Senja Untuk Langit

Senja Untuk Langit
BAB 53


__ADS_3

Keesokan paginya Langit sudah bersiap-siap untuk membuka praktek, Deni sudah berada di depan rumah ia melihat Pak Mail sedang duduk tertidur di kursinya membuat Deni heran.


" Pak.. pak Mail ... " panggil Deni sambil menggoyangkan tubuhnya


" Weyyy siapa kamuuuu ! " Pak Mail bangun langsung mengeluarkan jurus pencak silatnya.


" Tenang.. tenang.. Pak Mail... saya Deni "


" hmmm.. Deni, saya pikir siapa, kenapa kamu disini ? " tanya Pak Mail


" Saya mau membantu dokter Langit pak " Deni kepada pak mail


" oh ya, tadi saya lihat pak dokter sedang siap-siap " Pak Mail ke Deni


" Pak, bapak ronda di rumah Pak dokter ? " tanya Deni


" Iya, semalem Pak dokter berkelahi dengan Japra dan kawan-kawan nya "


" Hah, berkelahi, karena apa ? saya harus bertemu Pak Dokter " Deni Langsung menuju pintu samping tempat praktik ia mengetuk pintu rumah Dinas Langit


Tokk..tokk.tookkkk...


" Assalamu'alaikum pak dokter ? " Deni sambil mengetuk pintu


" Ya, waalaikumusalam, masuk Den, ruang praktek sudah dibuka "


" Iya pak dokter " Deni Langsung masuk ke ruang praktik yang terhubung ke rumah Dinas Langit, ia melihat Langit berjalan menghampiri nya, wajah nya terlihat masih sedikit lebam


" Pak dokter, wajah pak dokter " Deni terlihat kasihan


" Iya Den, sepulang dari rumah kamu, saya mampir dulu shalat maghrib, di jalan pulang setelah salat, saya melihat Kinan dikejar-kejar oleh siapa itu ... " Langit menjelaskan


" Japra pak "


" nah iya itu, saya khawatir kinan di apa-apain, makanya saya hadang Japra dan teman-temannya, ya terjadilah seperti ini "


" Ya Alloh pak, tapi itu sudah diobati ? " tanya Deni


" Sudah Den, saya kasih salep, mendingan sih ini "


" Pak kalau semisal bapak masih sakit, jangan dulu buka praktek pak, bapak istirahat saja "

__ADS_1


" Engga apa-apa kesehatan warga lebih penting " Langit tersenyum


Deni hanya mengangguk, ia membereskan obat-obatan untuk disusun agar nanti mudah pada saat Langit memberikan resep.


" Pak dokter, mohon maaf sebelumnya, apa istri pak dokter tahu kalau keadaan bapak seperti ini " tanya Deni


" hmm.. engga Den, saya takut dia khawatir, dia sedang hamil, dia hanya tahu saya baik-baik saja disini "


" hmm.. begitu ya pak "


" tapi sekarang sudah canggih kan pak, gimana kalau seandainya istri bapak videocall nanti wajah bapak terlihat jelas "


" itu yang saya takutkan Den, semoga luka lebam ini cepat pudar, jadi tidak terlalu keliatan "


" Iya semoga ya pak "


Deni kembali membereskan obat-obatan dan beberapa buku pasien.


" Pak, Japra itu preman disini, dia itu memang menginginkan menikahi kinan, namun kinan selalu menolak, pada saat itu ayah nya kinan berhutang meminjam uang ke Japra dan tidak bisa membayar, lalu ia menyerahkan kinan untuk dinikahi oleh Japra, pada saat itu karena bu kades iba melihat kinan, kinan diambil oleh Bu kades dengan memberikan uang jaminan kepada Japra "


" oh begitu ceritanya " Langit mendengar kan apa yang Deni ceritakan


" Sempat satu waktu, Kinan menerima lamaran Japra karena di iming-imingi oleh segala kemewahan, namun belum saja menikah Japra selalu berlaku kasar ke Kinan, akhirnya Kinan berfikir untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Japra, Japra pasti tidak terima, akhirnya dia selalu mengikuti Kinan kemanapun Kinan pergi, terkecuali Kinan pergi dengan Bu kades ia akan aman "


" Ya begitulah pak " Deni tersenyum


Tok tok.tok..


" Punten.. "


" Oh ya bu mangga, silahkan masuk, ada keluhan apa bu ? " Tanya Deni kepada pasien pertama yang datanng


Deni mencatat semua keluhan warga untuk diberikan ke Langit, Langit yang memperhatikan Deni dari balik kaca ruang periksa, merasa kasihan karena Deni berpotensi untuk menjadi seorang perawat, ia berjanji dalam hati Jika ia memiliki rejeki lebih ia akan menyekolahkan Deni untuk melanjutkan Kuliah Keperawatan.


Satu demi satu warga datang untuk berobat, warga tidak ngeh Jika wajah dokter kesayangan nya babak belur akibat ulah Japra, karena Langit menggunakan masker wajah.


Selesai 28 pasien pagi ini, setelah selesai Deni dan Langit istirahat duduk di ruang tengah rumah Langit, Deni menyiapkan minum untuk dokter Langit, tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Deni membukakan pintu, disana sudah ada pak Mail yang masih berjaga dan Kinan sedang berdiri sambil membawa rantang yang sepertinya berisi makanan.


" Eh, teh Kinan ada perlu apa ? " tanya Deni

__ADS_1


" Mhh... Den, pak dokter nya ada ? "


" Ada sedang istirahat "


" Aku masuk yaa.. " Kinan nerobos masuk


" Eh teh jangan sembarang masuk, bilang dulu sama pak dokter boleh masuk apa engga " Deni mengejar Kinan


Disaat yang bersamaan Langit menghampiri mereka berdua.


" Ada apa Den ? Eh Kinan .. " Langit merasa aneh


" Pak dokter, mohon maaf, ini saya membawakan makan siang untuk pak dokter, sebagai ucapan terimakasih dan permohonan maaf, karena saya pak dokter jadi berkelahi dengan Kang Japra "


" hmm... engga apa-apa lupakan saja, saya juga udah mulai baikan kok "


" euh.. ini pak, Makanan nya tolong di terima "


" Oh ya.. terimakasih , ini den kita makan " Langit mengambil makanan dari Kinan lalu menyerahkan ke Deni


" Oh baik pak " Deni mengambil makanan dari Langit


Deni melihat Wajah kinan seperti kurang suka jika makanan nya diserahkan ke Deni, dalam hati Deni hanya tertawa, ia ingin tertawa terbahak namun tidak sopan karena di depan dokter Langit, Deni sudah curiga dengan sikap kinan ke Langit.


Kinan masih berdiri di tempatnya.


" Ehem... masih ada yang diperlukan ? " tanya Langit


" Oh.. e... engga pak dokter, kalo gitu saya permisi " Kinan kikuk


" ya, terimakasih " Langit kembali masuk


Kinan keluar rumah Langit sambil menggerutu sendiri


" Hey.. Ceu Kinan.. kenapa kok wajahnya di tekuk " Pak Mail menggoda


" Ihh apaan sih Pak Mail ! " Kinan melengos pergi


" ckckkckc.... anak muda " Pak Mail menggeleng-gelengkan kepalanya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir.. jangan lupa vote,like dan koment ya.. tetep stay untuk ikuti kelanjutannya ... aku suka seneng loh baca komentar-komentar πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2