
HARI HARI DI PONPES
Hari ini tepat sebulan Dhea berada di ponpes Al ikhlas. Hari ini adalah hari libur Dhea dan syifani beserta santri lain nya sedang gotong royong di halaman pesantren. Saat itu Dhea dan syifani satu kelompok dengan Lissa and the Genk karena diurutkan berdasarkan asrama masing masing.
Dhea dan syifani sudah penat penyapu dan membereskan semua nya sedang kan Lissa and the Genk hanya bersantai dengan make up tebal nya.
" nih!." Dhea memberikan sapu lidi dan beberapa kain lap untuk Lissa and the Genk.
" wait wait wait, engk dong kok jadi kita sih, ga lihat apa kita lagi make up?." seru Lissa dengan suara menggelegar nya.
" iya ni si Dhea ga lihat apa ya kita lagi nyantai" dini dengan alat make up nya .
" astaghfirullah kalian kan belum bekerja dari tadi. sekarang gantian dong" seru syifani lembut sedangkan Dhea sudah berapi api.
" Woii ini kalo mau kerja ya kerja aja dong ga usah maksa." Rani mulai menaikan suara nya.
" eh nyantai dong kita udah kerja sekarang giliran kalian, ga usah nyolot." Dhea mengangkat suara lebih tinggi.
" apa kamu berani sama kita? udah bosen di ponpes ya?." Lissa mengangkat suara nya.
" Kalian ini ga ada apa apa nya bagi gua ga pantas di banding dengan gua, jadi sekarang lebih baik kerja jangan make up terus! kasihan tu muka udah kaya Tante Tante." Dhea berujar dengan sinisnya sambil menekan beberapa kata katanya.
" apa kamu bilang? Tante Tante? muka mu tu yang kaya Tante Tante, dasar cewe liar, kok bisa ya ada cewe liar masuk ke pesantren ini!." Rini dengan suara yg tinggi.
" hahahaha " mereka tertawa gembira sedangkan Dhea sudah di penuhi api amarah nya.
PLAAKKK
satu tamparan sukses mendarat di wajah Rini.
" kamu nampar saya? dasar cewe liar." Rini hendak membalas tamparan nya namun tangan Dhea lebih dulu menahan nya dan Dhea kembali mendarat kan tamparan nya di wajah Rini sebelah nya.
PLAAKKK
" JANGAN COBA COBA NGUSIK GUA!!" Dhea berujar dengan kemarahan nya hal itu sukses membuat Lissa n the Genk mati kutu.
disisi lain ada sepasang mata yg menyaksikan perdebatan mereka dia tak lain adalah Gus Sean
tak lama kemudian Gus Sean menghampiri mereka dan Gus Sean salah paham dan menyalahkan Dhea.
sedangkan syifani sudah pergi dari tadi karena di panggil oleh umi nyai.
PPLLAAKK
satu tamparan sukses mendarat di wajah Rini.
" Kamu nampa saya? dasar cewe liar." Rini hendak membalas tamparan nya namun tangan Dhea lebih dulu menahan nya dan Dhea kembali mendarat kan tamparan nya di wajah Rini sebelah nya.
PPLLAAKK
" JANGAN COBA COBA NGUSIK GUA!" Dhea berujar dengan kemarahan nya hal itu sukses membuat Lissa and the Genk mati kutu.
Di sisi lain ada sepasang mata yang menyaksikan perdebatan mereka dia tak lain adalah Gus Sean
tak lama kemudian Gus Sean menghampiri mereka dan Gus Sean salah paham dan menyalahkan Dhea.
Sedangkan Syifani sudah pergi dari tadi karena di panggil oleh umi nyai.
" BERHENTI!." suara Gus Sean ketika Dhea hendak mendarat kan tamparan nya di wajah Lissa.
" apa apaan kamu Dhea? disini pesantren bukan tempat untuk membuly orang!." Gus Sean marah dengan suara tinggi nya.
Ini kali pertama Gus Sean marah marah kepada santri putri dengan suara keras, dan ini juga kali pertama Dhea merasakan sakit karena bentakan keras dari Gus Sean. Sedangkan Lissa and the Genk yang merasa Gus Sean memihak mereka pun akhirnya mengompori agar Gus Sean semakin marah terhadap Dhea.
