
Langit menoleh ke arah pintu, ia melihat sekilas sepertinya ia kenal dengan wanita itu, ia berlari menuju pintu, dari pintu kamar ia melihat pakaian yang tidak asing baginya, Senja.. iyaa itu istrinya..
Langit mencoba untuk mengejar namun ia berpapasan dengan dokter Gilang.
" dokter Langit .. "
" Selamat siang dokter Gilang "
" oya dok, bisa kita bicara jangan dulu kemana-mana, saya akan memeriksa pasien saya dulu sebentar "
" oh.. eeuhh ... i ..iya dok " Langit gelisah, ia ingin mengejar wanita tadi yang sudah dipastikan itu Senja namun disatu sisi ia tidak enak jika harus meninggalkan dokter Gilang seniornya.
Langit menjadi kalut, apa yang sudah dilihat oleh Senja tadi, ia hampir lupa akan mengajak Senja untuk cek Lab.
Langit mencoba menghubungi Senja, namun tidak ada jawaban, berkali-kali namun tetap tidak ada jawaban.
" Ya Allah.. gimana ini ? aku takut istriku salah faham .. ckk " batin Langit
Tidak lama dokter Gilang menghampiri Langit, sebelumnya ia telah memberikan obat penenang kepada pasien tadi, karena di dalam ia terus saja ingin ditemani oleh Langit.
" dok.. terimakasih sudah menenangkan pasien di ruang iso, tadi suster erni memberitahu saya saat di telepon "
" sama-sama dok "
" jangan dipirkan ya, pasien itu memang selalu meminta untuk bertanggung-jawab atas anak yang dikandungnya, karena ia depresi dan frustasi atas kehamilannya "
" tadi dia akan bunuh diri dok, maka dari itu saya mencegahnya "
" memang dari semenjak ia diketahui hamil, perilaku nya berubah, orangtuanya masih shok, pasien semakin brutal akhirnya kita rawat di ruang isolasi takut mengganggu yang lain "
" sudah saya berikan obat penenang, semoga tidak berpengaruh apa-apa bagi janin yang dikandungnya "
__ADS_1
" iya dok semoga, kalo begitu saya permisi "
" oke.. oya tadi saya sempat lihat dokter Senja "
" oh iya dok tadi memang kita sudah ada janji untuk bertemu disini "
" oya.. hati-hati ya "
" terimakasih dok, permisi "
Langit meninggalkan dokter Gilang, ia setengah berlari menuju lift untuk mengejar istrinya, ia berharap Senja masih menunggu nya di ruang Laboratorium.
...----------------...
Dilain tempat Senja mendengar semua apa yang dikatakan Langit ke pasien tadi, ia sedang berada di dalam taksi ia terus saja menangis.
" siapa wanita tadi ? kenapa kak Langit berbicara seperti itu disaat aku juga sedang mengandung anak nya "
Senja tidak mengetahui jika pasien tadi adalah pasien depresi, Langit berbicara seperti itu untuk menenangkan pasien itu karena ingin bunuh diri.
Emosi dia pun akhir-akhir ini tidak stabil karena Senja sedang hamil, ia baru mengetahui nya tadi pagi, niat hatinya untuk memberi kejutan ke Langit kalau sakitnya selama ini karena sebetulnya ia sedang mengandung, ia akan cek kandungannya dengan USG semua gagal karena ia melihat kejadian tadi.
Flashback On
Senja pergi menuju rumah sakit karena ia sudah janjian dengan Langit suaminya di sana, ia akan Langsung memberikan kejutan kepada Langit kalau ternyata ia sedang hamil, ia akan sekalian daftar ke poli kandungan untuk memeriksakan kehamilannya.
Sesampainya di rumah sakit, Senja menuju resepsionis, ia bertanya dimana ruangan dokter jaga poli jika sudah selesai praktek.
" selamat siang ada yang bisa kami bantu "
" siang.. emhh.. ruangan dokter jaga poli dimana ya ? " tanya nya kepada resepsionis
__ADS_1
" oh dilantai 5 bu, nanti setelah dilantai 5 ibu langsung belok kanan "
" oh ya terimakasih "
Senja berjalan menuju lift untuk naik ke lantai 5, Resepsionis tadi tidak mengetahui jika yang barusan bersamanya adalah Dokter Senja istri dari Dokter Langit.
Senja sudah sampai di Lantai 5 ia berpapasan dengan dokter Gilang, ia masuk dulu ke ruang keperawatan.
" dok.. siang "
" hm.. " dokter gilang mengingat-ingat
" Senja dok "
" oh yaa... ada apa kesini ? emmhh mau ke dokter Langit ya "
" iya dok hehehe, permisi dok "
" iya silahkan "
Senja kembali berjalan ke arah ruang jaga dokter poli, ia melewati ruang isolasi, ia mendengar suara yang tidak asing, saat ia sudah sampai di depan pintu ruangan, ia melihat Suaminya Langit sedang berbicara dengan pasien, ia memegang tangan pasien itu lalu berkata " saya akan bertanggungjawab atas kehamilan kamu "
Darah didalam tubuh Senja serasa berhenti mengalir setelah mendengar ucapan dari Langit kepada wanita pasien itu, tas yang ia bawapun jatuh dari tangannya, saat Langit menoleh, ia langsung pergi tidak lupa membawa tas nya yang terjatuh, ia ingin kembali pulang, fikiran Senja sudah macam-macam tentang suaminya.
Flashback off
Senja sampai di rumah, ia langsung masuk rumah, menuju kamar melempar tas yang ia bawa sampai isi di dalam tasnya ikut keluar termasuk alat test kehamilan yang ia bawa.
Ia melihat alat test kehamilan tersebut, ia mengambilnya lalu membuangnya ke tempat sampah.
Senja salah faham dengan apa yang terjadi, ia melihat ponselnya yang terus berdering, ia melihat id pemanggil adalah suaminya, namun senja tetap tidak menghiraukan nya, ia terus menangis dengan kesalahpahaman.
__ADS_1
πΈπΈπΈ
Terimakasih yang sudah mampir.. jangan lupa vote,like dan koment ya.. tetep stay untuk ikuti kelanjutannya ... aku suka seneng loh baca komentar-komentar π₯°π₯°ππ