Senja Untuk Langit

Senja Untuk Langit
BAB 45


__ADS_3

Hari pertama Langit berdinas sebagai dokter di Desa, dari jam 6 pagi sudah banyak pasien yang menunggu, semua langsung di data oleh pekerja yang bernama Deni, Deni lulusan sekolah SMK kesehatan, ia bersekolah karena mendapatkan beasiswa, namun ia tidak dapat melanjutkan pendidikannya, padahal ia bercita-cita untuk menjadi seorang perawat.


" pak Dokter , di depan sudah banyak pasien menunggu " Deni kepada Langit


" Oh ya Kang Deni, tolong data dulu aja sama catat keluhannya ya, nanti tulis di buku yang ada dimeja pendaftaran "


" baik pak " Deni berlalu menuju meja pendaftaran ia mulai memanggil satu persatu pasien yang ada lalu ditanya keluhan nya apa.


Setelah siap semua Deni langsung memanggil antrian nomor satu untuk diperiksa


" Antrian no satu " Panggil Deni


" Ibu, sok mangga nanti di periksa sama dokter di dalam "


" Terimakasih ya Den, hebat kamu bisa bekerja sama Pak Dokter " ibu itu kepada Deni


" Alhamdulillah bu " Deni hanya tersenyum


Satu persatu pasien sudah masuk untuk di periksa, tersisa tinggal 3 orang lagi, yaitu kumpulan remaja yang kemarin rame-rame di depan rumah Langit.


" Denok, Icha, Desi, sakit apa kamu ? " tanya Deni


" Aku mau di periksa sama Pak dokter, aku kalo udah dari kebun suka pegal-pegal " Denok ke Deni


" itu mah emang udah cape we kamu nya dari kebun "


" ihh biarin atuh aku mau periksa aja "


" kamu teh masih muda, masa rematik atuh " Deni tertawa


" Ari kamu icha, Desi sakit apa ? " tanya Deni Lagi


" Telapak kaki aku kasar "


" yang gitu mah gasrok aja pake batu Icha, meuni harus dateng ke pak dokter " Deni memberitahu Icha


Tidak lama Langit keluar dari kamar periksa menuju meja pendaftaran

__ADS_1


" Masih ada pasien Kang Deni ? " tanya Langit


" Oh ini pak dokter, ada 3 orang lagi, tapi kayanya bukan sakit ini mah sakit pak "


" ihh deni " denok, icha , desi ngedumel


Langit hanya tersenyum "sakit apa ini ? oya, Den tolong siapkan obat dan suntikan yang di lemari, untuk mengobati teteh-teteh ini " Langit mengerjai


" hah suntik ? ihh ngga mau ah " batin Icha


" suntikan ? " batin denok


" mau disuntik ? " batin Desi


" pak dokter kok siapin suntikan ? " tanya Icha


" iya, kan katanya sakit, jadi obat nya memang menggunakan alat suntik " Langit kepada Icha


" hmm .. engga pak dokter, kaya nya udah liat pak dokter aja sembuh saya mah " Icha kepada dokter Langit


" Tuh kan bohong berarti sakitnya pak dokter, kalau kaya gitu mah " Deni kepada Icha, Denok, Desi


Mereka bertiga langsung melotot ke Deni, mereka merasa kesal karena Deni tidak melancarkan niat mereka untuk diperiksa oleh Langit.


" kalau begitu kami bertiga permisi ya dok "


" Ya.. " Langit tersenyum


" awas nya Deni " Icha ke Deni


Deni hanya tertawa melihat tingkah ketiga temannya tadi, mereka teman Deni sedari kecil walaupun mereka tidak melanjutkan sekolah, karena setelah tamat SMP mereka membantu orangtuanya untuk bekerja dikebun.


" Itu teman kamu, Kang Deni ? " tanya Langit


" Iya pak dokter, oya pak jangan panggil saya akang, panggil Deni aja " Deni kepada Langit


" oh gitu, oke deh Den " Langit tersenyum

__ADS_1


" Hari ini ada berapa pasien yang datang berobat ? "


" Ada 65 Pak "


" Alhamdulillah.. mereka rata-rata sakitnya batuk pilek, rematik, asam urat "


" iya pak dokter, mungkin karena cuaca juga ya pak "


" hmm.. bisa jadi, tutup dulu aja, kalo ada pasien lagi baru kita buka lagi "


" iya baik pak dokter "


" Oya kamu belum makan kan ? saya tunggu di rumah sebelah ya "


" terimakasih pak dokter, saya beres-beres dulu "


" Oke "


Langit berlalu meninggalkan Deni yang sedang membereskan tempat praktek nya, ia menuju ruangan tengah di rumah dinasnya, disana sudah ada makanan yang dikirim ibu Kades untuk Langit, jadi selama di Desa, Bu Kades yang akan memasakkan makanan untuk Langit, jadi Langit memberikan uang makannya ke Bu Kades, dan Bu Kades yang akan memasak untuk makan Langit.


Tidak lama Deni datang menghampiri


" Pak Dokter saya mau pamit pulang dulu saja " Deni kepada Langit


" Jangan dulu, makan dulu aja "


" terimakasih pak dokter, saya masih kenyang "


" jangan begitu, kamu pasti lelah kan tadi mendata pasien juga, makan dulu temani saya, santai saja ga perlu canggung " Langit kepada Deni


" hmm.. iya pak dokter terimakasih "


Akhirnya Langit makan bersama dengan Deni, kesan pertama membuat Langit sudah senang kepada Deni dia sopan dan sesuai keinginan Langit bekerja membantunya saat praktik.


🌸🌸🌸


Terimakasih yang sudah mampir.. jangan lupa vote,like dan koment ya.. tetep stay untuk ikuti kelanjutannya ... aku suka seneng loh baca komentar-komentar πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2