum Ibunya dulu, yang selalu menyuruh nya pulang. Namun Ibu selalu mengatakan akan menunggu mempunyai uang sangu lebih banyak.
" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang." tanya Isa pada adiknya.
" Aku akan pulang ke Jawa bersama suami dan anakku mbak, memulai hidup dari nol lagi." menjawap dengan pandangan ke depan.
" Apa kau serius?, tega kau meninggalkan orang tua mu yang tinggal seorang diri."
" Kalau Ayah ingin ikut denganku, maka aku bersedia membawa nya mbak, tapi kalau untuk bertahan disni, maaf. Aku sudah tidak kuat".
Tak lama kemudian, Yumna pun datang dan melihat ke dua orang itu dengan tatapan aneh. sejurus kemudian, jiwa kepo nya meronta-ronta.
" Ada apa?, muka kalian seperti belum di setrika?." canda Yumna.
Kedua orang itu langsung memberikan tatapan tajam kepada Yumna.
" Haha, maaf maaf. Sekarang katakan ada apa?, apa ada masalah."
Anik pun menceritakan apa yang sudah dia ceritakan pada kakaknya.
Terlihat Yumna mengusap wajahnya kasar.
" Aku akan ikut dengan Bibi." ucap Yumna menatap Anik, dan membuat Ibu serta bibinya terkejut.
" Kau serius, tapi tiket sedang mahal. darimana kau dapat uang." ucap Ibu.
" Insyallah, gaji ku cukup bu. Aku akan meminta uang dari Ayah nanti. Arumi juga akan aku suruh minta. Untuk menambah biaya membeli tiket. Aku juga sebenarnya tidak betah disini. Hanya aku tidak mengatakan nya kepada siapapun." tegas Yumna.
"Kalau sudah begini aku bisa apa?, antar kan aku ke toko emas, aku akan menjual cincin ini, untuk membeli tiket ku dan Ayah." ucap Ibu sambil melepas cincin yang di kenakan nya.
" Apa Arum sudah tau rencana mu?". Tanya Ibu.
" Tidak tidak, jangan beri tahu dia dulu, kita beri tahu dia setelah kita membeli tiket, dan memastikan keberangkatan kita". Anik langsung berbicara sambil menatap sekeliling, takut Arum tiba tiba datang.
" Memangnya kenapa ?" ucap Yumna dan Ibu secara bersama.
" Apa kalian belum tahu?"
" Tahu apa?"
" Arum...."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1