" Iya ni Gus, Dhea nampar aku dan teman teman lain nya, dia paksa kami kerja padahal kan kami dari tadi udah kerja kami cuma istirahat dan menyuruh Dhea melanjutkan pekerjaan karena sedari tadi Dhea hanya bersantai aja!." Lissa mengompori Gus Sean dengan memegang kedua pipi nya itu sembari membalik fakta.
"iya Gus Dhea dari tadi hanya bersantai aja tapi pas di suruh gantian dia malah marah marah sama kita dan nampar kita!." Rini dengan akting nya sambil histeris meneteskan buliran air mata nya.
" Dasar kalian ular bermuka dua!." ujar Dhea sambil hendak menampar wajah Rini.
" DHEA HENTIKAN!." bentak Gus Sean keras tapi Dhea tak menghiraukan nya.
Dan Tampa sengaja Gus Sean refleks dan menampar wajah Dhea keras. Semua orang yg ada di lapangan itu turut menyaksikan peristiwa itu.
Mereka tak menyangka bahwa Gus Sean bisa semarah itu sehingga menampar wajah Dhea begitu keras.
Dhea yg mendapat Tamparan itu pun terdiam dan Tampa sadar meneteskan air mata.
" astaghfirullah apa yang sudah aku lakukan kenapa tangan ini menampar wajah mulus nya." gumam Gus Sean sembari menatap wajah Dhea yang sudah meneteskan air mata.
" hahaha rasain kamu Dhea siapa suruh ngelawan Lissa." gumam Lissa tersenyum sinis kepada Dhea.
" Kasar! dia sangat kasar! dia percaya begitu saja dgn omongan ular ini Tampa mencari tau kebenaran nya" Dhea memaki Gus Sean dalam hati nya.
" puas? puas loe semua? dasar ular berkepala dua!." ujar Dhea sinis.
" hmn makasih Gus atas tamparan nya gua jadi tau kalau sebenarnya lo bukan seorang ustadz tapi lo sama saja dengan laki laki di luaran sana!." Dhea berkata sinis pada Gus Sean dengan suara yang di tekan.
__ADS_1
" Dhea berbicara lah dengan sopan paham?.'' Gus Sean kembali berteriak.
" Gus, Dhea ini memang wanita liar dia di luar ternyata begadulan makanya orang tuanya memasukkan dia kedalam pondok pesantren Gus." Dini angkat bicara dengan terus memojokkan Dhea.
" jaga ya ucapan kalian, kalian ga pantas berbicara seperti itu." Dhea hendak mendekat pada Rini dengan tangan yang sudah di kepal kuat.
" Dhea hentikan!" Bentak Gus Sean. " ternyata benar kata Dini kamu memang seperti gadis liar kenapa juga kamu harus di pondok pesantren ini kalau hanya untuk merepotkan orang, kasihan sekali orang tua kamu!. " Gus Sean kembali melontarkan kata kata yang sungguh menyakitkan bagi Dhea.
" iya Gus benar gua anak liar, gua anak begadulan tapi setidak nya gua ga serendah yang Gus katakan!." Dhea berbicara keras sembari menetes air mata. " Gus boleh ngehina saya, tapi Gus ga berhak mengatakan tentang kedua orang tua saya! kalo Gus merasa saya merepotkan kalian, saya akan pergi dari pondok pesantren ini! satu lagi sebelum melakukan sesuatu sebaik nya selediki dulu kebenaran nya!." Dhea berbicara dengan nada tinggi sambil berlalu pergi dengan air matanya.
" apa perkataan ku begitu kasar? dia terlihat begitu sakit saat aku mengucapkan perkataan itu! dan kenapa aku tidak mencari tau dulu kebenaran nya, jika benar dia tidak bersalah apa mungkin dia akan benar benar meninggalkan pondok pesantren ini? semoga saja tidak, karena aku akan sangat menyesal jika itu terjadi!." gumam Gus Sean
"sudah sudah kalian semua kembali ke asrama masing masing" Gus Sean memberikan arahan.
...
Dhea berlalu pergi meninggal kan lapangan dia pergi ke asrama untuk bersiap siap membereskan semua barang barang nya.
Dia sangat marah saat ini air mata nya tak henti henti nya menetes dia tak tau kenapa hati nya begitu sakit ketika mendapat Tamparan dari Gus Sean.
Saat di sela sela waktu Dhea membereskan barang-barang nya, Syifani datang karena dia mendengar perbincangan santri lain nya yang menceritakan Dhea.
" Dhea kamu mau kemana? kenapa kamu memasukkan semua barang barang mu kedalam tas?" tanya syifani panik karena Dhea sudah memasukkan semua barang barang nya.
" Dhea jawab aku Dhe, ada apa sebenarnya apa yg terjadi?." tanya syifani bingung dia sungguh tak rela jika harus berpisah dengan sahabat pertama nya di pondok pesantren ini.
Tiba tiba Lissa and the Genk datang.
" kasian banget habis di marahin sama Gus Sean hahaha." ujar Lissa yang tiba tiba datang.
" Iya ni gimana enak tamparan nya? tapi emang pantas sih kamu mendapatkan tamparan itu siapa suruh kita di lawan." ujar Rini yang semakin memanas Manas kan Dhea.
" Apa maksud kalian? Gus Sean? ada apa sebenarnya?." syifani bertanya kebingungan sedangkan Dhea tidak menggubris sedikit pun perkataan mereka dan terus asik dengan barang barang nya yang dimasukkan ke dalam koper.
" iya tadi Dhea di tampar sama Gus Sean, dia di marahin habis habisan siapa suruh ganggu kita lagi make up, udah tau kita ga ada waktu buat kerjain itu semua." Dini dengan santai nya berbicara seperti itu.
" Aku paham sekarang! tapi kan memang itu pekerjaan kalian dan memang jatah kalian untuk bekerja karena aku dan Dhea sudah bekerja dari tadi." jelas syifani kesal melihat ulah teman sekamarnya ini.
" hmn itu bukan urusan aku dan kmu syifani ga usah ikut campur" jelas Lissa sambil berlalu pergi.
" Dhe, kamu jangan pergi! nanti aku sama siapa disini? kamu sahabat aku satu satunya di pondok pesantren ini! kalau ga ada kamu aku bakalan ga ada temen lagi." syifani ikut bersedih di samping Dhea.
" Syifa, gue tetep harus pergi dari sini! benar kata Gus Sean dan Lissa ini bukan tempat gua! gua hanya anak liar yang di paksa masuk kesini! gue ga mau ngerepotin kalian semua gua minta maaf!" Dhea berujar sambil memeluk Syifani.
" Dhe aku mohon kamu pikir pikir lagi! aku ga mau kamu ngambil langkah yg salah, tolong Dhea jangan seperti ini." seru syifani lagi.
"tapi Dhe.."
" gini aja skrg lo temenin gue kerumahnya Abi kyai
gue mau ngehubungin orang tua gua, gua mau mereka jemput gua sekarang!"
" baik Dhe.."
Dhea dan syifani pergi kekediaman pak kyai dan Bu nyai di sepanjang jalan banyak orang yg membicarakan tentang Dhea yang di tampar oleh Gus Sean. Banyak juga yang kasihan dengan Dhea karena mereka yang menyaksikan peristiwa yang sebenarnya.
" Kasihan banget ya si Dhea padahal kan dia ga salah!" Gosip salah satu santriwati.
"iya tu kan yang salah si Lissa sama temennya seharus nya Gus Sean kan marah nya sama Lissa bukan Dhea! " Tutur yang lain nya.
" Semoga Dhea dapat keadilan Gusti, sayang banget dia." Seru yang lain nya.
Begitu lah kira kira perbincangan para santri lain nya.
Sesampainya di rumah pak kyai dan Bu nyai Dhea dan syifani pun masuk dengan sambil memberi salam.
pak kyai dan Bu nyai bingung kenapa mereka membawa barang begitu banyak seperti orang mau pindahan. Saat itu di rumah hanya ada pak kyai dan Bu nyai karena Gus Sean sedang pergi entah kemana.
" Assalamualaikum" Dhea dan syifani mengucapkan salam.
" waalaikumsalam" Bu nyai dan pak kyai menjawab salam.
" Wah seneng nya umi kedatangan syifani dan Dhea." seru Bu nyai.
" Ada apa kalian kesini syifani?." tanya pak kyai sambil menatap koper yang di bawa Dhea.
" ada apa ini sebenarnya? knpa kalian membawa koper? siapa yg mau pindah? dan kenapa Dhea menangis?." tanya Bu nyai bingung sambil mengusap wajah Dhea.
" Dhea mau pindah umi! Dhea ga mau disini lagi! Dhea mau pulang! tolong telpon ayah sama bunda! tolong umi tolong Abi!." seru Dhea kembali meneteskan air mata.
" ada apa ini sebenarnya? kenapa kamu nak?." tanya umi pada Dhea sambil memeluk tubuh Dhea mencoba menenangkan nya.
Dhea hanya menangis hatinya sakit jika harus menceritakan peristiwa tadi.
Dhea hanya diam dengan air mata nya dan tidak menjawab pertanyaan bu nyai.
" Syifa? " umi mencoba menanyakan hal yang sama kepada syifani.
__ADS_1
" sebenarnya Dhea di sini sebagai korban umi! tadi Gus Sean menampar wajah Dhea!.'' seru syifani hati hati.
" Astaghfirullah kenapa bisa seperti itu nak?." tanya Bu nyai tidak percaya akan apa yg sudah anak nya perbuat.
" jadi gini umi, tadi ada kegiatan gotong royong di lapangan, Syifa dan Dhea berada satu kelompok dengan Lissa, Rini dan dini, kami bertugas menyapu dan mengelap kaca di halaman belakang pesantren dan kaca aula yang berada di depan halaman belakang, Syifa dan Dhea sudah mengerjakan hampir dari setengah pekerjaan yang sudah di berikan tapi Lissa dan teman teman nya hanya duduk dan bersantai sambil merias wajah mereka dengan make up, Dhea masih sabar dan kembali menyuruh Lissa dan teman nya untuk bekerja tapi mereka malah membentak dan memarahi Dhea, mereka juga menghina Dhea dengan sebutan 'anak liar' Dhea tidak terima dan membentak balik, tapi Lissa tetap nyolot dan menjelekkan orang tua Dhea, Dhea kembali marah tapi dia menahan emosinya agar tidak meluap, akan tetap Rini hendak menampar Dhea namun Dhea menghindar dan Dhea langsung menampar Rini untuk membela diri, tapi ternyata hal itu di lihat oleh Gus Sean dan Gus Sean tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi Gus Sean hanya mendengar penjelasan Lissa dan teman nya Tampa sekali pun mendengar kan penjelasan Dhea, Dhea marah dan Gus Sean malah menampar wajah Dhea dengan keras lalu bilang 'ternyata benar kata dini kamu memang seperti gadis liar kenapa juga kamu harus di pondok pesantren ini kalau hanya untuk merepotkan orang, kasihan sekali orang tua kamu' kurang lebih seperti itulah cerita nya umi Abi." jelas syifani sama Bu nyai dan pak kyai.
Pak kyai dan Bu nyai terkejut kenapa putra nya mengambil tindakan Tampa menyelidiki dulu, mereka tidak menyangka bahwa putra nya memakai cara yang sekasar itu.
" maaf kan Sean ya Dhea, umi tau kamu sakit hati umi juga tidak percaya kenapa Sean seperti itu!." seru umi kepada Dhea yang masih menunduk.
" Dhea Abi minta maaf Abi akan selesaikan Masalah ini segera, Abi mohon kamu jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah." Abi berusaha menjelaskan kepada Dhea.
Di satu sisi ada sepasang mata yang melihat dan mendengar perbincangan mereka dia yang tak lain adalah Gus Sean, dia menyesal kenapa dia tadi sekasar itu pada gadis yang tak bersalah.
" Astaghfirullah maaf kan hamba ya Allah! apa yang sudah aku lakukan! aku sudah menampar dia yang tidak bersalah! kenapa aku seceroboh ini Tampa mendengar penjelasan dia terlebih dahulu? maaf kan saya Dhea! " gumam Gus Sean merasa bersalah sambil melihat Dhea yang tertunduk lesu.
" Abi umi Dhea mohon tolong hubungi ayah dan bunda!." punya Dhea
" kamu yakin nak?." tanya Bu nyai lagi.
" tolong umi!." Dhea kembali menangis.
" Baik lah nak Abi akan menghubungi ayah mu karena Abi juga paham dengan keadaan kamu nak." ujar Abi sembari hendak mengeluarkan ponsel nya.
'' kenapa aku tak rela jika dia harus pergi?! ada apa ini?." Batin Gus Sean sembari terus menatap ke arah gadis itu.
Tiba tiba saat pak kyai hendak menghubungi ayah dan bunda Dhea Gus Sean masuk dan menghentikan nya.
" Abi umi tunggu!." seru Gus Sean menghentikan kedua orang tua nya.
" Sean?." kompak pak kyai dan Bu nyai.
" Abi tidak menyangka kamu akan seceroboh ini dan sekasar ini Sean." seru Abi pada putranya terlihat raut kecewa di wajah sang ayah.
" maafin Sean Abi umi, Sean salah,nDhea maaf kan saya, tolong kamu jangan pergi!." seru Gus Sean pada semua nya.
" Abi tolong hubungi ayah saya!." Dhea kembali meminta dengan tegas tanpa menatap kearah Gus Sean.
" Dhea saya minta maaf! saya salah! saya menyesal telah melakukan nya! maafkan saya!." seru Gus Sean lagi.
" Abi tolong. " Dhea kembali meminta dengan tangis yang semakin terisak.
" apa kah saya tidak bisa mendapatkan maaf Dhea?." Gus Sean mulai frustasi.
" maaf? segampang itu? Gus tau betapa sakit nya saya waktu Gus bilang saya gadis liar? apa Gus tau betapa sakitnya tamparan yang saya sendiri tidak melakukan kesalahan? apa segampang itu Gus?." Dhea angkat bicara umi, Abi dan syifani hanya bisa menyaksikan nya.
" maafkan saya "
" nak lebih baik kalian bicarakan dulu semua baik baik." seru umi
" Tapi Abi.." Dhea hendak berbicara namun di putus oleh perkataan Abi.
" Pergilah bicarakan baik baik nak, setelah itu Abi akan melakukan yang kamu ingin kan " ujar Abi.
" Baiklah Abi umi. " Seru Dhea mengiyakan.
Dhea dan Gus Sean berbicara berdua di belakang rumah Gus Sean, tepat nya di pinggir Danau indah di belakang rumah Gus Sean.
" Dhea saya minta maaf! saya tau saya salah!" Seru gus Sean meminta maaf.
" maaf? tapi ga segampang itu Gus!" Ketus Dhea tanpa menatap kearah lawan bicaranya.
" saya benar benar menyesal Dhe, saya akan menghukum mereka yang berbuat salah." seru Gus Sean lagi mencoba meyakinkan.
" apa saya serendah itu? apa saya seliar itu sampai Gus berbicara seperti itu tentang saya? apa salah saya Gus?." Dhea tidak dapat menahan kemarahannya.
" tolong Dhea kali ini saja."
" alasan agar saya tidak pergi?." tanya Dhea antusias.
" Kenapa? Gus ga bisa jawab? jadi buat apa saya disini? saya tidak mau merepotkan kali.... " perkataan Dhea terputus.
" karena saya tidak ingin kamu pergi! saya ingin kamu disini bersama saya!" seru Gus Sean spontan dan terlihat tulus sembari menatap lurus kearah Dhea.
" apa aku harus mengalah? apa yang terjadi pada ku? kenapa aku begitu senang jika Gus Sean meminta ku untuk tinggal? " Batin Dhea yang masih mematung saat mendengar penuturannya Gus Sean.
" saya mohon Dhea " melas Gus Sean lagi.
" baiklah saya ga pergi! tapi saya mau Gus hukum mereka dengan adil!." Ucap Dhea sembari mengalihkan perhatian nya ke arah lain.
" saya akan menghukum mereka yang bersalah!" Ujar Gus Sean tegas.
" baiklah."
Akhirnya Dhea tidak jadi pergi dan kembali ke asrama nya.
...
__ADS_1